"Selamat pagi, Nyonya Callista."
"Selamat pagi, Lili," jawab Callista.
Wanita itu memasuki dapur dengan langkah santai. Cahaya pagi baru saja menyentuh jendela, menebarkan bayangan panjang dan sunyi di atas lantai marmer.
"Masih pagi banget loh untuk bangun," ucap Lili sambil tetap sibuk dengan pekerjaannya.
"Aku tiba-tiba bangun, terus nggak bisa tidur lagi,” jawab Callista.
Sejak kejadian semalam, pikirannya terus berputar, mengingat adegan Taufiq yang menyebut sampah kepada hasil USG itu, seperti kaset rusak.
Sampah.
Kata itu terasa seperti beban berat di dadanya. Taufiq telah menyebut gambar anak pertama mereka, darah dagingnya sendiri sebagai sampah. Callista paham akan kebencian Taufiq padanya.
Di mata pria itu, Callista adalah penjahat, wanita yang telah mencuri masa depannya bersama Leonita. Namun, apa bayi itu juga harus disalahkan? Mengapa bayi itu harus menerima kesalahan yang mereka buat? Bayi itu tidak meminta untuk ada bahkan, seharusnya Taufiq tahu akan hal itu.
Callista tidak lagi meminta cinta Taufiq. Wanita itu telah menerima kenyataan pahit bahwa Callista tidak akan pernah lebih dari sekedar bayangan dalam hidup Taufiq. Yang dia harapkan hanya satu, Taufiq menerima, walaupun hanya sedikit, kehadiran bayi yang dikandungnya.
"Nyonya baik-baik saja, kan? Apa ada yang sakit?” tanya Lili menyadarkan lamunan Callista. Mata sang pelayan penuh kekhawatiran, membuat Callista merasa semakin kecil.
"Aku baik-baik saja, Lili," timpal Callista yang berbohong.
Wanita itu tersenyum paksa, menutupi segala kesakitan yang dia alami. Buru-buru Callista beralih ke kulkas untuk meminum air dingin untuk menyegarkan tenggorokannya yang terasa kering.
"Nyonya mau s**u? Saya bisa siapin sekarang kalau mau," ungkap Lili.
Callista menoleh, "Nanti saja, Li.”
Setelah itu, Callista mencoba mencari bahan masakan di sana. Dia ingin membuat seafood chowder kali ini, olahan sup dengan isian seafood yang enak. Ini juga makanan favorit Taufiq lainnya.
"Nyonya duduk saja!” Lili menghampiri dan menarik lengan Callista. “Biar kami saja yang buat.”
"Tidak, Lili. Ini untuk Taufiq!” sanggah Callista yang menolak uluran tangan itu. “Seperti kemarin, aku akan buat dan taruh makanan ini di meja. Nanti kamu kasih ke Taufiq dan tolong jangan sebut namaku.”
Callista masih memikirkan iga bakar kemarin yang disantap Taufiq di kantor. Wanita itu mengira iga bakarnya dimakan oleh Taufiq karena dianggap Lili yang memasak. Padahal bukan Taufiq yang menyantap.
Di sisi lain, Lili seperti ragu. Dia justru menundukkan kepala dan berusaha mengalihkan pandangan. Bibirnya sedikit terbuka, seolah ingin mengungkapkan sesuatu. Namun perlahan menutup kembali sampai akhirnya Callista penasaran.
"Ada yang salah?" tanya Callista.
"T-tidak ada, Nyonya," bisik Lili, memalingkan wajah lagi.
Callista tidak memaksanya bersuara. Dia justru langsung memulai masak.
Dia tumis bawang dan seledri sambil berusaha mengabaikan rasa mual yang timbul akibat aromanya. Setelah chowder siap, dia tuang ke dalam wadah dan memasukkannya ke tempat bekal seperti kemarin.
"Tolong jaga ini, Lili. Aku mau minum s**u di kamar saja. Aku tidak mau dia lihat aku di dapur, nanti yang ada dia tidak jadi makan.”
Setelah mengucapkan itu, Callista tertawa simpul dan tersenyum lebar. Sebuah hal yang Lili herankan, mengapa orang sejahat Taufiq masih bisa diperlakukan seperti ini oleh Callista?
Lili pun akhirnya ikut senang. “Mau saya bawakan sarapan ke kamar?”
"Tidak usah. Nanti aku turun kalau dia sudah berangkat," jawab Callista sambil menuang segelas s**u.
Setelah itu Callista buru-buru meninggalkan dapur sebelum tuan rumahnya muncul.
Baru saja dia hampir mencapai anak tangga, Taufiq muncul dari atas anak tangga. Dunia Callista benar-benar berhenti sekarang. Detak jantungnya mulai terdengar lagi dan membuat Callista ketakutan.
Taufiq menuruni anak tangga.
Tatapan mereka bertemu dan seketika suhu ruangan langsung turun drastis, membuat jemari Callista kedinginan.
Alis Taufiq langsung berkerut tajam. Jelas sekali, melihat Callista adalah hal terakhir yang ingin dia hadapi pagi-pagi. Namun, sekarang justru menjadi yang pertama.
Panik, Callista refleks mundur. Tangannya gemetar dan gelas di tangannya menjadi miring. s**u panas tumpah melewati bibir gelas dan membasahi tangannya.
Callista meringis, rasa perih akibat panas menyebar di kulitnya. Namun wanita itu berusaha tidak bersuara. Dia justru menggigit bibirnya, menahan rasa perih dan panas yang bercampur menjadi satu.
Di hadapannya, Taufiq semakin mengencangkan otot wajah. Di mata Taufiq, Callista benar-benar orang yang ceroboh.
Alih-alih melewatinya di tangga, Callista justru berbalik dan berjalan menuju pekarangan rumah. Callista tidak sanggup menghadapinya. Tidak hari ini. Tidak saat kata sampah masih menjadi luka yang terbuka.
Bahkan saat dirinya menjauh, Callista masih bisa merasakan beratnya tatapan Taufiq di punggungnya, karena rasa dingin, menekan, dan tak berampun terasa di sana.