Tempat tidur adalah benda paling pertama yang menerima pendaratan Vella sejak masuk kamar. Gadis itu berbaring di sana, memekik kesenangan tanpa melepas tas dan sepatunya.
Dia memikirkan kembali acara makan malamnya dengan Pak Frivan. Pria itu mengajaknya ke Moon Cafe. Awalnya dia tak terlalu menyukai tempat itu karena mengingatkan dirinya pada perkelahiannya dengan Xiani. Namun, Vella jadi menyukainya karena Pak Frivan yang mengajaknya ke sana.
Vella memekik lagi dan mengambil ponselnya dari dalam tas lalu membuka grup Lambe HU di w******p-nya. Dia ingin mencari foto terbaru dari Pak Frivan di sana.
Seharusnya, nama grup itu Lambe Frivan Xavier Putra atau Kumpulan Foto Terbaru Pak Frivan karena hanya membahas tentang betapa tampannya dosen muda itu. Pembahasan tentang Pak Frivan ada 98% sedangkan info lainnya hanya 2%.
Vella membaca isi grup yang mencapai seribu lebih itu. Dia menyimpan foto-foto Pak Frivan sembari tersenyum geli.
Yeri: Guys, gue dapet ig-nya Pak Frivan!
Unkyong: Beneran?! Bagi, dong! Gue udah berkelana mencari setiap percampuran huruf menjadi sebuah kata, tapi gue belum dapet-dapet?
Della: @unkyong kata-kata lo beneran puitis. Btw, grup kepenulisan gue lagi ngadain lomba puisi. Hadiahnya pulsa 50k. Lo mau ikutan?
Unkyong: Sebenarnya itu bukan puisi. Tapi, abis dengar hadiahnya, gue tertarik buat ikut. Syaratnya apa aja, Del?
Yeri: Laahh! Malah bahas puisi! Ini lo pada mau nama ig-nya Pak Frivan atau enggak? Kalau enggak, ya, syukur. Gue pengen nikmatin sendiri, hahaha!
Unkyong: Kirimin, g****k!
Della: 2
Mirae: 3
Yeri: Oke, stop. Gue kirim sekarang nama ig-nya.
Yeri: @vanxvptrvel
Jasmine: Anjeeer! Lidah gue kepeleset bacanya!
Mira: Pantesan nggak dapat-dapat, namanya aja sesusah ini?
Della: Btw, kalian nggak ngerasa aneh dengan tiga kata terakhir ig-nya Pak Frivan?
Yeri: Maksud lo?
Della: Coba, perhatiin, deh. Nama ig Pak Frivan ini sebenarnya dia ambil dari singkatan nama lengkapnya. ‘Van’ untuk Frivan. ‘Xv' untuk Xavier. ‘Ptr' untuk Putra. Terus yang ‘Vel’ itu apa? Emangnya Pak Frivan punya nama belakang lagi selain yang tiga itu?
Unkyong: Eh, iya, iya. Kok, bisa, ya? Vel? Kok, kesannya kek nama cewek, ya?
Jasmine: Jadi, maksud lo, Pak Frivan udah punya pacar, gitu?!!!
Unkyong: Nggak usah ngegas. Hati gue juga potek, nih.
Mira: Masa iya, sih?
Yeri: Gue nggak terima?
Della: Sama. Gue nggak ikhlas. Pokoknya, Pak Frivan milik kita bersama!
Vella bergidik pelan membaca percakapan mereka. Apa lagi ada Jasmine dalam obrolan itu. Fans garis keras Pak Frivan memang sangat barbar. Ya kali, Pak Frivan nanti mau nikahin mereka semua.
Namun jujur saja, hati Vella ikutan potek mendengar teori tentang nama ig Pak Frivan. Apa dosennya itu benar-benar sudah punya kekasih?
Vella buru-buru membuka i********:-nya dan mencari akun Pak Frivan. Foto profil Pak Frivan terbilang keren. Pria itu berdiri membelakangi kamera menghadap ke pantai. Pakaian yang dipakainya adalah kemeja biru dan celana jeans. Sementara foto yang di posting hanya ada dua. Foto pertama logo Hope University dan foto kedua badminton. Dua foto itu diposting dua tahun yang lalu. Vella bolak-balik keluar dari akun Pak Frivan dengan wajah heran.
Pria itu hanya punya dua foto di i********:-nya? Terakhir posting dua tahun lalu? Vella tertawa tak habis pikir. Kenapa sekalian jangan punya akun i********: saja kalau tidak niat berbagi foto di sini?
Tapi, pengikut Pak Frivan lumayan juga. Ada dua ribu lebih. Ketika Vella mengecek akun yang diikuti oleh Pak Frivan, hanya akun Hope University, akun dosen-dosen dan beberapa lainnya yang tak dikenal Vella. Pengikut dan yang diikuti Pak Frivan berbanding jauh. Akun yang diikuti pria itu tidak cukup dari dua puluh.
Dia mencoba melihat story Pak Frivan, namun tak ada. Bio dan highlight-nya bahkan tak ada.
Apa mungkin ini akun fake?
Vella mencari lagi dengan nama lain. Dari nama depan hingga belakang dipakainya untuk mencari. Namun, tak ada satu pun yang dapat.
Vella kembali ke profil i********: awal. Gadis itu memandang profil Pak Frivan. Tangannya mengelus layar ponsel hingga tak sengaja mengetuk ikon follow. Matanya lantas membulat. Jari-jarinya mengetuk layar ponsel dengan panik. Vella langsung meng-unfollow dan langsung kembali ke layar utama.
Vella memeluk ponselnya dengan detak jantung yang berpacu. Semoga saja Pak Frivan tak melihat notif darinya. Amin!
Sayangnya, doa dadakan Vella tak terkabulkan. Beberapa detik kemudian, notif pendek terdengar. Vella langsung was-was. Gadis itu mengaktifkan ponselnya dengan wajah menegang. Dia membuka i********:-nya dan meneguk ludah susah payah ketika melihat titik merah di bagian pemberitahuan.
@vanxvptrvel mulai mengikuti anda.
“Aish,” ringis Vella ingin menangis.
Dia memang suka pada dosennya itu, tapi mem-follow lebih dulu sepertinya terlalu cepat. Astaga, kenapa Vella susah sekali jual mahal?
Suara notif pendek terdengar lagi. Ada Direct Message yang masuk. Vella membukanya dan lantas menahan napas.
@vanxvptr: Follow saya kembali
Vella meringis pelan. Dia kembali ke profil Pak Frivan dan menekan ikon follow.
Notif DM masuk lagi.
@vanxvptr: Kenapa pesan saya tidak dibalas?
Rasa kesal Vella muncul dari kediamannya. Gadis itu mengangkat tinjunya ke udara seolah ingin menjotos ponselnya sendiri.
“Iya, iya, ini juga udah mau dibalas, kok!” teriaknya kesal seolah Pak Frivan bisa mendengarnya.
===
Bu Lestari sibuk menjelaskan di depan ketika Vella asyik-asyiknya menatap layar ponselnya yang menunjukkan grup Lambe HU. Sheva dan Haira sudah berapa kali memberinya kode agar menghentikan permainan ponselnya lebih dulu, tapi Vella tak menghiraukan mereka.
Gadis itu memainkan ponselnya di bawah mejanya. Sekali-kali, dia menatap Bu Lestari agar dikira ikut memperhatikan.
Sayangnya, Bu Lestari sudah memperhatikan gerak-gerik Vella. Wanita itu hanya meneruskan penjelasan dan sesekali melirik Vella berharap gadis itu juga melihatnya. Namun sayang, Vella sepertinya tidak peka.
Ketika Vella sibuk menunduk, Bu Lestari diam-diam melangkah menuju barisan meja dan segera menarik ponsel Vella.
“Astaga!” seru Vella kaget.
“Apa ada yang lebih penting dari penjelasan saya saat ini?” tegur Bu Lestari dengan wajah datar.
Vella menunduk takut. Semua teman sekelasnya menatapnya ngeri.
“Ponsel kamu saya sita sampai waktu mengajar saya habis. Ini jadi pelajaran buat yang lainnya jangan sampai melakukan hal yang sama. Dan kamu Vella, jangan sampai mengulangi kesalahan kamu ini atau saya akan sita terus ponselmu setiap jam mengajar saya.” Bu Lestari memperingatkan.
Vella mengangguk pelan. “Iya, Bu, maaf.”
Bu Lestari kembali ke depan dengan ponsel Vella ada ditangannya. Gadis itu memang ponselnya dengan wajah nelangsa. Untung saja layarnya sudah menggelap.
Bu Lestari mulai menjelaskan lagi. Ponsel Vella ditaruh di meja. Saat tengah mengajar, ponsel Vella bergetar-getar panjang karena banyak pesan yang masuk.
Bu Lestari menatap ponsel itu dengan mata lasernya. Vella merendahkan tubuhnya dan bersembunyi di belakang Yaya.
“Kualat lo! Udah dibilangin dari tadi jangan main ponsel dulu!” tegur Haira gemas.
Vella mencebik. Ini semua karena koleksi foto Pak Frivan dalam galerinya.