The gank & Dosen

1754 Kata
Vella and the gank beramai-ramai menuju kantin untuk mengisi perut mereka. Setelah mengenyangkan otak dengan materi akuntansi dari Bu Lestari —padahal ini baru hari pertama —giliran perut mereka yang harus diisi. Novella dan keenam temannya duduk di meja paling sudut. Mereka semua satu selera. Lebih suka mojok kalau pengen makan. “Kalian pada mau makan apa? Gue yang pesenin,” tawar Jasmine berbaik hati. “Dibayarin juga, ‘kan?” tanya Aldo semangat Jasmine langsung melempar tatapan jijik, “Bayar sendiri, lah! Bangkrut gue kalau traktir manusia perut karet kayak lo!” “Ya udah, deh. Aldo yang tampan dan suka menabung ini bakal bayar sendiri, kok.” Jasmine dan yang lainnya langsung melempar wajah dan memperagakan gerakan ingin muntah. “Hadeh! Kayaknya gue udah tahu , nih, siapa yang bakal sering dianiaya dalam gank kita!” celetuk Bian. “Siapa?” tanya Aldo. “Lo, lah!” “Nanti abis kuliah, gue tendang barang-barang lo dari kamar kos,” ancam Aldo. Nyali Bian langsung ciut, “oke, nggak ada yang dianiaya.” Para cewek tertawa pelan melihat kekonyolan dua teman lelaki mereka. Mereka cocok jadi pelawak. Biar ada yang menghibur kalau lagi senggang. “Ya udah, kalian mau pesen apa, nih? Kalau gue mie bakso,” ucap Jasmine. “Mie bakso juga,” sahut Vella. “Gue juga, deh,” ucap Haira ikut-ikutan “Gue juga,” tambah Sheva. “Juga,” imbuh Yaya. “Kita berdua nasi goreng.” Kalau yang ini, Aldo yang berucap. Bian menyetujuinya. Mereka punya selera makanan yang sama. “Oke, lima mie bakso dan dua nasi goreng!” seru Jasmine. Dia berbalik menuju stan makanan. “Woi, Jas!” teriak Aldo ketika Jasmine sudah tiga langkah dari mereka. “Apaan, sih?” “Lo udah cocok jadi waitress,” puji Aldo sembari nyengir kuda. Jasmine melotot kesal, “Pesen sendiri makanan lo!” ketusnya lalu berbalik pergi. Bian terbahak di tempatnya, “rasain lo! Siapa suruh, hobi banget bikin orang kesel!” “Gue yakin, kok, si Jas bakal tetep bawain pesanan gue,” ucap Aldo optimis. “Hidih! In your dream, Bang!” teriak Bian dekat telinga Aldo. Aldo meringis pelan dan menusap kupingnya, “Fix, gue bakal tendang semua barang lo dari kost nanti!” Wajah Bian langsung pias. Aldo adalah teman kamar kost yang the best menurut Bian. Dia tidak mau pisah kost dengan cowok yang dibujuk sekali langsung mau. “Ah, kalian berdua bertengkar mulu! By the why, Do. Gue perhatiin, dari sejak ospek, Jasmine mulu yang lo usilin?” tanya Sheva. “Gue sama yang lainnya enggak, tuh,” ucapnya dengan nada curiga. Aldo mencondongkan wajahnya pada Sheva, “Lo mau gue gangguin juga, hm?” Sheva menatap cowok itu dengan horor. Telunjuknya menoyor kepala Aldo jauh-jauh dari mukanya, “Najis! Ya, enggaklah! Gue nanya gitu karena biasanya para cowok kalau cari perhatian sama cewek yang disukainya, ya gitu, suka diusilin, dibuat kesal, biar ceweknya ngasih perhatian!” cerocos Sheva. “Beneran, tuh, Do?” tanya Vella. “Ya, enggaklah! Ngapain gue suka sama cewek manja itu. Gue suka ganggu dia karena dia, tuh, emang sasaran empuk dibikin kesal, tahu!” elak Aldo. “Lo bohong, ah!” tuduh Yaya. Aldo melotot ke arah cewek itu, “Cewek pendiem mending diem aja!” Ekspresi Yaya datar. Tangan cewek itu meraba garpu di meja dan mengambilnya sembari menatap Aldo. “Lo ngapain lihat-lihat gue sambil pegang garpu gitu?” tanya Aldo ngeri. “Nggak apa-apa. Cuma lagi bayangin aja mata lo gue colok pakai garpu ini.” “Astaga! Percobaan pembunuhan namanya itu! Ya Allah, kok gue bisa temenan sama cewek psikopat,” raung Aldo beringsut jauh. Vella, Haira dan Sheva terbahak melihat wajah ketakutan Aldo. Mereka bisa melihat Yaya sedang menahan tawa. Vella jadi lega, setidaknya setelah beberapa hari melihat wajah Yaya tanpa ekspresi, dia bisa melihat ekspresi lain dari temannya itu. ‘Kan terlalu seram juga kalau ekspresi Yaya begitu-begitu saja. “Nih, pesanan kalian.” Jasmine datang membawa nampan besar berisi pesanan-pesanan mereka. Pesanan nasi goreng Aldo juga ada. Cowok itu selamat untuk kali ini. “Woah! Thank’s, ya, Jas!” ucap teman-temannya serempak “Aduh, bisa nggak, sih, kalian jangan panggil gue kayak begitu. Nama panggilan gue Mimi. M-I-M-I.” Jasmine mengeja nama panggilannya. “Bodo amat, Mimi! Gue udah laper banget. Serbu makanannya!” seru Bian “Serbuuu!” seru yang lainnya. === Sepuluh menit berlalu. Ketujuh mahasiswa yang duduk di meja bagian sudut kantin kini telah mendamaikan isi perut mereka. Aldo dan Bian bergantian mengeluarkan sendawa membuat Yaya yang duduk di samping mereka serta tiga cewek yang duduk berhadapan dengan mereka menatap jijik. “Ih, jorok lo berdua!” sungut Haira. “Thank’s, Ra,” ucap Bian. Para cewek mengernyit heran. Bukannya marah karena dikatai jorok, malah berterimakasih. Apakah efek kekenyangan membuat dua cowok itu kehilangan waras untuk sementara? “Habis istirahat ini, ada kelas apa?” tanya Sheva. “Manajemen.” Aldo menyahut. “Beneran?” Jasmine memastikan. Aldo mengangguk sembari mengelus-elus perutnya. “Eh, sini, deh! Ayo, merapat!” Jasmine mencondongkan wajahnya ke tengah-tengah. Teman-temannya yang lain menanggapi dengan serius lalu ikut mencondongkan kepala mereka ke depan. Sekarang, mereka terlihat seperti komplotan yang sedang merencanakan sesuatu. “Pasti lo dapet info gosip lagi, ye, ‘kan?” bisik Sheva. “Bukan, ih! Ini real! Iya, sih, gue dapet infonya dari grup lambe Hope. Tapi, kenyataannya emang ada, kok!” tegas Jasmine dengan raut wajah serius. “Emangnya apaan, sih?” tanya Novella gelisah. “Jadi, gini——“ “Cepetan ngomongnya! Yang lain udah pada merhatiin kita, tuh!” potong Haira. “Iya, ini udah mau ngomong, tapi lo potong!” kesal Jasmine. “Jadi, gini. Katanya, dosen Manajemen kita itu orangnya masih muda, masih bujangan, loh!” bisiknya antusias. “Ya, terus? Gak ngerti gue.” Aldo bersuara. “Sama, gue juga nggak ngerti,” tambah Bian. “Ah, otak lo berdua emang loading!” cela Jasmine. “Ya, kalau kita diajarin dosen muda yang wajahnya berkelas ditambah beliau masih jomblo, gimana? Lumayan, buat cuci mata.” Jasmine menaik-turunkan alisnya. Bian dan Aldo langsung mundur, “k*****t! Gue kira apaan, dah!” sembur Aldo. “Udah serius juga dengernya,” sungut Bian. Para cewek-cewek lanjut menceritakan itu, kecuali Yaya yang perlahan-lahan duduk tegak. Cewek pendiam itu sepertinya tak tertarik dengan pembahasan itu. “Beneran? Namanya siapa?” tanya Haira antusias. “Denger-denger namanya Pak Frivan,” jawab Jasmine. “Ada ‘Pak’-nya juga?” tanya Vella polos. Ketiga temannya menatapnya dengan wajah heran. “Ya, itu ‘kan karena dia dosen makanya ada ‘Pak’-nya, Vel. Lah, yang begituan ditanyain juga,” ejek Haira. Vella mencebikkan bibirnya. Apa salahnya bertanya? Siapa tahu aja nama depan dosen mereka itu memang ‘Pak’. “Bagus, dong, kalau gitu. Sekali dayung, dua pulau terlampaui. Satu mata kuliah, dapat dua keuntungan. Dapat ngerti materi dan puas ngelihat yang bening-bening.” Sheva tersenyum geli. Vella, Haira dan Jasmine cekikikan. Mereka kini membayangkan tengah diajari oleh dosen muda yang super tampan. “Kalian kenapa cekikikan?” Jasmine mengibaskan tangannya cuek, “laki-laki nggak usah ikut campur, hush, sana!” usirnya tak peduli. Gadis itu kembali ngerumpi dengan Vella dan lainnya. “Woi, psst! Balik lo!” tegur Aldo menepuk pundak Jasmine. “Ah! Apaan, sih, lo ....” Suara Jasmine menghilang ketika dia berbalik. Mulutnya yang masih menganga langsung ditutup oleh Aldo. “Makanya, Dek, kalau ngerumpi itu jangan keasyikan,” saran Aldo. Vella, Haira dan Sheva ikut berbalik. Mereka bertiga sama kagetnya dengan Jasmine. Di samping meja mereka, sudah berdiri Agam dengan dua tangan yang dimasukkan ke dalam saku celana. Kating mereka itu menampakkan raut wajah geli. Jadi, suara lelaki yang bertanya pada mereka itu bukan Aldo ataupun Bian, melainkan Agam. Satu lagi yang perlu dicatat oleh Vella. Dia ketahuan asyik ngerumpi bersama teman-temannya oleh Agam, senior mereka. “Sorry, Kak. Kita nggak tahu kalau kak Agam ada di sini,” ucap Jasmine meringis. “Itulah karma untuk orang yang suka bergosip.” Bian bersabda. “Wahai orang berdosa, nggak usah sok-sok-an bahas karma. Lo aja masih sering cari gara-gara sama orang lain,” sindir Aldo. Agam tertawa pelan, “sudah, sudah. Gue ke sini cuma mau nyari Vella, kok.” Sheva dan Jasmine langsung menyenggol Vella. “Eh? Gue, Kak?” “Iya, ayo,” ajak Agam lalu menarik Vella berdiri. Mereka berdua spontan jadi perhatian seisi kantin. Tak terkecuali, Xiani dan teman-temannya yang duduk di bagian lain. “Eh, itu bukannya cewek yang nyari masalah sama lo pas ospek, Ci?” tanya Viola. Xiani menatap Agam dan Novella yang berjalan menuju pintu keluar kantin. Matanya terpaku pada genggaman Agam pada pergelangan tangan Novella. Tanpa sadar, gadis itu memegang erat garpu di tangannya. === “Kok kita ke sini, Kak?” tanya Vella ketika mereka tiba di taman kampus yang agak sepi. Hanya ada beberapa orang yang duduk di bawah pohon sembari membaca buku. “Ada yang mau gue omongin sama lo, Vel.” Vella berpikir sejenak. “Apa, tuh, Kak?” “Tapi lo jangan kaget, ya. Apalagi ngejauhin gue pas udah bilang ini.” “Iya, Kak. Nggak bakal, kok.” “Jadi ... gue sebenarnya suka sama lo,” terang Agam. Mata Vella membulat. Tapi, wajahnya tak terkesan kaget, malah terlihat kebingungan. “Maksudnya, Kak?” “Yaa ... gue suka sama lo. Tapi, lo nggak usah khawatir. Gue cuma mau ngakuin perasaan gue doang, nggak nembak lo, kok. Kita baru aja kenal ....” Suara Agam perlahan menghilang. Kepala Vella kini terasa berat. Suara pemuda dari kilas baliknya terngiang-ngiang di kepalanya membuat tubuhnya oleng. Agam sigap menahan tubuhnya agar tak jatuh ke tanah. “Hei! Are you okay, Vel?” tanya Agam panik. Vella mengedipkan matanya beberapa kali, berusaha menyingkirkan bintik-bintik kekuningan dari penglihatannya. Dia mendongak menatap Agam yang terlihat cemas. “Gue bawa lo ke poliklinik, ya?” “Eh, nggak usah, Kak. Gue nggak apa-apa, kok.” “Tapi, muka lo kelihatan pucat, Vel,” cemas Agam. “Nggak apa-apa, kok, Kak. Beneran. Bentar lagi, aku masuk kelas. Kak Agam bisa anterin aku ke kelas, gak?” pinta Vella. Dia menyentuh keningnya yang masih agak pusing. “Oke, aku temenin ke kelas, ya.” Agam menuntunnya pergi ke gedung kampus. Tak sadar, Xiani melihat mereka dari jauh dengan tangan terkepal erat. === Baru saja Vella duduk di kursinya. Dia sudah diserang oleh keempat temannya dengan berbagai pertanyaan. “Ah, untung lo cepet datang, Vel. Kita khawatir, ih!” ucap Haira lega. “Lo dibawa ke mana sama kak Agam?” tanya Jasmine. “Muka lo pucet,” celetuk Yaya. “Iya, muka lo pucet, Vel.” Sheva mengiyakan celetukan Yaya. “Ahh, nggak apa-apa, kok,” dusta Novella. “Dosennya belum dateng, ya?” tanyanya mengalihkan. Haira melihat jam tangannya, “lima menit lagi jamnya.” Haira benar. Tepat jamnya, dosen muda yang tadi jadi bahan rumpi mereka muncul. Rambut klimis karena pomade, setelan abu-abu dan sepatu pantofel. Vella menganga lebar. “Lah? Itu ... itu, ‘kan senior yang waktu itu gue temui di taman!” jerit Novella tertahan. Jasmine yang duduk di samping mengerutkan keningnya, “Lah? Lo ngaco, dah, Vel! Ini, tuh, dosen . Terpesona boleh, tapi jangan sampai ngehalu kalau beliau itu senior kita!” bisiknya. Novella bergantian menatap Jasmine dan dosen muda yang ada di depan kelas. Jadi ... senior yang ditemuinya di taman saat itu adalah dosen? Novella mengacak-acak rambutnya. Mana dia sudah minta tanda tangannya lagi! “Hei, kamu! Yang duduk di baris keempat, kolom ketiga. Ada apa?” Mata Novella melotot. Dia menatap dosennya itu. Sedetik kemudian, dia menyesali perbuatannya itu. Karena mata tajam sang dosen juga tengah menatapnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN