Cincin Ayi

1139 Kata
”Bu, aku mau keluar sebentar.” Ahmad buru-buru meletakkan kored yang ia gunakan untuk membersihkan rumput tadi di gudang yang bersebelahan dengan dapur. Tanpa menunggu jawaban dari Yati, ia langsung masuk ke kamar mandi untuk membersihkan tubuh. Tidak sampai lima menit, Ahmad sudah siap untuk bepergian. Ia lalu mengambil kunci motor yang tergantung di dekat kulkas. “Kau mau kemana, Mad?” tanya Yati heran. “Ada perlu.” Ahmad mencium punggung tangan Yati dan dengan berlari ia menuju motornya yang terparkir di halaman depan. Yati hanya memandangi Ahmad dengan tanda tanya yang besar dikepalanya, tidak biasa Ahmad terburu-buru dan tidak mengatakan dengan jelas kemana ia akan pergi. Tapi karena pekerjaan yang dilakukannya sedang banyak, Yati langsung melupakan hal tersebut dan kembali fokus pada masakan yang sedang ia masak. Ahmad membawa sepeda motornya dengan kecepatan tinggi karena ia khawatir akan kehilangan jejak Shanaya yang dibawa Ayi keluar. Entah mengapa perasaannya menjadi tidak enak ketika mereka berdua tadi pergi. Ditambah lagi saat ia melihat mobil Ayi melaju dengan kecepatan tinggi, Ahmad menjadi sangat khawatir. Ia mengkhawatirkan Shanaya, karena Shanaya belum terbiasa dengan berkendaraan seperti itu. Ketika Ahmad hampir dekat, bunyi dentuman kuat mengagetkan semua pengendara yang berada di sekitar sana. Mobil yang dikendarai Ayi bertabrakan dengan mobil pengendara lain. Seketika suasana di sekitar menjadi ricuh. Banyak kendaraan yang berhenti melihat kejadian tersebut sehingga menimbulkan kemacetan lalu lintas. Ahmad menghentikan motornya, dengan berlari ia menuju tempat kejadian. “Non Shan... Non Shan,” teriak Ahmad histeris. Orang-orang yang sedang berkerumun memberi jalan kepada Ahmad karena teriakan Ahmad mereka mengira jika Ahmad mengenali korban kecelakaan. “Tolong! Tolong panggilkan ambulan.” ** Tubuh Ahmad gemetaran, ia tidak tenang menunggu di depan ruang ICU. Apa yang terjadi pada dua saudara kembar itu di dalam? Apa yang harus ia sampaikan pada keluarga Tuan Barend nanti jika terjadi sesuatu yang buruk pada mereka? Ahmad memilin-milin jari tangannya untuk menghilangkan rasa khawatir, ia masih tidak percaya pada kenyataan yang menimpa anak majikan ibunya itu. Ia mengikuti mereka karena rasa khawatir yang tiba-tiba ia rasakan pada Shanaya, namun ia tidak menyangka... kekhawatiran itu berubah menjadi rasa takut. Sekarang Ahmad menjadi sangat takut jika terjadi hal yang buruk pada Shanaya maupun Anaya, karena pasti Tuan Barend akan menanyakan perihal kejadian ini pertama kali kepadanya. Pintu ruang ICU berderit, seorang dokter keluar dan menghampiri Ahmad. “Anda keluarganya?” “Sa-saya teman mereka,” jawab Ahmad dengan wajah pucat. “Yang satu kritis, karena kepalanya kena benturan yang kuat dan yang satu lagi kondisinya tidak begitu parah. Kami sudah memberikan pertolongan pertama, coba hubungi keluarga mereka supaya kami bisa melakukan langkah pengobatan selanjutnya.” “Ta-tapi... saya tidak punya ponsel, Pak Dokter,” ungkap Ahmad jujur. Dokter tersebut menghela nafasnya, ia kemudian menunjuk seorang perawat yang kebetulan keluar dari ruang ICU. “Mir, dimana barang-barang korban kecelakaan. Pria ini mungkin membutuhkan ponsel untuk menghubungi keluarga mereka.” Gadis yang memakai setelan perawat bewarna biru itu mengangguk, ia kemudian mengajak Ahmad untuk masuk ke dalam dan memberikan barang yang di butuhkan Ahmad. Ahmad menerima dengan tangan gemetar ponsel yang di sodorkan oleh perawat yang bernama Mira itu, ia kemudian memencet tombol power yang berada di samping ponsel. “Terkunci,” gumam Ahmad sembari melirik pada Mira. “Coba pakai yang ini,” Mira menyodorkan satu ponsel lagi ke tangan Ahmad. Ponsel yang terkunci tadi diletakkan kembali ke box bersama barang yang lain yang mereka temukan di tempat kejadian. Ahmad memencet tombol power, sama seperti yang ia lakukan pada ponsel yang pertama. Setelah itu ia mengusapkan jempolnya ke layar. Di layar utama ponsel ia melihat foto Shanaya dengan latar belakang peternakan yang di yakini Ahmad adalah peternakan mereka di Giothoorn. Dan ketika Ahmad membuka ponsel yang tidak menggunakan sandi itu, tampilan gambar yang pertama kali di lihat Ahmad adalah gambar Ruzayn. ‘Ternyata foto ini yang membuat Ayi marah kepada Shanaya sebelum mereka berangkat tadi. Benar apa yang di katakan Ayi jika Shanaya diam-diam mengagumi Pak Ruzayn dengan menyimpan dan memandangi foto Ruzayn di ponsel.’ Ahmad berkata di dalam hati. ‘Lu lihat ini kan? Hanya mengingatkan, jika seminggu lagi gue akan menikah.’ Kata-kata Ayi pada Shanaya terngiang kembali di telingan Ahmad. “Bisa?” tanya Mira. Ahmad terperanjat, ia kemudian mengangguk dan memencet nomor yang sudah sangat ia hapal dengan tangan yang masih gemetar. “B-bu ...,” ujarnya dengan bibir yang gemetar. “Ahmad? Kenapa ponsel Non Shan ada sama kamu?” tanya Yati heran. “B-bu... Non Shan dan Non Ayi, kecelakaan. Tolong sampaikan pada Ibu Rumi atau Tuan Barend. Sekarang mereka di rumah sakit.” Ahmad langsung memutuskan sambungan setelah mengatakan rumah sakit tempat Shanaya dan Ayi di rawat, ia sungguh tidak akan bisa menjawab jika ibunya akan bertanya lebih jauh lagi tentang kecelakaan yang menimpa anak majikan mereka. Ia kemudian menyerahkan lagi ponsel tersebut pada Mira untuk digabungkan dengan barang-barang yang lain. “Bagaimana keadaan mereka?” tanya Ahmad pada Mira. “Yang satu kritis dan yang satu lagi tidak begitu parah,” jawab Mira. “Dokter Adnan sedang menyiapkan ruang operasi, salah satu dari mereka harus segera di operasi,” lanjut Mira lagi. “Si-siapa yang kritis?” tanya Ahmad. “Dia,” tunjuk Mira. Ahmad memandangi tubuh Ayi yang sedang terbaring di brankar ICU, lalu ia mengalihkan pandang pada Shan yang terbaring di brankar sebelah Ayi. Pria itu menatap lama punggung Mira yang berjalan ke luar ruangan. Lalu ia mendekati Ayi, kemudian ia mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan, buru-buru ia melepas cincin yang melingkar di jari manis Ayi. Ia kemudian mengenggam cincin tersebut dengan erat ketika benda itu sudah berada di tangannya. Bersamaan dengan itu, dua orang perawat masuk ke ruangan, Ahmad segera menjauh dari brankar Ayi. Dua orang tersebut mendorong brankar Ayi ke luar ruangan. “Pasien mau di operasi,” ujar perawat tersebut pada Ahmad. Setelah itu, Ahmad memandangi Shanaya yang masih belum sadar. Pria itu mendekat pelan, ia kemudian mengangkat tangannya yang masih mengenggam cincin Ayi. Lama Ahmad terdiam, lalu ia tersentak ketika mendengar langkah kaki yang mendekat ke arah mereka. Dengan sisa keberanian yang ia punya, Ahmad memasangkan cincin tersebut di jari Shanaya. Jantung Ahmad berdetak sangat kencang ketika melakukan hal tersebut, setelah itu ia terduduk lemas di kursi yang berada di samping brankar. “Ahmad, bagaimana ini bisa terjadi?” Ahmad menoleh, Tuan Barend dan istrinya sudah berada di ruang tersebut. Rumi berlari ke arah Shanaya dengan wajah yang sudah basah dengan air mata, sementara itu Tuan Barend menatap putrinya dan Ahmad bergantian. “Bagaimana ini bisa terjadi?” ulang Tuan Barend. “Me-mereka melanggar lampu lintas,” jawab Ahmad dengan bibir yang gemetar. “Bagaimana dengan Shanaya?” tanya Rumi. “Di-dia....” Ahmad menunjuk Shanaya yang terbaring di dekat mereka, ia kemudian menarik kembali tangannya karena teringat jika ia telah memasangkan cincin Ayi di jari Shanaya. “Non Shan di ruang operasi,” jawab Ahmad kemudian.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN