Pulang & Dinner

1434 Kata
Setelah selesai makan, Vella meremukkan bungkusan ayam geprek itu sembari menatap wajah dosennya. Dia berjalan keluar dan membuangnya ke tempat sampah. Matanya menatap beberapa saat remukan bungkus itu dengan puas seolah itu adalah wajah Pak Frivan. Gadis itu berdehem pelan. Mengingatkan diri untuk tetap waras. Dia akhirnya kembali ke dalam ruangan untuk pamit. “Pak, saya sudah bisa pulang sekarang?” tanya Vella. Pak Frivan yang sedang memasukkan laptopnya ke dalam tas mengangguk pelan. Sepertinya pria itu juga bersiap-siap untuk pulang. “Terima kasih, Pak. Em ... terima kasih juga untuk makanan gratisnya,” ucap Vella. Ketika Pak Frivan menatapnya, gadis itu langsung nyengir. “Sama-sama. Omong-omong, itu tidak gratis, ya. Kamu sudah bantu saya periksa jawaban teman-temanmu jadi saya belikan kamu makanan.” “Wah, jadi itu sebagai rasa terima kasih, ya, Pak? Mana tadi bilangnya uang melayang,” sindir Vella. Pak Frivan mengibaskan tangannya cuek. “Sudah sana pulang.” “Iya, Pak. Permisi,” pamit Vella menunduk sekilas lalu keluar. Gadis itu berjalan menyusuri koridor yang sepi. Cahaya matahari sore menerobos ventilasi membuat suasana terasa suram. Namun, Vella mengabaikannya. Sesampainya di kelas, suasana malah makin terasa seram. Lampu-lampu sudah dimatikan. Hanya cahaya matahari yang merambat masuk melalui ventilasi kecil. Udara juga pengap karena AC sudah dimatikan. Vella buru-buru mengambil tasnya dan berjalan keluar. Namun, belum sampai ke pintu, kepala Vella langsung diserang rasa pusing. Gadis itu mendesis kecil dan menggerutu dalam hati. Kenapa pusingnya datang diwaktu yang tidak tepat, sih? Vella berusaha meraba sekitarnya dan menemukan meja dosen. Gadis itu bersandar di sana dan mengerjapkan matanya. Pandangannya berkunang-kunang. “Kakak kan pintar. Ajarin aku yang ini, dong! Susah banget!” “Yang mana? Coba aku lihat?” Vella menutup matanya. Membiarkan ingatan masa lalu mengendalikan pikirannya. “Oh, yang ini? Gampang, kok, masa kamu nggak tahu, sih?” “Tapi, aku tetap nggak ngerti, Kak. Ajarin, dong.” “Yaudah, aku ajarin, ya.” “Kalau aku lama ngertinya, jangan marah, ya, Kak. Otak aku emang lemot, nggak kayak Kak Varda.” “Novella?” Vella mengerutkan keningnya lemas. Kenapa tiba-tiba muncul suara lain? “Novella? Kamu tidak apa-apa?” Ah, Vella mengenal suara ini. Kenapa dosen diktator itu ada di dekatnya. Vella tidak berhalusinasi, kan? Saking kesalnya dengan dosen itu, suaranya bahkan meneror pikiran Vella. “Novella?” Hm, sepertinya Vella tidak berhalusinasi. Sentuhan di pundaknya terasa nyata. Mata gadis itu perlahan membuka, memperlihatkan bola mata gelap yang sayu. Bola itu bergerak menatap mata hitam milik Pak Frivan. “Bapak? Bapak kok bisa ada di sini?” tanya Vella lemas. “Ponsel kamu ketinggalan di meja saya, jadi saya nyusul kamu ke sini dan lihat kamu hampir jatuh. Ada apa? Kamu terlihat pucat.” Suara pak Frivan terdengar khawatir. Vella tak langsung menjawab. Gadis itu memperbaiki duduknya setelah rasa pusingnya perlahan hilang. “Saya nggak apa-apa, kok, Pak,” ucap gadis itu lemas. “Apanya yang nggak apa-apa. Muka kamu pucat, suara kamu juga lemah. Kamu pulang dengan