Callista terbangun di tengah malam, dibangunkan rasa lapar yang tiba-tiba datang menggerogoti. Wanita itu duduk di tepi ranjang, membiarkan kesunyian kamar menyelimuti ruangan. Matanya masih menatap kosong dinding, lalu perutnya mulai bersuara. “Kamu lapar, ya, Nak?” Wanita itu tertawa kecil sambil bangkit dari duduknya. "Tunggu sebentar, ya. Mama cari sesuatu dulu untuk kita makan." Callista tahu dia tidak bisa mengabaikan rasa ngidam ini. Lili pernah bilang bahwa dia harus makan apa pun yang tubuhnya mau demi sang bayi. Meski rasa kantun melanda, Callista memaksa diri untuk bangun. Dia melirik jam yang menampakkan angka satu. Buru-buru dia ikat rambut panjangnya asal-asalan, lalu melangkah keluar kamar. Rumah megah ini diselimuti kegelapan dan keheningan yang pekat. Callista meraba-r

