Selama jam matkul Manajemen, jantung Vella nyaris tak pernah berdetak secara normal. Gadis itu sampai – sampai sering memegang dadanya berharap itu menyembunyikan degup jantungnya. Padahal kalau saja dia tak terlalu takut, sebenarnya tak ada seorang pun yang mendengar degup jantungnya.
Sejak bertemu mata dengan sang dosen, Vella menjadi tak nyaman di tempat duduknya. Walaupun sang dosen hanya memelototinya sejenak lalu beralih memperkenalkan diri sebagai Frivan Xavier Putra, tetap saja membuat Vella takut. Masalahnya, pas ospek dia malah menuding dosen itu sebagai seniornya, astaga!
Bodoh, bodoh, bodoh! Vella merutuki dirinya sendiri dalam hati.
Dosen itu pasti masih mengingatnya. Kenapa Vella juga harus mengira beliau senior, sih? Seharusnya Vella sudah tahu itu ketika melihat gaya berpakaiannya yang formal.
“Pertemuan hari ini saya akhiri. Sampai ketemu di pertemuan berikutnya,” ucap Pak Frivan menutup kelas.
Seisi kelas mendesah lega. Pertemuan kali ini masih termasuk ringan. Hanya perkenalan dan dasar-dasar tentang materi yang akan dipelajari nantinya. Tak seperti Bu Lestari yang mengajar Akuntansi, beliau langsung menghantam otak kelas A di hari pertama dengan materi yang cukup untuk membuat kepala nyut-nyutan.
“Novella Clarine Starillo?” panggil Pak Frivan menatap lembar absen.
Kelas langsung hening. Semua mata mengarah pada Vella yang sudah pucat. Tuh kan! Kenapa Vella kena masalah mulu sejak masuk di Hope University, sih?
“I-iya, Pak?” sahut Vella gugup.
Pak Frivan mendongak menatap gadis itu dengan tatapan datar. “Ikut saya ke ruangan,” ujar dosen itu lalu mengemas semua barang-barang yang berserakan di meja ke dalam tasnya.
Tanpa berkata apa-apa lagi, dosen muda itu melangkah keluar kelas.
“Woi, Vel, buruan sana!” Sheva menyadarkan Vella.
Vella lantas menatapnya bingung lalu seketika panik. Dia mengguncang pundak Haira dengan panik.
“Ra, gue kudu gimana? Pasti Pak Frivan masih ingat pas gue ngira dia itu mahasiswa!”
Haira hanya menatap Vella dengan wajah santai. “Stay calm aja, Vel. Nggak usah takut. Kalau kena marah, diem aja. Kalau minta jalan bareng, terima!”
Vella melotot kesal pada gadis berambut ikal itu. Bukannya menghibur, malah memberikan ungkapan absurd yang bikin jengkel. Dia segera membereskan barang-barangnya ke dalam tas.
“Nggak usah takut gitulah, Vel. Lumayan, ‘kan, bisa berduaan dengan Pak Frivan,” celetuk Mimi menaikkan alisnya dengan kilatan jahil.
“Lumayan katamu! Ini gue berasa on the way hell!”
Vella berjalan keluar kelas. Dia menatap kanan kiri dengan bingung ketika sampai di depan pintu kelas.
“Pak Frivan tadi ke arah mana, ya?” gumamnya bingung.
Gadis itu menggigiti kuku jempolnya pertanda lagi gugup.
“Vel, kanan!” teriak Aldo dan Bian dari dalam kelas.
Vella berbalik dan mengumpat pelan. Bagaimana tidak? Teman-temannya di sana dengan santainya memberi kiss bye untuknya.
“Awas lo semua! Gue sumpahin kena masalah sama Pak Frivan!” kesalnya lalu berbelok ke arah kanan.
Vella berjalan terus dan sampai di pertigaan koridor. Dia melompat kaget ketika melihat Pak Frivan bersandar di dinding koridor yang mengarah ke kanan.
“Astaga, Bapak ngagetin saya,” gumam Vella mengusap dadanya.
“Sama, saya juga kaget pas kamu injek kaki saya dan panggil saya ‘Kak',” ucap Pak Frivan datar lalu melanjutkan langkah menuju ruangannya.
Vella meringis kecil dan mengekori dosennya itu. Dia menatap punggung kokoh sang dosen dari belakang.
“Saya minta maaf, Pak. Waktu itu saya bener-bener nggak tahu kalau Bapak itu ... dosen.” Ucapan Vella mengecil di akhir kalimat.
Pak Frivan tak menjawabnya. Mereka berjalan melewati beberapa koridor dan akhirnya sampai di sebuah ruangan berdinding abu-abu. Vella mengamati ruangan itu dengan seksama ketika masuk.
Udara sejuk dari AC segera menyapa indra penciuman Vella. Tirai yang berwarna hitam membuat ruangan ini terkesan elegan. Vella mengamati Pak Frivan yang menaruh tasnya di meja yang memuat sebuah laptop dan beberapa berkas dalam map. Dosen itu melepas jasnya, menyampirkannya ke sandaran kursi dan duduk.
“Ngapain kamu berdiri di situ. Ayo duduk,” perintah Pak Frivan.
Vella berjalan pelan menuju kursi di depan dosennya itu dan duduk di sana. Kini, mereka hanya dibatasi meja yang lebarnya hanya semeter. Vella mengamati wajah dosennya itu beberapa saat. Tampangnya memang lumayan untuk ukuran dosen muda.
Melihat dosennya hanya diam menatapnya, Vella berinisiatif membuka percakapan lebih dulu.
“Pak, saya minta maaf kalau emang salah——“
“Saya sudah sediakan sanksi untuk kamu,” potong Pak Frivan datar.
Mata Vella mengerjap bingung. “Sa-sanksi?”
Pak Frivan mengendikkan bahunya acuh dan memutar-mutar kursinya. “Untuk ukuran maba, kesalahan kamu sudah cukup parah. Satu, injek kaki saya. Dua, panggil saya dengan sebutan ‘Kak'. Ketiga, minta tanda tangan saya di lembar yang seharusnya diisi oleh mahasiswa,” dosen itu menjeda sejenak lalu menggeleng kecil. Bibirnya mendecak pelan. “Kamu ini benar-benar tidak ada sopan santun, ya.”
“Bukannya nggak punya sopan santun, Pak. Saya emang bener-bener nggak tahu kalau waktu itu Bapak dosen!” bantah Vella membela diri.
“Kesalahan kamu bertambah satu. Bicara sama saya pakai nada tinggi. Mentang – mentang saya masih muda, kamu seenaknya bicara seperti itu sama saya,” komentar Pak Frivan.
Vella menghela napas jengah. “Iya, Pak, saya salah aja kalau gitu, deh. Bapak mau ngasih hukuman apa buat saya? Saya bakal ngerjain,” ucap Vella pasrah. Dia tidak mau, ya, awal semester nilainya sudah terancam anjlok.
“Oh, hukumannya cukup mudah, Novella. Kamu jadi Penanggung Jawab untuk matkul saya di kelasmu, ya,” ucap Pak Frivan tersenyum kecil.
Vella menganga kebingungan. “Pe-penaggung jawab?” tanya Vella pucat pasi.
Kini sebuah gambaran terlintas di pikirannya. Dia yang berjalan bolak-balik dari kelas ke ruangan ini untuk bertemu sang dosen. Lalu saat sedang asyik bercengkerama dengan temannya, mahasiswa lain datang memanggilnya agar ke ruangan Pak Frivan. Dia duduk di dalam ruangan ini sembari mengerjakan setumpuk tugas. Lalu ....
“Tidak!” ucap Vella nyaris memekik.
Pak Frivan langsung mengerutkan keningnya. “Ada apa? Kamu keberatan?”
“Bukannya gitu, Pak. Tapi, kan, di sini saya sebenarnya mau terima hukuman, kenapa malah di kasih tanggung jawab yang begitu, sih, Pak?” protesnya.
Dia kira akan diberi setumpuk tugas untuk dikerjakan. Hal seperti itu akan diterima Vella. Tapi jadi PJ? Membayangkan bertukar pesan dan sering bertemu dengan dosennyang bermasalah dengannya membuat Vella pusing.
Pak Frivan langsung terkekeh-kekeh. “Oh, menurut saya itu masuk kategori hukuman.”
“Pak, hukuman lain aja, deh, asalkan bukan yang itu,” ointa Vella dengan nada memohon.
“Hukuman lain?” Pak Frivan berpikir sejenak. “Bagaimana kalau nilai D?” sambungnya dengan senyum manis.
Vella melotot lebar. “Baik, Pak! Saya setuju jadi PJ untuk matkul Bapak,” ucapnya cepat.
“Bagus. Berikan nomor w******p kamu.” Pak Frivan mengulurkan ponsel bermereknya di depan wajah Vella.
Gadis itu menerimanya dengan wajah masam. Sebelum menyimpan nomornya di ponsel itu, dia mendongak lagi. “Bapak nggak ada niat untuk berubah pikiran——“
“Ada, nilai D gantinya, ya.”
Vella meneguk rasa kesalnya. Dia menyimpan nomornya ke dalam ponsel Pak Frivan lalu mengembalikan dengan segera.
“Novella,” gumam Pak Frivan, “namamu bagus.”
“Terima kasih atas pujiannya, Pak.”
“Sama- sama. Silakan keluar dari ruangan saya sekarang. Saya sibuk,” usirnya lalu membuka laptopnya.
Vella melotot lebar. Astaga, siapa di sini yang sebenarnya tidak punya sopan santun? Gadis itu berdiri dari kursinya dengan gerakan kasar hingga menarik perhatian dosennya.
Bodo amat tentang masa depannya di kampus ini! Sepertinya, dosen itu sendiri yang cari gara – gara dengannya.
Vella keluar dari ruangan itu dengan langkah lebar – lebar. Pak Frivan menatapnya dengan gelengan kepala lalu mengembalikan atensinya pada laptop hitam di mejanya.
===
“Kok, dosen itu rada ngeselin, ya? Dia yang minta ke ruangannya, pas disuruh keluar nggak ada sopan santun banget! Pret!” umpat Vella ketika berjalan menuju kelasnya.
“Biar pun dia dosen, tapi seharusnya dia yang jadi panutan mahasiswa, dong!” gerutunya lagi.
“Tampan, sih, tapi kalau sikapnya gitu gue juga tadi ilfeel, ih!”
“Mana gue jadi PJ-nya lagi!”
Gadis itu berjalan sembari menunduk. Ketika berbelok, dia tak sengaja menabrak seseorang hingga orang itu hampir saja terjungkal. Vella dengan sigap menahan bahu orang itu.
“Lo?” Vella spontan melepas bahu orang itu ketika melihat wajahnya. “Mata Sipit?”
“Lo!” raung Xiani ketika dia hampir jatuh ke belakang. “Gadis Tas!” balasnya.
Vella memutar bola matanya. Dia masih gusar karena sang dosen dan sekarang Mata Sipit ada di depannya dengan wajah khas senioritas.
“Mata lo di mana, sih? Jalan, kok, malah nunduk! Untung aja gue nggak jatoh!” omel Xiani.
“Ya karena gue nunduk makanya nggak lihat jalan! Lo juga nggak ngehindar, sih!” balas Vella tak mau kalah.
“Wah,” Xiani mendengus tak percaya, “lo nggak punya sopan santun, ya?”
Vella menggigit bibir dalamnya menahan jengkel. Hari ini sudah ada dua orang yang mengatainya tidak punya sopan santun.
“Kak, gue lagi nggak mood buat perang lidah sama lo. Gue minta maaf aja,” ujar Vella pasrah.
Mata Xiani berkilat tak terima. Ketika Vella beranjak melewatinya, gadis itu menahan lengan Vella.
“Mumpung kita ketemu di sini, ada yang pengen gue omongin sama lo,” ujar Xiani dan menarik Vella kembali ke depannya.
“Jauhin Agam kalau lo nggak mau kena masalah.” Xiani menatap Vella dengan mimik serius.
Mereka saling pandang beberapa saat sampai Vella memutuskan kontak mata lebih dulu. Gadis itu menghempas tangan Xiani dari lengannya dan mendengus jengah. “Gue sebenarnya punya sopan santun dan gue nggak pernah ada niat deketin Kak Agam. Jadi, jangan tuduh seenaknya seolah gue yang kecentilan di sini. Kenyataanya, Kak Agam yang sering datang nyamperin gue. Jadi, lo tanya sana sama dia ngapain deketin gue. Dan satu lagi, suruh jauh – jauh dari gue kalau lo nggak suka. Jangan libatkan gue dalam masalah kalian.”
“Lo!” geram Xiani mengacungkan jarinya pada Vella.
“Eh, kalian berdua ngapain di sini?” tanya Agam muncul dari arah belakang Xiani.
Gadis itu melotot kecil dan berdehem pelan. Dia berbalik dan memberi senyum manis pada Agam. “Lo kenapa ada di sini, Gam?”
“Oh itu, tadi gue dari perpustakaan. Kalian berdua ngapain?”
“Ah, gue sama Vella tadi kebetulan ketemu doang. Iya kan, Vel?” tanya Xiani menekankan.
Mood Vella sedang buruk namun akal sehatnya masih berjalan dan mengingatkan dia agar tak memperburuk keadaan. Gadis itu akhirnya mengangguk dan memberi seulas senyum paksa.
“Kak Agam, Kak Xiani, gue duluan, ya, bentar lagi kelas mulai,” pamitnya lalu segera berjalan menjauh.
“Eh, bukannya hari ini udah nggak ada kelas untuk semester satu?” tanya Agam bingung.
Xiani menatap punggung Vella yang makin menjauh dan mengedik tak acuh. “Mungkin khusus untuk kelasnya ada tambahan. Hari ini lo udah nggak ada kelas, kan?”
“Hm, iya.”
“Gue nebeng pulang, ya?” pinta Xiani.
Agam menunduk menatap gadis yang lebih pendek darinya itu. “Oke. Ayo pulang.”