Darah ada di mana-mana.
Dia kembali masuk dalam ruang hampa yang gelap. Mencoba berjalan ke depan namun yang ditemukan gadis itu adalah genangan darah yang perlahan menyebar.
Gadis itu perlahan mundur dan berbalik. Kakinya berlari dengan kencang. Ketika Vella berbalik, ingin rasanya dia menangis. Genangan darah itu menuju ke arahnya seolah mengejarnya.
“Tolong, siapa pun keluarin gue dari mimpi buruk ini!” teriak Vella.
Buk!
Vella tersungkur jatuh. Gadis itu menatap kakinya yang berdarah karena terantuk pinggir trotoar.
Kenapa trotoar bisa ada di sini?
Vella meraba sekelilingnya yang hanya terlihat samar-samar dalam kegelapan. Kasar dan berbatu. Apa dia sedang ada di jalan beraspal?
Vella terlalu sibuk meraba sekelilingnya hingga tak sadar, darah sudah mencapai kakinya. Gadis itu menarik kakinya dan menjerit-jerit panik.
Bau besi mulai menguar membuat Vella merasa mual. Dia terisak ketika tak punya kekuatan untuk berdiri. Kakinya terasa sakit. Vella hanya mampu menyeret tubuhnya menjauhi darah yang sudah mencapai kakinya.
“Mimpi buruk macam apa ini? Gue pengen bangun,” isak gadis itu.
Vella tahu ini mimpi. Dia ingin keluar namun tak bisa. Gadis itu mengedarkan pandangannya namun tak ada setitik harapan pun yang bisa membantunya. Dia hanya dikelilingi oleh ruang gelap yang seolah tak berujung. Kemana pun Vella berlari, dia tak akan mendapat perhentiannya.
Ketika Vella hampir menyerah dan membiarkan darah itu menaiki tubuhnya perlahan-lahan, sebuah suara klakson mobil terdengar. Cahaya dari dalam kegelapan di depannya membuat Vella terkesiap. Tak lama kemudian, muncul mobil yang melaju kencang ingin menabraknya.
Vella menjerit ketakutan. Gadis itu beringsut mundur dengan membabi buta. Vella ingin berlari, namun dia tak mampu lagi. Ketakutan yang menguasainya membuatnya lumpuh. Gadis itu menangis dengan keras, berharap mobil itu berhenti.
Ini mimpi!
Ini mimpi!
Ini mimpi!
Namun, kenapa ini terasa nyata? Rasa takut menguasainya. Dia bisa merasakan detak jantungnya yang menggila. Panik makin mengusiknya.
Darah. Mobil. Jalan aspal. Semua itu membuat Vella merasa ini nyata.
Ini hanya mimpi! Vella menjerit meyakinkan dirinya sendiri.
Apa karena ini bagian dari masalalunya hingga membuat Vella merasa ini seperti nyata?
Mobil itu makin dekat. Vella menutup matanya. Beberapa detik kemudian, dia merasakan sesuatu yang keras menubruk tubuhnya. Ketika dia membuka mata, yang dilihatnya hanya darah dan ... seorang pemuda yang berdiri tak jauh darinya.
===
Vella bangun dari tidurnya dengan napas tersendat-sendat. Gadis itu menyentuh dadanya yang terasa nyeri. Tubuhnya dipenuhi keringat padahal AC di kamarnya menyala.
Namun, menyadari dia telah keluar dari mimpi buruknya membuat gadis itu lega sampai rasanya ingin menangis. Ketakutan, darah, dan mobil itu membuat Vella benar-benar syok.
“Seram sekali,” gumam gadis itu mengelap keringatnya.
Matahari baru muncur setengah. Langit pagi berwarna biru keunguan. Vella beringsut dari tempat tidurnya dan membuka gorden. Dia menyandarkan kepalanya di kusen jendela. Matanya menatap lama langit pagi yang indah.
Apa masalalunya seburuk itu hingga otak Vella memutuskan untuk melupakannya? Tapi, kalau memang seburuk itu, mengapa dia harus mengingatnya lagi?
Pemuda itu.
Vella terkesiap.
Di setiap mimpi buruknya, selalu ada pemuda itu. Apa itu semua berhubungan dengan pemuda itu?
Dan ... janji yang mereka buat.
Apa semuanya ini berawal dari janji yang mereka buat?
Vella menarik napas panjang. Gadis itu merasa seluruh tubuhnya ngilu. Dia berbalik ketika pintu kamarnya diketuk. Beberapa detik kemudian, pintu terbuka dan Ani masuk ke dalam.
“Oh, Non Vella udah bangun? Saya kira belum, jadi ke sini,” ucap Ani hendak undur keluar.
“Ani,” Vella berbalik dan memanggil gadis itu, “bisa sediain air hangat buat gue mandi?” pintanya dengan suara lirih.
Ani mengernyitkan keningnya dan mendekati Vella. Wajah mungil gadis itu berubah panik ketika menyentuh kening Vella.
“Astaga, Non! Suhu Non Vella naik! Mukanya juga pucat. Non sakit, ya?” tanyanya khawatir.
Vella menggeleng pelan dan tersenyum kecil. “Nggak, kok, Ani. Bawain air hangat, ya,” suruh Vella tak ingin membahas lebih lanjut tentang kenaikan suhu badannya.
“Duh, Non, nggak usah masuk kuliah dulu, ya. Non Vella bener-bener kelihatan lemas, nih,” ucap Ani menyentuh telapak tangan Vella yang dingin dan basah, padahal kening gadis itu panas.
“Nggak apa-apa, kok, Ani. Beneran. Bawain air hangat aja, ya,” paksa Vella dengan wajah memohon.
Ani terdiam beberapa saat dan menggigit bibirnya. Gadis itu akhirnya mengangguk pelan walaupun raut wajahnya masih khawatir.
===
Vella hanya mengangguk pelan ketika Pak Frivan menyuruhnya membawa tugas kelas A ke ruangannya. Wajahnya yang pucat membuat teman-temannya khawatir.
“Vel, muka lo pucat. Gue bantu bawain tugasnya, ya?” tawar Haira.
Vella menggeleng pelan. Gadis itu tersentak ketika tangan Yaya tiba-tiba saja mendarat di keningnya. “Lo ... sakit,” lirihnya datar.
“Panas, Ya?” tanya Sheva lalu ikut-ikutan merah kening Vella. “Eh, iya, panas. Lo nggak usah bawain tugasnya, deh, Vel. Nanti yang lain bisa gantiin lo.”
Vella menggeleng pelan. Gadis itu memasukkan alat tulisnya ke dalam tas dan beranjak berdiri. Namun, lagi-lagi teman-temannya menahannya.
“Vel, jangan dipaksain. Nanti Aldo atau Bian yang bawain tugasnya.” Sheva berujar dengan wajah khawatir.
“Eh, kenapa, kenapa? Gue denger nama gue disebut,” celetuk Bian merapat. Sedari tadi, cowok itu dan Aldo tak memperhatikan karena sibuk merecoki Jasmine yang memperbaiki makeup-nya.
“Nggak usah, gue bisa, kok. Nanti Pak Frivan malah ngomel lagi. Gue tambah sakit kalau denger dia ngomel,” kekeh Vella pelan.
Gadis itu berdiri dan berjalan menuju meja dosen. Namun, lagi-lagi ada tangan yang menarik ujung bajunya. Vella menatap Yaya dengan bingung ketika sadar itu tangan Yaya.
“Lo keras kepala.”
“Duh, Yaya, gue bener-bener terharu lo perhatian banget sama gue gini. Tapi, gue baik-baik aja, kok.” Vella tersenyum meyakinkan.
Yaya menatap Vella dengan datar lalu menghela napas pendek. Gadis itu melepaskan ujung baju Vella dan bertopang dagu. “Yaudah, deh, kalau lo keras kepala.”
Vella terkekeh kecil dan berjalan mengambil tugas kelas A yang ada di meja. Samar-samar dia mendengar Yaya berucap, “Gue emang nggak bisa hentiin apa yang bakal terjadi.”
Langkah Vella melambat ketika mendengar itu. “Yang bakal terjadi?” beo gadis itu bingung. Ketika dia berbalik, Yaya sudah sibuk dengan notebook-nya.
Selalu saja notebook. Gadis itu jarang sekali menggunakan ponselnya.
Vella geleng-geleng kepala dan segera keluar dari kelas tanpa memikirkan ucapan Yaya tadi.
Ketika sampai di ruangan Pak Frivan, gadis itu segera meletakkan tugas-tugas sekelasnya di meja karena sang dosen tak menyapanya dan sibuk mengerjakan sesuatu di laptopnya.
“Vella?” panggil Pak Frivan ketika Vella beranjak keluar.
Vella berbalik dan tersenyum kecil, “Iya, Pak?”
Kening Pak Frivan mengerut. Vella tak terlihat seperti biasa. Wajah gadis itu pucat, matanya sayu dan jalannya juga agak lamban. “Kamu sakit?” tanyanya beberapa saat kemudian.
Vella mengerjap bingung lalu meraba wajahnya. “Ah, enggak kok ....”
Vella tak melanjutkan ucapannya lagi. Gadis itu oleng dan limbung ke samping, bersandar pada kusen pintu. Dia memegang kepalanya yang terasa pusing. Penglihatannya terasa berkunang-kunang.
Pak Frivan lantas berdiri dan mendekati gadis itu. Dia menyentuh bahu Vella dan menatap gadis itu dari dekat. Wajah Vella terlihat seperti menahan sakit.
“Novella, kamu tidak apa-apa?” tanya Pak Frivan khawatir.
Vella tak menghiraukan. Suara-suara dari masalalunya muncul dalam kepalanya.
“Kakak benar – benar suka sama aku, ‘kan?” tanya Vella menatap pemuda itu.
“Iya, Novella. Kakak benar – benar menyukaimu. Masalah Mama-ku nggak usah kamu pikirin. Lama – lama, Mama pasti nerima, kok, hubungan kita,” hibur pemuda itu.
Vella menatap beberapa saat pemuda itu. “Kakak janji akan tetap suka sama aku?”
“Iya, aku janji.”
“Walaupun aku masih SMP.”
“Kakak janji akan terus mempertahankan hubungan kita?”
“Iya, Novella, aku janji.”
Vella mengacungkan jari kelingkingnya. “Beloven?”
“Hah?” Pemuda itu menganga bingung.
“Ah, beloven itu bahasa Belanda dari kata janji. Aku belajar bahasa Belanda waktu tahu Mama-ku punya darah Belanda,” ujar Vella terkikik geli, “jadi, beloven?” ulangnya dengan nada berharap.
Pemuda itu lantas tersenyum geli. Dia mengangkat jari kelingkingnya dan menautkannya dengan jari kelingking Vella.
“Beloven.”
Vella meraup napas dengan rakus. Kesadarannya pulih kembali, namun kepalanya masih pening. Gadis itu menoleh ke samping dengan mata sayu menatap bola mata Pak Frivan yang hitam pekat.
“Novella?” Pak Frivan menyebut namanya dengan lirih.
Vella tak menjawab. Matanya perlahan menutup, namun sudut bibirnya tertarik ke atas.
“Bagus,” gumamnya lalu membiarkan kegelapan menguasainya.