Aroma Familiar

785 Kata
Kening Travis berkerut saat pandangannya menatap monitor. Telepon di sebelahnya berdering, tetapi rasa enggan menghampiri untuk mengangkat panggilan itu. Lalu lama-kelamaan dia pusing dan akhirnya mengangkat panggilan itu. “APA?” "Apa?" jawabnya dingin. "Pak, maaf," ucap suara di seberang sana, suara sekretarisnya, Cinta. "Ada Pak Adam di sini. Beliau ingin bertemu Bapak sekarang katanya.” Kerutan di kening Taufiq makin terlihat jelas. Apa yang Adam lakukan di sini? Seingat Taufiq, Adam seharusnya berada di kampung, karena dia ingin merebut kembali pacarnya dari cengkeraman pria jelek kaya raya di sana. Mereka berteman dekat sejak kuliah di universitas swasta di Indonesia. Walaupun sama-sama orang kaya dengan jadwal yang sangat padat, mereka masih bisa menyempatkan diri untuk bertemu. "Suruh dia masuk!” bentak Taufiq seraya membanting gagang telepon itu untuk mengakhirinya. Di seberang sana, Cinta justru heran dengan respons atasannya yang terkesan aneh. Mungkin dia kira atasannya sedang mendapatkan masalah sangat pelik atau semacamnya, karena tanpa sebab marah-marah. Beberapa saat kemudian, pintu ruangan terbuka. Adam melangkah masuk dengan senyum miring penuh arti di bibir. “Kamu mau lakukan apa di sini?" tanya Taufiq tanpa basa-basi. "Sebagai teman, sepertinya aku harus datang untuk memberi ucapan selamat," jawab Adam sambil bersandar di kusen pintu. Wajah Taufiq terlihat tetap datar pada umumnya. “Selamat untuk apa?” "Selamat untuk pernikahanmu dong. Aku dengar-dengar sekarang kamu sudah punya istri,” sahutnya sambil terkekeh. Rahang Taufiq mengeras. Pria itu mengepalkan tangan, marah karena ucapan teman dekatnya. Tentu saja Adam sadar perubahan signifikan yang Taufiq beri. Maka dari itu Adam hanya menjawab, “Oh maaf, Kawan. Mungkin selamat bukan kata yang tepat, ya? Oh, berarti aku turut berbelasungkawa atas pernikahan ini.” Taufiq tak mau ambil pusing. Pria itu berdiri dan berjalan ke bar pribadinya. Dia menuang dua gelas minuman mahal untuknya dan untuk Adam. Lalu dia berikan gelas itu untuk Adam. Setelah itu mereka sama-sama bersandar di dinding ruangan. "Apa yang terjadi, Fiq? Kenapa kamu malah menikahi sepupu Leonita?" tanya Adam yang kini bersuara dengan nada penasaran. "Aku menghamilinya," jawab Taufiq dengan mulut yang rapat. "Tanpa sengaja." Sebuah kilatan memori terlintas di benak Taufiq tentang malam panas di bawah pengaruh minuman bersama dengan Callista. Momen di mana sebuah malapetaka untuk kedua belah pihak dimulai. Itu adalah kali pertama untuk Callista dan merupakan fakta menyebutkan sekaligus menyebalkan untuk Taufiq. “Oh berarti kamu akan jadi seorang ayah?" gumam Adam. Taufiq tidak menjawab, tanda itu bukan sebuah pertanyaan penting. Kemudian Adam mengalihkan topik. "Terus sekarang Leonita ada di mana sebenarnya?" "Dia menghilang begitu aku setuju menikahi Callista," ujar Taufiq datar. "Aku tidak bisa menemukannya dan teman-temannya juga memilih untuk diam." Taufiq seharusnya menikahi Leonita. Dia adalah gadis ideal yang selama ini Taufiq idamkan. Cantik, baik hati, dan tahu persis bagaimana merawatnya. Leonita biasa membawakan iga bakar terenak yang menjadi makanan favoritnya. Taufiq percaya pepatah lama bahwa jalan menuju hati pria adalah lewat perutnya. Leonita selalu tersenyum dan berkata bahwa ia memasaknya dengan cinta. Pikiran Taufiq terputus oleh ketukan pintu. Cinta masuk sambil membawa kantong kertas yang terasa familiar. Mata Taufiq menyipit memandang sosok itu yang masuk dengan kantong di tangannya "Tuan, makan siang ada tertinggal di rumah,” ucap Cinta. “Ibu Callista yang antar tadi.” "Buang saja," sahut Taufiq dengan nada dingin. Sejujurnya, Taufiq tidak benar-benar "lupa". Dia tahu makanan ini Callista yang memasak dan Taufiq tidak mau menyentuh apa-apa dari makanan itu. Dia menginginkan masakan Leonita,, bukan tiruan dari wanita yang telah menjebaknya. "Se-serius, Pak?" "Buang! Jangan buat aku mengulanginya!” titah Taufiq sekali lagi. Adam menyelak. “Daripada dibuang, mending buat aku saja, Cinta.” Pria itu mengambil kantong yang ada di tangan Cinta dan langsung tersenyum gembira. “Aku laper banget. Tadi datang buru-buru, jadinya belum sempat sarapan.” Adam duduk di sofa dan mengeluarkan wadah makanannya. Begitu tutupnya dibuka, aroma iga bakar langsung terlepas ke udara, membuat seisi ruangan dipenuhi oleh wanginya yang sangat menggoda selera makan. Jantung Taufiq berdegup kencang. Aroma ini menghantamnya seperti pukulan, karena persis seperti wangi iga bakar yang dulu selalu memenuhi kantornya saat Leonita datang. "Ya ampun! Ini terlihat enak banget,” celoteh Adam sambil menatap iga yang ada di hadapannya. Pria itu mengambil satu suapan, lalu matanya membulat. "Taufiq, ini benar-benar makanan terbaik yang pernah aku makan. Kamu yakin tidak mau? Sepertinya istrimu seorang chef profesional.” Taufiq menatap makanan itu dari jauh. Tampak identik dengan hidangan yang selama ini Taufiq santap dan dikiranya masakan Leonita. Ada rasa ingin tahu yang memuncak dalam tubuhnya, tetapi gengsinya begitu kuat sehingga membuatnya enggan. "Masakan Leonita tetap lebih enak," gumamnya. Pikirannya semakin kacau kala dia mengingat-ingat aroma yang ada di ruangan ini. Selalunya dia aroma ini adalah aroma makanan yang dimasak oleh Leonita. Lalu mengapa bisa aroma ini ada kembali di saat Callista yang memasak?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN