Ruzayn menaikkan sedikit kaki celananya untuk menghindari genangan air di jalan tanah yang ia lalui. Sisa hujan tadi malam masih membekas di sepanjang jalan tersebut. Meskipun tanah tersebut masih basah dan membuat lengket di sendal yang ia pakai, Ruzayn tetap melaluinya.
Tempat yang Ruzayn tuju berjarak sekitar seratus meter dari gerbang luar, tempat ia memarkirkan mobilnya. Pria itu rutin berkunjung ke sana minimal satu kali dalam sebulan. Terakhir ia mengunjungi seseorang yang sedang beristirahat di sana sekitar satu bulan yang lalu, usai kelarga Tuan Barend mengajak untuk makan malam bersama Rasyad dan Lyra.
Ruzayn memandangi gundukan tanah basah itu dengan seksama. Ia lalu duduk jongkok di samping batu nisan yang bertuliskan nama Zahra Rahmadani. Bunga yang ia bawa, ia letakkan di depan nisan. Satu tangannya membersihkan rumput liar yang tumbuh di sekitar makam itu.
“Bu....” Ruzayn buka suara.
“Tiga hari lagi aku akan menikah, Mama dan Papa tidak sepenuhnya merestui pernikahan ini. Mereka dengan berat hati memberikan izin karena aku yang bersikeras memintanya.”
“Bu, ibu pasti mengerti mengapa aku mengambil keputusan ini. Ibu pasti memahami apa yang aku inginkan. Aku datang lagi ke sini untuk meminta restu dari Ibu. Bagaimanapun, Ibu adalah ibu kandungku, Ibu yang melahirkan aku, berikan aku restu sehingga aku bisa mencapai apa yang aku inginkan.”
“Mama dan Papa tidak mau ikut campur dalam urusan pernikahan ini, tapi aku minta pada Ibu untuk ikut serta, cukup dengan memberikan restumu.”
Ruzayn kemudian tersenyum kecil, tangannya mengusap batu nisan Zahra. Meskipun ia tidak pernah melihat Zahra namun ia bisa merasakan cinta di dalam hatinya untuk wanita yang tertidur di bawah sana.
“Aku pulang, Bu. Maaf, aku mungkin tidak akan membawa istriku nanti ke sini. Ibu pasti bisa memakluminya. Maafkan aku....”
Ruzayn lalu berdiri, ia menatap lagi nisan Zahra sebelum ia meninggalkan makam tersebut.
Sementara itu, di tempat lain.
“Makanlah yang banyak, tiga hari lagi kalian akan menikah. Apa kau mau terlihat kurus di hari pernikahan nanti?”
“Maaa, apa pernikahan ini tidak bisa di tunda dulu?”
Rumi tersenyum mendengar ucapan putrinya.
“Bukankah kau dari dulu bersikeras untuk menikah secepatnya dengan Ruzayn? Kenapa sekarang minta di tunda?” tanyanya lembut.
“A... m-maksudnya Shan... tidak bisakah kita menunggu sampai Shan sadar dari koma?”
Rumi tersenyum lagi,
“Mama sangat senang, kau menjadi sangat perhatian seperti ini pada saudari mu. Tapi kau mendengar sendiri kata dokter kan? Shan belum tau kapan akan sadar. Satu minggu lagi ia akan menjalani operasi ke dua.”
Rumi membelai rambut putrinya, ia lalu melanjutkan.
“Mama sebenarnya juga ingin menunggu sampai Shan sadar dulu, tapi Papa meminta pernikahan kalian tetap dilaksanakan. Papa ada keperluan ke Giothoorn, Om Dendrick sedang sakit. Jika kalian sudah menikah, Papa akan tenang meninggalkan perusahaan sama Ruzayn. Ruzayn juga tidak keberatan, kalau kalian menikahnya di sini dan tanpa pesta pernikahan.”
“Maaa, menurut mama... apa Ruzayn mencintai ku?”
“Kenapa kau bertanya seperti itu?”
“Aku hanya penasaran dengan perasaan Ruzayn sebenarnya.”
“Ayiii... Ruzayn adalah pria yang baik. Papamu sudah mengenal Ruzayn dengan baik sebelum setuju untuk menikahkan kau dengan nya. Mama hanya berharap, kau juga bisa jadi istri yang baik nantinya,” ujar Rumi.
Di sela ucapannya, Rumi berdoa jika sikap Ayi yang selama ini kurang baik bisa berubah setelah menikah.
“Tapi Shan....”
“Shanaya pasti akan sembuh, saudarimu itu orang yang kuat. Kau harus percaya itu.” Rumi berkata sembari mengambil sepiring bubur yang masih tersisa.
“Sekarang, habiskan makanmu. Sebentar lagi Ruzayn dan keluarganya akan datang,” perintah Rumi.
Shanaya membuka mulutnya, ia memakan bubur yang di suapi Rumi. Gadis itu masih belum berani mengungkapkan semuanya. Setelah ia sadar, ia belum bertemu dengan Ahmad. Ia ingin meminta penjelasan Ahmad terlebih dahulu baru mengambil sikap.
**
Setelah berkali-kali bertanya pada Yati mengenai Ahmad dan memohon pada Yati untuk meminta Ahmad menemuinya, akhirnya pria itu datang juga menemui Shanaya di rumah sakit.
“Kau kemana saja?” tanya Shanaya geram.
Ahmad baru saja masuk ke ruangannya sambil membawa dua box kecil dan meletakkannya di sudut ruangan.
“Ma-maaf Non.” Ahmad menjawab sambil menunduk. Ia sama sekali tidak berani menatap Shanaya yang sedang menghakiminya dengan tatapan tajam.
“Apa maksud dari permainan ini? Kau pikir aku senang melakukannya?”
“Sekali lagi aku minta maaf, Non. Aku hanya ingin... Non yang menikah dengan Pak Ruzayn, bukan Non Ayi.”
“Siapa kau sampai berani memutuskan hal sebesar ini?” Wajah Shanaya memerah, beberapa hari ini ia sudah menahan amarah karena perbuatan Ahmad. Sekarang pria itu memberikan alasan yang sangat tidak masuk di akal.
“Apakah kau tidak memikirkan bagaimana aku akan menjalani kehidupan selanjutnya sebagai Ayi?” Suara Shanaya mulai melemah. Ia merasa menyesal telah mengeluarkan kata sekasar itu pada Ahmad.
“Maaf Non, hanya saja... hanya saja, aku melihat kalau Non juga menyukai Pak Ruzayn. Karena itu, aku pikir ini adalah jalan satu-satunya,” ucap Ahmad masih dengan menundukkan kepala.
“Kau menginginkan aku yang menikah dengan Ruzayn, tidak bisakah kau mengerti jika aku tidak ingin menjadi orang lain untuk mendapatkan sesuatu?”
Ahmad mengangkat kepalanya, kali ini ia sudah berani menatap Shanaya.
“Aku benar-benar meminta maaf, aku tidak berfikir panjang waktu itu. Hukumlah aku Non, tapi aku mohon... jangan libatkan Ibuku karena kesalahan yang aku lakukan ini.”
“Kesalahan apa?”
Ahmad dan Shanaya sama-sama mengalihkan pandang ke sumber suara. Barend sudah berdiri di pintu dan telah mendengar percakapan mereka.
“Kesalahan apa yang sudah kau lakukan, Ahmad?” tanya Barend yang sedang berjalan mendekat pada Ahmad.
Wajah Ahmad langsung berubah pucat. Ia melirik pada Shanaya sebentar lalu menundukkan lagi kepalanya.
“Kesalahan apa itu?” tanya Barend lagi.
“Dia terlambat membawa kami ke rumah sakit.” Shanaya yang menjawab pertanyaan Barend. Ahmad bernafas lega mendengarnya.
“Dia terlambat, Pa. Jika saja dia datang lebih cepat, mungkin Shan tidak akan separah ini,” ujarnya lagi.
“Ayiii....” Barend memandangi putrinya.
“Dia sudah melakukan yang terbaik, bahkan dia tidak mau pulang sebelum operasi Shan selesai dilaksanakan. Kau tidak boleh menyalahkannya atas kecelakaan yang menimpa kalian. Mungkin di lain waktu, kau yang harus berhati-hati saat membawa mobil,” ucap Barend membela Ahmad.
Shanaya menggigit bibir bawahnya, ia tadi sempat ketakutan jika Barend mendengar semua percakapan dirinya dengan Ahmad. Sekarang dia merasa lega karena Barend hanya mendengar bagian akhirnya saja.
“Kau tidak boleh menyalahkan Ahmad, mengerti!” ujar Barend lagi.
Shanaya mengangguk, ia melihat Ahmad yang tampak lega karena mendengar Barend membelanya.
“Sudah kau bawa semuanya ke sini?” Barend mengalihkan topik.
“Sudah, Tuan,” jawab Ahmad. “Aku akan mengambilnya, sebagian masih tertinggal di bagasi.” Ahmad melangkah dengan cepat keluar tanpa melihat Shanaya.
“Membawa apa, Pa?” tanya Shanaya heran.
“Perlengkapan untuk menikah besok. Bukankah ini yang kau tunggu-tunggu?”