Diam-diam Mengagumi

1187 Kata
Shanaya memandangi Ahmad yang serius membersihkan rumput yang tumbuh di sekitaran taman bunga mini yang ada di samping rumah mereka. Sedari tadi, tangannya sangat gatal ingin ikut serta, namun Ahmad melarang dengan keras dan meminta Shanaya untuk melihat saja. Awalnya Shanaya menolak, ia mengambil tempat di sebelah Ahmad dan memaksa untuk membantu. “Tolong, Non. Duduk disana saja. Biar aku yang membersihkannya,” pinta Ahmad dengan sopan. “Mana bisa aku hanya duduk memerhatikan sementara kau bekerja sendiri.” Shanaya menolak permintaan Ahmad. “Aku sudah biasa, lagian ini juga bukan pekerjaan yang berat. Tidak membutuhkan tenaga yang besar untuk membersihkan ini semua.” “Karena itu aku ingin membantu, jika pekerjaan ini berat ... pasti aku hanya duduk menjadi tim penilai.” Gadis itu bersikeras. “Non Shan lihat itu?” tunjuk Ahmad pada kamera yang tergantung di sudut dinding. “Kamera? kenapa?” Shanaya mengernyit karena Ahmad mengalihkan pembicaraan mereka. “Jika Tuan Besar melihat Non berada di sini bersamaku dan ikut serta membersihkan rumput-rumput ini, maka... aku akan di pecat,” jelas Ahmad. “Di pecat?” Shanaya setengah berteriak. “Apa papaku sekejam itu?” tanyanya penasaran. “Ya!” jawab Ahmad berbohong. “Karena itu, aku mohon... duduklah di sana dan cukup membantu aku dengan melihat saja,” pinta Ahmad lagi sembari menunjuk sebuah bangku yang biasa Shanaya gunakan untuk membaca buku di sore hari. Shanaya kemudian bangkit dan duduk di tempat yang di tunjuk Ahmad. Dia tidak menyangka, Barend akan memperlakukan disiplin yang keras pada pekerja di rumah mereka. Padahal Ahmad sudah seperti saudara bagi Shanaya. Ia adalah anak satu-satunya Bi Yati, assisten rumah tangga yang sudah puluhan tahun ikut dengan mereka. Shanaya masih ingat, ketika ia pulang ke Jakarta, Ahmad adalah teman yang menyenangkan. Dibandingkan dengan Ayi, ia lebih banyak menghabiskan waktunya dengan Ahmad. Karena Ayi sangat jarang berada di rumah. Ayi lebih suka menghabiskan waktu bersama teman-teman sekolah dan teman kulianhya. Tidak terasa, sudah sepuluh menit ia melihat Ahmad bekerja, tentu saja rasa bosan ia rasakan. Shanaya mengambil ponselnya dan melihat-lihat sosial media untuk mengusir kejenuhan. Coba saja ia diperbolehkan untuk membantu, pasti pekerjaan Ahmad sudah selesai. Puas melihat sosial media, Shanaya kemudian teringat dengan Willake yang sudah meninggal. Ia lalu membuka gallery ponsel untuk melihat foto-foto sang oma untuk sekedar melepas rindu. Lalu Shanaya menemukan foto Ruzayn yang ia ambil secara diam-diam sewaktu mengunjungi kantor Barend tempo hari. Lama Shanaya menatap foto pria itu. Dalam hati ia mengagumi ketampanan calon suami Ayi. Pantas saja Ayi begitu bersikeras ingin menikahnya, dan Shanaya sudah tau alasannya. Jika Barend menjodohkan Ruzayn dengan dirinya, pasti Shanaya juga tidak akan menolak. Begitulah alam bawah sadar Shanaya berkata. “Lu lihat apa?” Shanaya tersentak, suara ketus yang bertanya tadi adalah suara Ayi. Bergegas ia menyimpan ponsel tersebut ke balik baju, Shanaya tidak ingin ketahuan oleh Ayi kalau ia sedang mengagumi wajah calon suami saudari sendiri. “Lu lihat apa?” Sekali lagi Ayi bertanya dengan nada suara yang cukup ketus, tidak hanya itu, ia merebut ponsel Shanaya yang jelas-jelas telah tersembunyi di balik baju yang saudarinya kenakan. “Dari mana lu mendapatkan foto ini?” tanyanya sengit. “A-aku tidak sengaja,” jawab Shanaya gugup. “Tidak sengaja?” Ayi berkacak pinggang. “Apa lu diam-diam mengagumi calon laki gue?” tanyanya kemudian. “Bukan... bukan begitu. Kau jangan salah paham,” ujar Shanaya takut. Ia khawatir akan menimbulkan salah paham antara dirinya dengan Ayi. “Ganteng kan? Tapi awas! Jangan sampai lu main mata dengan laki kembaran lu sendiri.” Ayi meletakkan dengan kasar ponsel Shanaya di meja. “Oh ya, lu lihat ini kan?” tanyanya sembari menunjukkan cincin yang melingkar di jari manisnya. “Hanya mengingatkan, jika seminggu lagi gue akan menikah. Dan hari ini, gue akan mengambil cincin pesanan yang baru yang lebih mahal dan lebih wah dari ini. Jika lu mau... lu bisa ikut sama gue. Hitung-hitung lu sadar kalau gue akan menikah dengan orang yang lu pandangi di ponsel lu tadi.” Shanaya mengangguk, ia cukup tau diri kalau ia yang salah di sini. Tidak ada salahnya menemani Ayi untuk mengambil cincin pernikahannya, sebagai tebusan jika ia telah mengaku salah karena diam-diam mengagumi Ruzayn. “Oke, gue ganti baju dulu sebentar.” Ahmad yang dari tadi diam mendengar perdebatan kecil antara dua saudara kembar itu memberanikan diri mendekati Shanaya ketika Ayi sudah beranjak dari tempat mereka. “Non, apa benar yang di katakan Non Ayi?” tanyanya ingin tahu. Shanaya tersenyum kecil dan mengangguk. “Non Shan beneran suka dengan calon suami Non Ayi?” tanyanya lagi. Shanaya diam, ia tidak menjawab apa-apa. Namun rona merah di wajah Shanaya telah menjawab pertanyaan Ahmad. “Pak Ruzayn orang yang sangat baik, ia juga sangat tampan. Non Ayi juga cantik, tapi... sebenarnya ia tidak cocok menikah dengan Pak Ruzayn karena Non Ayi orangnya....” “Sudah, jangan di teruskan,” potong Shanaya. “Kalau menurut aku... Pak Ruzayn lebih cocok menikah dengan Non Shan,” ujar Ahmad berbisik. “Kamu jangan berkata seperti itu, nanti jika Ayi mendengar... ia pasti akan marah lagi.” Shanaya balas berbisik. Keduanya menahan tawa karena Ayi sudah berjalan mendekat ke arah mereka. “Ayo! Ikut gue!” Ayi berkata sambil berlalu, tanpa melihat Shanaya dan Ahmad yang sedang bersama. “Aku pergi dulu,” pamit Shanaya, berjalan mengikuti langkah Ayi. Ahmad memandangi kedua saudara kembar itu sampai mobil yang dikendarai Ayi keluar dari pekarangan rumah. Kemudian ia masuk ke dalam menemui Yati, ibunya. Sementara itu Shanaya memegangi erat pinggiran jok mobil karena Ayi membawa mobil dengan kecepatan yang sangat tinggi. “Ayi, kurangi kecepatan. Aku gamang,” pinta Shanaya takut. “Alaaah, makanya jangan kebanyakan naik perahu. Sesekali coba juga naik kuda besi, belajar nyetir dan minta Papa buat belikan mobil,” sindir Ayi. “Ayi, gak buru-buru kan? Aku mual jika ngebut seperti ini.” Shanaya memohon lagi. “Gue sengaja, biar lu tau. Jangan sesekali menaruh hati pada Ruzayn. Sudah jelas dia calon laki gue, lu malah diam-diam memandangi fotonya. Gue curiga... jangan-jangan, lu juga diam-diam mengambil fotonya dan memandangi wajahnya sebelum lu tidur.” “Bukan, kamu salah paham. Aku memang sengaja mengambil fotonya sewaktu berkunjung ke kantor papa. Aku mau bertanya pada kalian, kenapa dia menatap aku dengan tatapan aneh. Mungkin ia mengira kalau aku itu kamu, Ayi.” Shanaya menjelaskan. “Tapi Papa sudah menceritakan jika dia adalah calon suami kamu, aku lupa menghapus fotonya dan tadi ... tadi aku tidak sengaja. Aku rindu oma, dan ingin melihat foto oma yang tersimpan di gallery tapi aku menemukan foto Ruzayn.” “Huhh! Gue gak bisa di bohongi. Tatapan mata lu jelas-jelas memperlihatkan jika lu kagum sama dia. Emang gue anak kecil yang bisa lu bohongi?” “Oke, aku salah! Aku minta maaf. Tapi tolong... pelankan mobilnya. Aku serasa... serasa... mau....” Oeeekk! Belum selesai Shanaya berkata, cairan putih keluar dari mulutnya yang di ikuti dengan aroma yang tidak sedap. “Hei, Apa-apaan sih, Shan! Lu muntah?! Lu mengotori mobil gue! b******k!” Ayi mengumpat Shanaya. Ia melihat Shanaya berkali-kali dengan pandangan jijik, sementara laju kendaraan tidak ia kurangi sama sekali. Tidak lama kemudian, tanpa Ayi sadari. Braaaakkk....
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN