File Hilang & Senyum Manis

1871 Kata
Pak Frivan masuk ke kelas A. Kelopak mata pria itu hitam. Wajahnya juga menunjukkan raut lelah. Sekelas langsung memberi salam pada Pak Frivan yang hanya dibalas dengan anggukan pelan. Pak Frivan mengeluarkan laptopnya dari dalam tas dan menyambungkannya dengan kabel proyektor. Aldo dengan sigap mengaktifkan proyektor tersebut ketika Pak Frivan memberi kode. Tak lama, materi dalam bentuk PPT terpampang di layar putih itu. Pak Frivan berdiri di samping layar proyektor dan mulai menjelaskan. Gara-gara melihat mata panda Pak Frivan, Vella jadi tidak fokus mendengarkan penjelasan dari sang dosen. Tak biasanya model wajah Pak Frivan seperti itu. Pria itu selalu terlihat fresh. Vella terus mengamati wajah sang dosen sambil sesekali pura-pura melihat dan menulis di buku catatannya agar tak ketahuan. Teman-temannya yang lain tak ada yang segelisah Vella. Pandangan mereka tetap mengarah ke layar proyektor dengan telinga yang menangkap penjelasan Pak Frivan. Sesekali, mereka menulis hal yang dianggap penting untuk diingat di buku catatan “Sampai di sini, sudah mengerti semua?” tanya Pak Frivan mengakhiri penjelasannya setelah lima belas menit menjelaskan. “Sudah, Pak!” “Apanya yang dimengerti?” Para mahasiswa tak ada yang menjawab lagi. Mereka semua langsung sibuk memeriksa catatan tanpa berani menatap Pak Frivan, seolah sedang belajar. Sudah jadi hal yang lazim. Bilangnya mengerti, pas ditanya malah diam semua. “Baik. Saya beri waktu lima menit untuk memahami lagi materi ini. Kalau ada yang belum dipahami, silakan bertanya. Jangan lupa untuk mencatat hal-hal yang penting. Setelah ini, saya akan beri tugas dan langsung dikumpulkan hari ini,” ujar Pak Frivan memandang seisi kelas. Matanya berhenti saat menatap Vella. “Iya, Pak,” sahut sekelas ogah-ogahan. Mengerjakan tugas yang langsung dikumpul hari itu juga adalah hal yang paling menyebalkan bagi mereka. Tak ada yang bisa dicontek dan mencontek. Untung saja, mata kuliah Manajemen termasuk mata kuliah yang lumayan mudah bagi kelas A. Tepat lima menit kemudian, Pak Frivan mengganti PPT materi ke tiga nomor soal. Tiga nomor, tapi jawabannya bikin jari-jari jadi ngilu. Vella mengambil satu buku lagi yang khusus untuk mengerjakan tugas. Dia membuka halaman bukunya dan mendongak untuk melihat tugas yang terpasang di layar. Saat mengangkat pandangannya, dia tak sengaja menatap Pak Frivan yang masih menatapnya. Gadis itu merapatkan bibirnya dan buru-buru membaca tugas-tugas di depan sana sembari berusaha agar pandangannya tak berbelok ke netra gelap itu. Vella tak mengerti arti tatapan itu. Di bilang tatapan kesal, bukan. Tatapan marah, bukan. Jengkel, bukan. Cinta, bukan. Eh? Vella menampar pelan pipinya sembari menggeleng pelan. Kenapa pikirannya malah ngawur, sih? Vella menghela napas panjang-panjang dan memelototi soal-soalnya. Dia sesekali membolak-balikkan halaman buku catatannya untuk mendapatkan jawabannya. Ketika kelas A sibuk-sibuknya mengerjakan tugas. Pak Frivan membereskan barang-barangnya. Mematikan laptopnya dan memutuskan sambungan kabel proyektor lalu memasukkan benda itu ke dalam tas “Mohon maaf, saya harus keluar sebelum waktunya. Ada hal lain yang harus saya kerjakan juga. Untuk tugasnya, masih ada waktu setengah jam untuk menyelesaikan. Silakan pakai waktu itu baik-baik. Saat waktu habis, Penanggung Jawab silakan bawa ke ruangan saya.” Pak Frivan langsung keluar kelas. Penghuni kelas langsung mendesah lega. Mereka yang tadinya duduk rapi kini jalan ke sana sini saling melengkapi jawaban masing-masing. “Haduh, sebenarnya Pak Frivan nggak perlu minta maaf karena kudu keluar cepet. Kita, kan, justru bahagia kalau beliau keluar sebelum waktunya. Nggak masuk sekalian malah lebih bagus,” ujar Bian dengan senyum merekah. Cowok itu merapat ke Sheva untuk melihat jawaban cewek bule itu. Walaupun memasang wajah tak ikhlas, Sheva tetap memperlihatkan jawabannya pada Bian. “Coba, deh, lo ngomong gitu di depan Pak Frivan,” cibirnya. “Nggak maulah! Lo mau gue kena nilai merah di semester pertama? Bisa-bisa emak gue dari kampung datangin gue sambil bawa golok.” “Kita tos dulu, Bi,” ajak Aldo dengan wajah nelangsa. Bian menghela napas dan ber-tos dengan cowok itu. Sheva terkikik geli lalu melanjutkan menyelesaikan tugasnya. Kali ini, dia berbagi jawaban pada Bian. Sekali-kali, dia menerangkan beberapa penjelasan mengapa dan bagaimana bisa itu jawaban dari nomor satu dan bla bla bla. Bian memasang wajah serius dan mengangguk-angguk mengerti. Diam-diam, Yaya melirik cowok itu dari sudut matanya dan menyunggingkan senyum kecil. Saat waktu sudah habis, Vella memukul mejanya, pertanda bahwa semuanya harus mengumpulkan buku tugas mereka saat itu juga. Beberapa dari mereka menjerit gemas karena waktu sudah habis. Menulis dengan kecepatan kilat dan hasil cakar ayam lalu letakkan di atas meja Vella. Gadis itu menatap mejanya yang sudah tertumpuk buku berbagai jenis dan warna. “Udah kumpul semua, ‘kan?” teriaknya bertanya. “Sudah, Bu Bos!” Aldo membalas dengan cengiran. Vella meliriknya dan mendengus sinis. Gadis itu berdiri dan membawa buku-buku itu menuju ruangan Pak Frivan. Sampai di sana, pintu ruangan Pak Frivan hanya terbuka sedikit. Vella berusaha mendorongnya dengan sikunya karena buku-buku yang ada di pelukannya membuatnya kesusahan. Bodo amat kalau Pak Frivan menegurnya tidak sopan. Bagaimana mau mengetuk pintu kalau dua tangannya sudah difungsikan ke lain hal. “Pak, saya baw——“ Vella terpaku di depan pintu. Gadis itu menggigit lidah menahan kata-katanya ketika melihat Pak Frivan duduk dengan kepala terkulai di atas meja. Tangan laki-laki itu ada di keyboard laptop seolah sedang mengetik. Suara dengkuran halus terdengar dari pria itu. Pak Frivan ketiduran. Vella berjalan mengendap-ngendap. Dia meletakkan buku-buku yang dibawanya ke meja dengan hati-hati lalu mengintip layar laptop. Hatinya ditusuk rasa bersalah ketika melihatnya. Pak Frivan mengerjakan ulang file yang tidak sengaja dihapusnya beberapa hari lalu. [Flashback] Vella menunduk tak berani menatap Pak Frivan yang menghela napas. Ketika dia mencoba mengangkat kepalanya sedikit, Pak Frivan terlihat sedang memijit keningnya. “Pak, maaf. Saya beneran tidak sengaja,” ucap gadis itu pelan. “Novella ....” “Saya bakal kerjain ulang, deh, Pak!” “Nove——“ “Kali ini saya benar-benar ikhlas, Pak!” Vella mengucapkannya dengan wajah meyakinkan. Pak Frivan berkedip-kedip pelan lalu tertawa pelan. Namun, raut wajahnya terlihat aneh. Tawanya seperti dipaksakan. “Kamu tidak perlu menggantinya, Novella. Saya punya salinannya, kok,” ujar Pak Frivan tersenyum. Vella diam sejenak berusaha mencernanya. Beberapa detik, matanya membulat. “Jadi, sebenarnya ini sudah selesai, Pak?” “Cuma sampai yang dikerjakan Ardi tadi.” “Hah! Lega banget dengernya! Sini, deh, Pak saya selesaiin yang salinannya,” tawar Vella dengan mata berbinar lega. Pak Frivan menggaruk ujung alisnya dengan wajah kikuk. “Emm, Novella, sepertinya tidak usah. Saya bisa mengerjakannya nanti. Kamu kembali ke kelasmu. Sebentar lagi Bu Licorys masuk ke kelasmu.” “Eh? Terus tadi kenapa Bapak suruh saya ke sini ngerjainnya kalau Bapak sendiri bisa?” Pak Frivan lantas berdecak. “Sudah keluar sana! Kamu mau ketinggalan pelajaran lagi untuk kedua kalinya?” Vella mencebik dan mengambil ponselnya yang ada di atas meja. Saat keluar dari ruangan Pak Frivan, dia baru sadar panggilan telepon dari Mamanya masih tersambung. “Mama?” panggil Vella hati-hati. [“Anak nakal! Sudah berapa kali kamu ketinggalan kelas? Jangan-jangan kamu sudah sering buat masalah di kampusmu!”] omel Mentari dengan lantang. Vella meringis dan menjauhkan ponselnya dari telinganya. Astaga, mamanya kalau marah tidak main-main suaranya. Selanjutnya, mamanya bahkan menerornya hinggasampai di rumah. Memberinya ceramah panjang kali lebar tambah tinggi. [Flashback end] Vella memandangan wajah tidur Pak Frivan. Bibirnya tak bisa menahan senyum yang memaksa keluar. Wajah dosennya itu sangat damai saat tertidur seperti ini. Namun, mata panda Pak Frivan mengusik kembali perasaan bersalah hinggak keluar dari sarangnya. Apa yang dikerjakan Pak Frivan ini tak main-main. Sepertinya ini kumpulan nilai materi serta kedisiplinan angkatannya. Bayangkan ada ratusan yang harus Pak Frivan ketik. Kemarin Vella dan Ardi hanya melengkapi nilai-nilainya. Sekarang Pak Frivan harus membuat tabelnya ulang, menuliskan poin-poinnya dan mengisi nilainya. Perasaan bersalah memunculkan ide pada Vella. Gadis itu berdiri du depan Pak Frivan, dibatasi oleh meja. Dia mencondongkan badannya dan memindahkan tangan Pak Frivan dari keyboard laptop. Untung saja kepala pria itu tidak ikutan menindih laptop. Vella pelan-pelan memutar laptop menghadap padanya dan mulai memperhatikan layarnya. Gadis itu meregangkan otot-otot jarinya sebelum mengetik. Untung saja, Pak Frivan sudah mengisi poin-poin penilaiannya. Vella tinggal memasukkan nilai-nilai temannya. Dia mengambil map yang berisi tulisan tangan Pak Frivan mengenai nilai-nilai angkatannya dan mulai menyalinnya di laptop. Saat sedang mengetik, Vella teringat sesuatu. Saat ini udah masuk jam Bahasa Inggris. Dia mengambil ponselnya dan menghubungi grup kelasnya meminta izin tidak ikut kelas Bahasa Inggris. Vella menatap Pak Frivan. Tangannya terasa gatal untuk mengelap keringat yang menetes di kening Pak Frivan. Udara sekarang memang panas. AC dalam ruangan itu juga tidak bersuhu seperti biasanya. Vella mengambil remot AC dan menurunkan suhunya. Dia lalu mengambil sehelai tisu dan mengelap kening Pak Frivan dengan hati-hati. Tangannya menegang ketika Pak Frivan melenguh pelan. Pria itu menggerakkan kepalanya ke arah lain dengan wajah yang masih nyenyak. Vella menghembuskan napas lega. Dia kembali melanjutkan kerjaannya di depan laptop sembari berusaha menjauhi tombol delete. Jangan sampai dia melakukan kesalahan lagi. Bisa-bisa Pak Frivan mendadak gila saat melihat hasil ulang kerjaannya terhapus lagi. Jam sudah menunjukkan pukul setengah empat ketika Vella selesai mengerjakannya. Gadis itu menghela napas lega dan merenggangkan otot-otot lehernya yang terasa kaku. Matanya yang terlalu lama menatap layar laptop terasa kering. Vella menoleh ke samping, menatap pemandangan di luar jendela sembari meregangkan otot-ototnya yang juga kaku. Entah karena mendengar suara kretek-kretek dari jari Vella atau memang sudah saatnya bangun, Pak Frivan bergerak pelan lalu melenguh. Perlahan-lahan matanya terbuka dan yang pertama dilihatnya adalah wajah Vella dari samping. Gadis itu tak sadar Pak Frivan sudah bangun karena asyik menatap pucuk pepohonan. Pak Frivan lalu menatap ke depannya dan terkejut ketika laptopnya sudah mengarah lain. Pria itu dengan panik memutar laptopnya dan melihat isinya. Vella terkesiap. Dia tak tahu kalau Pak Frivan sudah bangun. “Oh, Bapak sudah bangun?” tanya Vella tak membutuhkan jawaban lagi. Pak Frivan tak menjawab. Matanya menatap layar laptop dengan tajam. Tangannya bergerak di atas touchpad, menjalankan kursor. Ketika merasa semuanya sudah lengkap, Pak Frivan membuang napas lega dan bersandar ke belakang. Namun, pria itu kembali duduk tegak ketika menatap Vella. “Kenapa kamu bisa ada di sini?” “Lho, ‘kan, Bapak yang suruh saya bawa tugas teman-teman saya ke sini kalau udah selesai.” Pak Frivan menatap jam dinding. “Ini sudah jam empat. Kamu sudah dari tadi di sini?” “Iya, Pak,” sahut Vella mengangguk pelan. “Bapak bohong, ya, bilang file ini ada salinannya?” Pak Frivan tak menjawab dan menatap ke arah lain. “Bapak kenapa bohong sama saya? Jadi, mata bapak begitu karena habis-habisan ngerjain ini? Kenapa Bapak malah bohongin saya, sih? Saya, ‘kan, jadi merasa bersalah gini setelah tahu,” cerocos Vella. “Sudah jam empat, Vella. Kamu tadi tidak ikut kelas Bahasa Inggris, ya?” “Jawab pertanyaan saya dulu, Pak.” Pak Frivan mengusap wajahnya dan melipat tangannya di atas meja. “Saya merasa sudah sering menyusahkan kamu, Novella. Tidak apa-apa, lagi pula ini sudah selesai ....” Suara Pak Frivan menghilang setelah merasakan sesuatu yang ganjal. Perasaan tadi dia belum menyelesaikan semuanya. “Tadi saya yang selesaiin, Pak,” ujar Vella datar. Pak Frivan berkedip-kedip sejenak menatap laptopnya lalu tertawa. “Ah, begitu, ya.” “Iya, Pak. Kalau begitu, saya permisi,” pamit Vella keluar dari ruangan. Ketika dia melewati pintu, Pak Frivan memanggilnya. “Novella.” “Iya, Pak?” “Hari Sabtu nanti kamu ada kesibukan?” “Nggak ada, Pak. Kenapa? Mau datang ke rumah saya ngasih tugas lagi?” tanya Vella tersenyum geli. Pak Frivan tertawa pelan. Perlahan, tawa pria itu digantikan senyum kecil yang sangat manis. “Tidak. Saya mau ajak kamu jalan-jalan. Boleh?” Senyum geli Vella sirna. Gadis itu mengigit bibir dalamnya tak tahu harus menjawab apa.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN