Pikirkan Lagi

1131 Kata
“Zayn!” Barend memanggil Ruzayn yang berjalan berpapasan dengan mereka. Lagi ... Ruzayn kembali terpaku ketika netranya menangkap sosok yang berdiri di samping Barend. “Kenapa penampilannya begitu berbeda sekarang? Apa mungkin karena kami akan menikah?” ucap Ruzayn di dalam hati. “Shan, tunggu di sini sebentar,” ujar Barend dengan tersenyum sembari menepuk pelan tangan Shanaya yang melingkar di lengannya. Gadis itu kemudian melepaskan tangannya dan memandangi punggung Barend yang berjalan mendekati Ruzayn. Dari tempat ia berdiri, Shanaya memerhatikan dua pria yang terlibat pembicaraan serius itu. Ia memperhatikan dengan seksama wajah Ruzayn dan bertanya-tanya di dalam hati kenapa pria itu menatap aneh kepadanya setiap mereka bertemu. “Apa ia mengenal Ayi?” tanya Shanaya pada diri sendiri. “Ya, benar. Pria itu pasti mengenal Ayi dan ia menatap heran padaku karena aku mirip dengan Ayi,” guman Shanaya lagi. “Aku akan menceritakan pada Ayi nanti,” ujar Shanaya, Kemudian ia mengeluarkan ponsel yang tersimpan di dalam tas kecil yang ia pakai. Shanaya mengaktifkan ponselnya, ia membuka kamera dan mengambil beberapa gambar Ruzayn yang sedang berbicara dengan Barend. Lalu ia melangkah agak ke samping agar bisa mengambil gambar Ruzayn sendiri tanpa Barend. Beberapa gambar berhasil ia ambil, diantaranya ada foto Ruzayn yang tampak jelas karena kebetulan Ruzayn sedang melihat ke arahnya. Tentu saja Ruzayn tidak terfikir jika Shanaya akan memfotonya karena Shanaya terlihat seperti sedang memainkan hape untuk menghabiskan waktu menunggu mereka berbicara. Setelah itu, Shanaya menyimpan kembali ponselnya ke dalam tas. Ia kemudian melemparkan pandangan ke sekeliling lorong yang tampak lengang itu. “Kau lama menunggu?” tanya Barend. “Tidak. Papa sudah selesai?” jawab Shanaya sambil melihat tempat Barend dan Ruzayn tadi berbicara. Sudah tidak ada lagi Ruzayn di sana, barangkali ia langsung pergi setelah selesai urusan dengan papa, pikir Shanaya. “Sudah, ada beberapa pekerjaan penting yang harus papa bicarakan tadi. Sekarang kita sudah bisa pergi tanpa memikirkan pekerjaan itu lagi.” “Baiklah, ayo kita berangkat. Aku sudah sangat lapar dan tidak sabar menunggu makan ayam penyet yang papa rekomendasikan itu.” Shanaya berkata dan langsung berinisiatif berjalan duluan menuju mobil yang terparkir. “Pak Rustam kemana, Pa?” tanya Shanaya heran. Ia baru sadar jika mereka tidak menuju lobby melainkan ke area parkiran. “Papa suruh pulang. Papa tidak mau kencan kita terganggu,” jawab Barend di iringi tawa kecil. “Baiklah, berarti sekarang aku ... nyonya,” balas Shanaya juga di iringi tawa. “Silahkan masuk Nyonya Shan,” ujar Barend yang di ikuti bunyi beep pada mobil karena tombol remote yang di pencet Barend. ** Ruzayn menyandarkan punggungnya di sofa yang terletak tidak jauh dari pintu yang menghubungkan kamarnya dengan balkon. Pikirannya tidak bisa fokus semenjak ia bertemu Shanaya di kantor. Bayangan Shanaya yang tersenyum mengangguk di depan lift membuat isi kepalanya di penuhi oleh wajah gadis itu. “Kenapa ia menjadi berbeda?” gumam Ruzayn. “Apa Tuan Barend dan Ibu Rumi sudah berhasil merubahnya?” “Apa karena akan menikah dia jadi berubah menjadi lembut dan tidak bersikap kasar lagi?” “Tatapan matanya, senyumnya juga tidak seperti biasanya.” “Aaarrgh! Kenapa aku harus memikirkannya?” Ruzayn menyugar kasar rambutnya, ia marah pada diri sendiri karena bisa-bisanya ia memikirkan puteri Tuan Barend. Ia berusaha untuk kembali fokus pada tujuan awalnya. Balas dendam! Ya, Ruzayn tidak boleh terpesona meskipun Anaya berubah menjadi puteri cinderella sekalipun. Tidak! Pria itu mengusap pelan wajahnya, ia berusaha menghilangkan bayangan Shanaya yang sedang tersenyum ramah di depan lift. Ruzayn juga membuang wajah Shanaya yang merangkul manja lengan Tuan Barend. Ia berusaha membuang semua hal yang ia lihat tadi. Ia berharap menjadi amnesia dan melupakan pertemuan itu. Setelah ia merasa lebih baik, ia menegakkan tubuhnya. Kemudian mengambil nafas dalam dan membuangnya secara perlahan. Lalu ia beranjak dan berjalan menuju kamar mandi. Mandi dan menyirami kepalanya dengan kucuran air dingin dari shower cukup untuk menghapuskan bayangan gadis itu. Ruzayn merasa lebih segar usai mandi. Ia kemudian menuju ruang tengah karena di saat pulang tadi ia langsung masuk ke dalam kamar dan belum menyapa orang tuanya. Rupanya Rasyad dan Lyra tidak ada di sana. Ruzayn kemudian menuju dapur dan menemukan kedua orang yang ia sayang itu di sana. Rasyad sedang duduk di kursi meja makan, tangannya baru saja meletakkan ponsel di meja. Terlihat ia baru saja menerima panggilan telepon dari seseorang. Sementara Lyra sedang mempersiapkan hidangan yang sudah selesai ia masak untuk menu makan malam. “Zayn, kau sudah pulang, Nak?” sapa Lyra ramah. Ruzayn hanya memberikan senyum sebagai jawaban dari pertanyaan Lyra. Anak lelaki dewasa yang masih suka berlaku manja pada ibunya itu mendekati Lyra kemudian meraih tangan Lyra untuk mencium punggung tangan wanita tersebut. Lyra membalasnya dengan mengusap puncak kepala Ruzayn dengan kasih sayang. Kemudian Ruzayn menghampiri Rasyad dan melakukan hal yang sama pada papanya. “Duduk, Zayn,” perintah Rasyad yang tentu saja langsung di ikuti Ruzayn. Ia mengambil tempat di seberang meja agar bisa berhadapan dengan Rasyad. “Pak Barend barusan menelepon papa,” ucap Rasyad lagi. Reflek Ruzayn mengerutkan keningnya karena merasa heran dengan informasi yang di berikan Rasyad. Sebelum pulang tadi ia bertemu dengan Tuan Barend ketika hendak kembali ke ruangannya untuk mengambil beberapa file pekerjaan yang tertinggal. Tuan Barend tidak membicarakan apa-apa selain urusan pekerjaan. Ah, sial! Ruzayn malah teringat kembali pada puteri Tuan Barend yang sebentar lagi akan ia nikahi. Padahal sebelumnya ia mati-matian untuk menghapus sosok itu dari ingatannya. “Tuan Barend meminta pernikahan kalian dilaksanakan bulan depan.” Lyra yang sedang mengambilkan nasi untuk Rasyad menghentikan gerakannya, ia menatap Rasyad untuk mencari kebenaran dari ucapan yang baru saja di lontarkan suaminya. “Benarkah?” tanya Ruzayn kembali. Ia bertanya demikian hanya untuk menghilangkan keterkejutannya karena ia baru saja memaksakan diri untuk menghapus ingatan mengenai gadis itu dan sekarang Rasyad malah memberikan informasi yang bersangkutan dengannya. “Apa ini tidak terlalu cepat?” tanya Lyra masih dengan nada khawatir. Meskipun ia sudah tidak berniat untuk ikut campur dalam urusan ini, hati kecilnya masih merasa takut melihat Ruzayn hidup dengan gadis yang ia anggap berprilaku tidak sopan tersebut. “Tidak, Ma. Ini tidak terlalu cepat. Bukankah lebih cepat akan lebih baik untuk kita?” sangkal Ruzayn. “Bukan untuk kita, tapi hanya untukmu,” ketus Lyra. “Kami sudah tidak bisa lagi menasehati kamu tentang hal ini, papa hanya menyampaikan yang Tuan Barend katakan tadi. Selebihnya ... untuk segala urusan, kau yang akan menyelesaikannya.” Rasyad berkata seraya mengambil piring yang masih berisi nasi dari tangan Lyra, karena Lyra belum sempat mengambilkan lauk karena rasa terkejut dari ucapan Rasyad tentang waktu pernikahan yang di inginkan Tuan Barend. “Duduklah, Sayang. Mari kita makan,” ucapnya lembut. “Zayn ... ini yang terakhir kalinya papa meminta. Pikirkan lagi! Masih ada waktu untuk menolaknya.” Rasyad mencoba untuk menasehati Ruzayn lagi, meskipun ia tau Ruzayn tidak akan mengubah keputusannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN