Pelan Shanaya mengangkat tangan kirinya, samar ia melihat jika cincin Ayi memang melingkar di jari manisnya.
“Ayiii, jangan khawatir. Kau akan tetap menikah dengan Ruzayn, percayalah pada papa.” Barend bersuara.
Tidak, Pa! Bukan itu maksudku.
“Papamu benar, kalian akan tetap menikah.” Rumi juga ikut bersuara.
Shanaya menggelengkan kepalanya.
Ini benar-benar nyata. Ini bukan mimpi. Ahmad benar, ia memasangkan cincin Ayi di jari ku? Apa yang harus aku lakukan? Tidak mungkin aku berpura-pura menjadi Ayi.
Tapi bagaimana keadaan Ayi? Bagaimana keadaannya sekarang? Apa kondisinya benar-benar parah seperti yang Ahmad sampaikan?
“P-pa....” Shanaya mulai bersuara.
“Iya, Sayang. Papa akan dengarkan.”
“A....” Shanaya berhenti, ia mengatupkan kembali bibirnya. Kemudian ia menatap Barend dan Rumi bergantian.
“Kau mau apa? Bilang saja sama mama dan papa,” ujar Rumi.
Shanaya tampak ragu, ia ragu harus melanjutkan permainan yang diciptakan Ahmad atau berkata jujur pada orangtuanya. Disaat Shanaya memilih untuk jujur, perkataan Ahmad tentang hukuman yang akan diberikan papanya pada keluarga mereka jika Ahmad ketahuan, terngiang kembali di telinga Shanaya.
“S-shan,” Shanaya akhirnya bersuara.
Ia tidak tau, apa keputusannya untuk melanjutkan permainan Ahmad ini benar atau tidak. Tapi untuk saat ini, ia memilih jalan ini. Setelah ia pulih nanti, ia sendiri yang akan menghajar Ahmad karena telah melakukan tindakan bodoh seperti ini.
“Dia masih belum sadar. Shan masih di ruang rawat karena baru saja di operasi. Kata dokter, akan ada operasi kedua di kepalanya.” Rumi menghapus air mata yang jatuh dengan telapak tangannya.
Diwaktu yang bersamaan, Rumi harus merasakan sedih dan bahagia. Ia bahagia jika Ayi sudah sadar dan bisa berkomunikasi dengan mereka meskipun kondisinya masih sangat lemah. Namun di sisi lain, Rumi juga bersedih karena ia harus melihat kenyataan putri mereka, Shanaya yang baru saja berkumpul bersama mereka masih terbaring tidak sadarkan diri dan mesti menjalani operasi berat di kepalanya.
“Apa kau ingin papa mengabari Ruzayn? Dia sama sekali belum mengetahui kecelakaan yang menimpa kalian.” ucap Barend.
Shanaya menggeleng.
“Baiklah jika kau belum siap. Kau bisa minta apapun pada papa jika kamu menginginkannya.”
“S-shan,” gumamnya lagi.
“Apa kau ingin bertemu Shanaya?”
Shanaya mengangguk. Ia memang sangat ingin melihat keadaan Ayi.
“Baiklah, papa akan meminta izin pada dokter untuk membawa mu menemui Shan.” Barend tersenyum dan meninggalkan ruang inap tersebut.
“Apa kau mengkhawatirkan Shanaya?” tanya Rumi pelan.
Shanaya kembali mengangguk. Tentu saja ia mengkhawatirkan Ayi. Kecelakaan itu terjadi karena dirinya muntah di mobil, dan Ayi sangat kesal yang menyebabkan ia tidak fokus membawa mobilnya sehingga kecelakaan itu terjadi.
Tidak lama kemudian, Barend masuk kembali bersama seorang perawat yang membawa kursi roda.
“Dokter mengizinkannya, tapi Ayi tidak bisa lama di sana karena kondisi Ayi sendiri juga belum terlalu pulih,” ucap Barend.
“Kau dengar kan, Ayi? Dokter hanya mengizinkan kita sebentar saja di sana,” ulang Barend lagi.
Shanaya menanggapi perkataan Barend dengan anggukan kepala. Ia masih takut untuk berbicara banyak, khawatir salah satu dari mereka nanti akan mengenali dirinya.
Perawat tersebut membantu Shanaya untuk duduk di kursi roda, botol infus Shanaya juga telah di pindahkan ke tiang infus yang ikut di bawa Shanaya bersama kursi roda.
“Biar aku saja yang mendorong,” pinta Barend ketika perawat terebut hendak mendorong kursi roda yang di duduki Shan.
Barend yang mendorong Shanaya dan Rumi berjalan bersisian menuju kamar Ayi. Sesuai dengan peraturan rumah sakit, hanya satu orang yang bisa menemui Ayi. Barend membawa Shan dan meninggalkan kedua putrinya itu di dalam. Ia dan Rumi hanya bisa memperhatikan di luar ruangan melalui kaca.
“Ayiii, maafkan aku. Aku tidak tau yang aku lakukan ini benar atau salah. Setelah aku sembuh nanti, aku akan menemui Ahmad dan meminta ia bertanggung jawab atas permainan yang ia ciptakan ini.”
“Sekarang, aku belum bisa mengakuinya pada Mama dan Papa. Aku takut, papa akan marah dan menghukum Ahmad.”
“Tapi kau jangan khawatir, aku akan tetap menjadi Shanaya. Aku tidak akan berubah meskipun semua orang memanggil aku Ayi. Ini hanya masalah panggilan nama saja, kan, Yi?”
“Milikmu... akan tetap menjadi milikmu. Aku tidak akan mengambilnya dan menjadikan itu milikku hanya karena mereka memanggilku Ayi. Jadi... kau jangan khawatir.”
“Oleh karena itu... kau harus berjuang untuk sembuh ya. Aku yakin kau orang yang kuat dan tidak akan mudah menyerah.”
Shanaya mengangkat pelan tangannya, ia mengenggam tangan Ayi dengan erat. Telapak tangan Ayi terasa sangat dingin ketika kulit tangan Shanaya menyentuhnya.
“Cepat sembuh, aku akan menunggumu,” ujar Shanaya.
Kemudian Shanaya memberi kode pada Barend untuk menjemputnya kembali.
**
Shanaya dan Ayi tidak jadi berada di ruangan yang sama, Ayi di tempatkan di ruang khusus karena ia belum juga sadarkan diri. Sudah tiga hari semenjak dijalan kan operasi yang pertama, tapi tanda-tanda Ayi akan sadar belum kelihatan.
Rumi membelai lembut kepala Ayi yang sudah tidak memiliki rambut. Dokter sengaja mencukur habis rambut Ayi supaya memudahkan mereka untuk melakukan operasi.
“Shan, mama harap kau akan segera sadar,” ucap Rumi dengan nada sedih.
“Ayi mau menikah tiga hari lagi. Mama ingin, di hari pernikahan Ayi kita akan menyaksikannya dengan keluarga yang utuh. Ada Ayi, kamu, mama dan Papa.”
“Shan, mama tau... kau adalah gadis yang sangat kuat. Kau pasti bisa melalui masa ini dan akan pulih dengan cepat. Mama yakin kau akan segera sadar dan kita akan kembali berkumpul bersama.”
“Maafkan mama, jika kami tetap akan menikahkan Ayi dengan Ruzayn sementara kau masih berada di sini. Mereka tidak jadi melangsungkan pesta pernikahan seperti yang sudah direncanakan sebelumnya karena Ayi yang meminta demikian.”
Kemudian Rumi tersenyum kecil.
“Ayi sudah mulai berubah, sekarang ia tampak lebih pendiam dan lebih perhatian kepadamu. Setiap hari ia bertanya ‘bagaimana keadaan Shan, Ma?, Apa Shan sudah lebih baik?’. Ia sangat mencemaskan keadaanmu. Karena itu, kau juga harus berjuang untuk sembuh.”
Rumi mengakhiri ucapannya, sekali lagi ia mengusap kulit kepala Ayi-yang sampai sekarang masih ia anggap sebagai Shanaya.
“Mama pergi dulu, sebentar lagi Papa akan kesini. Kami sayang padamu, Shan. Kau harus berjuang untuk segera sembuh ya....”
Rumi kemudian melangkah menjauh, ia membuka pintu kamar ruang VVIP itu dengan cepat dan menutupnya kembali ketika ia sudah berada di luar. Rumi berdiri bersandar di dinding, sedari tadi ia berusaha supaya tidak menangis di samping putrinya.
Rumi menjalankan semua yang di perintahkan oleh dokter, jika ia harus memotivasi putrinya dan memberikan aura positif supaya kesehatan putrinya semakin membaik. Rumi selalu berusaha untuk tersenyum meskipun dalam hati ia menangis melihat kondisi Shanaya yang belum memperlihatkan tanda-tanda untuk sembuh.