Agam & Xiani

1222 Kata
Vella kini duduk di bibir tempat tidurnya sembari menatap ponselnya yang berdering. Sudah tiga kali dia tidak mengangkat panggilan dari Agam. “Haduh, udah dong teleponnya,” gumam Vella gelisah. Dia merasa tak enak hati membiarkan begitu saja panggilan seniornya itu. Vella berbalik ketika pintu kamarnya diketuk. Tak lama kemudian, pintu terbuka dan Ani masuk membawa segelas teh dan pisang goreng. “Ini, Non. Tadi dapat beberapa sisir pisang dari tetangga. Kelihatannya bagus kalau digoreng, jadi saya goreng,” ujar Ani sembari meletakkannya di atas nakas. “Duh, Ani, kenapa dibawa ke sini lagi, sih? Gue ‘kan bisa turun ke bawah,” ucap Vella tak enak hati. “Nggak apa-apa, Non. Eh, itu ponselnya dari tadi berdering. Kok, nggak diangkat, Non?” tanya Ani bingung. “Ah, ini ... senior gue. Dia pasti mau ajakin gue jalan-jalan, karena kemarin-kemarin batal. Harus gue angkat, ya, Ni?” tanya Vella meringis kecil. “Angkat aja, Non. Memangnya kenapa?” “Anu ... itu dia juga udah pernah bilang suka sama gue. Jadi, gue agak nggak enak gini, apalagi sebenarnya gue nggak suka sama dia. Gimana kalau nanti gue setuju diajak jalan dan itu malah buat dia berharap?” “Yaudah, gampang, Non. Non Vella tinggal jujur aja. Dari pada nanti makin kesana, malah makin susah, kan, bilangnya. Turutin aja ajakannya dulu. Nanti kalau ada ruang untuk bahas itu, ya, udah Non langsung ngaku aja.” Ani memberi saran. “Kalau nanti malah canggung gimana?” “Itu mah udah konsekuensinya, Non.” Vella menganggukkan kepala pelan. Panggilan dari Agam berakhir. Namun, Vella yakin beberapa saat lagi cowok itu akan menelponnya. Beberapa detik kemudian, ponselnya berdering lagi. Tuhkan! “Yaudah, Non, angkat aja teleponnya,” ucap Ani melirik ponsel Vella. “Saya keluar dulu, ya, Non.” “Eh, sebentar!” Vella menahan tangan Ani. “Iya, Non?” “Pacar lo yang di Jogja gimana?” “Ah, itu ....” Ani menunduk dan menggigit bibirnya. “Ingat, Ni, yang barusan kamu katakan. Harus jujur dan terima apa pun konsekuensinya.” Vella tersenyum manis. === Vella masuk ke dalam cafe yang berlogo bulan itu. Sepertu logonya, Cafe itu bernama Moon Cafe. Entah dapat inspirasi dari mana pemiliknya sehingga menamai cafe itu Moon Cafe. Vella duduk di sudut dan mengamati ruangan itu. Cafe ini termasuk unik. Semua perabotannya berwarna seperti langit malam dan bulan purnama. Di langit-langit cafe, tergantung miniatur berbentuk bulan sabit yang mengeluarkan cahaya putih. Benar-benar cafe yang elegan. Pikiran Vella jadi fresh. Sepertinya dia harus berterimakasih pada Agam karena mengajaknya ke sini. Oh, omong-omong, cowok itu belum muncul-muncul. Tadi saat menelepon, cowok itu minta maaf karena tak bisa menjemput Vella. Katanya dia harus mengantar adiknya lebih dulu ke tempat kursus. Vella malah bersyukur. Setidaknya, kesempatan untuk berduaan di mobil tak ada. Vella tak ingin Agam berharap lebih jauh. Sepertinya dia harus jujur malam ini juga. Gadis itu mengecek jam tangannya. Sembari merapikan rambutnya yang dikuncir, dia memandang keluar jendela. Cahaya lampu jalan dan kendaraan menerangi jalan raya yang masih ramai. Ketika asyik memandang, Vella merasakan kehadiran seseorang di dekatnya. Ketika menoleh, alisnya langsung terangkat. “Lo?” “Ngapain lo di sini?” Vella menanggapi pertanyaan sinis Xiani dengan dengusan. Gadis itu berdiri dengan tangan terlipat di depan d**a. “Urusannya sama lo apa?” “Lo nunggu Agam datang ke sini, ‘kan?” Vella tak menjawab. Gadis itu hanya memalingkan wajahnya cuek. “Gue ‘kan udah bilang! Jauhin Agam!” pekik Xiani sengit. Vella menatap cewek sipit itu dengan tajam. Wajahnya condong ke depan membuat Xiani terkesiap. “Masalahnya di sini Kak Agam yang terus-terusan dekati gue,” ucap gadis itu nyaris berbisik. Dia kembali memundurkan wajahnya dengan tenang. “Yaudah, lo jauhin aja!” sembur Xiani. “Ntar gue bilang sama Kak Agam, kok,” sahut Vella cuek. Melihat itu, emosi Xiani sampai ke ubun-ubun. Dia maju selangkah mendekati Vella. “LO!” Xiani berteriak marah dengan lantang hingga seisi cafe melihat mereka. Gadis itu meraih rambut Vella yang dikuncir dan langsung menariknya dengan keras. “Dasar cewek murahan!” raungnya marah. Vella yang tak menduga ini terjadi menjerit kesakitan. Sulit melepaskan amukan Xiani dari rambutnya, dia balas mengamuk pada gadis itu. Kedua sama-sama menjerit keras dan melemparkan kata-kata cacian. “Lo yang murahan! Suka banget cari gara-gara!” sembur Vella. “Dasar cewek nggak tahu diri. Nggak punya sopan santun!” “Lo yang nggak punya sopan santun. Datang-datang langsung bikin keributan!” teriak Vella marah. “Itu semua juga gara-gara lo, cewek setan!” “Lo yang setan!” “Arghhh!” Xiani menjerit keras ketika Vella menyentak rambutnya. Gadis itu membalasnya membuat Vella menjerit. Pelayan kafe dan pelanggan lainnya tak ada yang berani mendekat. Mereka ingin melerai namun takut terkena amukan dua gadis itu. Hasilnya, para cewek berteriak histeris dan cowok-cowok berteriak berusaha menghentikan mereka dari jarak jauh. Emosi Vella membuat kekuatannya membesar. Dia mendorong Xiani dengan keras hingga gadis itu terhuyung ke belakang. Namun, Xiani tak sampai jatuh ke lantai, karena di belakangnya muncul Agam dan spontan menangkap gadis itu. Vella terpaku sejenak menatap cowok itu. Wajah Agam terlihat bingung sekaligus malu. Cowok itu menatap Xiani dan Vella bergantian. “Kalian ngapain, sih? Nggak sadar, ya, banyak orang lihatin? Malu lo berdua di mana?” tanya Agam dengan nada tertahan. “Dia yang mulai duluan!” tuduh Xiani menunjuk Vella. Vella langsung mendengus keras. Dia mengibaskan tangannya yang dipenuhi rambut Xiani. “Jaga tuh temen lo, Kak!” ucap Vella kasar. “Datang-datang langsung bikin keributan. Ngatain gue nggak punya sopan santun sementara dia sendiri nggak punya!” cerosos Vella dengan napas menggebu-gebu. Matanya beralih menatap Xiani. “Kalau lo emang ada masalah, datang secara baik-baik, kek! Gue juga ke sini karena diajak sama teman lo doang! Kalau nggak diajak, gue juga nggak bakal ke sini!” bentaknya marah. Vella meniup rambutnya yang menghalangi wajahnya dan mengambil tasnya di meja. Tanpa menunggu lagi, dia berjalan keluar dari cafe dengan langkah lebar. Meninggalkan Agam yang masih bingung dan Xiani yang misuh-misuh kesal sembari menata rambutnya. === Vella masuk ke dalam rumah membuat Ani yang asyik menonton TV terkesiap kaget. Belum lama Nonanya itu keluar dan kini sudah pulang. Bedanya, saat pergi, Vella terlihat rapi, sekarang gadis itu awut-awutan belum lagi aura suram menguar dari sekitarnya. “Lho, Non, kok cepet banget pulangnya?” tanya Ani mendekati Vella. “Huh, ketemu ama Mak Lampir gue!” dengus gadis itu. “Duh, emangnya Mak Lampir beneran ada, ya, Non?” tanya Ani polos. “Haduh, Ni, itu cuma kiasan aja. Udah nggak usah dibahas, mood gue drop ngingatnya.” Vella mengibaskan tangannya dan mengurai rambutnya. “By the way, gimana pacar lo? Udah ditelepon?” Mendengar itu Ani langsung senyum-senyum malu. Dia menyelipkan anak rambutnya ke belakang telinga. “Anu, Non, kebetulan tadi pas Non pergi, Kak Heri telepon saya nanyain kabar. Kita berdua basa-basi sebentar terus saya jujur, deh, bilang sebenarnya saya ke Jakarta tuh bukan karena mau lanjut kuliah.” “Hm, terus?” tanya Vella semangat. Melihat wajah Ani yang menahan senyum, sepertinya ini kabar baik. Setidaknya, mood-nya kembali naik karena asistennya itu. “Kak Heri awalnya agak bingung. Tapi, setelah saya ngomong panjang lebar, akhirnya dia ngerti. Kak Heri emang bener-bener tulus sama saya, Non. Dia terima saya apa adanya,” lirih Ani menggigit bibirnya menahan senyum. “Tuhkan, apa gue bilang. Mending jujur aja. Jadi ke depannya lo nggak lagi ada beban karena sembunyiin sesuatu.” “Iya, Non.” “Eh, btw, yang masalah lanjut kuliah, tuh, gimana? Lo udah ngasih tahu orangtua lo?” “Belum, Non. Orangtua saya belum nelpon lagi akhir-akhir ini.” “Kenapa nggak lo aja yang telepon?” “Pulsa saya habis.” “Lah? Kok nggak bilang, sih? Besok gue isiin, oke?” Ani hanya meringis kecil dan akhirnya nyengir. Vella tertawa pelan dan menepuk pelan pundak Ani. Sesederhana itu bahagia Vella.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN