[ Ketika Kesetiaan Tegadai ] Asmara Di Dalam Embun
Prolog
"Pokoknya, Mama sebagai istri harus nurut, jangan biasain protes! Kalo Mama masih mau jadi nyonya Adnan!" sergah seorang lelaki yang sudah rapi dengan stelan jas berwarna hitam itu. Matanya, membulat penuh mengintimidasi wajah sang istri.
Wanita itu bernama Eva Jamila, 33 tahun. Istri dari Adnan 37 tahun, seorang pengusaha sukses.
Ucapan yang mengandung sisi egoistik Adnan yang ia lontarkan pada Eva tersebut, tersulut oleh jawaban Eva yang tak bersedia hadir di acara makan malam bersama sahabatnya Adnan, nanti malam.
Penolakan halus Eva bukan tanpa alasan. "Bukan apa apa, Pa! Papa kan tahu setiap hari selasa sore, Mama harus antar Ibu chek up ke dokter." Alasan Eva, berharap suaminya mengerti.
"Kan ada anaknya yang lain, kenapa harus selalu Mama sih! Udah, gak usah beralasan terus! Minta sopir rumah tangga antar Mama, ke tempat rumah teman Papa, nanti sore." bungkam Adnan, membuat Eva tak berani berkata kata lagi.
"Bawain tas Papa!" titah Adnan yang berdiri dari duduknya serelah ia meneguk air selepas beres sarapan, kemudianberlalu keluar rumah. Tak ada sikap menghargai Eva sebagai istrinya. Setiap menyuruh, tak pernah menyertakan kata 'tolong.'
Eva bergegas membawakan tas kerja suaminya, ia berjalan setengah berlari karena harus mengejar langkah Adnan yang kini, bahkan sudah menunggu di atas jok mobil yang siap membawanya berangkat kerja.
"Lelet amat sih!" sergah Adnan kembali, karena Eva memaksanya harus menunggu beberapa detik. "Sabar dong, Pa!" ucap pelan Eva yang di jawab dengan delikkan tajam mata Adnan.
Detik kemudian, mobil sedan mewah berwarna hitam itu bergerak meninggalkan carport, dimana Eva mematung menatap kepergian suaminya.
Eva menghela nafas dalam sebelum akhirnya, ia bergegas kembali masuk ke dalam rumah.
Dengan perasaan sedih, galau dan bingung, Eva berjalan pelan mendekati meja makan tempat ia dan suaminya tadi sarapan dan di akhiri dengan sikap Adnan yang kumat super egoisnya.
"Selalu begitu!" gumam Eva. Matanya menerawang jauh ke depan.
Adnan akan semakin egois, jika malamnya selesai melakukan ritual suami istri. Seperti yang barusan terjadi. Pasalnya, Eva menuntut hak nya sebagai wanita normal, untuk mendapatkan pelepasan.
Adnan selalu juntai tak lama setelah ritual suami istri dimulai. "Tugas kamu itu, melayani! jangan rewel minta lagi! kayak p******r aja!" ucap andalan Adnan pada Eva saat Eva menuntut. Ia tak meraba perasaan Eva.
"Maaf Bu, apa sarapannya sudah selesai? Kalo udah, biar Bibi beresin piring kotornya!" ujar sopan asisten rumah tangga di rumah Eva, membuyarkan lamunan Eva.
Bi Eha, diam diam menguping di dapur, perdebatan kedua majikannya belum lama tadi.
"Oh, udah Bi! Silahkan kalo Bibi mau beresin!" jawab Eva yang tersadar dari lamunannya mendengar ucapan Bi Eha, nama asisten rumah tangga itu.
Eva memperlakukan Bi Eha dengan baik, walau statusnya sebatas asisten rumah tangga. Bahkan tak jarang, dia minta saran dan berkeluh kesah pada wanita yang berusia di atas 50 tahun tersebut.
"Egh...maaf Bu! Bibi mengagetkan Ibu." kata Bi Eha yang merasa tidak enak, sudah tak sengaja mengagetkan sang majikan.
"Gak apa apa kok Bi, hem!" balas Eva sembari mendengkus. Ia menatap Bi Eha. "Kambuh penyakit gak jelasnya, Bi!" imbuh Eva melirik sang asisten sambil tersenyum hambar.
"Ya Bu. Bibi juga sempet nguping di dapur. Sabar ya, Bu! Moga aja, Bapak segera berubah. Bibi gak tega liat Ibu yang baik, diperlakukan semena mena sama Bapak." ucap Bi Eha ikut bersimpati.
"Entahlah, Bi! Kadang, saya lelah ngadepin Mas Adnan. Padahal, Bibi tau sendiri. Saya selalu berupaya jadi istri yang baik, nurut dan gak neko neko. Masih aja salah, hem!" keluh Eva sambil mengkedikkan bahunya. Ia tak ragu ragu mengatakan isi hatinya pada Bi Eha. Mimik wajah Eva, jelas memperlihatkan awan hitam, sebagai cerminan keadaan hatinya.
"Kadang, kita sebagai perempuan, memang harus lebih banyak mengalah pada pasangan kita. Demi keutuhan rumah tangga." ujar Bi Eha bermaksud menguatkan hati sang majikan.
"Bibi juga begitu! Bibi udah berupaya membantu keuangan keluarga. Masih aja dibilang gak berguna." imbuh Bi Eha teringat akan sikap suaminya.
"Huhhh! Laki laki emang eg**s!" sarkas Eva sedikit memuntahkan uneg uneg hatinya.
"Ya udh, Bi! Saya ke atas dulu! Makasih, Bibi selalu mau memdengarkan keluhan saya." pungkas Eva sembari bangkit dari tempat duduknya. Sebelum pergi, ia menatap sesaat Bi Eha. "Bibi juga sabar ya!" ujarnya. "Iya Bu, makasih!" balas Bi Eha.
Detik kemudian, Eva beranjak meninggalkan Bi Eha yang mulai membereskan meja makan. "Kasihan, Bu Eva!" gumam Bi Eha menatap punggung majikannya yang terlihat berjalan tanpa semangat.
Sesampainya di lantai atas, di kamarnya. Eva kembali termenung di sisi pembaringannya yang masih belum ia rapikan. Sisa pergul4tannya semalam dengan sang suami.
Eva menangkup wajahnya, "Uhh! kenapa kamu gak mau sekali aja! Ngertiin aku, Mas!" Eva membathin.
Ia menoleh ke tengah pembaringannya. "Bahkan untuk urusan r*****g aja, aku gak pernah merasakan k******n batin." gumamnya.
Adnan, sebagai suami memang tak mau peduli dengan nafkah batin istrinya. Baginya, yang penting dia sudah pelepasan. Masa bodoh dengan h****t sang istri yang selalu tak berakhir pada puncak pelepas*n.
Walau secara materi, Adnan sudah memberikan lebih dari kata cukup. Tapi urusan harmonisasi hubungan emosional suami istri, tak masuk pada prioritasnya.
Bukan tak mungkin, Eva akan di dera kata menyerah. Jika terus terusan hidup dalam tekanan. Memang! selama ini, ia memegang teguh petuah orang tuanya dan tuntunan agama yang ia anut.
"Nak! sebagai istri harus nurut, gak boleh melawan! kamu harus menjalankan kewajibanmu sebagai istri dengan sebaik mungkin!" petuah orang tuanya yang selalu terngiang di telinganya, saat ia mulai ingin memberontak.
Dogma dogma agama juga, membuatnya bertahan sabar, menerima perlakuan yang semena mena dari sang suami.
Walau, informasi kebiasaan Adnan yang selalu mengkoleksi para wanita cantik, sudah bukan hal baru di telinga Eva. Namun, selalu ia tepis dengan kalimat, "Gak mungkin Mas Adnan selingkuh, dia cinta mati sama aku!"
Entah mengapa? pagi ini, dorongan untuk memberontak pada suaminya begitu kuat. "Apa benar yang temen temenku bilang? Bahwa Mas Adnan selingkuh? hingga ia gak menganggapku layaknya seorang istri!" monologue batinnya.
"Kalo memang benar! Cukup sudah kesabaran dan kesetiaanku padanya! Aku gak akan sudi lagi menuruti kata katanya!" tekad Eva tiba tiba. Bola matanya membulat, lontaran prasangkanya, berhasil menyulut emosinya sendiri.
Ia menoleh pada foto dirinya bersama sang suami yan tergantung bisu di dinding, tepat di tengah atas kepala tempat tidurnya.
"Mas, aku gak akan biarkan kamu terus terusan menjajah batinku! semut kecil aja gak akan diam, saat terinjak! Begitupun aku!" ujarnya sambil tak lepas menatap foto pernikahannya, 4 tahun silam.
Lama, Eva menatap nanar foto tersebut. sampai terdengar sebuah panggilan telepon di pinselnya yang masih tergelatak di atas nakas.
'Ddrrttt!'