siapa? Ada yang menjemput kamu?” tanya Pak Frivan semakin khawatir. “Pak, bisa minta tolong hubungin sopir saya? Ponsel saya nggak dikunci, kok.” Pak Frivan mengangguk. Pria itu menyalakan ponsel Vella dan membuka daftar telepon. “Yang mana?” “Pak Burhan.” Pak Frivan segera menghubungi kontak pak Burhan. Namun, sampai tiga kali dihubungi, Pak Burhan tak mengangkat panggilannya. “Tidak diangkat,” ucap Pak Frivan akhirnya. Vella menggumam lemah. Gadis itu bergerak pelan melepas tasnya dari punggungnya. “Pak, bisa minta tolong bukain tas saya? Di dalam ada obat,” pinta gadis itu lemah. Pak Frivan membuka tasnya dan mencari obat itu. “Obat apa, Novella? Di dalam tasmu tidak ada obat.” “Hah?” Vella menggumam kaget. Dia mendesis kesal ketika ingat obatnya tertinggal di kamar karena pusing mendera kepalanya tadi pagi. “Saya antar kamu pulang saja. Sudah hampir malam. Saya takut kamu kenapa-kenapa,” ucap Pak Frivan akhirnya. “Aduh, Pak, tidak usah repot-repot. Nanti saya bisa naik ojol saja,” tolak Vella berdiri dengan pelan. “Tidak. Saya antar kamu pulang. Kondisimu tidak meyakinkan untuk pulang sendiri,” tegas Pak Frivan. Vella menggumam pasrah. Dia berjalan lebih dulu dan Pak Frivan mengikutinya dari belakang. Ketika menuruni tangga, Pak Frivan sekali-kali menyentuh pundaknya. Jaga-jaga kalau Vella hilang keseimbangan. “Kamu duduk di sini. Saya ke parkiran dulu.” Vella mengangguk pelan. Dia duduk di kursi yang berada di luar pintu utama. Tak lama, mobil Pak Frivan muncul dari arah parkiran. Vella segera berdiri dan masuk ke dalam mobil. Gadis itu duduk di samping pak Frivan. Mobil Pak Frivan akhirnya melaju melewati gerbang Hope University dan membaur bersama kendaraan lain di jalan raya. “Saya minta maaf,” ucap Pak Frivan setelah hening beberapa saat. “Eh?” Vella mengangkat alisnya. “Mungkin kamu begini karena saya terlalu paksa kamu bekerja dengan saya,” aku Pak Frivan. Vella meringis tak enak. Ini hal yang di tunggu-tunggunya keluar dari mulut Pak Frivan. Tapi, sekarang bukan waktu yang tepat. Dia begini karena hanya pusing biasa, kala ingatannya muncul. “Tidak, kok, Pak. Saya sudah sering begini, kok.” “Tapi tetap saja saya harus minta maaf sama kamu,” ucap Pak Frivan serius. Matanya tetap menatap ke depan. “Eh, omong-omong, Bapak, sudah tahu di mana rumah saya?” tanya Vella mengalihkan. Oak Frivan terdiam sejenak. “Tahu.” “Dari mana, Pak?” Pak Frivan melirik gadis itu sekilas. “Banyak tanya. Sudah diam saja. Nanti kamu makin sakit.” Vella memutar bola nata jengah dan mengalihkan pandangannya ke luar kaca mobil. Sekali jutek tetap jutek. Sekali kejam, tetap kejam. Ramah hanyalah sesaat untuk Pak Frivan. === Vella sedang Skype-an dengan Riska dan Fara ketika ponselnya berbunyi. “Bentar, ya, guys. Gue angkat telepon dulu.” Riska dan Fara mengangguk. Vella bangun dari gaya tengkurapnya dan mengambil ponselnya yang menyala-nyala. Panggilan dari Kak Agam. “Halo, Kak. Sore. Ada apa?” [“Lo ada waktu malam ini?”] Vella diam sejenak. Malam apa sekarang? Ah iya, malam Minggu. “Nggak ada, sih, Kak. Palingan nyantai baca novel. Kenapa?” [“Gue mau ajak lo keluar. Bisa?”] Mata Vella mengerjap-ngerjap bingung. Pengakuan Agam waktu itu kembali terngiang-ngiang di kepalanya. [“Vel?”] “Eh, iya, Kak.” [“Oke, jadi lo setuju, ya.”] “Eh?” “Ntar malam gue jemput jam tujuh. Dah, Vella.” Agam mengakhiri panggilan. “Halo, Kak? Halo? Halooo?” Vella masih berbicara di telepon padahal Agam sudah mengakhiri panggilannya. Gadis itu mendengus panik. Aduh, dia tadi bilang iya bukan jawaban untuk ajakan Agam, tapi karena Agam memanggilnya. “Aduh, telpon tidak, ya?” gumam Vella bingung. Dia ingin membatalkan ajakan dari Agam, namun dia sudah terlanjur bilang tak ada kegiatan lain malam ini. “Vel, lo kenapa? Siapa yang nelpon?” Suara Riska terdengar. Vella kembali ke tempat tidur dan menatap laptopnya. “Nggak apa-apa, kok. Temen doang,” dusta Vella. “Temen apa temen, Vel?” tanya Fara menggoda. “Senior,” aku Vella akhirnya. “Jiahhh, kencang banget, dah, jodoh lo situ. Ganteng, gak?” tanya Riska antusias. “Lumayan. Udah, ya, gue mau siap-siap dulu,” ucap Vella tak ingin memperpanjang lagi. “Iya, deh, yang mau malam mingguan sama senior,” ucap Riska geli. Fara malah ikut-ikutan juga. “Bacot lo berdua,” gerutu Vella dan mengakhiri Skype-an mereka. Jam dindingnya sudah menunjukkan pukul 17.30. Dia mungkin sebaiknya memenuhi ajakan Agam. === Pukul 18.45, Vella sudah siap di ruang tamu. Gadis itu hanya memakai kemeja dengan dalaman kaos putih dan celana jeans hitam. Rambutnya yang panjang dikuncir rapi. Kaki gadis itu dibungkus kets warna putih. Tak lama kemudian, terdengar suara ketukan pintu. Vella berdiri dan membuka pintunya. “Halo, Kak Agam ... eh?” “Siapa itu Agam? Kamu mau ke mana? Ini lihat, masih ada kerjaan yang belum kamu selesaikan. Kerjakan sekarang, saya mau tugas ini selesai ini malam.” Vella menganga lebar. Bukan Agam yang berdiri di depannya, melainnya dosen diktator. Laki-laki itu hanya memakai baju kaos biasa dan celana pendek. Gadis itu menerima flashdisk dari tangan Pak Frivan. “Tapi, saya sudah kerjain semua, kok, Pak!” “Belum semua, Novella. Kamu tidak cek halaman selanjutnya, ya? Masih ada lima lembar nilai yang belum kamu input. Untung saja saya cek tadi jadi tahu,” omel Pak Frivan. “Masa, sih, Pak?” “Iya! Selesaikan cepat, jam 9 kirim dalam bentuk file ke email saya,” tandas laki-laki itu lalu kembali ke mobilnya. Vella menatap kepergian sang dosen dengan tak rela. “Astaga, terus jalan-jalan gue sama Kak Agam gimana?” Vella mengacak-ngacak rambutnya hingga berantakan. Dia segera mengambil ponselnya dan menelepon Agam. Gadis itu merasa bersalah ketika mendengar nada kecewa dari Agam saat dia membatalkan jalan-jalan. “Maaf, ya, Kak. Ini mendadak banget tugasnya keluar, harus diselesaikan malam ini juga.” Vella tak menyebutkan tugas itu dari Pak Frivan. Huh, Vella tak sudi menyebut nama dosen rese itu! [“Iya, nggak apa-apa. Lo selesaiin aja dulu. Lain kali kita masih bisa jalan, kok.”] “Iya, Kak. Gue tutup, ya, teleponnya,” ucap Vella. [“Iya.”] Vella mengakhiri panggilannya dengan Kak Agam dan menatap flashdisk dalam genggamannya. “Dasar dosen! Seenaknya nyuruh-nyuruh! Dia nggak tahu apa ini bukan hari kuliah? Gue juga pengen nyantai kali!” ujar Vella misuh-misuh dan naik ke kamarnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN