Ruzayn membereskan kertas-kertas yang berserakan di atas meja. Ia menyusun kertas-kertas tersebut dan memasukkannya ke dalam map yang sesuai. Kertas yang sudah tidak di butuhkan ia remuk dan ia masukkan ke dalam tempat sampah khusus kertas. Perusahaan mereka memang menerapkan cara kerja go green dimana sampah yang bisa di daur ulang mereka tempatkan di satu tempat.
Ruzayn melirik jam tangan mahal yang melingkar di pegelangan tangan kirinya.
“Masih ada waktu sebelum makan malam,” gumamnya.
Setelah merasa semua beres, Ruzayn mengambil jas yang tersampir di kursi kerja. Ia memakai jas tersebut kemudian meraih tas kerja yang berisi laptop dan membawa kakinya untuk keluar ruangan.
“Aku pulang duluan, Yan. Aku sudah menghubungi Tuan Barend. Laporan yang sudah aku cek ada di atas meja, Kau tinggal kirim saja,” jelas Ruzayn pada Yani, assistennya.
“Baik, Pak,” jawab Yani. Gadis itu kemudian berdiri dan berjalan menuju ruangan Ruzayn untuk mengambil laporan yang di maksud atasannya itu.
Langkah kaki Ruzayn semakin lebar setelah keluar dari lift. Ia tampak sangat terburu-buru hingga tidak memperhatikan sekeliling. Sore ini, Ruzayn akan bertemu dengan seseorang untuk mengambil pesanannya.
Ia sekarang menyesal kenapa tidak meminta barang pesanannya di antar ke kantor saja hingga ia tidak harus di kejar waktu seperti sekarang ini. Ia juga tidak mau melewatkan makan malam bersama kedua orang tuanya di rumah. Karena itulah Ruzayn sangat terburu-buru.
Mobil yang di kendarai Ruzayn menepi di sebuah kafe, tempat yang sudah mereka janjikan untuk bertemu. Setelah mendapatkan tempat parkir untuk mobilnya, Ruzayn segera masuk ke dalam kafe karena Rifan sudah menunggunya di sana sejak sepuluh menit yang lalu.
Langkah kaki Ruzayn terhenti ketika matanya menangkap kehadiran seseorang yang tidak ia harapkan di sana. Anaya. Rifan ternyata tidak sendirian, ada Anaya yang duduk bersamanya.
“Untuk apa ia kesini?” rutuk Ruzayn. Dan ia terpaksa tersenyum setelah merutuki Anaya karena Rifan melambaikan tangannya ke arah Ruzayn.
“Sorry, Bro. gue telat.” Ruzayn mencoba berbasa basi. Ia menarik salah satu kursi kosong dan langsung mendudukkan tubuhnya disana.
“Gak masalah, Bro,” balas Rifan sambil tersenyum.
“Kau dari tadi?” tanya Ruzayn lagi pada Ayi.
“Dua menit sebelum lu datang, Bro.” Rifan yang menjawab karena merasa tidak enak dengan pertanyaan Ruzayn.
“Oh ya, ini pesanannya.” Rifan meletakkan sebuah kotak di atas meja.
Ketika Ruzayn hendak mengambil kotak tersebut, Ayi terlebih dahulu menyambarnya. Ia langsung membuka kotak yang berisikan sepasang cincin pesanan Ruzayn. Cincin yang akan di berikan Ruzayn pada Ayi sebelum hari pernikahan mereka.
“Gue gak suka model cincinnya, terlalu sederhana, Lagian model yang begini terlalu pasaran. Tukang kebun saja sanggup beli yang beginian,” protes Ayi.
Ruzayn tersentak, begitu juga dengan Rifan. Wajah Rifan sempat memerah mendengar celotehan Ayi, begitu santainya Ayi berucap tanpa mempertimbangkan jika kata-kata yang ia keluarkan akan menyakiti perasaan orang lain. Perasaan Rifan contohnya, Ruzayn yang meminta Rifan untuk mendesain model yang seperti itu karena Ruzayn tidak suka dengan model yang berlebihan.
“Oh, gue bisa buatkan yang lain jika kalian keberatan.”
“Tapi aku suka modelnya,” sanggah Ruzayn dan merebut cincin tersebut dari tangan Ayi.
“Aku tidak suka yang berlebihan,” lanjutnya sembari memutar-mutar cincin miliknya tersebut sebelum memasangkan ke jarinya sendiri.
“Jika kau keberatan, kau bisa memesan model yang lain. Tapi untuk sementara, kau pakai ini dulu karena jika kau pesan sekarang, cincin itu tidak akan selesai dalam waktu sepuluh hari.” Ruzayn memberikan satu cincin pada Anaya.
Pria itu meletakkan benda tersebut persis di depan Anaya yang sedang bersungut karena Ruzayn sama sekali tidak memedulikan pendapatnya.
“Ma-af, Ruzayn yang meminta model yang sederhana. Ini adalah model yang terbaik yang kami punya,” ujar Rifan menyesal karena ia tidak bisa memuaskan pelanggannya.
“Tidak masalah, Bro. Aku sangat menyukainya.” Ruzayn menenangkan.
Dengan gusar, Anaya meraih cincin yang di sodorkan Ruzayn tadi. Lalu ....
“Gue akan memesan sendiri cincin baru di tempat lain, sesuai dengan keinginan gue.” Dia berkata dengan nada ketus lalu beranjak dari tempat itu tanpa mengucapkan salam.
Rifan terperangah, sementara Ruzayn hanya mengangkat kedua bahunya sedikit.
“Biayanya aku transfer saja, aku tidak memegang uang cash.” Ruzayn mengeluarkan ponsel dan membuka aplikasi mobile banking yang tersedia di ponselnya.
“Sebutkan nomor rekeningmu,” ucapnya kemudian.
Rifan kemudian menyebutkan deretan angka yang merupakan nomor rekeningnya, Ruzayn mengetikkan angka-angka tersebut di ponselnya. Dalam hitungan detik, transaksi mereka sudah berhasil dilakukan.
“Thank you, Bro,” ujar Rifan ketika ia menerima notofikasi di ponselnya.
“My pleasure,” jawab Ruzayn.
“Dan maafkan sikap Anaya tadi,” lanjutnya dengan menyesal.
“Tidak masalah, By the way... selamat atas pernikahannya. Semoga pernikahan kalian diberkahi dan kalian berbahagia sampai akhir hayat.” Rifan menepuk pelan lengan Ruzayn sebelum meninggalkan tempat tersebut. Ucapan Rifan itu hanya disambut dengan senyuman kecil oleh Ruzayn, ia sama sekali tidak mengimani doa yang Rifan ucapkan karena tujuan pernikahan ini bukan untuk kebahagiaan mereka melainkan untuk sesuatu yang harus Ruzayn raih.
Ruzayn bernafas lega di balik kemudi, ia menatap cincin yang terpasang di jarinya. Lalu ia membuka cincin itu dan menyimpan benda tersebut di saku tas kerja. Kemudian ia mulai melajukan mobilnya ke luar area kafe. Jika ia tidak bergegas, ia akan terlambat sampai di rumah dan mamanya pasti akan kecewa.
**
Anaya melemparkan ponselnya di kasur setelah berbicara dengan seseorang. Kemudian ia ikut tidur di sana, di samping ponselnya. Ia merasa lega karena masalah cincin sudah bisa ia atasi. Anaya melakukan segalapun untuk memperoleh yang ia inginkan.
Baru saja ia melakukan transaksi yang mengeluarkan uang yang cukup besar untuk memesan cincin pernikahan yang sesuai dengan keinginannya. Pihak yang Anaya hubungi bersedia menyiapkan pesanan Anaya jika gadis itu mampu membayar tiga kali lipat dari harga yang seharusnya. Tentu saja Anaya tidak menolak dan langsung menyetujui begitu saya. Ia tersenyum puas karena tidak ada masalah yang tidak bisa ia atasi. Semuanya bisa di selesaikan dengan cepat apabila ada uang, uang dan ... uang.
Masalahnya dengan Andre juga sudah selesai, meskipun ia sudah menjadi pemuas lelaki itu selama satu minggu, setidaknya Andre telah menepati janjinya untuk menghilang dari hidup Anaya dan menghapus semua video yang menjadi ancaman untuk pernikahannya nanti bersama Ruzayn.
“Begitu saja tidak becus, untung saja gue cinta, kalau saja bukan lu yang membeli, mungkin gue sudah membuangnya ke tempat sampah,” rutuknya.
Anaya mengangkat tangannya ke atas, netranya menatap cincin yang baru saja diberikan Ruzayn. Ia kemudian tersenyum sinis.
“Huh, tapi jangan khawatir ... jari ini akan semakin cantik karena sebentar lagi cincin yang gue suka akan melingkar di sini.”
“Namun untuk sementara, gue akan tetap memakainya. Yaaah, hanya untuk sekedar memberi tahu Mama dan Papa jika Ruzayn sudah membeli cincin ini.”