Kesalahan & Imbasnya

1772 Kata
“Vella, lo dipanggil Pak Frivan ke ruangannya! “Vella! Pak Frivan manggil lo!” “Vella, tugasnya dikumpulin ke lo, kan?” “Vel, tugasnya harus di kumpul tepat waktu kata Pak Frivan.” “Vel, lo disuruh Pak Frivan ke ruangannya.” “Vel, flashdisk saya yang waktu itu saya berikan ke kamu mana?” “Novella ....” “Vella ....” “Vel ....” “Arghhh!” The gank menatap Vella yang berteriak dengan mengacak-acak rambutnya. Gadis yang sedari tadi masuk kelas dengan wajah tertekuk itu akhirnya mendongakkan kepalanya. “Buset! Muka lo gitu amat, Vel. Lo abis tempur sama vampir, ya?” sembur Bian langsung. “Njir, emangnya sekarang masih ada vampir, ya?” tanya Aldo. “Bukan masih ada, emang nggak ada, g****k!” Jasmine mengomel. Gadis itu menatap Vella dengan alis bertaut, “Vel, ini masih pagi, muka lo udah kusut duluan, kenapa?” “Iya, ayo cerita,” ucap Haira dan merapikan rambut Vella yang berantakan. “Dari kalian ada yang mau gantiin gue jadi PJ Pak Frivan, gak?” bibir Vella mengerucut kecil. “Loh, emangnya kenapa, Vel? Kapan lagi lo bisa terus-terusan dekat dengan dosen ganteng,” ucap Sheva bertanya-tanya. Vella menatap Yaya yang duduk di depannya. Walaupun diam sedari tadi, gadis itu tetap berbalik ketika Vella berteriak frutasi. “Lo,” tunjuk Vella pada Yaya, “gantiin gue. Lo pinter.” Yaya mengerjap bingung sejenak. “Ribet,” ucap gadis itu. “Emangnya kenapa, sih, Vel?” tanya Jasmine kepo akut. “Gue aja pengen banget di posisi lo. Sering dipanggil sama Pak Frivan. Sering ketemu. Oh, astaga, haluku,” lirihnya penuh harap. “Lo pada nggak tahu, dua minggu kuliah, udah berasa menetap di neraka. Always gerah!” keluh Vella. Gadis itu akhirnya menceritakan semuanya pada teman – temannya. Bagaimana dia berusaha bersabar selama dua minggu ini menjadi PJ Pak Frivan. Hampir setiap hari ada saja yang dikerjakan. Vella merasa dosen itu mendiktator dirinya. Kalau bukan utusan dosen itu yang datang ke kelasnya, dosen itu sendiri yang menghubunginya. Belum lagi setumpuk tanggung jawab yang harus dipegangnya. Dia yang harus mengumpulkan tugas teman – temannya. Menghandel lebih dari lima puluh orang bukan hal yang mudah. Apalagi kalau ada yang keras kepala dan ceroboh dalam mengumpulkan tugas. Dosen berhalangan dia yang harus cari tahu. Pokoknya dia kayak tempat sampah sejak kenal dengan dosen itu. Parahnya lagi, akhir – akhir ini banyak dosen yang meminta Vella agar menjadi PJ mereka juga. Vella takut untuk menolaknya. Hari ini puncak habisnya kesabaran Vella. Sebenarnya dari kemarin – kemarin dia sudah nggak sabaran. Dia bahkan tak menyangka bisa menahannya selama dua minggu. “Masa iya, Pak Frivan gitu, sih? Kalau ngajar beliau baik, kok,” komentar Jasmine setelah Vella bercerita dari A sampai Z. “Ho’oh.” Aldo ikut – ikutan setuju. “Haduh, lo semua nggak alami apa yang gue alami, sih, makanya gampang ngomong gitu. Nih, buktinya muka gue udah kayak abis tempur dengan vampir. Bener kan, Bi?” Vella malah minta pembelaan ke Bian. Cowok itu buru – buru mengangguk. Dia takut Vella malah jadi vampir beneran dan menyerangnya jika dia tidak membela gadis itu. “Lo, sih, selama ini diam – diam aja jadi kita nggak tahu, Vel,” ujar Sheva akhirnya. “Ya, kadang gue mau cerita sama kalian. Tapi, tiap mau ngerumpi bareng kalian, pasti ada aja yang halangin.” “Gue belum bisa percaya kalau nggak gue rasain sendiri,” gumam Jasmine menatap langit – langit kelas. Dia termasuk lambe HU yang berada di garis keras penggemar Frivan Xavier Putra. Gadis berwajah imut itu tentu saja tak langsung terima ketika tahu idolanya dijelek-jelekkan oleh temannya sendiri. “Lo coba, gih, jadi PJ-nya! Sekalian gantiin gue! Itung – itung lo latihan tinggal di neraka,” gerutu Vella. “Yah, lo nggak tahu aja si dosen punya niat terselubung,” gumam Yaya lalu berbalik dan menulis sesuatu di notebook-nya. “Apa? Tadi lo ngomong apa, Ya? Gue dengernya nggak jelas,” tanya Vella menoel-noel pundak Yaya. “Ntar lo tahu, kok,” ucap gadis itu cuek. Vella menjauhkan tangannya dan menggaruk kepalanya bingung. Dia bertatapan dengan teman-temannya yang lain. “Kalian denger, si Yaya ngomong apa tadi?” tanya Vella. Semuanya menggeleng kecuali Haira. “Gue juga dengernya nggak terlalu jelas, tapi gue sempat tangkap dia bilang terselubung?” ucap Haira ragu. Mereka semua menatap Haira dalam diam. Melihat itu Haira mendengus jengah dan mengibaskan tangannya. “Udahlah nggak usah bahas yang itu. Orangnya aja kalem.” Vella kembali mengeluh. Gadis itu menopang dagunya. “Gue ngundurin diri kali, ya? Biar Jasmine aja yang gantiin gue,” ujar Vella menatap punggung Yaya. “Nggak!” tolak Jasmine spontan. Pakai nada tinggi pula. “Loh, kenapa? Tadi kan kukuh banget bilang beruntung jadi PJ-nya Pak Frivan,” cibir Aldo. “Setelah gue pikir-pikir, kayaknya gue nggak cocok jadi PJ,” dalih Jasmine cengar-cengir. “Lanjutin aja, Vel. Lo udah cocok, kok.” Vella menatap gadis itu malas dan mengalihkan tatapannya. Dua minggu saja dia sudah kehilangan sabar. Terus nasibnya selama satu semester ini bagaimanaaa? Masih bagus kalau dosen diktator itu tidak mengajar di kelasnya lagi saat masuk semester dua. Lah, kalau masih? “Kayaknya gue emang beneran lagi training tinggal di neraka,” gumam Vella. “Siapa yang mau training di neraka?” Vella dan the gank sontak membulatkan mata. Mereka semua menoleh ke arah meja di samping Yaya. Heh! Sejak kapan dosen itu ada di sana? “Vella, Pak,” jawab Haira. Beberapa detik kemudian, gadis itu menutup mulutnya. “Apaan, sih, lo?” tanya Vella dengan nada tertahan. “Oh, memangnya kamu sudah yakin bakal masuk neraka nantinya, Novella?” Vella tertawa pelan dan mengibaskan tangannya. “Hah, nggaklah, Pak. Siapa juga yang mau masuk neraka.” “Kamu. Haira yang bilang,” sahut Pak Frivan. Vella dan the gank langsung memalingkan wajah dengan canggung. Yaya yang duduk di depan tak termasuk. “Hah, lupakan soal neraka,” desah Pak Frivan lalu mengeluarkan flashdisk dari kantong kemejanya. “Kelas saya nanti ada di jam terakhir, kan?” Semuanya lantas mengangguk “Vella, nanti kalau sudah masuk jam saya, tolong berikan tugas ini pada teman – temanmu, ya. Saya ada rapat jam satu nanti jadi tidak sempat masuk. Untuk pengumpulannya saat pertemuan selanjutnya. Saya masuk kelas hari apa?” “Senin dan Rabu, Pak.” “Oh, jadi kumpulnya hari Rabu. Saya beri waktu dua hari untuk mengerjakan tugasnya,” tandas Pak Frivan lalu memberi flashdisk itu pada Vella. “Siap, Pak,” ucap Vella patuh dan menerima flashdisk itu dari tangan Pak Frivan. “Terima kasih, ya, Novella,” ucap Pak Frivan mengulas senyum datar. Laki – laki berkulit putih pucat itu berbalik hendak keluar kelas. Namun, sebelum sampai di pintu, Pak Frivan berbalik lagi dan menatap Vella dengan sorot tajam. “Jam 8 pagi, tugas kelas A sudah harus ada di meja saya. Semuanya. Ingat, ya, Novella. Jangan mengulangi kesalahanmu untuk ketiga kalinya,” ujar dosen itu tersenyum datar dan berjalan keluar. Vella dan the gank langsung bernapas lega. Deru napas mereka bahkan didengar seisi kelas. Namun, mahasiswa yang lain sudah menganggap biasa hal itu. “Tuhkan, nitip tugas lagi. Free sehari apa salahnya, sih? Kalian lihat nggak tadi senyumnya? Nggak ikhlas banget, kan?” kesal Vella sembari mengambil laptopnya dari dalam tas. Dia menyalakan benda itu dan memasukkan flashdisk yang diberi Pak Frivan. “Do, nyalain proyektornya, gih,” suruh Vella. Tangannya menyentuh touchpad, menggerakkan kursor untuk membuka file tugas. “Vel, tapi kan belum waktunya masuk. Masih ada tiga puluh menit,” cetus Aldo. “Nurut aja apa susahnya, sih? Gue pusing ini! Turutin apa kata gue. Di sini gue yang jadi PJ!” bentak Vella. Aldo terlonjak kaget. Cowok itu mengusap dadanya. Jasmine dan Bian berdecak kasihan. “Turutin aja, Do, biar lo nggak mau kaget gara-gara kesembur air panas,” ucap Bian dengan wajah dibuat simpatik. === “Non Vella? Bangun, Non. Hari ini masuk kuliah, kan? Non?” Suara Ani samar-samar terdengar disusul dengan ketukan pintu kamar. Perlahan mimpi Vella tentang pemuda masalalunya membuyar. Gadis itu mengucek matanya dan perlahan membukanya. Tangannya mengambil ponselnya yang tergeletak di nakas. Dia menyalakan ponselnya sembari menguap lebar. 07.28 Mata Vella langsung melotot lebar. Gadis itu menatap jendelanya. Matahari sudah sangat terang. “Jam 8 pagi, tugas kelas A sudah harus ada di meja saya. Semuanya. Ingat, ya, Novella. Jangan mengulangi kesalahanmu untuk ketiga kalinya.” Suara Pak Frivan menggema di pikiran Vella. Astaga, setengah jam lagi! Vella menyingkirkan selimut yang menutupi tubuhnya dan melompat turun. Dia membuka pintu kamar dan menatap Ani dengan gemas. “Kenapa nggak bangunin gue dari tadi, sih, Ni?” “Lah, dari tadi saya bolak-balik bangunin Non Vella, tapi nggak ada jawaban,” balas Ani membela diri. Vella memekik frustasi dan menutup kembali pintu kamarnya. Menyesal sudah dia marathon baca novel sampai jam setengah tiga subuh! === Vella berlari menaiki tangga. Dia tak memperdulikan gerutuan mahasiswa lain yang ditabraknya. Jam tangannya sudah menunjukkan pukul 08.05. Gadis itu terengah-engah masuk dalam kelas. Seisi kelas yang sudah rapi di tempat duduk masing – masing menatap Vella. Semua tugas sudah tertumpuk rapi di meja dosen. Vella membuka tasnya terburu-buru dan mengumpulkan tugasnya. Matanya menatap seisi kelas. “Ada yang belum kumpul lagi?” “Udah lengkap, Vel!” teriak Cory. “Kali ini, lo nggak ada alasan lagi buat ngamuk. Lo sendiri, ‘kan yang terlambat,” sambung gadis itu cengar-cengir. “Bodo amat!” teriak Vella lalu membawa tumpukan tugas itu menuju ruangan Pak Frivan. Kesalahan pertamanya terlambat mengumpulkan tugas gara-gara Cory lupa membawa tugasnya dan terpaksa mem-print ulang karena rumahnya sangat jauh. Kesalahan dua gegara Aldo yang ceroboh menabrak Vella saat hendak membawa tugas-tugas kelas A. Alhasil, semua kertas melayang dan terhambur ke lantai. Menghabiskan waktu yang cukup lama untuk mengumpulkannya. Kini, kesalahan ketiga karena dirinya sendiri. Vella jadi tak punya alasan untuk mengamuk pada teman sekelasnya. “Haduh, semoga Pak Frivan belum datang,” gumam gadis itu menatap jam tangannya yang menunjukkan pukul 08.09 Sepertinya doa Vella tak terkabulkan. Karena dari arah berlawanan sudah muncul Pak Frivan dengan setelan biru tua dan tasnya. Vella menahan napas dan berhenti melangkah. “O'ow, kesalahan ketiga,” decak Pak Frivan. “Pak, saya minta maaf,” ucap Vella dengan nada memelas. “Kali ini apalagi alasanmu?” “Saya——“ Vella tak melanjutkan ucapannya. Dia tak mungkin bilang kalau tadi malam begadang sampai subuh gara-gara novel. “Sudah, sudah, tidak usah cari alasan lagi. Kamu buang-buang waktu saya. Seharusnya saya sudah berada dalam kelasmu sepuluh menit yang lalu untuk membahas tugas ini.” “Maaf, Pak,” cicit Vello menggigit bibirnya. “Sudah sana bawa tugas-tugas itu ke ruangan saya. Jangan lupa tutup pintunya kembali kalau keluar,” suruh laki-laki itu lalu meneruskan langkahnya. Vella menghela napas lega. Dia berlari kecil menuju ruangan Pak Frivan. Meletakkan tumpukan tugas itu di meja lalu keluar dan berlari kembali ke kelas setelah menutup pintu. Namun, setibanya di depan kelas. Vella terhenyak. Pintu kelasnya tertutup rapat. Ketika dia mencoba membukanya, tidak bisa karena dikunci dari dalam. Samar-samar terdengar suara Pak Frivan memaparkan materi dari dalam kelas. “Pak, bukain pintunya, dong! Saya juga mau ikut belajar! Pak!” teriak Vella dari luar. Tak ada reaksi apa pun dari dalam. Vella akhirnya pasrah dan bersandar di dinding dengan wajah tertekuk. Dia sudah bela-belain mandi kerbau, pakai pakaian asal dan tak memperhatikan wajahnya demi mengejar waktu dan ujung-ujungnya malah tidak diijinkan masuk kelas. Oh, Tuhan, Papa, Mama, Kak Varda, siapa aja! Tolong tambahin stok kesabaran Vella!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN