Bekal Makan Siang

888 Kata
Untuk kesekian kalinya, Callista merasakan mual dan ingin muntah di pagi hari. Semakin hari, semakin kuat perasaan mual ini. Bahkan sekarang, dia duduk di atas kasur dengan penuh kelemahan. Tangannya mengelus-elus perutnya yang masih kosong, belum ada perubahan, tetapi Callista merasakan adanya kehidupan di dalam sana. "Jangan buat Mama terlalu kesulitan, ya?" bisiknya pada keheningan kamar. "Cuma kita berdua, Sayang. Kita sendirian." Sepertinya dia perlu datang ke dokter, meminta resep obat pereda rasa mual yang setiap pagi menyiksa. Sempat Callista berpikir untuk meminta Taufiq mengantar, tetapi gagasan itu sangat jelas hanya berada dalam pemikirannya, tidak akan pernah terucap dari mulutnya. Matanya melirik jam yang menunjukkan angka lima pagi. Akhirnya dia memutuskan untuk ke dapur, alih-alih menghabiskan waktu daripada tertidur kembali. Saat tubuhnya tepat di depan pintu, pandangannya tertuju pada pintu di seberangnya yang tertutup rapat. Sebuah ruangan tempat dimana orang yang dia cinta mengistirahatkan diri. Tempat yang tidak akan pernah bisa Callista masuki untuk istirahat. Jangankan beristirahat, untuk sekedar masuk dan menyediakan pakaian selayaknya tugas seorang istri saja dia tidak diizinkan. Di dapur, Lili dan para staf lain sudah sibuk dengan tugasnya masing-masing. Aroma kopi menyeruak, menusuk hidung Callista dan membuatnya mempercepat langkah untuk mendapatkan segelas kopi itu. "Selamat pagi, Nyonya Callisa!" sapa Lili dengan senyum terkejut. "Pagi ini mau apa? Mau kopi atau air hangat saja?” Setelah menimbang untuk kebaikannya, Callista menjawab, "s**u saja, Lily. Kopi tidak … baik untukku saat ini.” "Siap, Nyonya. Maaf, saya sempat lupa,” timpal Lili sedikit canggung. Beberapa saat kemudian Lili tiba dengan secangkir s**u segar di tangan. Dia berikan cangkir itu kepada Callista dengan penuh senyuman. “Silakan, Nyonya.” Sambil menyeruput s**u hangat, Callista memperhatikan aktivitas di dapur. Sebuah ide kecil melintas di benaknya. Terlepas dari semua keadaan yang ada saat ini, Callista ingin mencoba mendekati Taufiq, bukan dengan kata-kata melainkan dengan suatu tindakan yang dapat dilakukan istri pada umumnya. Callista ingin memasak. "Lili, kita punya bahan untuk masak iga bakar, tidak, ya?" tanya Callista seketika. Sontak mata Lily sedikit membesar. "Nyonya ngidam makan iga?” Callista membalas pertanyaan itu dengan senyuman. “Bukan untuk aku, tetapi untuk Taufiq.” Wanita ini tahu iga bakar adalah makanan favorit Taufiq. Dulu Leonita sering meminta Callista untuk memasaknya dan kemudian Leonita akan bilang kalau iga bakarnya adalah masakan dia, padahal kenyataannya hasil masakan Callista. “Kamu kan sudah masak sarapan untuknya. Sekarang giliranku yang memasak makan siang untuknya,” tambah Callista penuh harap. “Tetapi tolong jangan bilang dia, ya. Nanti pasti dia tidak mau makan kalau aku yang masak.” Lili mengangguk, menyetujui syarat yang Callista minta. Kemudian Callista mengambil alih meja dapur untuk menyiapkan iga bakar untuk suaminya. Dia mengambil sepotong iga dari kulkas dan mulai memasak. Perlahan tetapi pasti, wangi dari rempah-rempah yang digunakan mulai menyeruak menghiasi ruangan. Callista dulu senang dengan wangi-wangi ini, tetapi sekarang wangi itu membuatnya tidak nyaman sampai Callista terus menutup hidung dan berusaha untuk tidak mual. Setelah siap, Callista menatap potongan iga-iga itu di atas wadah tempat makan. Dia hias juga menggunakan kecap dan beberapa printilan kecil seperti daun peterseli. “Lili!” panggil Callista tertahan. Dia tidak mungkin berteriak, karena bisa saja mengganggu Taufiq. “Makanannya sudah siap. Aku mau ke atas dulu, ya. Jangan bilang kalau ini dari aku,” katanya sambil menatap kantung penuh makan siang darinya. “Aku tidak mau mengganggu paginya, Li. Kamu mengerti, kan?” Lili pun tersenyum lebar, menyembunyikan perasaan sedih yang melanda. “Siap, Nyonya. Semoga hari ini menyenangkan, ya.” Di atas, Callista tidak membuang waktu lebih lama lagi di atas ranjang. Dia mandi dan bersiap untuk janji temu dengan dokter. Kali ini Callista menggunakan gaun cerah yang menutupi sebagian tubuhnya. Tidak lupa juga dia berdandan dan menggunakan pewarna bibir merah tebal. Setelah itu, dia melangkah ke jendela, berusaha mengintip mobil mewah Taufiq yang terparkir rapi di halaman rumah. Dia menunggu mobil itu pergi baru bisa dia keluar dari ruangan agar terhindar dari pertemuan dengan suami di atas kertasnya. Langkah kakinya membawa Callista turun ke lantai dasar. Wajah cerianya masih menghias, berharap kantung makanan yang sudah disiapkan dibawa oleh Taufiq. Sayang sekali, dia justru melihat kantung itu tetap di atas meja makan. Lili memberikan raut wajah sedih sekaligus bersalah. Dia masih belum menyadari kehadiran Callista di sana. Rasanya seperti ada tangan raksasa meremas dadanya. Apa Taufiq tahu makanan itu darinya? Dia benar-benar menolak makanan ini? Padahal Callista yakin Lili tidak akan mungkin bilang kalau ini buatannya. “Nyonya ….” Lili mendekat dan segera menggenggam lengan Callista dengan penuh kelembutan. “Dia sudah berangkat, ya?” tanya Callista lembut, tanpa ada rasa sedih, bahkan bibirnya tersenyum. Namun percayalah, itu hanya kedok yang dia berikan. Lily mengangguk, pandangannya menunduk. "Sepertinya Tuan Taufiq lupa membawa makan siangnya." Lupa. Kata itu terasa seperti kebohongan melindungi Callista, tetapi Callista tetap menerima kata-katanya. Itu lebih baik daripada kemungkinan lain. “Kebetulan aku juga mau keluar. Nanti saya yang bawa makanan itu ke sana,” sahut Callista dengan penuh semangat. Sontak Lili terdiam dibuatnya. “Tu-tunggu, Nyonya. Saya bisa minta Dimas yang antar ….” “Tidak apa-apa, Lily. Aku memang akan lewat kantornya. Kamu tenang saja, ya,” sanggah Callista. Wanita itu benar-benar bertekad untuk mengantar makanannya. Tentunya tidak perlu menemui Taufiq, hanya cukup memberikan makanan itu pada sekretarisnya lalu pergi. Callista sungguh berharap ada secercah harapan saat Taufiq memakan iga ini, perasaan benci mulai menghilang untuknya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN