Pertanyaan & Lambe HU

1289 Kata
Tak terasa, Vella sudah sebulan di Jakarta. Merasakan pahit-manisnya dunia perkuliahan. Menikmati kebersamaan dengan teman-teman barunya. Terbiasa dijadikan babu oleh Pak Frivan. Dikejar-kejar deadline tugas. Mendapatkan sedikit demi sedikit ingatannya. Namun, sejak perkelahiannya dengan Xiani minggu lalu, cewek sipit itu dan Agam tak muncul-muncul lagi di depannya. Ingatannya tentang pemuda itu juga belum ada perkembangan. Hanya kilasan masa-masa SMP-nya yang terlihat jelas. Kilas balik tentang pemuda itu selalu mengabur dalam ingatannya ketika dia sadar seolah terhalang tembok tak kasat mata. Vella sangat berharap dia mengingat pemuda itu. Mimpi tentang janji mereka terus mengusik pikirannya. Seolah janji itu menunggu untuk ditepati. Bagaimana Vella mau menepatinya kalau dia saja tak mengingat pemuda itu? Kalau pun mereka bertemu, apa mereka akan melanjutkan hubungan lagi? Bagaimana kalau laki-laki itu sudah berkeluarga? “Non Vella, masih pagi. Jangan melamun,” tegur Pak Burhan yang sedang menyetir. Vella mengangkat kepalanya dan menatap Pak Burhan melalui spion. “Nggak melamun, kok, Pak. Cuma mikirin sesuatu aja,” dalihnya. “Mikirin apa, tuh, Non? Cowok, ya?” goda Pak Burhan. Tawa Vella mengudara. Gadis itu mengibaskan tangannya sembari menahan senyum. “Nggak, ih, Pak.” Pak Burhan tak berkata apa-apa lagi. Pria berumur 45 tahun itu geleng-geleng kepala sembari tersenyum kecil. “Omong-omong, Pak Burhan dulu berapa lama kerja sama Papa?” tanya Vella tiba-tiba. Dia baru saja memikirkan itu. Saat sadar dari koma, Pak Burhan memang sudah melayani sebagai sopir di rumahnya. Mungkin pria itu mengetahui sesuatu. “Udah lumayan lama, Non. Mungkin tiga tahun lebih?” Pak Burhan mengingat-ngingat. “Pak Burhan udah sempat kerja sebelum pindah ke Jogja, kan?” “Ah, iya, Non. Kenapa emangnya?” “Pak Burhan ada tahu sesuatu gitu? Misalnya kayak ... pacar Vella?” “Wah, Non, saya kurang tahu. Soalnya, pas mulai kerja, Non Vella memang sudah kecelakaan terus dirawat rumah sakit. Setelah itu, Tuan dan Nyonya mutusin pindah ke Jogja, jadi saya ikut.” “Pak Burhan tahu kenapa Papa sama Mama mutusin pindah ke Jogja?” Pak Burhan berpikir sejenak. “Waktu itu cabang perusahan yang sekarang berdiri di Jogja baru diresmikan waktu itu. Jadi, Tuan mutusin pindah ke sana untuk mengawasi perkembangannya,” terang Pak Burhan. “Ahh ... begitu, ya, Pak.” “Memangnya kenapa, Non.” Vella tersenyum agak kaku dan menggeleng kecil. “Nggak apa-apa, kok, Pak.” Gadis itu bersandar ke belakang dan menatap ke luar jendela mobil. Pikirannya menerawang ke pembahasan barusan. Sebenarnya, mana yang benar? Pindah Ke Jogja karena keinginan Vella atau mengawasi cabang perusahan yang baru saja berdiri? Melihat alasan Papanya yang sepertinya tidak konsisten, membuat Vella makin yakin, Papanya menyembunyikan sesuatu dari Vella. “Sudah sampai, Non.” Pak Burhan menghentikan mobilnya di pinggir trotoal, agak depan dari gerbang Hope University. Vella meraih tas coklatnya dan mencangklongnya. “Makasih, ya, Pak. Vella masuk dulu, ya!” pamit gadis itu keluar dari mobil dan langsung masuk gedung kampus. === Jam kedua kelas A free. Pak Damian yang mengajar Digital Marketing tak masuk karena ada urusan di luar kota. Vella membuka laptopnya dan meneruskan mengerjakan tugas Bahasa Inggris dari Bu Licorys. Wi-Fi di kampus sangat lancar. Apa salahnya memanfaatkannya untuk mengerjakan tugas, hohoho. “Ngerjain apa, Vel?” tanya Bian. Kelopak mata cowok itu menghitam karena begadang semalam. Main game tapi kalah terus sama Aldo. Akibatnya, tadi saat kelas Akuntansi, Bu Lestari mengomelinya karena ketiduran. “Bahasa Inggris, Bi,” ujar Vella tanpa mengalihkan pandangannya dari layar laptop. “Kalau jadi, bagi, ya.” “Enak aja.” “Please,” pinta Bian menggumam dengan wajah mengantuk. Vella hanya berdecak pelan. Dia fokus menatap layar laptop, memastikan tak ada typo pada laporannya. Ketika selesai, gadis itu bertepuk tangan puas. “Lo bantuin translate ... eh, malah tidur!” Vella mencibir. Bian sudah tidur dengan wajah tertelungkup di meja. Tadinya Vella ingin menyuruh cowok itu translate untuk tugas nomor terakhir dan dia akan setuju memperlihatkan tugasnya pada Bian, tapi cowok itu malah molor. Aldo berbalik dan menepuk kepala Bian dengan pelan. “Tidur nyenyak, ya,” gumamnya seperti menatap anak bayi. Vella membulatkan mata ngeri. “Tumben, Do.” “Nggak apa-apa. Ngerasa bersalah aja. Tadi malam kita abis begadang main game dan dia kalah mulu. Mana dimarahi Bu Lestari lagi,” ujar cowok itu. Vella mengalihkan pandangannya dari Aldo dan bergidik ngeri. “Biasa, Vel, begonya kumat lagi,” celetuk Jasmine namun Aldo tak menghiraukannya. Haira dan Sheva sibuk bercengkerama mengenai postingan terbaru lambe turah di medsos. Vella jadi pusing sendiri. Dua gadis itu keberatan ketika diundang masuk ke grup Lambe HU, eh, postingan lambe turah di i********: di-stalking sampai ke akar-akarnya. Aneh. Tapi, yang lebih aneh lagi itu Yaya. Gadis itu selalu membaca di notebook. Vella tak berani meliriknya karena pertama kali mencoba dia sudah dihadiahi lirikan tajam oleh Yaya. Setelah itu, dia kapok. Yaya juga sangat pendiam, ngalahin Limbad. Bicara kalau ada yang penting atau ditanya. Itu pun kadang jawabannya mengandung ambigu. Kadang juga bikin tertohok. Betul memang, orang pendiam memiliki mulut yang tajam. Mungkin karena itulah Yaya pendiam. Gadis itu tak ingin banyak bicara dan menyakiti orang sekitarnya dengan ucapannya. Oh, ya, omong-omong tentang grup lambe HU. Vella tak pernah keluar dari grup itu namun dia juga tak pernah membukanya sejak diundang masuk. Pesan grup itu sudah mencapai ribuan. Vella memutuskan mengaktifkan ponselnya dan membuka w******p-nya. Ketika membuka room chat Lambe HU, foto Pak Frivan tengah berjalan keluar pintu utama langsung terpampang. Sepertinya salah satu anggota grup memotretnya diam-diam dan mengirimnya ke grup itu. Vella men-scroll ke bawah dengan cepat karena jengah dengan kata-kata alay para anggota. Memangnya apa, sih, kelebihan dosen itu? Ganteng, iya. Pintar, iya. Tapi, sifat aslinya ngeselin. Ketika sampai diakhir chat, lagi-lagi foto Pak Frivan yang tertera di sana. Wadawww! Gantengnya nggak ketulungan! Batin Vella menjerit tanpa sadar. Pria itu tengah memakai baju kemeja biru muda dan celana jeans. Sepertinya, Pak Frivan tengah berjalan di sekitar koridor kelasnya. Gadis itu menekan foto Pak Frivan hingga foto pria itu full di layar ponselnya. “Hayoloh, ketahuan pantengin foto saya!” Vella menjerit kaget dan berbalik. Matanya melotot ngeri ketika melihat Pak Frivan sudah ada di sampingnya ikut-ikutan melihat ponselnya. “Ba-bapak sejak kapan ada di sini?!” tanya gadis itu dan merapatkan ponselnya ke dadanya. Pak Frivan mengerling. “Sejak tadi.” Vella melihat style dosennya itu dari atas sampai bawah. Baju kemeja biru langit dan celana jeans serta sepatu kets putih. Oh Gosh! Pakai setelan rapi saja Vella mengira Pak Frivan itu mahasiswa, apalagi kalau gaya pakaian santai seperti ini! Jadi, foto itu baru saja diambil tadi? Kenapa dia baru sadar sekarang, sih! “Udah puas ngeliat saya?” tanya Pak Frivan menahan senyum geli. Vella mengerjap-ngerjapkan matanya dan memandangi teman-temannya yang ikut-ikutan tersenyum geli. “Yang tadi itu nggak sengaja, Pak. Salah tekan,” dalih gadis itu. “Ah, masa? Kalau emang nggak sengaja, kenapa malah dilihat lama?” Vella memutar bola matanya. “Beneran, Pak.” “Ya sudah, saya percaya saja, deh,” ucap Pak Frivan masih tersenyum geli. Laki-laki itu merogoh saku celananya mengambil flashdisk. “Ini tugas nanti kamu beri ke teman-temanmu, ya. Saya tidak masuk jam terakhir karena ada urusan di luar kota. Kumpul besok pagi. Jangan ada drama terlambat lagi.” Pak Frivan menaruh flashdisk itu di meja Vella dan berbalik pergi. Namun, baru beberapa langkah, laki-laki itu berbalik lagi dan menatap Vella sembari tersenyum. “Jangan bosan-bosan lihat foto saya, ya,” ujarnya tersenyum manis lalu melanjutkan langkahnya keluar kelas. Vella langsung meraup napas rakus. Gadis itu melayangkan tinjunya ke udara. “Saya beneran nggak sengaja, Pak!” teriak gadis itu frutasi. Oh, tolong, Vella butuh pelampiasan. “ARGHHH!” Vella menjerit lantang. Teman-temannya langsung menutup telinga. Bian yang tidur langsung bangun dan terjungkal ke belakang dengan kursinya. Cowok itu malah menambah kebisingan dengan ikut menjerit kesakitan. Hal seperti ini sudah biasa sejak awal di kelas A. Setelah Vella dan Bian selesai menjerit, semuanya kembali ke kegiatan masing-masing. Pak Frivan yang masih mendengar teriakan itu dari ujung koridor tersenyum geli. Pria itu meneruskan langkahnya dan memasukkan tangannya ke dalam saku celana.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN