Tidak Perlu Lamaran

1082 Kata
“Zayn ... ini yang terakhir kalinya papa meminta. Pikirkan lagi! Masih ada waktu untuk menolaknya.” Rasyad mencoba untuk menasehati Ruzayn lagi, meskipun ia tau Ruzayn tidak akan mengubah keputusannya. “Besok aku akan membicarakan hal ini dengan Tuan Barend, Pa. Jangan khawatir!” Ruzayn mengambil piring yang sudah berisi nasi dan lauk yang di sodorkan Lyra. “Terima kasih, Ma,” ucapnya kemudian. Sementara itu di tempat lain .... Barend dan Shanaya sedang menikmati hidangan ayam penyet yang baru di sajikan oleh pelayan di meja mereka. Shanaya tampak sangat menikmati hidangan tersebut karena makanan ini tidak pernah ia temukan selama di Giothoorn. Ia dan Willake pernah memasak masakan Indonesia, bermodalkan video call dengan Rumi, mereka menanyakan resep dan setiap langkah yang akan dilakukan, tapi karena neneknya bukan orang Indonesia jadi cita rasa dari masakan tersebut tidak seenak yang Shanaya rasakan saat ini. Ditambah dengan rasa rempah yang berbeda antara Indonesia dan Belanda sehingga menghasilkan rasa yang juga berbeda. Shanaya juga mengidolakan masakan Rumi, mamanya. Apapun yang di masak Rumi terasa sangat lezat di lidah Shanaya. “Hahaha ... Kau seperti orang yang sedang kelaparan yang sudah berhari-hari tidak makan,” ujar Barend tertawa karena melihat Shanaya makan dengan cepat dan bersemangat. “Ini benar-benar lezat, Pa. Tidak salah Papa mengajak aku makan di sini,” jawab Shan usai menelan makanan yang tersimpan di mulutnya. “Lain kali papa akan mengajak kamu lagi ke sini.” “Sama Mama dan Ayi, juga!” “Mama bisa, tapi Ayiiii ... papa ragu dia akan mau makan di tempat seperti ini,” ucap Barend pias. “Kenapa? Bukankah ini sangat enak.” “Ayi itu mana mau makan di warung seperti ini. Dia agak berbeda, kau tau kan?” Shanaya mengangguk dan paham dengan apa yang di sampaikan Barend. Ayi memang tipe seseorang yang memiliki style yang tinggi hampir di semua hal. Termasuk dalam urusan tempat makan. Shanaya masih ingat ketika liburan tujuh tahun yang lalu di Giothoorn. Ayi sama sekali tidak mau di ajak ke peternakan karena ia menganggap tempat itu tempat yang kotor dan bau. Padahal bagi Shanaya, peternakan adalah tempat yang paling menyenangkan. Apalagi moment ketika ia memerah sapi, pekerjaan itu adalah pekerjaan yang paling Shanaya suka. “Semoga Ruzayn bisa merubah sikap Ayi setelah mereka menikah nanti,” gumam Barend. “Ruzayn?” ulang Shanaya. “Aaahhh, papa lupa mengenalkannya padamu. Ruzayn calon suami Ayi. Ia seseorang yang sangat papa percaya di kantor. Dia seorang pria yang sangat tampan dan Ayiii ... sangat mencintainya,” jelas Barend. Tentu saja penjelasan Barend itu membuat Shanaya semakin penasaran dengan Ruzayn. Tadi di perjalanan saat berangkat ke kantor, Pak Rustam juga membicarakan hal yang sama, yakni calon suami Ayi sangat tampan. “Apa ia lebih tampan dari Papa?” tanya Shanaya. “Hahaha .... jelas papamu ini lebih tampan dari siapapun yang ada di dunia ini,” ujar Barend jumawa. “Termasuk dengan pria yang berbicara dengan papa ketika kita keluar kantor tadi?” pancing Shanaya. “Haaaa, benar. Pria itu Ruzayn.” Barend memainkan jari telunjuknya di udara. “Harusnya papa mengenalkan kalian tadi,” lanjutnya dengan nada kecewa. “Jadi ... dia calon suami Ayi?” Shanaya bertanya untuk meyakinkan. “Iya, pria yang berbicara dengan papa sebelum kita ke parkiran tadi. Dia Ruzayn, calon suami Ayi.” Barend meyakinkan. “Hmmm, pantas saja dia melihat aku dengan tatapan yang berbeda. Rupanya ia calon suami Ayi,” ucap Shanaya di dalam hati. Sekarang ia sudah menemukan jawaban mengenai tatapan heran Ruzayn ketika mereka bertemu di dua tempat yang berbeda di kantor papanya tadi. “Oh ya, Papa mau menelepon Pak Rasyad dulu. Papanya Ruzayn.” Barend yang sudah menghabiskan makanannya segera mencuci tangan dan mengeringkan dengan tissue. Ia kemudian merogoh ponsel dari dalam saku dan melakukan panggilan kepada Rasyad seperti yang ia katakan pada Shanaya tadi. Shanaya mendengar dengan seksama percakapan Barend, papanya itu meminta untuk melangsungkan pernikahan Ayi dengan Ruzayn bulan depan. Waktu yang sangat cepat, pikir Shanaya. Bahkan mereka belum melakukan acara lamaran sama sekali. Dan, Barend mengatakan tidak perlu diadakan lamaran, langsung saja menikah. Namun Shanaya hanya bisa diam, ia sama sekali tidak mengerti jalan pikiran orang dewasa mengenai pernikahan. Mungkin papanya berharap Ayi akan berubah menjadi lebih baik setelah menikah, seperti itulah harapan Barend yang terucap pada Shanaya tadi, dan gadis itu bisa memaklumi keinginan Barend. “Mereka keluarga yang tidak banyak tingkah, tidak banyak permintaan. Ayi sangat beruntung bersuamikan Ruzayn,” puji Barend setelah menutup percakapan dengan Rasyad. Shanaya tersenyum kecil mendengar pujian Barend. “Kamu sangat beruntung, Ayi ...,” gumam Shanaya. ** “Benarkah? Papa tidak bercanda, kan?” Anaya terlonjak. Ia seperti tidak percaya dengan yang Barend sampaikan. “Iya! Papa sudah bicara dengan Pak Rasyad. Mereka tidak menolak sama sekali.” “Terima kasih, Pa! Ik hou van je.” Anaya langsung memeluk Barend seraya mengatakan jika ia sangat mencintai Barend karena papanya itu sangat mengerti dengan keinginannya. “Papa houdt ook van jou,” balas Barend. (Papa juga sangat mencintai kamu). “Tapi tidak ada ada acara lamaran, papa yang meminta agar kalian langsung menikah saja,” ucap Barend sambil mengurai pelukan. “Aku tidak peduli, Pa! Yang aku minta hanya menikah dengan Ruzayn. Terserah caranya bagaimana, yang penting ... dia harus jadi suamiku.” “Papa akan mengabulkan semua yang kau mau.” “Bedankt. Ik ben er trots op Papa's zoon te zijn.” (Terima kasih, aku bangga jadi anak Papa). Anaya langsung berlari dengan perasaan bahagia menuju kamarnya. Ini adalah berita yang paling bahagia yang ia terima terlepas dari ancaman yang diberikan Andre. Sudah dua hari ia tinggal bersama Andre di apartemen pria itu, untung saja hari ini pria itu mendapat pesan dari Papanya untuk mengunjungi neneknya yang sedang masuk rumah sakit. Kesempatan ini dimanfaatkan Anaya untuk pulang ke rumah. Setibanya di kamar, ia langsung menghempaskan tubuhnya di atas kasur. Impiannya untuk menjadi istri Ruzayn tinggal hitungan minggu. Ia tidak perlu takut dan khawatir lagi dengan Andre, karena empat hari lagi, masa yang di tentukan Andre untuk melayani pria itu akan berakhir. Dua hari ini, Andre betul-betul memperlakukan Anaya sebagai w************n pemuas nafsu. Sekarang tidak penting lagi bagi Shanaya. Empat hari bukanlah waktu yang lama. Toh setelah ini, ia akan hidup bebas sebagai istri Ruzayn. Anaya juga tidak peduli jika ia hamil setelah ini, pria b******k itu sama sekali tidak mau menggunakan pengaman seperti yang ia lakukan sebelumnya. Jikapun Anaya hamil, bukankah ia sudah menjadi istri Ruzayn? Untuk apa memikirkan hal yang tidak berguna itu lagi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN