Perasaan & Jawaban

1599 Kata
Ani dan Vella sama-sama kaget. Di depan pintu, Haira muncul dengan gaya hebohnya masuk ke dalam dan menindih Vella. “Lo, tuh, ya, bawa tugas ke ruangan Pak Frivan malah gak balik ke kelas! Untuk Bu Lycoris nggak masuk!” omel gadis itu. Vella merengut sakit dan mendorong gadis itu ke samping. Dia terkekeh pelan ketika Ani menatap mereka syok. “Nggak apa-apa, Ni. Dia emang temen gue. Lo nggak usah kaget gitu. Ini baru satu, teman gue yang lainnya juga nggak ada yang waras.” “Njer, seenaknya ya lo ngomong gitu.” Haira menampol bibir Vella. Ani mengerjap bingung. Gadis yang tak tahu apa-apa itu akhirnya undur diri dan menutup pintu rapat demi meredam suara bising dari dalam karena adu bacot dua penghuni kamar. “Lo tadi ke mana? Kita ampe keliling kampus nyari lo. Pas memberanikan diri ke ruangannya Pak Frivan, eh, si dosen malah ngusir kita terus bilang lo pulang karena sakit. Nomor lo juga di telepon, nggak diangkat.” “Gue emang pulang duluan,” dusta Vella. “Tas lo?” Haira menatap tas coklat yang selalu Vella bawa ke kampus. Vella diam beberapa saat mencari alasan. “Itu ... tadi gue kembali ke kampus buat ambil.” “Sendirian? Lo nggak takut?” “Sama Pak Burhan. Lo semua, sih, nggak ambilin tas gue!” Vella mengerucutkan bibirnya mengalihkan pembicaraan. “Yee, maaf! Soalnya tadi kita udah capek nyari lo. Pas tahu lo pulang, ya, kita semua langsung pulang.” “Udah, lupain aja,” dengus Vella, “lo ke sini karena apa? Pasti ada alasan, kan? Cepetan bilang. Kalau sudah, pintu rumah gue kebuka lebar ngasih lo jalan pulang.” Haira mendelik. Bukannya menjawab, gadis itu malah menatap isi kamar Vella. “Kamar lo nggak berubah, ya. Masih norak.” “Ish, gue aja nggak ingat kenapa kamar gue warnanya begini. Dulu normal-normal aja,” cibir Vella. Haira beranjak dari tempat tidur lalu berjalan ke arah Room Velvan. Vella menyusulnya ketika gadis itu masuk. “Buset! Novel lo banyak amat!” seru Haira ketika melihat rak besar hanya dipenuhi novel. Vella tak menghiraukan seruan Haira. Dia malah memikirkan sesuatu. “Haira.” “Hm?” gumam Haira menyahut. Gadis itu sibuk memilih novel-novel yang ada. “Lo tahu kenapa ruangan ini ada? Maksudnya ... lo tahu arti dari namanya?” tanya Vella pelan. Tangan Haira berhenti memilah novel. Gadis itu menatap Vella dan terdiam sejenak. “Nggak,” jawabnya. Hati Vella langsung mencelus. Gadis itu melirik Haira dengan sinis. Tadinya melihat raut wajah Haira yang serius, Vella mengira gadis itu mengetahui sesuatu, ternyata tidak. “Ya, abis tiap gue tanya, lo cuma diam sambil senyum-senyum. Emang lo belum ingat, ya?” tanya Haira. “Gue udah ingat, sih, proses pengerjaan ruangan ini. Tapi, makna di balik nama Velvan itu, gue belum ingat. Menurut lo, kata itu asalnya dari mana, ya? Bahasa asing atau ....” Vella menggantungkan ucapannya tak tahu bagaimana melanjutkannya. Haira menatap langit-langit semabri berpikir. “Menurut gue, itu bukan bahasa asing. Itu kayaknya emang nama ... atau singkatan?” ujar Haira ragu. “Singkatan?” gumam Vella. Kening gadis itu mengerut membuktikan dia sedang berpikir keras. Tak kunjung mendapat jawaban, Vella mendengus keras. Gadis itu menyugar rambutnya dan duduk di kursi yang sengaja ditaruhnya di sana untuk membaca. Haira terpaksa duduk melantai karena tak ada kursi lagi. Gadis itu bersandar di rak novel. “Lo belum ingat apa-apa?” tanyanya sembari memperhatikan novel-novel yang sejajar dengannya. “Gue udah ingat separuh. Kayaknya udah hampir semua kenangan tentang lo dan sekolah gue udah ingat. Tapi, masih ada yang belum gue ingat.” “Apa?” “Gue selalu mimpi ada laki-laki yang ikat janji sama gue. Tapi, pas udah sadar gue nggak bisa ingat wajahnya. Gue juga sering tiba-tiba ingat dia pas sadar, bahkan kadang lagi belajar, ingatan itu tiba-tiba muncul. Tapi, gue tetap nggak bisa ingat bagaimana rupa wajahnya. Menurut lo, gimana?” “Bentar, lo udah ingat pernah pacaran?” tanya Haira. Vella mengangguk pelan. “Gue sempet ingat percakapan kami. Pokoknya isinya itu tentang hubungan kami. Kayaknya Mamanya cowok itu nggak suka sama aku karena dia masih kuliah sementara aku masih SMP.” “Buset! Lo dulu pacaran sama anak kuliahan?” tanya Haira tak percaya. “Ya, gue juga mana tahu. Ingatan gue belum kembali total. Masih banyak yang jadi beban pikiran gue tentang pemuda itu.” Vella menjeda sejenak. “Beloven ... Velvan. Lo ngerasa gak kalau dua kata itu berhubungan?” “Apa lagi, tuh, Beloven?” “Bahasa Belanda dari janji.” Haira berpikir sejenak. Mulutnya menyebut kata ‘beloven' dan ‘velvan’ berulang kali tanpa suara. “Kayaknya nggak ada, deh,” ucap Haira akhirnya. “Lagi pula ngapain, sih, kosakata lo sama cowok itu banyak banget bahasa aliennya,” gerutu Haira. “Punten, Mbak, beloven itu bukan bahasa alien, ya.” Vella sekedar menginfokan. “Terserah. Tapi, lo belum dapat petunjuk apa-apa gitu soal cowok itu? Misalnya tempat kalian sering ketemu atau ... pokoknya yang lo udah ingatlah.” “Yang gue udah ingat itu cuma taman yang ada di dekat rumah. Gue kayaknya sering ketemu sama dia di sana. Terus ruangan Velvan ini. Gue ingat pernah bawa dia ke ruangan ini. Terus ....” “Apa?” “Gue dapat kilas balik pas kecelakaan gue,” ucap Vella ngeri. Gadis itu bergidik. “Serem banget. Darah ada di mana-mana. Gue nggak bisa lihat apa-apa karena semuanya gelap. Gue cuma lihat ada mobil yang datang ke arah gue dan langsung nabrak gue. Abis itu, gue sempat lihat cowok itu lagi. Gue udah dua kali mimpi buruk dan cowok itu selalu hadir di sana. Pertama, gue lihat cowok itu ngomong sama diri gue yang dulu di dalam ruangan ini. Pas cowok itu balik ngeliat gue, wajahnya nggak ada. Mata, hidung, mulutnya nggak ada. Kedua, yang baru-baru ini. Gue mimpi yang kecelakaan itu dan cowok itu juga ada di sana cuma berdiri ngeliat gue,” jelas Vella panjang lebar. Haira menelengkan kepalanya berpikir keras. “Bentar. Menurut gue, cowok lo itu mungkin ada hubungannya dengan kecelakaan lo?” “Maksud lo, dia yang buat gue celaka?” “Gue nggak yakin. Tapi intinya, cowok itu pasti ada hubungannya dengan kecelakaan lo. Gue pernah baca artikel, orang bisa amnesia itu kadang karena mungkin mengalami trauma berat. Mungkin cowok itu trauma lo?” “Tapi, kenapa dia jadi penyebab gue trauma? Gue ‘kan pacarnya.” “Mungkin dia udah campakin lo?” “Masa, sih? Tapi, gue sama dia udah saling janji bakal pertahanin hubungan kami.” Haira terdiam sejenak dan menghela napas keras. “Haduh, kenapa rumit banget, sih? Lo juga kenapa nggak cerita sama gue waktu itu?” “Gue ... nggak ingat.” Haira memutar bola matanya. “Omong-omong, cowok itu sekarang ada di mana, ya?” tanya Haira. “Itu yang paling pengen gue tahu. Gue belum yakin, tapi kayaknya gara-gara janji itu gue perlahan ingat lagi sama dia. Kesannya, janji itu harus gue tepati?” “Bisa juga.” Haira mengangguk pelan. Ketika Vella sibuk berpikir, Haira menggumam pelan. “Pasti, tuh, cowok p*****l. Masa iya, anak SMP dipacarin?” Ponsel Vella bergetar. Gadis itu menatap layar ponselnya yang menampilkan notikasi pesan w******p dari Pak Frivan. Dosen Diktator☠️: Besok saya jemput. Alis Vella terangkat membacanya. Ada angin apa, nih, tiba-tiba si dosen ingin menjemput nya ke kampus? Vella iseng melihat foto profil Pak Frivan. Bibir gadis itu lantas tertarik ke atas. “Siapa, Vel?” “Eh? Ah, bukan siapa-siapa, kok.” “Masa? Lo senyum-senyum gitu. Lo sembunyiin sesuatu dari gue lagi, ya?” tuding Haira menyipitkan matanya. “Nggak! Lo sendiri sebenarnya ngapain sih ke sini?” “Nggak apa-apa. Cuma pengen main aja. Udah lama gue nggak ke sini. Btw, gue numpang baca novel, ya,” pinta gadis itu nyengir lebar. “Silakan, mumpung masih gratis,” sahut Vella manis. Haira lantas mencibir. “Perhitungan banget lo sama temen sendiri!” Vella terkekeh pelan. Gadis itu membalas pesan Pak Frivan. Vella: Memangnya kenapa, Pak? Dosen Diktator☠️: Jam setengah delapan saya sudah ada di depan rumah kamu. Vella menggerutu pelan. Dijawab, kek, pertanyaannya. Dosennya ini bisa manis dan ngeselin dalam waktu yang bersamaan. Vella mendengus tapi lama-lama mengulas senyum kecil. Gadis itu membuka galerinya dan memandang foto Pak Frivan yang memakai kemeja biru muda dan celana jeans. Foto yang membuat dia dan Bian bikin keributan di kelas. Tanpa sadar, pipinya menghangat. Vella menangkup pipinya sembari mengulum senyum. Dia sudah ingat kenapa familiar dengan perasaan ini. Begini perasaannya saat mengucapkan janji dengan pemuda masalalunya itu. Kini, perasaan itu berpindah pada sang dosen. === Saat ini baru pukul 07.15. Vella menunggu di depan pintu rumahnya. Sekali-kali dia berjalan bolak balik lalu bersandar di kusen pintu, bolak-balik lagi dan begitu seterusnya. Matanya terpaku pada jalanan dengan tidak sabaran. Vella belum pernah siap ke kampus secepat ini. Gegara pesan Pak Frivan tadi malam, gadis itu tak bisa tidur nyenyak. Dia baru bisa tidur ketika jam sudah menunjukkan pukul satu malam. Lebih anehnya lagi, dia bangun sangat pagi tanpa terserang kantuk. Vella mengambil napas lewat hidung dan mengeluarkannya melalui mulut. Gadis itu mengusap dadanya yang terasa ngilu karena deg-degan. Dia sudah dua kali nebeng di mobil Pak Frivan. Kenapa baru sekarang muncul perasaan begini? Apa karena momen bawah meja? Vella menutup matanya sejenak karena malu. Apa tidak ada lagi tempat yang romantis sehingga perasaan Vella harus muncul saat di bawah meja? Bunyi klakson mobil dari luar gerbang rumah mengagetkan Vella. Gadis itu membuka matanya dan melihat mobil hitam milik Pak Frivan sudah ada di depan gerbangnya. Gadis itu menutup pintu rumahnya dan berlari keluar. Menggeser gerbangnya kemudian menutupnya kembali. Vella mengambil napas panjang sejenak sebelum menarik pintu mobil. “Pagi, Novella,” sapa Pak Frivan semabri menginjak gas. Mobil hitam milik dosen itu perlahan maju, berbelok kiri di perempatan masuk ke jalan utama. “Pagi, Pak,” sahut Vella kikuk sembari memasang sabuk pengamannya. Gadis itu melirik dosennya yang fokus menatap jalan di depan. Raut wajah laki-laki itu terlihat baik. Bahkan bibirnya menyunggingkan senyum kecil. “Saya mau ngomong sesuatu sama kamu,” ujar Pak Frivan menatapnya. Mobil berhenti sejenak saat lampu lalu lintas berwarna merah. Vella mengusap bagian belakang lehernya dengan raut kikuk. “I-iya, Pak.” “Saya mau kamu jadi pacar saya.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN