Vella dan teman-temannya bergerombol masuk ke dalam kantin. Seperti biasa, mereka selalu mojok di sudut kantin. Hari ini, giliran Haira yang pergi memesan makanan.
Sembari menunggu Haira, Bian memulai curhatannya.
“Guys, kalian pilih yang mana, Bu Lestari atau Pak Frivan?” tanya Bian.
“Kenapa emangnya? Lo mau jodohin mereka? Yaelah, Bi, Bu Lestari udah kepala empat gitu. Mana mau Pak Frivan!” sembur Aldo langsung.
Bian melirik teman nya itu malas. “Bukan itu, b**o! Maksudnya, gue minta pendapat kalian, antara Bu Lestari dan Pak Frivan, yang mana yang lebih kejam.”
“Pak Frivan,” sembur Vella langsung.
Semua temannya menatap gadis itu meminta alasan.
“Ya ... karena Pak Frivan itu tukang perintah, kejam, pemarah, jutek, pokoknya yang jelek-jelek ada semua di sana!” kesal Vella.
“Kadar ketampanan nggak termasuk, ya, Vel,” komentar Jasmine.
Vella memutar bola mata. “Terserah lo, lah!”
“Hm, menurut gue, sih, semuanya sama. Yang membedakan itu gaya mengajar mereka. Bu Lestari emang selalu ngasih tugas bertumpuk-tumpuk, tapi cara ngajar beliau, tuh, menurut gue bagus. Gue cepat ngerti kalau beliau menjelaskan,” tutur Sheva.
“Kalau Pak Frivan?” tanya Jasmine.
“Kalau itu, gue malah fokus ke wajahnya,” cengir Sheva.
Jasmine tertawa puas dan tos dengan gadis itu. Temannya yang lain langsung memalingkan muka dengan malas.
“Lo sendiri, Ya? Gue pengen denger pendapat dari cewek mingkem kek lo,” ujar Bian nyengir kuda.
Yaya yang memainkan garpu mendongak menatap Bian. Mata gadis itu terlihat sayu. “Lo ngomong apa?” tanyanya lirih.
“Lah, lo nggak denger? Gue ngomong pas di depan lo ini,” ujar Bian gemas.
“Ulang,” perintah Yaya datar. Tangannya menggerakkan garpu mencakar-cakar meja.
Melihat itu, Bian langsung ngeri. “Eh ... menurut lo, lebih kejam mana, Pak Frivan atau Bu Lestari?”
“Bukan kejam, tapi tegas,” ujar Yaya datar.
Bian diam beberapa saat, menunggu gadis itu melanjutkan perkataannya. Namun, gadis itu malah kembali asyik dengan garpunya.
“Ahh, oke, deh,” gumam Bian menatap garpu di tangan Yaya.
“Btw, Ya, nama asli lo kan Zaya, tuh. Kok malah di panggil Yaya, sih?” tanya Aldo.
“Menurut lo?”
“Hm, menurut gue, sih, biar lebih jelas kalau manggil lo. Soalnya orang kadang bilang Z pake S. Ntar nama lo malah kepeleset jadi Saya.”
“Nah, itu tahu. Ngapain nanya?”
Aldo mengerjap-ngerjap bingung dan mengelus keningnya setelah tahu itu adalah kalimat sindiran. Bian yang di sampingnya menepuk pundaknya simpatik.
“Guys, pesanan datang!” Haira datang membawa baki berisi empat porsi mie bakso. Di belakangnya muncul pelayan kantin membawa tiga porsi bakso.
Mereka langsung menyantap makanan masing-masing.
“Eh, Vella, gimana sih cerita lengkapnya pas Pak Frivan datang ke rumah lo bawa tugas yang belum lo selesain?” tanya Haira saat mereka tengah makan.
Vella yang kepedasan, makin gerah ketika mendengar nama Pak Frivan. “Ngeselin banget, sumpah!” umpat Vella hingga tersedak.
“Minum dulu, Vel.” Sheva menyodorkan air mineral dan menepuk pelan punggung Vella.
“Padahal gue udah pengen nyantai-nyantai, eh, si dosen malah bawain kerjaan baru. k*****t emang!” sembur Vella.
Gadis itu tak menceritakan ajakan Agam. Nanti mereka malah beralih menjodoh-jodohkannya seperti Riska dan Fara.
“Wah, parah!” Aldo memanas-manasi.
Vella mengangguk erat lalu memakan satu bola bakso langsung. Pipinya menggembung ketika mengunyah.
“Eh, tapi bentar, deh. Pak Frivan kok kayaknya cuma nyusahin lo doang, ya?” tanya Jasmine heran. “Gue denger dari kelas lain, yang jadi PJ nggak segitunya diperintah kayak lo,” sambungnya membuat mata Vella membola.
“BENERAN?” raung Vella berdiri. Separuh penghuni kantin menatapnya heran.
Sheva dan Haira langsung menariknya kembali duduk. “Tenang, Vel, tenang. Di sini rame.” Haira mengingatkan.
“Gue justru curiga, jangan-jangan ....”
Jasmine malah sok-sok-an misterius.
“Nggak usah ngegantung! Langsung bilang aja!” sembur Vella panas hati.
“Jangan-jangan Pak Frivan suka sama lo!” jawab Jasmine langsung.
Vella terdiam beberapa saat lalu terbahak. “Lo pinter ngelawak juga, ya,” kekehnya lalu memakan baksonya.
“Yang bilang gue ngelawak siapa? Beneran, ih. Perlakuan Pak Frivan sama lo itu beda dari lainnya. Cuma lo yang keseringan ada di ruangan Pak Frivan!” Jasmine memaparkan argumennya.
“Diem!” bentak Vella.
“Belum lagi, pertemuan kalian tuh nggak biasa. Berawal dari masalah. Mungkin karena itu, Pak Frivan justru suka sama——“
“Diem atau gue lempar nih sendok ke muka lo!” ancam Vella.
“Oke, gue diem,” ucap Jasmine menutup rapat mulutnya.
“Lo kok emosional banget, sih, kalau bahas Pak Frivan, Vel? Apa lo juga ....” Sheva ikut-ikutan menggantung ucapannya.
“Udah, stop! Nggak usah di lanjutin, Shev!” Vella menutup rapat telinganya dan menutup matanya.
Dia menggeleng keras ketika temannya menoel pundaknya. Beberapa lama kemudian, Sheva menarik tangannya kasar agar lepas dari telinganya.
“Oi! Kak Agam manggil lo!” teriak gadis itu di dekat telinga Vella.
Vella lantas menoleh ke kiri. Tangannya mengusap telinganya yang berdengung gara-gara Sheva.
Dia mengerjap bingung ketika mendapati Agam berdiri di sampingnya. “Ada apa, Kak?”
“Gue mau ngomong sesuatu sama lo, boleh?”
Vella menggaruk ujung alisnya. “Boleh, Kak. Di mana?”
“Di sini aja. Lo belum selesai makan. Gue juga cuma bentar doang.”
Vella diam sejenak. Gadis itu was-was kalau saja Agam menyatakan perasaan lagi di hadapan teman-temannya.
“Ehm, boleh, Kak.”
“Soal jalan-jalan kita yang batal itu, kapan lo ada waktu lagi?”
Tuh kan!
Vella tak berani menatap teman-temannya. Gadis itu tetap menatap Agam dan tersenyum kaku. “Ma-maksudnya, Kak?”
“Lho, yang lalu kan batal, soalnya lo ada tugas dadakan. Gue udah bilang kan kita jalan-jalan di hari lain. Sekarang gue tanya, kapan lo ada waktu lagi. Malam minggu?” Agam malah menjabarkan secara rinci.
Satu jari menoleh punggung Vella. Dia tak tahu itu jari siapa. Namun, dia tetap tak mau balik.
“Eh, gue belum tahu, Kak. Nanti gue hubungin aja, ya, Kak,” ujar Vello meringis tak enak.
“Ah, oke. Gue tunggu telepon dari lo, ya! Dah, Vel!” pamit Agam tersenyum manis. Laki-laki itu langsung keluar dari kantin.
Dengan gerakan kaku, Vella berbalik menatap teman-temannya satu per satu.
“Oh, jadi lo anggap kita ini apa, Vel?” celetuk Bian
“Punya gebetan kok nggak ngomong-ngomong,” sindir Bian macam emak-emak.
“Sekarang, waktunya lo ngejelasin semuanya, Vel.” Haira tersenyum datar
“A sampai Z,” imbuh Jasmine.
“Intinya, lengkap.” Sheva menarik mangkuk bakso Vella. Sebagai peringatan agar menjelaskan semuanya atau dia akan kelaparan sampai pulang.
Yaya tak berkata apa-apa. Namun, dari gaya gadis itu yang menopang dagunya sembari menatap Vella lurus, sepertinya gadis itu juga sudah siap mendengarkan.
“Ih, kalian jahat, deh.” Vella mencebikkan bibirnya.