First Day & Haira

1101 Kata
Vella masuk ke Hope University dengan langkah ringan. Wajah gadis itu terlihat ceria. Di punggungnya tercangklong tas cokelat kesayangannya. Ketika hari terakhir ospek, Serli dan Xiani datang Padang dan mengembalikan tas itu. Wajah Xiani sangat jauh dari kata ramah saat melihatnya layaknya punya dendam pribadi pada Vella. Gadis itu jadi bertanya-tanya, masa iya cuma gara-gara tas, Xiani punya dendam kesumat padanya, sih? Vella menaiki tangga langsung menuju lantai tiga. Bibirnya bersenandung kecil. Kemarin malam dia sudah mengecek pengumuman di situs resmi Hope University. Dia berada di kelas A dan paling senangnya Vello sekelas dengan semua teman-temannya. Namun, ada satu lagi yang makin membuat Vela bersemangat. Di urutan kedua puluh daftar mahasiswa kelas A, ada nama Haira. Walaupun belum yakin itu Haira yang dicarinya karena bukan hanya satu orang yang memiliki nama itu di Jakarta yang sangat luas ini. Tapi, Vella tetap berharap itu Haira yang ingin ditemuinya. “Hei, pagi!” sapa Vella pada teman-temannya yang sudah datang duluan. Mereka duduk berdekatan. Mahasiswa lainnya juga muqli berdatangan dan memilih kursi masing – masing. Jasmine melambaikan tangan pada Vella dengan semangat lalu menyuruhnya mendekat. “Wei, seneng banget gue kita semua busa sekelas!” seru gadis itu. “Yoi, gue juga. Jadi, nggak perlu nyari kenalan lagi, deh!” kekeh Sheva. “Vel, lo duduk di belakangnya Yaya, ya! Tadi gue udah atur meja kita biar semuanya pada dekatan!” suruh Jasmine dengan cengiran di bibirnya. “Pantesan gue deket ama lo, ternyata lo udah rencanakan, ya,” tuding Aldo sembari memainkan game di ponselnya. Mata Jasmine melotot lebar, entah itu karena baru sadar dia ternyata duduk berdampingan dengan Aldo atau malu ketahuan punya niat terselubung. “Enak aja! Gue juga gak mau kali lo duduk di sini,” bentak nya dengan mata membulat. Gadis itu melihat Bian, “Lo! Tukaran sama cowok kutu ini!” Bian menatap Aldo dan Jasmine bergantian dan menggeleng santai. “Gak. Gue udah betah duduk di sini.” Jasmine baru saja ingin menyemburkan kata – kata hot, namun Yaya yang duduk di samping kirinya menyentuh lengan gadis itu. “Masih pagi. Jangan bikin keributan,” tegurnya dengan suara datar. Aldo langsung menjulurkan lidahnya pada Jasmine dengan wajah mengejek. “Lo juga, Do. Jangan mancing keributan,” tegur Yaya tanpa mengalihkan tatapannya dari notebook. Aldo jadi menduga – duga kalau Yaya tidak hanya punya dua mata saja. Giliran Jasmine yang tersenyum puas. Dia membelakangi Yaya dan mengejek Aldo sepuasnya. Vella tersenyum geli melihatnya lalu duduk di belakang Yaya yang sibuk membaca notebook-nya. Dia melepas tasnya dari punggungnya dan menggantungnya di sandaran kursi “Eh, hari ini udah languang masuk materi, ya?” tanyanya. Sheva yang duduk di sebelah kanan menyahut, “Nggak pasti juga. Kakak gue bilang, ada dosen yang masuk untuk sekedar perkenalan dulu, tapi ada juga yang to the point masuk materi.” “Oh gitu, ya. Kakak lo sekarang udah semester berapa?” “Udah lulus dia.” “Tahun?” “Ini.” “Vella, ya?” Vella mendongak ketika suara seorang gadis terdengar dari sebelah kirinya. Dia lantas mendongak menatap seseorang yang berdiri di sana. “Haira?” lirihnya. Gadis yang dipanggil Haira itu membulatkan mata senang. Dia duduk di kursi sebelah kiri Vella dan mengguncang punya Vella. “Astaga, gue nggak nyangka bakal ketemu lo lagi di sini? Kok lo baru muncul lagi, sih? Dari mana aja lo selama ini?” tanya gadis itu beruntun. “Lo ... beneran Haira?” Vella malah balik bertanya. Haira melepas tangannya dari pundak Vella. “Hah? Lo lupa sama gue, ya? Janmhat banget, sih, lo!” “Berisik banget, sih!” gerutu Bian tiba-tiba. “Apaan, sih, lo. Ini tempat umum, suka – suka gue, dong,” balas Haira tersinggung. “Udah, udah!” Vella melerai mereka sebelum perang sesungguhnya dimulai. “Kenalin, ini Haira, temen gue. