Kuis & Nyontek

1906 Kata
Vella menatap lembar jawabannya yang masih kosong. Sudut bibirnya turun ke bawah. Di depan kelas, Pak Frivan berjalan-jalan pelan sembari mengawasi mahasiswa kelas A dengan mata tajamnya. Dari hari Rabu dia sudah berusaha mempelajari materi dibantu oleh teman-temannya. Namun, entah kenapa semuanya tiba – tiba hilang dari kepalanya. Dari lima soal yang tertera di lembar kuis, hanya satu soal yang Vella tahu. Itu pun dia masih ragu. Gadis itu diam-diam mengamati Pak Frivan. Kalau-kalau dosennya itu lengah, dia langsung melancarkan aksi nyonteknya pada Sheva atau pun Haira. Beberapa lama kemudian, suara dering ponsel yang berasal dari saku celana Pak Frivan berbunyi. Laki-laki itu segera mengambilnya dan menatap beberapa saat layar ponselnya. “Saya keluar sebentar untuk terima telepon. Jangan ada yang berani menyontek,” ucap dosen itu datar lalu berjalan keluar. Suaranya masih terdengar samar oleh kelas A saat menerima panggilan. Vella mulai melancarkan aksinya. Dia menoel pundak Sheva yang sibuk menulis. Gadis berambut pirang itu terkejut dan menoleh pada Vella. Matanya bergerak mengisyaratkan ‘ada apa?’ “Jawaban lo, please. Gue bener-bener nggak tahu jawabannya,” bisik Vella tak sabaran. “Panjang banget, Vel. Soalnya emang cuma lima, tapi jawabannya hampir ngabisin satu lembar kertas. Lo yakin mau gue dikte?” sahut Sheva takut-takut. “Nanti ketahuan Pak Frivan gimana?” Vella menajamkan pendengaran nya dan mendengar suara Pak Frivan samar-samar. Gadis itu kembali menatap Sheva dengan raut meyakinkan. “Nggak bakalan, kok. Lo baca aja, ntar gue nulisnya balap.” “Novella?” Pak Frivan tiba-tiba saja sudah bersandar di kusen pintu. Laki-laki itu mengamati Vella dari sana dengan ujung sepatu yang mengetuk lantai. “I-iya, Pak?” Sejak kapan laki-laki itu ada di sana?! “Maju ke depan. Bawa perlengkapan kuis dan kursimu.” “Eh? Tapi, Pak, saya tidak ngapa-ngapain, kok!” “Kamu kira saya ini mudah dibodohi, hem? Sedari tadi, cuma kamu yang kepalanya terangkat. Semua temanmu sibuk menulis, kamu malah sibuk mengamati kapan saya lengah.” “Tapi, Pak ....” “Sheva dan Haira. Di antara kalian, siapa yang hampir membantunya?” Sheva dan Haira menunduk, tak berani menjawab. “Jujur atau saya kurangi nilai kalian berdua.” “Saya, Pak!” aku Sheva spontan. Gadis itu melirik Vella dan meringis kecil. Pak Frivan menatap Vella dengan puas “Pak ....” Vella memasang wajah memohon. “Sekarang atau saya tidak akan beri nilai di kuis pertama.” Vella langsung terkesiap. Gadis itu mengambil kertas dan pulpen lalu berjalan ke depan sembari menyeret kursinya. Pak Frivan duduk di kursinya dan menunjuk ke arah depan, menyuruh Vella duduk tepat di hadapannya. Gadis itu hanya pasrah dan kini harus mengerjakan kuis tepat di depan dosen diktator dan hanya dibatasi meja. “Selamat mengerjakan, Novella,” ucap sang dosen dengan senyum setengah. Para mahasiswa lain yang diam memperhatikan itu merinding. Mata kalem namun tajam milik sang dosen berhasil membuat nyali mereka menciut. Apa lagi setelah melihat yang dialami Vella. Berdoa saja semoga Vella kuat mengerjakan kuis di depan sang dosen dengan jarak sedekat itu. “Untuk yang lainnya, ini jadi pelajaran buat kalian. Saya tidak mau hal seperti ini terulang lagi,” Pak Frivan mengumumkan, “paham?” sambungnya sembari menatap Vella dengan tajam. “Paham, Pak!” sahut seisi kelas. Vella langsung menunduk ketika ditatap lama. Seumur-umur, dia belum pernah mengerjakan kuis dengan jarak sedekat ini pada pengawas. “Kamu sendiri sudah paham?” tanya Pak Frivan. “I-iya, Pak.” “Janji, ya. Jangan mengulangi sampai tiga kali lagi.” Pak Frivan memberi senyum manisnya. Bukannya terpesona, Vella malah ketakutan. Dia makin menundukkan kepalanya dan berusaha fokus pada kuis yang sebentar lagi akan berakhir. === Kuis sudah berakhir. Vella mengumpulkan lembar jawabannya dengan berat hati. Dia yakin tak ada yang benar dari jawabannya. Teman-temannya juga sudah selesai mengumpulkan. Ketika Pak Frivan sementara mengemas barang-barangnya, Vella berdiri hendak kembali ke mejanya. Namun, sang dosen segera menahannya. “Novella?” “Iya, Pak?” Vella berbalik dengan senyum tak ikhlas. “Bawa lembar jawaban ini ke ruangan saya, ya,” perintahnya sembari menunjuk tumpukan lembar jawaban di mejanya. Vella menarik napas berusaha menahan u*****n. “Baik, Pak.” “Secepatnya. Abis kembalikan kursimu langsung nyusul ke ruangan saya,” tandas Pak Frivan lalu berjalan keluar kelas. “Iiih!” Vella menggerutu pelan dan menyeret kursinya kembali ke tempatnya. Dia menyimpan pulpennya ke dalam tas dengan emosi berapi-api. Sheva yang duduk di sampingnya meringis. Dia bisa merasakan aura suram dari temannya yang satu ini. “Vella,” panggilnya pelan. “Hm?” “Gue minta maaf, ya. Gue bener-bener terpaksa, soalnya nilai gue yang jadi ... taruhan,” cicit gadis itu. Vella menghela napas. Dia juga tak bisa marah pada temannya itu. Mementingkan diri sendiri terlebih dahulu sudah menjadi sifat alami manusia. Gadis itu mengancingkan tasnya sembari menjawab, “Nggak apa-apa,” lalu ke depan dan mengambil tumpukan hasil kuis. Ketika cewek itu keluar dari ruangan, teman-temannya langsung berkerumun. “Makin ke sini, Vella kayaknya makin menderita, deh,” ucap Jasmine menatap pintu kelas yang terbuka. “Apa Pak Frivan sekejam itu?” tanya Aldo. Sheva langsung meliriknya, “Lo nggak lihat gimana mukanya Pak Frivan pas Vella ketahuan? Serem banget!” “Menurut gue itu, sih, wajar. Mana ada dosen yang suka kalau mahasiswa nyontek,” sahut Bian. “Tapi, tetap aja Vella beruntung banget! Dapat kesempatan duduk tepat di depan Pak Frivan,” celetuk Haira menangkup pipinya. Yaya berbalik dari tempatnya dan menatap gadis berambut ikal itu. “Yaudah, kalau Pak Frivan ngadain kuis lagi, lo nyontek aja biar duduk di depannya beliau,” ujarnya datar, tajam dan mengintimidasi. Haira dan yang lainnya membubarkan diri setelah Yaya mengatakan itu. Aura suram dari Yaya lebih pekat dari pada Vella. === “Masuk!” perintah Pak Frivan ketika tangan Vella baru saja ingin mengetuk pintu. Vella langsung masuk ke dalam. Dia meletakkan kertas-kertas jawaban itu di meja Pak Frivan dan langsung pamit keluar. “Eits! Mau ke mana kamu?” tanya Pak Frivan menarik ujung baju Vella dari belakang. Vella lantas berbalik. Matanya membola ketika jarak wajahnya dan Pak Frivan berdekatan. Dosennya itu berdiri dengan posisi mencondongkan tubuhnya pada Vella. Satu tangannya menarik baju Vella dan yang lainnya menopang pada meja. “E-eh, ke-keluar, Pak,” ucap gadis itu grogi. “Saya belum suruh kamu keluar,” balas Pak Frivan datar. “Ah ... i-iya, Pak,” cicit Vella. “Ba-baju saya, Pak. Kapan dilepas? Saya nggak bakalan kabur, kok.” Pak Frivan sempat mengerjap bingung sebelum akhirnya melepas tangannya dari ujung baju Vella. Laki-laki itu berdehem pelan menyembunyikan canggung dan kembali duduk. “Duduk!” perintah Pak Frivan Vella menurut. Dia tak punya waktu untuk menggerutu dalam hati. Kini dia malah sibuk menetralkan detak jantungnya yang menggila. Bener-bener si dosen kelakuannya nggak ketebak! Pak Frivan mendorong sebuah kertas berisi kunci jawaban kuis tadi. Vella menerimanya dan membacanya dalam hati. “Ini kenapa, Pak?” “Bantu saya periksa jawaban teman-temanmu.” “Tapi, Pak, lima menit lagi saya ada kelas Bahasa Inggris.” Vella menolak dengan cara halus. “Bu Lycoris tidak masuk. Jadi, kamu tidak punya alasan untuk menolak lagi. Cepat periksa!” Vella mendesis pelan dan mengambil lembar pertama. Oh, kertas jawabannya miliknya. Baru saja dia ingin memeriksa, Pak Frivan langsung menariknya. “Kertas yang ini saya yang langsung periksa. Saya tidak mau ada drama kecurangan lagi,” ujar Pak Frivan lalu memeriksa lembar jawabannya. “Gimana mau curang, saya periksanya tepat di depan Bapak,” balas Vella dengan wajah tersinggung. Pak Frivan hanya melirik gadis itu sejenak lalu melanjutkan membaca jawaban Vella. “Astaga, jawabanmu hancur semua,” gumam laki-laki itu. Vella tak memperdulikannya dan menyibukkan diri dengan lembar jawaban Jasmine yang kini sedang diperiksanya. “Dua tahun saya ngajar di HU, baru kali ini saya ketemu sama mahasiswa yang keseringan buat ulah padahal baru awal kuliah,” tambah Pak Frivan memanas-manasi. Vella menutup matanya. Oke, sip, di sini memang dosennya yang cari gara-gara dengannya. Gadis itu meletakkan pulpen dengan keras di atas meja dan menatap Pak Frivan dengan tajam. Pak Frivan malah mengangkat alisnya dan menatap gadis itu dengan santai. Kekehan keluar dari mmulunya ketika menatap lembar jawaban Vella. “Nilainya juga anjlok. Masih sama seperti dulu,” gumamnya tak didengar jelas Vella. “Bapak bilang apa?!” pekik Vella melotot tak sadar mencondongkan wjaahnya ke depan. Dia tak terima, ya, dijelek-jelekkan begini! Sudah rela menderita jadi Pj-nya juga! Dasar dosen tidak tahu diri! Pak Frivan malah terkekeh. Dia mendorong kening Vella dengan telunjuknya. “Tidak sopan, ya. Mau saya kurangin nilainya lagi?” === Sejak diancam secara halus oleh Pak Frivan, Vella kicep sampai selesai memeriksa semua jawaban teman-temannya. Nilai Yaya yang paling tinggi. Cewek pendiam yang bernama asli Zaya itu ternyata pandai. Sayang sekali, latar belakang gadis itu masih misteri bagi Vella dan lainnya, padahal mereka sudah berteman hampir tiga minggu lebih. Vella menyandarkan punggungnya ke belakang dan menguap lebar. Dia meregangkan otot lehernya dan merentangkan tangannya. Memeriksa hasil kuis teman-temannya yang hampir enam puluh orang membuat Vella kapok. Pak Frivan tak membantu sedikit pun kecuali yang lembar jawabannya. Laki-laki itu sibuk mengerjakan sesuatu di laptop sambil sesekali melirik Vella, memastikan gadis itu melakukan kegiatannya dengan baik. Namun, berapa menit lalu, dosen itu keluar dari ruangan dan belum muncul-muncul sampai sekarang. Vella menatap jam dinding yang sudah menunjukkan pukul empat. Kampus mulai sepi. Hanya ada segelintir mahasiswa yang masih berada di kampus, entah itu masih ada kelas atau ada urusan organisasi. Vella langsung teringat teman-temannya. Dia mengambil ponselnya yang ada di dalam kantung kemejanya dan menyalakan datanya. Tidak lama kemudian, ponselnya bergetar lama hingga membuatnya kesal. Tangannya bergerak-gerak di layar membuka roomchat w******p. Grup khusus Vella dan the gank sepertinya ramai. Vella membuka chat grup itu dan membaca pesan-pesan temannya. Kebanyakan menanyakan keberadaan Vella yang tak kembali-kembali dan lainnya hanyalah adu bacot online antara Jasmine dan Aldo. Vella sampai heran melihat mereka berdua. Tiap ketemu kerjaannya ribut mulu. Bahkan di grup pun masih ribut. Saat membaca di bagian akhir, mata Vella melotot lebar. Aldo: Vel, lo di mana, sih? Beneran ilang, nih, anak, udah mau jam pulang iniii. Sheva: Vel, gue duluan, ya, ada urusan di rumah. Haira: Jemputan gue udah datang, Vel. Lo hati-hati, ya, pulangnya. Jasmine: Vel, maaf, ya, gue juga kudu pulang ini. Nebeng di Haira soalnya jemputan gue ada halangan. Bian: Vel, gue sama Aldo cabut, ya! Pengen ke cucian motor, takutnya nanti ketutup. “Buset, dah. Kok pada pamitan semua ini?” gumam Vella kesal. Mereka bahkan tak berusaha mencari tahu dia ada di mana. Vella mencebikkan bibirnya. Mungkin mereka sudah tahu kalau dia ditahan Pak Frivan lagi. Hanya Yaya yang tak muncul di grup. Selain pendiam di dunia nyata, gadis itu juga pendiam di dunia maya. Vella tak ada minat lagi memegang ponselnya. Dia mengabaikan beberapa pesan lain dan mematikan ponselnya. Benda pipih itu ditaruhnya di atas meja. “Huh, udah lapar juga,” keluh gadis itu. Tadi siang dia sudah makan di kantin, tapi Vella tak terlalu menikmatinya karena memikirkan kuis Manajemen. Sekarang dia merasakan imbasnya. Perutnya kelaparan sementara dosen diktator entah ada di mana. “Novella? Sudah selesai?” Suara Pak Frivan membuat gadis itu berbalik. Dengan wajah kusut, gadis itu mengangguk pelan. Wajahnya berubah heran ketika melihat Pak Frivan membawa kantong plastik hitam yang menguarkan wangi yang membuat perut Vella makin meronta. Pak Frivan berjalan ke mejanya dan meletakkan plastik itu di atas meja. Bau yang dikenali Vella makin menajam. “Kamu makan ini, ya,” suruh Pak Frivan dengan suara ramah. Laki-laki itu mengeluarkan dua porsi ayam geprek dari plastik hitam tersebut. Mata Vella langsung melotot. Itu makanan kesukaannya! Kenapa dosennya itu bisa tahu? “Malah bengong. Ini makan. Tidak usah malu-malu,” tegur Pak Frivan lalu duduk. Dia membuka bagiannya dan mulai memakannya. Vella mengangguk canggung. Dia suka heran sama dosennya itu. Sikapnya berubah-ubah. Kadang marah-marah, kadang ramah pada Vella. Sekali marah, ucapannya menohok hati. “Kenapa cuma dilihat-lihat? Makan! Uang saya melayang hanya untuk beliin kamu makanan, ya,” tegur Pak Frivan. Vella mencebikkan bibirnya. Tuhkan, marah-marahnya kumat lagi!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN