Rumi duduk diam di kursi panjang di depan ruang operasi. Tatapannya tidak lepas dari lampu ruang operasi yang masih menyala. Sementara Barend berjalan mondar mandir dan sesekali duduk di samping Rumi.
Barend menyuruh Ahmad untuk pulang ke rumah usai menceritakan semua kejadian yang menimpa Shanaya dan Anaya, namun pria itu menolak. Ia bersikeras untuk tetap berada di rumah sakit sampai operasi selesai dilaksanakan. Rumi memahami keinginan Ahmad karena ia tau, Ahmad adalah satu-satunya teman Shanaya selama di Jakarta.
“Minum kopi ini dulu, Tuan.” Ahmad menyodorkan segelas kopi panas pada Barend. Disusul kemudian dengan segelas teh hangat yang ia berikan pada Rumi.
“Diminum tehnya, Bu,” ujar Ahmad.
Sepasang suami istri tersebut meminum minuman yang diberikan Ahmad. Hanya beberapa tegukan yang masuk ke tenggorokan keduanya. Ahmad mengambil kembali dua gelas tersebut dan meletakkannya di kursi kosong di samping ia duduk.
Hampir dua jam mereka menunggu dalam ketidakpastian. Barend hanya memberi persetujuan pada dokter untuk segera melakukan operasi melalui sambungan telepon, usai mendapat kabar dari Yati. Ia tidak menyangka, jika putrinya Shanaya mengalami kondisi yang sangat parah seperti ini. Barend pikir yang terjadi hanya kecelakaan biasa dengan luka yang tidak terlalu berat.
Dua puluh menit kemudian, lampu operasi telah dimatikan. Barend dan Rumi serentak berdiri, dengan tidak sabar mereka menunggu dokter yang menangani operasi putri mereka. Barend memegang erat tangan Rumi, hanya itu yang bisa ia lakukan saat ini untuk menenangkan istrinya.
Pintu operasi dibuka, Dokter Adnan membuka kacamatanya dan menghampiri sepasang suami istri tersebut.
“Operasinya berjalan dengan baik, pasien masih belum sadarkan diri. Kemungkinan... akan ada operasi kedua di kepalanya,” jelas Dokter Adnan.
Dokter tersebut menatap bergantian pada Barend dan Rumi, kemudian melanjutkan.
“Sebentar lagi, pasien akan dipindahkan ke ruang rawat. Mungkin kalian bisa melihatnya nanti saat sudah di pindah.”
Mata Rumi kembali berkaca-kaca mendengar penjelasan Dokter Adnan. Kenapa harus Shanaya? Kenapa harus anak mereka yang mengalami kecelakaan? Sangat tidak adil bagi mereka karena Shanaya baru saja berkumpul bersama mereka setelah puluhan tahun tinggal bersama oma nya di Belanda.
Tapi bukan juga Rumi berharap jika Ayi yang harus berada di ruang operasi. Tidak... Rumi tidak ingin keduanya. Rumi hanya menyesali kenapa puterinya yang harus mengalami kejadian tersebut. Kenapa bukan orang lain saja.
“Sudahlah, tidak baik menyalahkan tuhan atas kejadian ini,” ujar Barend dan membawa Rumi kembali duduk ke tempat semula.
Rumi menoleh, Barend ternyata masih bisa membaca pikirannya. Ia kemudian tersadar dan membenarkan ucapan Barend.
“Maafkan aku, aku hanya... aku hanya....”
“Sudahlah, aku mengerti. Kita harus percaya jika dokter sudah melakukan yang terbaik untuk puteri kita. Sekarang kita hanya bisa berdoa pada Tuhan untuk kesembuhan mereka.” Barend mengusap lembut kepala Rumi.
“Ahmad, kami mau melihat kondisi Shanaya dulu, kamu coba lihat keadaan Ayi. Apa dia sudah sadar apa belum,” perintah Barend.
“Baik, Pak.” Ahmad segera berbalik dan berjalan menuju kamar Ayi, yang sebenarnya adalah Shan.
Ahmad mendorong pelan pintu kamar yang memang tidak terkunci. Dari arah luar, ia melihat Shan yang masih belum sadarkan diri. Tuan Barend meminta pada dokter jika kedua putrinya nanti di tempatkan di kamar yang sama, hanya untuk memudahkan mereka untuk menjaga.
Satu tempat tidur kosong sudah tersedia di samping tempat tidur Shanaya. Ahmad berjalan mendekat.
“Maafkan aku, Non Shan. Aku tidak tau yang aku lakukan ini benar atau salah. Aku hanya ingin, kau yang menikah dengan Pak Ruzayn... bukan Non Ayi.”
Ahmad berkata sambil memandangi wajah Shan.
“Mulai hari ini, kau adalah Non Ayi. Kau dengar?”
“Non Ayi baru saja menjalani operasi di kepalanya. Kata dokter, akan ada operasi kedua di tempat yang sama. Aku tidak tau persis seberapa parah benturan itu terjadi, tapi kata dokter... keadaan Non Ayi sangat parah.”
“Tuan Barend dan Ibu Rumi mengira, jika yang berada di ruang operasi itu adalah kau. Mereka terlalu shock mendengar berita kecelakaan kalian hingga tidak bisa lagi mengenali puteri mereka. Ibu Rumi mengira kau adalah Non Ayi karena melihat cincin yang aku pasangkan di jarimu.”
“Dan tolong jangan memarahiku karena hal ini, jika kau sampai memarahiku... maka... maka... Ibu akan membunuhku dan ibuku akan hidup seorang diri tanpa anak dan suami.”
“Tidak hanya itu, Tuan Barend pasti juga akan menghukum ibuku karena perbuatan ku ini.”
Ahmad terus saja berceloteh, mengatakan semua yang ia rasakan pada Shanaya yang terbaring tidak sadarkan diri. Ahmad tidak menyadari, di setiap akhir katanya, Shanaya selalu merespon dengan menggerakkan jari telunjuknya.
Puas menumpahkan isi hatinya, Ahmad melangkah pelan ke luar ruangan. Ia hendak menemui Tuan Barend dan ingin memastikan keadaan Ayi. Ahmad ingin mempersiapkan diri jika Ayi nanti sadar, maka ia harus siap menerima segala hukuman yang akan diberikan oleh Tuan Barend sekeluarga.
Ahmad merasa ketakutan karena hal itu.
Sementara itu, sepeninggal Ahmad. Shanaya yang sedang terbaring membuka matanya dengan pelan. Beberapa bulir air jatuh dari kedua matanya, lalu mata itu kembali terpejam.
**
“Pasien sudah sadar,” seorang perawat datang menghampiri Dokter Adnan yang baru selesai membersihkan tangan usai melakukan operasi.
“Bagaimana keadaannya? Sudah diperiksa?” tanya Adnan.
“Tekanan darahnya masih rendah. Pasien juga tidak mau berbicara.”
Dokter Adnan mengganti snelli-nya dengan yang bersih, ia kemudian melangkahkan kaki menuju ruang inap Shanaya. Usai memeriksa keadaan Shanaya, dokter yang sudah hampir pensiun itu mencoba mengajak Shanaya untuk berkomunikasi.
“Apa yang kau rasakan saat ini?” tanya Dokter Adnan pelan.
Shanaya yang di tanya tidak merespon sama sekali, gadis itu hanya menatap Dokter Adnan dengan pandangan sayu.
“Apa kau mendengarkan aku?” tanya Dokter Adnan lagi.
Shanaya tetap diam, matanya masih juga tidak berkedip.
Dokter Adnan menggerak-gerakkan tangan kanannya di depan wajah Shanaya, ia ingin memastikan apakah Shanaya kehilangan penglihatan ataupun pendengarannya. Shanaya menutup matanya ketika Dokter Adnan melakukan gerakan cepat di dekat matanya.
Ia kemudian bernafas lega karena apa yang ia khawatirkan tidak terbukti. Dokter Adnan menganalisa jika Shanaya masih berada dalam fase trauma karena kecelakaan yang ia alami.
“Suruh orangtuanya ke ruangan, aku tunggu di sana.” Perintah Dokter Adnan pada perawat.
.
.
Shanaya membuka matanya ketika merasakan usapan lembut di kepalanya. Mata gadis itu kemudian berkaca-kaca ketika melihat Barend dan Rumi.
“Ayiii.” Barend berkata lembut.
Shanaya mengerjap, ‘Apa aku salah dengar?’
“Ayiii.” Rumi mengusap pipi Shanaya dengan lembut.
Tubuh Shanaya gemetar, ia berharap yang ia dengar sekarang adalah kesalahan.
“Ayiii, apa kau mendengarkan mama?”
Shanaya kemudian terisak, ia masih takut untuk bersuara. Beberapa saat yang lalu, ia berfikir jika itu hanya mimpi. Shanaya bermimpi kalau Ahmad mendatanginya dan berkata sesuatu hal tentang dirinya dan Ayi.
Ternyata ia tidak bermimpi, kedua orangtuanya juga memanggil dirinya Ayi. Itu artinya Ahmad tidak berbohong dan semua yang ia dengar itu adalah kenyataan.
Pelan Shanaya mengangkat tangan kirinya, samar ia melihat jika cincin Ayi memang melingkar di jari manisnya.
“Ayiii, jangan khawatir. Kau akan tetap menikah dengan Ruzayn, percayalah pada papa.” Barend bersuara.