Setelah memberikan bekal makan siang untuk Taufiq, Callista langsung berbalik dan pergi dari gedung kantor megah nan indah ini. Padahal rasa rindu melihat wajah sang suami begitu besar, tetapi Callista sadar bahwa melihat pria sama saja menghancurkan suasana hati Taufiq juga, karena bagi pria itu Callista hanyalah seorang yang menghancurkan kebahagiaannya, tidak lebih dari itu. Akhirnya dia urungkan niat untuk melihat sang suami dan memilih untuk pergi ke rumah sakit.
Setiap langkahnya menjauh dari gedung, sebanyak itu pula rasa sakit menimpa hatinya. Jelas saja, mengingat kebencian yang Taufiq toreh pada dirinya begitu banyak dan sebanyak itu pula mungkin tangan-tangan tak kasat mata meremas-remas dadanya.
Air matanya perlahan meluruh, membasahi pipi putih kemerahannya. Dia tidak sanggup menahan semua kebencian ini sebenarnya, tetapi apa boleh buat? Tidak ada kata pergi dari apa yang sudah dia ikrarkan di hadapan sang penghulu saat ijab qobul pernikahan.
Setelah beberapa menit perjalanan, akhirnya Callista tiba di rumah sakit tempatnya berjanji dengan dokter kandungan. Wanita itu mengurus berkas administrasi yang diperlukan sebelum akhirnya duduk di ruang tunggu.
Beberapa orang berlalu-lalang, terlihat oleh matanya yang sedikit basah ini. Lalu yang terakhir keluar adalah sepasang suami-istri, dengan istrinya yang dipeluk erat oleh sang suami.
Callista menggigit bibirnya, rasa iri menusuk tajam di relung hatinya. Dia punya seseorang yang bisa sekedar menggenggam tangannya, tidak perlu memeluknya dengan erat. Sayangnya itu hanya mimpi.
Wanita itu menengadah ke atas, membayangkan sosok Taufiq yang berada tepat di sebelahnya. Pria itu melingkari tangannya di pinggul Callista, sementara bibirnya terus mengecup pucuk rambut Callista.
Buru-buru Callista menggelengkan kepala dan tersenyum tipis. Dia tidak mau terlalu lama membayangkan sesuatu yang tidak mungkin.
"Nyonya Adinata? Dokter sudah siap menemui Anda."
Callista memaksakan senyum sopan kepada perawat, lalu masuk ke ruang periksa.
"Selamat pagi, Dokter," sapanya pelan.
"Selamat pagi, Nyonya Adinata," jawab dokter kandungan itu.
Tatapan sang Dokter tidak pergi dari pintu, seolah menunggu kehadiran orang lain seperti biasanya wanita-wanita yang datang sebelumnya. Namun, beberapa detik berlalu dan tidak ada kehadiran. Akhirnya dokter itu menoleh, “Datang sendiri hari ini? Suamimu pasti lagi sibuk, ya?”
Callista berusaha tersenyum lebar saat mendengar kata sibuk, karena memang benar Taufiq adalah orang sibuk. “Iya, nih, Dok. Suami saya lagi ke luar negeri. Makanya datang sendiri.”
“Oh begitu? Ya sudah yuk tiduran di ranjang,” sahut dokter itu.
Saat gel USG yang dingin menyentuh kulit Callista, napasnya tercekat. Matanya terpaku pada monitor yang menyala di sebelahnya. Sementara jantungnya berdebar keras, karena dia bisa melihat sesuatu di layar.
"Anda lihat itu?" tanya dokter sambil menunjuk bentuk kecil yang berkelip. "Itu bayi Anda. Sehat sempurna. Terus dengar irama itu? Itu detak jantung yang kuat dan stabil."
Kelegaan mengalir deras dalam diri Callista saat tahu bayinya dalam keadaan sehat dan stabil. Lalu Callista menanyakan rasa mual yang sering dirasakan di pagi hari.
“Itu normal, hanya trimester pertama saja.Tidak perlu khawatir, oke?”
Sebelum pergi, Callista memberanikan diri meminta sesuatu. "Dokter ... bolehkah saya meminta salinan hasil USG-nya?"
"Tentu saja boleh,” jawab dokter itu. Dia tersenyum sambil menyerahkan gambar hitam-putih tadi beserta resep baru vitamin prenatal. "Tunjukkan ini pada suami Anda saat dia pulang. Saya yakin dia akan sangat senang melihat calon buah hati kalian."
Seandainya saja, batin Callista.
Sepulang dari rumah sakit, Callista menghabiskan sore di rumah orang tuanya, mencari kenyamanan di kamar lamanya yang kini kosong karena mereka sedang pergi. Beberapa saat dia tertidur lelap dan baru terbangun saat bayangan senja memanjang di dinding. Hampir jam enam sore.
Callista panik, dia seharusnya tidak boleh tertidur terlalu lama. Dia harus segera kembali ke rumah sebelum Taufiq pulang, walaupun itu hal yang jarang terjadi untuk Taufiq pulang di sore hari. Namun intinya, Callista tidak boleh pulang larut.
Begitu memasuki halaman, hatinya langsung terjatuh. Sedan hitam milik Taufiq sudah terparkir rapi di sana. Dia sudah pulang dan Callista terlambat.
Wanita itu menarik napas dalam. Dia meraih kantong belanja berisi vitamin dan s**u tadi, menggenggamnya erat-erat sambil mengumpulkan keberanian. Dia ambil juga hasil USG tadi dan segera berjalan ke dalam rumah.
Perlahan-lahan Callista berjalan, berusaha meminimalisir suara agar tidak terdengar bahkan oleh seekor semut sekalipun. Sampai akhirnya suara bariton Taufiq membuat Callista menegang di tempat
"Dari mana?"
Suara itu memecah keheningan dan jelas membuat detak jantung Callista berpacu lebih cepat. Kantong obat dan foto USG tadi terlepas dari tangan dan berserakan di lantai.
Callista tidak berani menatap barang-barang itu. Dia malah menatap Taufiq dengan penuh rasa bersalah. Pria itu berdiri di dekat tangga, menyandarkan tubuhnnya di pegangan tangga terakhir dengan tangan dilipat di depan.
"A-Aku?” gumamnya. Callista benar-benar membenci dirinya sendiri karena harus gemetar saat bersuara.
"Saya tanya. Kamu dari mana?!”
"A-aku....”
Tidak ada yang keluar dari mulut Callista. Dia justru menundukkan wajah dan kemudian menggelengkan kepala. “Aku ada urusan sebentar tadi.”
"Sebentar?" potongnya. Mata Taufiq menyipit dan dia mulai berdiri tegak. “Yakin sebentar?”
Secara refleks Callista memejamkan mata. Lagi-lagi dia mendapatkan pertanyaan dingin dengan nada marah dari suaminya, sosok yang dicinta.
"Ambil sampahmu!" titah Taufiq dengan nada datar. "Saya tidak mau ada sampah berserakan di rumah saya."
"A-aku minta maaf," bisik Callista hampir tak bersuara.
Wanita itu berlutut. Jari-jarinya gemetar saat meraih plastik obat yang berserakan. Lalu pandangannya tertuju pada foto USG yang tergeletak telentang di lantai.
Ambil sampahmu.
Kata-kata itu bergema di kepalanya lagi.
Bagi Taufiq, itu bukan gambar anak pertamanya. Bukan sebuah kehidupan. Ini hanyalah sampah.
Air mata mulai mengaburkan penglihatan Callista. Rasa panas dan perih mulai menyeruak. Callista menyambar foto USG itu, mengibaskan debu yang sebenarnya tak ada, seolah ia bisa melindungi gambar itu dari kekejaman Taufiq. Saat akhirnya dia mendongak, Callista sadar Taufiq sudah tidak menatapnya lagi.
Pria itu menatap foto kecil buram yang berada di tangan Callista.