Bab 1 : Makan Malam Berkesan

1056 Kata
'Drrtt!' Eva menoleh pada ponselnya yang bergetar, ia beringsut dari pembaringannya. Mendekati nakas dan meraih ponsel segera, saat terlihat di layar depan ponselnya, Mama calling... "Hallo, Ma!" sapa Eva saat tombol hijau ia geser ke atas. "Hallo, Sayang! Apa mama mengganggumu, Nak?" tanya suara dari seberang sana terdengar khawatir. "Gak dong, Ma! Eva seneng denger suara Mama, bikin tenang!" kilah Eva sambil tersenyum walau tak mungkin terlihat oleh mamanya. ia sengaja menjelaskan keceriaanya lewat intonasinya. "Kamu baik baik aja kan, Nak?" tanya sang mama, seolah tahu suasana asli, hati anaknya. Eva tahu, mamanya mulai menyesal dengan mengizinkan dirinya dinikahi oleh Adnan. Makanya, pertanyaan itu, tak pernah terlewatkan dari bibir mamanya. Baik saat bicara di telepon atau saat bicara langsung. Namun, apa mau dikata(?), nasi sudah terhidang jadi bubur. "Eva baik baik aja, Mama! Kesehatan Mama sendiri, gimana?" tanya balik Eva dengan intonasi cerianya. Demi membuat mamanya tenang walau dia menyembunyikan bara api yang tadi mulai memanas di dad*nya. "Mama juga udah makin baik kok, Sayang!" jawab lembut penuh keibuan dari sang mama. "Ma! sore ini, Eva ada perlu, jadi mohon maaf, mama bisa minta Erna untuk mengantar Mama check up?" tutur Eva menutupi keinginan suaminya agar nanti sore jelang malam, menghadiri undangan makan malam di rumah salah satu koleganya. Ia rela, misal mamanya hanya kecewa sama dirinya, daripada menambah pikiran mamanya, jika ia jujur. Bahwa suaminya ada kesan melarangnya mengantar check up mamanya. "Oh, ya udah Sayang kalo gitu!" Nanti, Mama minta adikmu aja untuk mengantar Mama." "Udah dulu ya, Sayang! Kamu nanti perginya hati hati." ucap mamanya kemudian. "salam!" Setelah menjawab salam dari mamanya, terdengar sang mama memutuskan sambungan telepon. Tut! "Maafin Eva, Ma!" gumamnya sambil memeluk ponselnya, membayangkan memeluk sang mama. *°°* Sore jelang malam sekitar pukul 18:15 WIB, sesuai pesan dari suaminya, Eva diantar sopir rumah tangganya, segera meluncur ke alamat yang dikirim oleh Adnan melalui aplikasi pesan. Pukul 18:55 WIB, mobil minibus mewah yang membawa Eva sudah sampai di depan gerbang sebuah rumah super mewah di komplek pemukiman elit di daerah Jakarta. Seorang security segera menghampiri. Setelah mendapat izin dari security, mobil pun masuk ke halaman luas rumah tersebut. "Pak Samin, langsung pulang aja ya, Pak!" titah Eva pada Pak Samin, sopir rumah tangganya. "Baik, Bu!" jawabnya sopan. Eva segera turun dari mobilnya di area drop off rumah bergaya eropa modern tersebut. Detik kemudian, muncul sosok lelaki muda nan tampan dengan stelan tuxedo berwarna abu abu muda. Menambah daya pesona wajah tampannya, juga bentuk tubuh atletisnya. "Selamat Malam! Selamat Datang di kediaman kelurga besar Naratama!" sapa berwibawa lelaki muda itu sambil mengulurkan tangannya. "Hans Jabari Naratama!" Lelaki itu menyebutkan nama lengkapnya. Eva menerima uluran tangan lelaki tersebut dengan menyebutkan namanya, "Eva Jamila!" "Oh, nyonya Eva, istri dari Pak Adnan Fatama, benarkah?" ucapnya dengan gaya formalnya. "Betapa cantiknya, istri Pak Adnan." batinnya. "Benar, Pak Hans! Apa suami saya sudah berada di dalam?" jawab Eva tak kalah formal. Lelaki itu sedikit mendekatkan wajahnya pada wajah Eva. "Sebenarnya, saya gak suka terlalu formal, Mbak!" ucapnya pelan sambil sedikit mengembangkan senyumnya. Eva hanya membalas dengan senyuman yang agak tersipu. Entah mengapa, sejak awal melihat lelaki muda nan tampan itu, jantungnya berdetak mengencang, apalagi sekarang wajah itu teramat dekat dengan wajahnya. Terasa darahnya berdesir. "Ada apa dengan diriku? kenapa dadaku berdebar makin kencang gini!" gumamnya. "Saya belum melihat suami Mbak! Mungkin masih dalam perjalanan, Mbak? Gak apa apa ya saya manggil 'Mbak'?" ucap Hans diakhiri dengan izin memanggil 'mbak' pada Eva. "Ya, gak apa apa, Pak Hans!" jawab Eva. "Hans aja, Mbak! Kesannya saya udah tua banget kalo dipanggil 'pak'!" tukas Hans enggan di panggil 'pak'. Di akhiri dengan kekehan kecilnya. "Oh, gitu? hehe!" ucap Eva merasa canggung. Selain itu, dia merasa resah karena menurut Hans, suaminya belum terlihat kehadirannya. "Gimana, kalo kita masuk ke dalam aja, Mbak? sambil menunggu Pak Adnan datang." ajak Hans. Ia memberi kode dengan tangannya, mempersilahkan Eva untuk berjalan masuk. "Emh, Saya tunggu di....!" Eva mengedari tempat itu dengan matanya. "Di paviliun itu aja gak apa apa kan, Pak Hans!?" sambung Eva saat matanya berhenti di sebuah bangunan yang terpisah dengan rumah utama. Ia sungkan jika masuk tanpa suaminya. Makanya,, ia meminta izin pada Hans untuk menunggu di paviliun tersebut. "Hans aja, Mbak Eva!" ucap Hans mengingatkan. "Ups! Maaf. Saya merasa gak sopan kalo memanggil hanya nama pada anggota keluarga besar Naratama." ucap Eva beralasan. "Gini aja! Gak apa apa, Mbak nunggu di paviliun, asal manggil saya dengan nama aja, gimana?" Eva berfikir sejenak. "Baiklah, Ha-Hans!" jawab Eva tergagap. "Ayo, kita ke sana!" ajak Hans. Mereka berjalan menuju paviliun. Kemudian keduanya duduk diteras paviliun tersebut. "Pak No, tolong ambilkan kunci paviliun di kamar saya. Saya tunggu di paviliun ya!" Hans menelepon seseorang. Tak lama, datang dengan tergopoh seorang lelaki tua. "Maaf, ini kuncinya tuan!" ucap lelaki itu sambil menyerahkan sebuah kunci pada Hans. sekilas lelaki tua itu sempat menoleh pada Eva. "Makasih, Pak! Oh, ya Pak! Bisa tolong bawakan minuman dan makanan ringan ke sini?" ujar Hans lagi. "Siap! Bisa tuan!" jawab lelaki tua itu, sigap. "Tolong ya, Pak! Makasih!" ujar Hans sangat sopan walau pada pekerjanya. Hingga pukul 22:00 WIB. Adnan belum juga menampakkan batang hidungnya. **°°** Pukul 17: 15 WIB. Adnan sedang berada di dalam mobilnya dengan seorang perempuan muda. Cantik berusia sekitar 22 tahun. Adnan mengarahkan mobilnya ke sebuah hotel berbintang. Di areal parkir basement, Adnan tak segera keluar dari kendaraan yang ia parkir agak di pojokan. "Vita! Om kangen banget Sayang!" ucap Adnan sambil mendekatkan wajahnya pada wajah cantik dan segar si gadis yang bernama Vita tersebut. Ia tak sabar sedari tadi ingin menikmati bibir s***i Vita. Dengan nafas memburu, Adnan segera m*****t bibir Vita. Vita sedikit mendorong tubuh Adnan. "Sabar dong, Om! mana enak di sini! Lebih baik kita segera ke k***r hotel yang udah Om b*****g!" usul Vita. "Bener juga kamu, Sayang! Ayo, kita turun!" Keduanya pun turun dari mobil. Adnan merangkul Vita selama mereka berjalan menujun kamar yang mereka tuju. Sesampainya di dalam kamar. Adnan tak menyia nyiakan waktu. Ia langsung membawa Vita ke zona perlombaan adu nafas dan perang saling terkam tapi tak melukai. Sejam berlalu..... Keduanya, seperti dua kuda yang bergulingan di arena pacuan. Berakhir dengan lolongan panjang. Karena lelah, Adnan menggulingkan tubuhnya, terkapar di samping Vita. Kondisi mereka, tak beda seperti bayi baru lahir. Keduanya, lelap tertidur. Pukul 22:18 WIB, Hans lebih duluan terbangun. "Ya, ampun!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN