Mama & File yang Terhilang

1631 Kata
Vella berjalan menuju kelasnya dengan wajah awut-awutan. Dari kemarin dia terus menyumpahi teman-temannya. Datang ke rumahnya dan membuat kamarnya seperti baru saja didatangi p****g beliung. Semalaman penuh dia dan Ani membereskan kamarnya selepas orang-orang tak tahu diri itu pulang semaunya. Yaya yang terlihat masih normal diantara mereka saja tidak berniat membantunya dan pulang dalam diam. “Good morning, Vel! Muka lo pagi-pagi udah kusut aja. Napa lo?” tanya Haira. Vella menatap gadis itu lalu segera melengos malas. Dia duduk di kursinya dan meletakkan tasnya di atas meja. “Jam pertama mata kuliahnya apa, sih?” Aldo yang memutuskan untuk mengakhiri game-nya karena kuota sekarat berbalik menatap lainnya. “Bu Lestari,” sahur Sheva datar. “Waduh, ada tugas, ya?” tanya Bian tiba-tiba panik. Jasmine yang sibuk membaca isi grup Lambe HU berbalik. “Lo kayak baru kuliah kemarin aja. Udah tau setiap Bu Lestari masuk pasti ngasih tugas dan dikumpulin pertemuan berikutnya. Iyalah, hari ini ada pengumpulan tugas!” “Santai, dong!” Aldo sewot dan membuka buku catatannya. “Kok, lo yang sewot? Gue, kan, ngomongnya sama Bian.” “Udah, udah!” lerai Bian frustasi. “Yang udah jadi tugasnya, serahin sama gue!” perintah Bian. Yaya berbalik pada cowok itu dan menatapnya dengan mata lasernya. Bian langsung kicep. “Yang ikhlas aja, deh, kalau gitu,” ralatnya dengan suara kecil. Vella langsung mendengus. “Setelah yang lo lakuin di kamar gue kemarin? Nggak! Gue nggak ikhlas berbagi nilai sama lo!” Bian meringis kecil menyesali perbuatannya. Kemarin, saat berada dalam kamar Vella, tepatnya di dalam Room Velvan, cowok itu berlarian ke sana-sini karena berani mengganggu Haira yang serius membaca. Alhasil, Haira naik darah dan mengejar cowok itu. Ketika berlari mengelilingi rak novel Vella, Bian tidak sengaja menyenggolnya hingga rak itu goyah dan akhirnya jatuh. Semua novel Vella berserakan di lantai. Semuanya heran, Bian yang punya badan kurus begitu bisa merobohkan rak yang lumayan besar. Kekuatan orang kurus memang tidak main-main. Saat itu Vella tidak ada di sana karena ada di bawah membantu Ani menyediakan minuman dan cemilan. Eh, sampai di ruangan favoritnya, dia sudah disuguhi pemandangan yang mengerikan. Itu baru awalnya. Karena akhir-akhirnya, teman-temannya yang lain berbuat ulah. Tidak usah dikatakan. Memikirkannya saja.membuat Vella ingin menangis. Selain tidak waras, teman-temannya memang tidak tahu diri. Vella menghela napas keras membayangkannya kembali. Gadis itu menggeleng pelan dan menyandarkan kepalanya ke meja, tidur sesaat sebelum Bu Lestari masuk dan menghantam otaknya dengan materi serta tugas Akuntansi. Bian mencebik. Aldo tidak bisa diharapkan. Setelah sekian purnama, nilai cowok itu kena merah terus di Akuntansi. Bian tidak mau, ya, nilainya ikut-ikutan merah. Kalau mau nyontek harus lihat-lihat yang berkualitas juga. Haira dan Sheva pun sama. Apalagi Jasmine. Yang punya nilai normal hanyalah Yaya dan Vella. Kini, dua cewek itu juga tidak bisa diandalkan. Yang satunya pelit, yang satunya lagi marah. Tak disangka, tepat setelah Bian memikirkan itu, Yaya membongkar isi tasnya dan mengeluarkan satu buah buku. Bian berkedip bingung ketika melihat buku itu disodorkan padanya. Sontak kengerian menyelubungi dadanya. Apa Yaya mengetahui isi pikirannya tadi? Hah, cewek itu kelakuannya emang tidak bisa ditebak. “Nggak mau ambil?” tanya Yaya. “Eh, Yaya, lo serius ngasih gue ini?” Yaya mengangkat kedua alisnya. “Ya, lo nggak lagi kerasukan, kan? Ngapain lo ngasih contekan sama dia?” tanya Vella terperangah. Yaya hanya mengendikkan bahu sejenak. Gadis itu menatap Vella sekilas lalu kembali pada Bian. “Nggak mau ambil? Ya, ud––“ “E-eeh, gu-gue ambil!” Bian langsung merebut buku itu dari Yaya. “Thanks, ya!” ucapnya tersenyum lebar. Tanpa membuka buku itu terlebih dahulu, Bian langsung mengambil buku dan pulpennya sendiri dengan kecepatan kilat. Masih dengan senyum merekah, cowok itu mulai membuka halaman bukunya yang kosong dan bersiap menulis. “Hah, untung aja,” gumamnya lega. Namun, ketika membuka buku Yaya, senyum cowok itu sirna. Keningnya mengerut dan beberapa kali membolak-balik halaman buku Yaya. “Ya ....” “Hm?” “Jawabannya mana?” Yaya yang asyik membaca notebook-nya berbalik menatap Vian dengan senyum datar. “Ada, kok, di situ.” “Mana?” “Jawabannya sudah ada semua di catatan gue, Bi. Silakan cari sendiri, ya.” Bian terperangah. Semua teman-temannya tertawa keras. Ternyata Yaya juga pintar mengibuli temannya. “Rasain lo!” teriak mereka bersamaan. === Tepat setelah Bu Lestari keluar dari kelas, Bian masuk dengan wajah suram. Semuanya tertawa puas melihat itu. Catatan: semua itu artinya tidak termasuk Yaya. “Akhirnya lo ngerasain apa yang gue rasain,” ucap Vella manis. Bian memasang wajah jeleknya dan melengos ke tempat duduknya dengan lunglai. “Perhatian! Guys, Pak Damian hari ini nggak masuk!” ucap Cory, PJ untuk matkul Digital Marketing. “YES!” “Tapi, beliau ngasih tugas. Pertemuan berikutnya harus kumpul!” “HUUU!” Cory maju ke depan sembari membawa spidol dan ponselnya. Gadis itu menulis lima nomor tugas yang dikirim Pak Damian melalui w******p di whiteboard. Ketika sibuk-sibuknya menulis, salah seorang mahasiswa dari kelas lain muncul di depan pintu. Cowok itu melongok sejenak ke dalam dan akhirnya mengetuk pintu kelas. “Novella?” Vella yang sibuk menulis langsung mendongak. Matanya membulat semangat kala melihat cowok itu. Itu Ardi, PJ matkul Manajemen dari kelas D. “Gue!” teriaknya sembari angkat tangan. “Lo dipanggil sama Pak Frivan,” ujar Ardi. “Sekarang?” “Iya.” Vella mengangkat jempolnya pada Ardi. Cowok itu mengangguk pelan dan menjauh dari pintu kelas, kembali ke kelas asalnya. Vella menahan senyumnya. Setelah beberapa hari tidak ketemu, akhirnya dia bisa bertemu dengan laki-laki itu lagi. Vella membereskan barang-barang yang ada di atas mejanya dan memasukkan semuanya ke dalam tas. Tanpa berkata apapun, gadis itu berlari keluar kelas. Sekelasnya serempak menatap pintu. “Guys, kalian ngerasa ada yang aneh dari Vella?” tanya Cory yang masih berdiri di depan. “Kerasa banget!” teriak Aldo nyaring mewakili yang lainnya. “Kayaknya dia mulai nge-fans sama Pak Frivan,” gumam Cory dan lanjut menulis soal-soal dari Pak Damian. === Vella melongok ke dalam ruangan Pak Frivan. Gadis itu nyengir lebar ketika Pak Frivan menatapnya. “Pagi, Novella. Sepertinya suasana hati kamu baik sekali,” sapa Pak Frivan mendengus geli. Vella duduk di kuris depan Pak Frivan tanpa disuruh. Gadis itu duduk tegak dan menganggukkan kepalanya dengan erat. “Baik sekali, Pak.” “Memangnya ada apa?” “Karena ....” Vella menahan ucapannya yang sudah sampai di tenggorokannya. Gadis itu menelan ludahnya. “Bapak kepo banget, deh,” dalihnya tersenyum geli. Hampir saja dia keceplosan. “Ya sudah, kalau kamu tidak mau berbagi. Saya lega melihatnya. Berhubung karena Pak Damian tidak masuk hari ini, jadi saya panggil kamu untuk melanjutkan pekerjaan Ardi sebentar karena dia ada kelas sekarang.” Pak Frivan menyodorkan laptopnya ke depan Vella. “Tolong lanjut isi ini, ya. Saya keluar sebentar, ada jadwal di kelas lain,” terang Pak Frivan. Vella mengangguk paham dan mulai memperbaiki duduknya. Gadis itu mencermati laptop Pak Frivan sebelum akhirnya mulai menggerakkan kursor dan sesekali mengetik. Tanpa diberi tahu Pak Frivan, Vella pun sudah tahu bagaimana cara mengisi tabel-tabel itu. Pak Frivan menatap gadis itu sejenak dan tersenyum kecil. Laki-laki itu beranjak dari kursinya dan memakai jas berwarna abu-abu. Setelah mengambil satu buku dari rak, pria itu keluar dari sana. “Novella?” Pak Frivan tiba-tiba saja muncul di depan pintu membuat Vella terkejut. Gadis itu kira dosennya sudah keluar. “Iya, Pak?” “Hati-hati, ya, isinya,” pesan Pak Frivan. “Iya, Pak.” “Itu file penting. Tangan kamu itu biasanya nakal. Saya tidak mau ada yang salah, ya.” “Iya, Pak,” ujar Vella jengah. Pak Frivan memang bisa bersikap manis, tapi setelah itu selalu saja ada ucapannya yang bikin hati gerah. Pak Frivan tersenyum. Kali ini, pria itu benar-benar pergi. Vella melanjutkan kerjaannya. Jari-jarinya berbeda lincah di atas papan keyboard. Suara nada dering ponselnya terdengar dari dalam saku kemejanya. Vella merogoh ponselnya dan mengangkat panggilan tanpa melihat kontak. “Halo?” [“Halo, Vel?”] Mata Vella membulat. “Mama!” [“Iya, ini Mama. Apa kabar?”] “Vella baik, Ma. Di situ baik-baik aja, kan?” [“Iya, baik, kok. Kuliahmu gimana? Lancar?”] “Tenang, Ma. Lancar, kok.” [“Maaf, Mama baru sempat hubungi kamu sekarang, ya. Kamu sekarang di mana?”] “Nggak apa-apa, kok, Ma. Kak Varda sering, kok, chat Vella. Btw, Vella lagi di kampus.” Mata gadis itu fokus menatap layar laptop, namun telinganya tetap fokus pada perkataan sang mama. Tangannya bergerak lincah di atas papan keyboard laptop. “Iya, Ma. Vella nggak pernah naik mobil sendiri, kok.” “Hu’um, ditemenin Pak Burhan.” Bibir Vella tersenyum puas ketika semua tabel-tabelnya telah terisi. Gadis itu menyimpannya sebelum keluar dari aplikasi Microsoft Excell. “Vella?” “Iya, Ma?” “Kamu ingat sesuatu selama tinggal di Jakarta?” Vella diam sejenak. Tangan kanannya leluasa mengelus keyboard laptop. Dia ingin memberitahu mamanya, tapi Vella ragu. Pasti ada sesuatu hingga membuat kedua orangtuanya memutuskan untuk pindah ke Jogja. Vella tidak ingin orangtuanya menyuruhnya kembali ke Jogja saat tahu Vella sudah mengingat sedikit demi sedikit ingatannya. “Vella?” Suara Mentari dari ujung telpon menghancurkan lamunan Vella. Saking tenggelamnya dalam lamunan, Vella tersentak kaget Hingga tangannya yang mengelus papan keyboard tak sengaja menekan tombol Delete. Gadis itu melotot ngeri. Apa lagi saat file yang baru saja dikerjakannya hilang dalam sekejap karena kursor tepat menunjuk pada file tersebut ketika dia menekan delete. “Mati gue!” pekik gadis itu spontan. Dia meletakkan ponselnya di meja tanpa menghiraukan fakta bahwa sambungan telepon dengan mamanya belum berakhir. Tangannya bergerak liar di touchpad. Bolak-balik dari dokumen satu ke dokumen lain, berharap menemukan file yang tak sengaja dihapusnya itu. “Itu file penting. Tangan kamu itu biasanya nakal. Saya tidak mau ada yang salah, ya.” Vella menggigit bibirnya kala mengingat kembali perkataan Pak Frivan. Itu file penting. Bagaimana ini? Pak Frivan sebentar lagi akan datang. Dosen diktator itu, eh, mantan dosen diktator itu pasti akan memenggal kepalanya. Kenapa, sih, ucapan jelek Pak Frivan selalu jadi kenyataan pada dirinya? “Novella?” Mata Vella melotot lagi. Dengan gerakan kaku, dia berbalik menatap pintu. Di sana berdiri Pak Frivan dengan wajah bertanya-tanya. “Sudah selesai, ya?” tanya laki-laki itu semabri berjalan ke kursinya. “I-iya, Pak,” cicit Vella, “ta-tapi, terhapus. Saya nggak sengaja, Pak. Beneran! Sumpah!” ujar gadis itu denga nada meyakinkan. Namun, setelah melihat wajah tanpa ekspresi Pak Frivan, gadis itu langsung menunduk dalam. “Semuanya?” “Iya, Pak, semuanya.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN