Pulang Bersama & Momen Bawah Meja

1615 Kata
Pak Frivan memandang wajah Vella yang tenang dari mejanya. Jemari pria itu saling meremas. Raut wajahnya menunjukkan rasa khawatir. Sudah hampir dua jam, Vella tak membuka matanya. Pria itu tak tahu harus berbuat apa dan akhirnya menidurkan gadis itu di sofa dalam ruangannya. Sampai sekarang, gadis itu masih saja menutup matanya tanpa terusik oleh gangguan yang dicoba Pak Frivan agar dia terbangun. Wajah Vella yang tadinya kelihatan pucat sekarang mulai membaik. Pernapasan gadis itu juga stabil. Pak Frivan memandang gadis itu lama-lama. Bibirnya membentuk bulan sabit. Wajah tidur Vella terlihat sangat damai membuatnya betah menatap gadis itu lama-lama. Soalnya kalau gadis itu sadar, ekspresi untuk Pak Frivan hanyalah senyum paksa, merengut, jengkel dan sejenisnya. “Pikiran macam apa ini?” gumam Pak Frivan tersadar. Pria itu memukul kepalanya sendiri sembari mengumpat pelan. “Akh.” Pak Frivan langsung berduru ketika mendengar lenguhan yang berasal dari bibir. Pria itu beranjak dari mejanya dan perlahan mendekati sofa tempat Vella tidur. “Novella?” panggil pria itu pelan sembari berlutut. Mata Vella perlahan terbuka. Netra gadis itu mengerjap-ngerjap pelan ketika cahaya lampu menusuknya. Ketika menoleh ke samping, yang didapatnya adalah wajah khawatir sang dosen. “Pak Frivan?” gumamnya serak. Vella berusaha bangun. Pak Frivan membantunya dan segera memberinya air putih. “Ini minum dulu,” suruh Pak Frivan. Vella menerima gelas itu dari tangan Pak Frivan dan meneguknya hingga tersisa setengah. “Terima kasih, Pak,” ucapnya dengan suara yang perlahan normal. “Sama-sama. Kamu sudah tidak apa-apa?” tanya Pak Frivan memastikan. “Udah baikan, kok, Pak. Tadi Cuma pusing biasa, kok.” “Apanya yang biasa, kamu sampai pingsan begitu,” sindir Pak Frivan dan mengambil tasnya dari meja. Sedari tadi memang sudah waktunya pulang, tapi karena menunggu Vella sadar, pria itu terpaksa membiarkan dirinya tertahan sementara. “Jam 5?” mata Vella membulat sempurna. “Saya pingsan selama itu, ya, Pak?” tanyanya tak percaya. “Iya. Saya yang capek nungguin kamu,” cibir Pak frivan. “Sudah, ayo saya antar kamu pulang,” ajak pria itu menarik Vella keluar dari ruangan. Setelah mengunci pintunya, Pak Frivan berjalan tanpa menunggu Vella lagi. Gadis itu merengut dan mengikuti Pak Frivan. Suasana kampus sudah sepi. Hanya beberapa petugas kebersihan yang keluar masuk kelas melakukan pembersihan. Vella mengangkat alis bingung ketika sadar Pak Frivan berjalan menuju kelasnya. Seharusnya jalan keluar kan tetap lurus. “Kok malah ke kelas saya, Pak?” “Memangnya kamu tidak bawa tas?” sindir Pak Frivan. “Oh, iya juga, ya,” ringis Vella. Pak Frivan berhenti di depan pintu kelas dan membiarkan Vella masuk sendiri mengambil tasnya. Kelas sudah gelap dan hening. Dengan langkah terburu – buru, Vella keluar dengan napas ngos – ngosan. “Penakut,” cibir Pak Frivan lalu melangkah menuju tangga. Vella berlari – lari kecil menyusul dosennya itu dengan bibir mencebik. Ketika sampai di lantai bawah, dia baru tersadar sesuatu. “Eh, mereka semua udah pada pulang, ya?” gumamnya bertanya – tanya. Mereka yang dimaksudnya adalah teman – temannya. Vella merengut dalam hati. Dasar teman – teman tak berperiketemanan! Seharusnya kalau dia tak kembali ke kelas, mereka mencarinya. “Tadi teman-temanmu ke ruangan saya cari kamu,” ujar Pak Frivan seolah tahu apa yang dipikirkan Vella. “Terus, Bapak bilang apa?” “Saya bilang kamu sudah pulang,” jawab sang dosen santai. “Lho? Kenapa, Pak?” Pak Frivan terdiam sejenak. Bola mata hitam dosen itu berputar kesana-kemari. “Banyak tanya,” cibirnya lalu berjalan ke parkiran. Vella memandang punggung pria itu dan mendengus kesal. Vella tidak banyak tanya, kok. Tinggal jawab apa susahnya, sih? Gadis itu merogoh tasnya mengambil ponselnya. Namun, ketika dia menyalakannya peringatan lowbat langsung muncul di layar. Tak lama kemudian, ponselnya mati total. “Yah, pake mati lagi! Kalau gini, gimana caranya telepon Pak burhan?” gerutu gadis itu menekan-nekan layar ponselnya dengan kesal. Bunyi klakson menyentak Vella. Ketika dia mengangkat kepalanya, tahu-tahu mobil Pak Frivan sudah berhenti di depannya. “Naik,” suruh Pak Frivan. Vella lagi-lagi mendengus. Dari pada tidak ada tumpangan pulang, mending dia sama dosen rese ini. Suasana sepi kampus juga membuatnya merinding. “Kamu lapar?” tanya Pak Frivan ketika mobilnya sudah melaju keluar jalan raya. “Tidak, Pak.” Krucuk ... Pipi Vella langsung memerah. Gadis itu memalingkan wajahnya ke jendela dan mengumpat dalam hati. Perut tidak tahu malu! Pak Frivan menutup rapat bibirnya berusaha menahan tawanya. “Kita singgah makan dulu,” ujar dosen itu berdehem pelan. “Nggak usah, Pak,” cicit Vella menolak. “Jangan membantah, Novella.” Vella merengut lagi. Namun tetap saja, dia akhirnya mengangguk pelan. Setelah menempuh perjalanan beberapa menit, mobil Pak Frivan berhenti di depan warung makan. Vella memandang suasana sekitar warung itu ketika turun. Tempat ini sudah tak jauh dari rumahnya. Mungkin hanya memakan waktu lima menit jika berkendara. “Ayo masuk,” ajak Pak Frivan. Vella menurut. Mereka berdua masuk ke dalam dan duduk di meja paling sudut. Tanpa membaca buku menu terlebih dulu, Pak Frivan langsung memanggil pelayan. “Ayam gepreknya dua porsi sama jus alpukatnya juga dua, ya, Mbak,” pesan Pak Frivan ramah. Pelayan itu mencatat pesanan Pak Frivan dan langsung berbalik pergi. Vella menatap Pak Frivan takjub. “Bapak, kok, pesan ayam geprek?” “Kenapa? Kamu tidak suka?” “Bukan gitu, Pak. Itu makanan kesukaan saya soalnya,” ujar gadis itu terkekeh kecil. “Ya, bagus, dong.” Vella menutup rapat bibirnya. Lagi pula kenapa juga dia berharap dosen diktatornya itu akan membalasnya dengan ramah. Cih, angan - angan belaka. Obrolan tak ada lagi di antara mereka. Sembari menunggu pesanan mereka datang, Vella iseng menghitung berapa banyak pelanggan yang baru masuk warung, sementara Pak Frivan membuka inbox emailnya. Beberapa lama kemudian, pesanan mereka datang. Cukup lama karena banyak pelanggan yang juga memesan. Aroma khas sambal ayam geprek membuat perut Vella meronta- ronta minta diisi. “Terima kasih, ya, Mbak,” ucap Pak Frivan tersenyum kecil. Mbak-mbak pelayan warung itu mengangguk ramah dan pergi melayani pelanggan lain. Hanya dengan isyarat, Pak Frivan menyuruh Vella memakan bagiannya. Mereka berdua makan dalam diam. Sekali-kali Vella memandang dosennya itu. Vella menggigit bibirnya ketika tak bisa menahan keinginannya untuk menyingkirkan sisa nasi yang tertinggal di sudut bibir Pak Frivan. Tangan kanannya terkepal erat menggenggam sendok takut hilang kendali. Gadis itu menunduk dan meneguk ludahnya. Berusaha melupakan keinginan itu. “Novella ....” “Iya, Pak?” sahut Vella tanpa mendongak. Gadis itu memakan makanannya dengan wajah tertekuk. “Tunduk.” “Ini saya memang tunduk, Pak.” “Ke bawah meja, Vella.” Vella menatap Pak Frivan bingung. Laki – laki itu sedang menatapnya. Eh, tidak. Dosennya itu tengah menatap sesuatu di belakangnya. Pancaran matanya terlihat kaku. “Kenapa, sih—— aww!” Kepala Vella ditekan ke bawah. Gadis itu meringis tertahan dan terpaksa jongkok di bawah meja. Tak lama, Pak Frivan ikut-ikutan sembunyi di bawah. “Kenapa, sih, Pak?” tanya Vella menahan kesal. Lagi enak-enak makan malah disuruh sembunyi di bawah meja. Untung saja mereka duduk di sudut jadi tak mengundang perhatian pelanggan lain. Dosennya itu sepertinya memang tak bisa tenang jika melihatnya tenang. “Diam dulu!” Pak Frivan memelototinya. Pak Frivan mengangkat kepalanya sedikit seolah sedang mengintip sesuatu. Vella yang tak bisa menahan keingintahuannya lagi ikut melihat objek yang diintip Pak Frivan. Mata gadis itu lantas membola. Di bagian kasir, terlihat seniornya, Viola dan Serly tengah membayar. Oke, sepertinya Vella harus meralat gerutuannya menjadi terima kasih. Dosennya itu ingin melindunginya dari gosip 'makan berdua di warung bersama dosen tampan'. Vella dan Pak Frivan langsung menunduk ketika Viola dan Serli berbalik, berjalan keluar warung. Fyuhhh ... Pak Frivan dan Vella sama-sama melepas napas lega. Mereka saling pandang beberapa saat dan akhirnya tertawa. “Hampir aja ketahuan,” ujar Vella di tengah tawanya. “Ketahuan apa?” “Ketahuan makan bar——“ Vella menghentikan ucapannya dan mengerjapkan matanya lalu perlahan menunduk.Gadis itu membasahi bibir bawahnya tak berani menatap dosennya itu. “Makan bareng? Kesannya kita seperti ... kencan?” Jantung Vella langsung berdegup kencang. Mendengar kata ‘kita’ dan ‘kencan’ membuat sekujur tubuhnya serasa dialiri voltase listrik. Perasaan ini terasa familiar namun Vella tak tahu dia pernah merasakan ini di mana. Gadis itu buru-buru berdiri, namun kepalanya langsung terantuk meja. “Aduh!” ringisnya sakit. “Haduh, kamu ini ceroboh sekali. Sudah tahu di bawah meja, malah tidak hati-hati,” cerocos Pak Frivan, “yang mana yang sakit?” “Yang ini, Pak.” Pak Frivan mendekatkan wajahnya di kepala Vella dan meniupnya halus. Vella nyaris tak bernapas. Gadis itu mematung di tempatnya. Tak berani bergerak barang satu senti pun. Sapuan napas halus terasa di puncak kepalanya. Bulu kuduk Vella sampai merinding dibuatnya. Ketika Pak Frivan menjauhkan wajahnya, Vella masih mematung menatap pria itu. Perasaan macam apa ini? Batinnya bertanya-tanya. Vella meneguk ludahnya susah payah ketika nasi itu masih ada di sudut bibir Pak Frivan. Tangannya perlahan terangkat menyingkirkan nasi itu dari sana. Ketika dia hendak menarik kembali tangannya, Pak Frivan menahan tangannya dan menatapnya dalam. Oh, kenapa mereka harus terjebak dalam suasana seperti ini di bawah meja? === Vella berguling-guling di atas tempat tidurnya. Gadis itu menggigit bibir bawahnya gemas menahan senyum yang meronta ingin keluar. Mengingat momennya dan Pak Frivan di bawah meja membuat pipinya memerah. Sayang sekali, momen itu tak berlanjut lama karena pelayan memergoki mereka. Pemilik warung mengira mereka kabur tanpa membayar sehingga menyuruh bawahannya mengecek mej mereka. Tahu-tahu saat tiba di sana, pelayan itu melihat dua orang tengah berdiam di bawah meja. Mengingat itu Vella menutup wajahnya dengan bantal dan memekik keras. Suaranya yang keras teredam oleh bantal. Ketika merasa pasokan udaranya menipis, Vella melempar bantal itu ke samping dan berguling-guling lagi. Ada rasa senang bercampur malu ketika mengingat mata Pak Frivan yang menatapnya dengan dalam. Mata gelap dan teduh itu membuatnya terlena untuk pertama kalinya. Vella mencoba menampar wajahnya, berusaha menghilangkan perasaan itu. Namun, sepertinya perasaan itu tak mau hilang. Gadis itu mengubah tidurnya menjadi telentang. Dia meraih bantal guling dan memeluknya erat. Gadis itu senyum-senyum sendiri menatap langit-langit kamarnya. “Non Vella?” Ani mengintip ke dalam karena pintu kamar Vella terbuka. Vella lantas menoleh. Senyumnya tetap merekah ketika dia terbangun dan menatap Ani dengan raut bertanya-tanya. “Kenapa, Ni?” “Anu, ada cewek yang nyari Non Vella di bawah. Katanya dia temen kuliahnya Non Vella,” sahut Ani. “Namanya siapa?” “Dia nggak sebut nama, Non.” “VELLA!”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN