Saya mau kamu jadi pacar saya,” ujar Pak Frivan dalam pikiran Vella. Gadis itu lantas menggeleng keras mengenyahkan pikiran ngawur itu dari kepalanya.
Vella! Lo kenapa, sih? Cuma gara-gara kejadian di bawah meja lo jadi gini? Batinnya berteriak.
“Kamu kenapa, Novella?” tanya Pak Frivan.
“Eh, nggak apa-apa, kok, Pak. Tadi Bapak bilang mau ngomong sesuatu sama saya. Emangnya apa, Pak?” tanga Vella tersenyum kering.
“Ah, itu.” Pak Frivan menjeda ketika melihat lampu lalu lintas sudah berubah hijau. Mobilnya kembali melaju dengan pelan. “Saya mau minta maaf sama kamu.”
Vella menoleh pada laki-laki itu dengan alis terangkat. “Untuk?”
“Kemarin itu, kamu sakit karena saya, ‘kan?”
“Hah? Maksudnya, Pak?”
“Saya terlalu sering nyuruh kamu ini-itu. Sementara kamu juga pasti punya urusan lain yang ingin kamu selesaikan. Itu pasti menjadi beban pikiran kamu. Saya minta maaf.”
Vella menggaruk kepalanya dengan wajah bingung. “Eh, itu bukan salah Bapak, kok. Saya yang salah kemarin. Sudah sakit malah maksain diri.”
“Tidak. Kamu tidak salah. Cewek selalu benar, ‘kan?”
“Heh?” Vella menatap laki-laki itu aneh.
Pak Frivan menoleh sekilas pada Vella lalu kembali fokus pada jalanan. Pria itu tersipu namun menutupnya dengan deheman berwibawa. “Lupakan itu. Intinya, saya minta maaf kalau selama jadi PJ saya, kamu merasa tertekan. Untuk ke depan, saya tidak akan terlalu sering menyuruh-nyuruh kamu lagi.”
Vella menatap ke depan. Seharusnya itu membuatnya senang. Kenapa sekarang dia malah merasa tidak rela. Apa karena dia sudah terbiasa dijadikan layaknya babu oleh Pak Frivan? Atau karena sekarang benih-benih cinta mulai tumbuh di hatinya?
“Bagaimana, Novella? Kamu mau memaafkan saya?”
“Ah? Eh, itu ... saya rasa nggak ada yang perlu dimaafkan dan meminta maaf, Pak. Saya selaku PJ memang sudah seharusnya bersedia mengerjakan tugas dari Bapak.”
“Tapi, raut wajah kamu selalu tidak ikhlas saat menerima tugas dari saya,” ujar Pak Frivan datar.
Vella meringis kecil. Ternyata dosennya itu peka juga, ya. Apa karena itu pak Frivan sekarang memutuskan tobat dari dosanya menjadikan mahasiswinya babu?
Tapi, kini Vella masih tetap tak ikhlas. Kalau dulu dia tidak ikhlas karena selalu diberikan tugas ini-itu sama Pak Frivan, kali ini dia keberatan karena harus melepas tanggungjawab itu.
Mobil Pak Frivan berbelok masuk ke dalam area Hope University. Menyadari itu, mata Vella melotot ngeri.
Mobil Pak Frivan melewati Aldo dan Bian yang berjalan masuk pintu utama. Vella langsung menunduk menyembunyikan wajahnya.
“Heh, kaca mobil saya ini tidak tembus pandang, ya,” tegur Pak Frivan sedikit kesal.
“Astaga, Pak! Kenapa nggak turunin saya di luar aja, sih?”
“Ck! Justru kalau kamu turun di luar nanti ada yang lihat kamu. Tenang saja, tidak ada mahasiswa yang berani menginjakkan kaki di parkiran dosen.”
“Kalau dosen lain yang lihat bagaimana?”
“Tidak bakalan,” bantah Pak Frivan tenang. Dia memarkirkan mobilnya dengan teratur dan mematikan mesin mobil.
Vella mengawasi keadaan di luar. Oke, bagus. Parkiran dosen terlihat sepi.
Namun, Vella tak berniat bergerak setelah merasakan sesuatu yang aneh. Gadis itu perlahan menoleh dan melotot.
Pak Frivan mencondongkan tubuhnya ke arah Vella dan menatap gadis itu dalam. Vella merapat ke pintu mobil.
“Ke-kenapa, Pak?”
Klik!
Vella melirik ke bawah. Gadis itu mengerjap bingung ketika tangan Pak Frivan ternyata melepas sabuk pengamannya.
“Ah ... makasih, Pak,” cicit gadis itu.
“Sama-sama.”
“Saya boleh keluar sekarang, Pak?” tanya Vella menahan napas.
Pak Frivan menatap gadis itu dengan tatapan tajam namun teduh. Kepalanya menggeleng pelan.
“Ke-kenapa, Pak?” tanya Vella mencoba mendorong pelan d**a Pak Frivan menggunakan telunjuknya. Sayang, Pak Frivan tetap kukuh.
Astaga! Bisa-bisa Vella nati kehabisan napas di sini!
“Novella, kamu masih ingat saat pertama kita bertemu?”
“I-iya, Pak.”
“Itu pertama kali saya melihat kamu dan saya merasa sangat bahagia,” ucap Pak Frivan dengan netra teduhnya.
Bola mata Vella bergerak liar menghindari tatapan Pak Frivan. Namun, sekeras apa pun dia menghindar, ujung-ujungnya netra miliknya hanya berhenti saat menatap bola hitam milik Pak Frivan.
“Ke-kenapa, Pak?” tanya Vella gugup.
“Karena embel-embel Kakak dari kamu membuat saya bersyukur kalau muka saya ini ternyata awet muda.”
Mata Vella melotot ketika Pak Frivan tergelak. Gadis itu mendorong Pak Frivan keras dengan wajah merah.
“Dosen gila!”
===
“Kyaaa!”
Vella memeluk ponselnya dengan erat dan memekik kesenangan. Gadis itu kini sedang berbaring di atas tempat tidurnya sembari bertukar pesan dengan Pak Frivan.
Beberapa hari belakangan ini, Pak Frivan sering mengirimkan pesan padanya. Baik itu menanyakan keadaan atau memberi amanah untuk Vella yang berhubungan dengan kuliah.
Makin ke sini, Vella makin baper. Dia makin sering memandang ponselnya demi menunggu chat dari dosennya itu. Pak Frivan terkadang masih mengesalkan, namun itu tidak membuat perasaan Vella layu. Dia malah makin menyukai dosennya itu. Pak Frivan bahkan pernah mengomelinya dan gadis itu hanya senyam-senyum.
Sebuah balasan dari Pak Frivan masuk lagi. Vella menatap layar ponselnya dengan senyum tertahan. Matanya terpaku beberapa saat sedang berpikir harus membalas pesan dosennya itu lagi atau tidak.
Dia masih ingin bertukar pesan dengan Pak Frivan. Vella akhirnya membalas pesan laki-laki itu. Tidak lama, Pak Frivan membacanya.
Vella menunggu-nunggu balasan dari sang dosen namun sepertinya Pak Frivan tak melanjutkannya lagi. Mata Vella menatap dua centang biru dengan kecewa. Gadis itu melempar pelan ponselnya ke samping dan mengubah posisi tidurnya jadi tengkurap.
Vella bertopang dagu dan menatap dinding untuk beberapa waktu. Vella sangat berharap Pak Frivan membalas perasaannya ini. Entah ada apa dengannya sampai bisa-bisanya jatuh cinta sama dosen yang sering mendiktator dirinya itu.
Namun, Vella tak ingin terlalu berharap. Dia takut kecewa. Dia tak ingin terlalu berangan-angan hanya karena akhir-akhir ini Pak Frivan sering mengirimnya pesan. Bisa saja dosen itu hanya bermaksud untuk menebus semua kelakuannya terhadap Vella.
Tapi tetap saja, dalam lubuk hati Vella yang terdalam, dia berharap Pak Frivan juga merasakan apa yang dirasakannya.
Vella tiba-tiba teringat pada pemuda masalalunya itu. Sampai sekarang, dia belum menemukan titik terang dari pemuda itu. Makin ke sini, dia makin sering memimpikan kecelakaan itu. Awal-awal Vella terserang panik hingga merasakan sesak di dadanya. Namun, sekarang Vella sudah cukup terbiasa.
Pikiran bahwa itu hanyalah mimpi sudah tertanam di dalam otaknya. Walaupun sebenarnya itu bukan mimpi.
Tok tok tok!
“Non Vella?”
Suara Ani terdengar dari luar. Vella langsung melompat dari tempat tidurnya dan membuka pintu. “Ada apa, Ni?”
“Ada teman Non Vella yang datang.”
“Siapa?”
Ani belum sempat menjawab ketika beberapa kepala muncul dari tangga. Tak lama kemudian, suasana rumah Vella yang tadinya hening jadi riuh. Semuanya berteriak memanggil nama Vella dengan heboh, terkecuali satu orang.
Vella sempat terhenyak, namun gadis itu itu akhirnya menghela napas frustasi.
“Kenapa dibukain pintu untuk mereka, sih, Ni?”