Shanaya menggeleng lemah, “Aku tidak ikut makan malam waktu itu, Pak!”
“Barangkali Non nanti bisa bertemu dengannya di kantor,” ujar Rustam lagi.
Shanaya tersenyum kecil menanggapi ucapan Rustam. Ia cukup penasaran dengan sosok calon suami kembarannya itu. Secara, Anaya adalah orang yang keras jadi ia penasaran lelaki seperti apa yang telah berhasil mencuri hatinya.
“Calon suami Ayi kerja di kantor Papa?” tanya Shanaya.
“Iya, Non. Ganteng!”
Shanaya menganggukkan kepala ketika mendengar jawaban Rustam. Setelah itu, ia tidak lagi mengingat akan sosok calon suami Ayi karena matanya fokus memandang ke setiap bangunan yang berada di sepanjang jalan.
Sesaat, pikirannya mengenang kembali hari-hari yang ia lalui selama di Giothoorn. Kota kecil itu sangat jauh berbeda dengan Jakarta, kemana-mana ia hanya berjalan kaki, jika jarak yang akan ia tempuh jauh maka ia akan menggunakan perahu, mobil adalah barang langka yag ia temui di sana. Sangat berbeda dengan sekarang, ke kantor papanya saja ia harus di jemput dengan kuda besi yang dikendarai oleh seorang supir dan ia duduk di kursi penumpang bak putri raja.
“Sudah sampai, Non.”
Ucapan Rustam mengagetkan Shanaya akan lamunannya, gadis itu kemudian bergumam.
“Owh, iya, pak!”
Shanaya lalu membuka pintu mobil dan menutupnya kembali ketika ia sudah menginjakkan kaki di depan gedung tinggi tersebut, lalu Rustam meninggalkannya karena harus memarkirkan mobil di area parkir khusus.
Shanaya kemudian melangkah pelan menuju lobby dengan pandangan yang menyisir ke sekitar, karena ini pertama kalinya bagi Shanaya mengunjungi kantor Barend. Seorang sekurity kantor tersenyum membungkuk ketika Shanaya datang. Tentu saja Shanaya membalas senyuman itu dan mendapat tatapan heran dari sang sekurity.
Senyum tak lepas dari bibir Shanaya ketika berpapasan dengan setiap orang di kantor tersebut. Sikapnya tentu menjadi perhatian penghuni kantor karena tidak terbiasa mendapati sikap ramah seperti itu.
Ketika menunggu lift yang akan membawanya ke lantai paling atas terbuka, ia di tegur oleh seseorang yang berpakaian seragam office boy.
“Non, lift nya kan yang di sana.” Perempuan itu menunjuk sebuah lift dengan warna pintu yang berbeda. Diatas pintu lift tertulis jika lift tersebut khusus di gunakan oleh karyawan khusus.
“Di sini saja, Bu,” jawab Shanaya sungkan. Ia tidak terbiasa di perlakukan khusus jadi lebih memilih mengantri bersama karyawan lain yang akan menggunakan lift.
Bersamaan dengan itu, pintu lift khusus terbuka. Dari dalam lift tersebut keluar beberapa orang pria yang menggunakan setelan jas. Dari penampilannya, Shanaya bisa melihat jika mereka bukan karyawan biasa.
Shanaya terpaku ketika salah satu dari mereka menatap nya dengan tatapan heran, pria itu sama sekali tidak mengalihkan tatapannya meskipun Shanaya sudah tersenyum dan menganggukkan kepala.
Kemudian, pintu lift yang biasa di pakai karyawan biasa terbuka, Shanaya bergabung dengan karyawan lain masuk ke dalam sana. Ia di berikan ruang yang cukup untuk berdiri oleh beberapa orang yang berada di lift tersebut. Sebelum lift tertutup, gadis itu mendongakkan kepalanya melihat pria yang tadi terus menatapnya, Shanaya dan pria itu saling pandang, senyum yang tersungging dari bibir Shanaya menjadi pandangan terakhir Ruzayn sampai pintu besi tersebut tertutup sempurna.
“Zayn, ngapain berdiri di situ?” Setengah berteriak Yoga memanggil Ruzayn yang masih terpana di depan lift.
“Oh, nggak ada!” Ruzayn terkesiap dan melangkahkan kakinya menyusul Yoga.
“Kau kenapa? Habis lihat hantu?” tanya Yoga yang masih penasaran dengan sikap aneh Ruzayn.
“Gak ada ... aku hanya ... aku melihat seseorang yang aku kenal,” jawab Ruzayn gugup.
Yoga hanya geleng-geleng kepala melihat sikap Ruzayn yang tampak gugup, kemudian mereka berdua melanjutkan perjalanan bersama beberapa orang klien yang tadi ikut rapat bersama mereka.
Shanaya melangkahkan kakinya di lantai tertinggi gedung perkantoran, sebelumnya Barend telah memberi tahu kemana Shanaya akan menemuinya. Ruangan tersebut tampak sepi, tidak seperti bayangan Shanaya tentang area kantor yang banyak karyawan.
Beberapa meter di sebelah kanan Shanaya, seorang wanita berkaca mata duduk di belakang komputer. Shanaya mendekat, hendak bertanya pada wanita tersebut. Belum jadi Shanaya membuka mulut, wanita yang menyadari kehadiran Shanaya disana langsung berdiri dan menundukkan kepalanya pertanda ia memberi hormat pada Shanaya.
“Biar saya antar, Nona,” ujar wanita tersebut.
Shanaya mengangguk dan menganggap wanita itu telah tau akan kedatangannya. Ia mengikuti wanita itu di belakang sampai wanita itu membawa Shanaya ke sebuah ruangan yang di kelilingi dengan kaca.
Wanita tersebut mendorong pintu kaca yang ada di depannya setelah mengetuk pintu tersebut sebanyak dua kali.
“Pak,”
Barend menoleh lalu berjalan menghampiri sambil merentangkan kedua tangannya.
“Terima kasih, Santi!” ujar Barend kemudian ia memeluk Shanaya.
Santi, sekretaris Barend di kantor undur diri dan menutup kembali pintu ruangan Barend, ia menuju mejanya untuk melanjutkan pekerjaannya yang tadi sempat tertunda.
“Shan, kamu duduk di sana dulu, ya, masih ada sedikit lagi pekerjaan papa yang belum selesai.” Barend membawa Shanaya ke sofa yang terletak di sebelah kanan ruangan tersebut.
“Kamu juga bisa baca-baca majalah itu, tapi ... yang ada hanya majalah bisnis. Hehehe ....” Barend menunjuk sebuah rak yang terletak di samping sofa.
“Tidak masalah, Pa! Aku bisa baca apapun yang ada di sini.” Shanaya berkata sambil tersenyum.
“Baiklah! Papa tinggal dulu sebentar.”
Barend bergegas menuju meja kerjanya, sebelum menyentuh keyboard laptop yang masih menyala, ia melirik pada Shanaya yang sudah asyik dengan majalah yang ia baca. Beberapa saat kemudian ia kembali fokus untuk menyelesaikan pekerjaannya.
Satu jam kemudian ....
“Shan.”
“Ya, Papa sudah selesai?” Shanaya mendongak.
“Sudah, ayo!”
Shanaya kemudian berdiri dan mengikuti Barend yang sudah berjalan duluan menuju pintu.
“Kamu mau makan apa? Erwtensoep? atau croquettes?” Barend bertanya sebelum ia membuka pintu.
“Pa ... kita sekarang di Jakarta, bukan di Belanda. Aku ingin makan makanan Indonesia,” sungut Shanaya.
“Hahaha ... baiklah ... papa punya rekomendasi warung ayam penyet yang enak. Tempatnya tidak jauh dari sini. Papa jamin, kamu pasti akan sangat menyukainya.” Barend tertawa kecil karena melihat ekspresi cemburut puterinya.
Keduanya kemudian berjalan bersisian, lalu Barend meminta Shanaya untuk menggandeng tangannya. Pria yang masih mengenakan setelan jas lengkap itu memberi kode dengan tangannya agar Shanaya melingkarkan tangannya di lengan Barend.
Dengan senang hati, Shanaya menerima permintaan papanya. Ia merangkul Barend, sudah lama mereka tidak seperti ini, sudah lama Shanaya tidak bermanja-manja dengan Barend dan Shanaya juga merindukan moment tersebut, dimana ia sangat jarang mendapatkan kasih sayang Barend meskipun ia tahu jika Barend tidak hanya mencintai Ayi tetapi juga mencintai dirinya.
“Aku tadi naik lift itu,” tunjuk Shanaya pada lift yang ada di samping. Karena Barend membawanya memasuki lift khusus.
“Ini lift khusus untuk kita, papa sebenarnya tidak mau membedakan. tujuannya hanya jika ada tamu penting dan urusan mendesak, kita tidak perlu antri dan berdesakan dengan karyawan lain,” ujar Barend.
Shanaya mengangguk dan mengerti, ia menebar pandang ke setiap sudut lift. Memang benar ... tidak ada yang membedakan kedua lift, keduanya sama ruang kotak yang berhiaskan gambar gedung dan logo perusahaan.
Ting!
Pintu lift terbuka, Shanaya kembali merangkulkan tangannya ke lengan Barend sebelum pria itu memintanya. Serentak mereka melangkahkan kaki ke luar, gadis itu tetap setia mengikuti langkah Barend yang membawanya ke basement.
“Zayn!”
Barend memanggil Ruzayn yang berjalan berpapasan dengan mereka. Lagi ... Ruzayn kembali terpaku ketika netranya menangkap sosok yang berdiri di samping Barend.