Sudah hampir 30 menit Vella menunggu di depan kelas. Sesekali dia mengamati pintu kelas yang tak kunjung terbuka. Dia menatap teman-temannya dari kaca jendela. Mereka semua sibuk menatap ke depan. Vella beberapa kali memanggil mereka, namun kaca jendela sepertinya kedap suara. Bahkan Jojo yang duduk paling dekat dengan jendela tak mendengarnya.
Vella mendesah pelan dan menatap langit-langit. Kakinya bergerak pelan, bergantian membentuk pola tak jelas di lantai. Lelah berdiri, dia akhirnya jongkok. Gadis berambut panjang itu mengambil tasnya yang sedari tadi mengganjal punggungnya lalu memeluknya.
“Dasar dosen laknat.”
“Nggak berperasaan banget.”
“Gue cuma telat berapa menit doang! Apa nggak bisa ngasih toleransi?”
Vella menggigit bibirnya menahan perih di matanya. Gadis itu menenggelamkan wajahnya dalam lipatan tangan. “Mama, Vella kangen,” isaknya pelan.
Rasa rindu pada keluarganya tiba – tiba saja menyeruak memenuhi rongga hatinya. Dia ingin mamanya ada di sini memeluk dan memberi kata-kata penghibur padanya.
Vella mengusap pipinya yang basah. Begini, nih, akibat kalau tidak terbiasa mandiri. Ada masalah sedikit langsung mewek.
Vella menarik napas panjang dan menatap pintu kelas dengan tajam. “Awas saja dosen itu kalau berani turunin nilai gue. Gue bakal komplen! Gue di sini ‘kan tujuannya pengen nimba ilmu, kenapa malah jadi babunya, sih?” kesal Vella.
Gadis itu memukul lantai yang tak berdosa sebagai pelampiasan.
“Loh, Vella? Lo ngapain duduk di situ? Temen-temen lo lagi belajar, tuh. Lo nggak ikut masuk?” tanya Agam berdiri di depan Vella.
Gadis itu lantas mendongak dan segera berdiri. Dia buru-buru merapikan baju dan rambutnya. “E-eh, Kak Agam. Kakak, kok, bisa ada di sini?”
“Kebetulan lagi lewat aja, terus nggak sengaja lihat lo duduk di sini? Lo ... dihukum, ya?” tanya Agam.
Vella menekuk wajahnya dan mengangguk lemah. “Iya, Kak. Padahal baru beberapa menit doang.”
“Yaudah, deh, ke taman aja, yuk. Dari pada lo di sini nungguin, kan capek,” ajak Agam.
“Eh, Kak Agam nggak ada kelas emangnya?”
“Baru aja kelar. Dosennya ada urusan mendadak jadi cepat keluar. Udah ayo.” Agam menarik gadis itu.
Vella terpaksa mengikutinya. Ketika menatap ke dalam kelas melalui jendela, dia melihat Pak Frivan menatapnya sekilas lalu kembali menjelaskan materinya.
Setibanya di taman, Agam menuntunnya duduk di kursi besi. Taman kampus hari ini lumayan sepi karena kebanyakan kelas lagi masuk.
“Lo tunggu di sini, ya. Gue beli minum dulu,” ujar Agam lalu pergi.
Vella menatap punggung Agam yang menjauh lalu melepas napas panjang. Mata hitamnya beralih menatap Green House.
Perkataan Xiani dua minggu lalu terngiang kembali di pikirannya.
“Jauhin Agam.”
Vella mendesis kesal dan mengibaskan tangannya mengusir pikiran itu dari dalam kepalanya. Otaknya sedang krisis happy. Lagi pula dia dan Agam hanya sebatas senior-junior.
“Gue suka sama lo.”
Kata-kata Agam langsung terlintas di pikirannya. Lantas, istilah senior-junior terhempas jauh dari kepalanya. Tak ada angin, Vella tiba – tiba saja merinding.
“Nih, Vel.” Agam muncul. Di tangannya ada dua botol teh pucuk yang dingin.
Vella menerimanya dengan senyum canggung dan berterima kasih dengan suara pelan.
“Kok lo bisa dikeluarin dari kelas, sih?” tanya Agam sembari duduk di samping Vella.
Pemuda itu membuka tutup botol dan meneguk minumannya.
“Ya ... gue lambat ngumpulin tugas sekelas ke ruangannya Pak Frivan.”
“Oh, emang, sih, Pak Frivan paling nggak suka kalau ada mahasiswa yang terlambat. Dari dulu emang gitu, sih. Tapi, kalau masalah dikeluarin dari kelas karena lambat datang, kayaknya nggak pernah, deh. Kok, lo malah kena?” tanya Agam heran.
Vella meringis kecil. “Ah, itu mungkin karena gue udah tiga kali terlambat,” cicitnya lalu memalingkan wajah.
“Hah?” suara Agam terdengar seperti sedang kaget. Vella menggigit bibirnya dan menutup matanya sembari mendesis kecil. Dia bahkan tak berani menatap seniornya itu. “Eh ... kalau itu mungkin emang lo yang salah, sih, Vel. Nggak ada yang berani terlambat lebih dari sekali kalau Pak Frivan. Pak Frivan mungkin kalau ngajar emang pembawaannya ramah, tapi kalau masalah keterlambatan dalam bentuk apapun, baik itu lambat masuk kelas atau lambat kumpul tugas, bagi Pak Frivan itu masalah besar. Dia nggak suka mahasiswa yang nggak disiplin.”
“Terus hukumannya biasa apa, Kak?”
“Nilai dikurangin. Kalau misalnya nilai kamu A, ya di turunin ke B.”
“Lah? Terus nasib nilai gue yang udah tiga kali ngulang kesalahan gimana, dong, Kak?” tanya Vella dengan mata berkaca-kaca.
“Ehm ... berdoa aja, Vel, moga Pak Frivan masih diberi kemurahan hati.”
Vella mengipasi wajahnya. Udara sejuk tiba-tiba saja berubah gerah. Membayangkan nilai Manajemennya merah di daftar nilai semester pertamanya membuatnya panas. Tangannya membuka tutup botol minuman dan meneguknya dengan kasar.
“Nggak usah stress, Vel. Pak Frivan pasti masih ada hati kok untuk nggak ngasih lo nilai merah,” ujar Agam menenangkan.
Vella tak menjawab. Dia sibuk menetralkan pikirannya yang serasa ingin meledak.
Agam terdiam sejenak sampai akhirnya membuka mulut, ingin menanyakan hal yang dua minggu ini mengganjal hatinya.
“Vel, gue mau mastiin sesuatu,” ucapnya pelan.
“Apaan, Kak?” tanya Vella masih mengipasi wajahnya.
“Tentang pengakuan gue ke lo waktu itu ... lo gimana?”
“Pengakuan apa, Kak? Sorry gue nggak ingat.” Vella berusaha cuek.
“Yang gue suka sama lo.”
Tangan Vella yang sibuk mengipasi wajahnya berhenti. Gadis itu menoleh dengan gerakan patah-patah menatap Agam. “Su-suka?” tanyanya terbata.
“Iya, gue suka sama lo. Waktu itu lo belum sempat balas karena tiba-tiba pusing.”
“Ah ... itu ....”
Tring!
Suara tanda pesan w******p masuk berbunyi dari ponsel Vella. Gadis itu buru-buru mengambil ponselnya berusaha menyembunyikan rasa canggung nya.
Sepertinya Vella harus berterimakasih pada si pengirim pesan karena telah menyelamatkannya dari kewajiban menjawab pengakuan Agam.
[Dosen Diktator☠️: Ke ruangan saya. Sekarang.]
Oke, rasa terima kasih Vella terpaksa untuk pengirim pesan yang satu ini.
===
Vella mengintip ruangan Pak Frivan yang hening. Belum sempat dia melihat semuanya, suara bass dari dosennya menyerang gendang telinganya
“Ngapain kamu pake ngintip segala? Masuk!” tegur Pak Frivan datar.
Vella menggigit bibirnya. Dia berjalan masuk ke dalam dengan wajah menunduk.
“Duduk!” perintah laki-laki itu.
Vella menurut. Laptop yang tadinya menyala kini dimatikan oleh Pak Frivan. Dosen muda itu melipat tangannya di atas meja dan menatap mahasiswinya dengan intens.
“Pertama, teman lambat kumpul. Kedua, teman ceroboh. Kali ini, alasan apa lagi, Novella?” tanya Frivan mengintimidasi.
Vella menunduk tak berani menjawab. Masa iya, dia mau bilang alasannya lambat bangun. Bisa-bisa Pak Frivan tidak memberinya nilai sekalian.
“Novella?”
“Eh, anu ... itu ... Pak. Saya ... la-lam——“
“Anu itu, anu itu! Kamu ini lama banget, sih, jawabnya!”
“Saya lambat bangun, Pak,” ucap Vella akhirnya.
Wajah gadis itu makin tertekuk tak berani menghadapi amarah yang menyala-nyala di mata sang dosen.
“Nah, ini, nih, alasan yang paling umum, tapi paling tidak saya suka. Saya tidak peduli kamu lambat bangun karena apa, tapi saya rasa sudah mengingatkan kamu sebelumnya, kan, agar tidak mengulangi kesalahanmu untuk ketiga kalinya. Sayang sekali, kamu malah mengulanginya.”
“Pak, saya benar-benar minta maaf. Saya janji nggak akan mengulanginya lagi. Ini terakhir kalinya, Pak. Please, Pak, jangan kurangin nilai saya, Pak. Bisa-bisa ortu saya narik saya kembali ke Jogja,” pinta Vella hampir menangis.
“Sebenarnya, nilai kamu tidak dikurangipun tetap rendah juga,” ucap Pak Frivan membuat Vella tertohok. Astaga, kenapa mulut dosennya ini tajam sekali, sih?
“Tapi, karena selama ini kamu sudah bersedia jadi PJ untuk matkul saya. Ini terakhir kalinya saya beri kamu kesempatan. Ini terakhir kalinya,” tekan Pak Frivan, “setelah itu, mungkin kamu harus mengulang semester satu.”
Bagai mendengar sambaran gledek, Vella terhenyak. Mengulang dari semester satu? Papanya benar-benar akan menariknya kembali ke Jogja.
Namun, kesempatan yang diberi dosen diktator itu membuat Vella bersyukur. Dia berdiri dan menunduk di depan Pak Frivan hingga beberapa kali.
“Terima kasih, Pak! Terima kasih! Saya janji tidak akan mengulanginya. Kali ini beneran janji!” ucap Vella menggebu-gebu.
Pak Frivan menggaruk kepalanya lalu mengangguk acuh. “Iya, iya, sama-sama. Sekarang kamu keluar dari ruangan saya,” usirnya sembari membuka laptop.
Vella menunduk sekali lagi dan keluar dari ruangan itu dengan langkah riang. Pak Frivan yang melihatnya hanya diam dan geleng-geleng kepala.
Sesampainya dalam kelas, Vella duduk di kursinya. Dia meletakkan tasnya di sandaran kursi.
“Muka lo kok cerah gitu, Vel? Padahal abis dihukum,” ujar Bian bingung.
“Iya. Nggak kebalik, tuh? Jangan-jangan lo udah stress, ya?” tuding Aldo ngeri.
Vella langsung mendelik pada dua cowok itu. “Enak aja kalau ngomong! Gue masih waras, ya!”
“Terus lo senang karena apa, Vel?” tanya Sheva.
“Gue masih dikasih kesempatan sekali lagi untuk nggak ngulang kesalahan lagi!” ujar Vella excited.
“Hah, syukurlah. Abis tadi kayaknya Pak Frivan nyindir lo, deh. Mahasiswa yang terlambat melebihi sekali terancam dapat nilai paling merah. Merah tua sekalian. Kita sampai khawatir mikirin lo,” ujar Haira lega.
“Hm, beliau masih ngasih kesempatan karena selama ini gue udah jadi PJ matkulnya,” ucap Vella senang.
“Hm, tuhkan ada untungnya juga jadi PJ-nya Dosen Ganteng! Hukuman lo jadi ringan,” ujar Jasmine dengan senyum menggodanya.
Karena senang, Vella mau tak mau tersenyum dan mengangguk.
Yaya yang sedari tadi sibuk dengan notebook-nya berbalik. “Btw, kita senin depan ada kuis, Vel,” ucapnya memberi info lalu kembali sibuk.
“Eh, beneran?”
Semua temannya mengangguk.
“Terus materi yang masuk kuis itu materi hari ini doang, Vel,” ujar Sheva.
Mata Vella melotot lebar. “APA?”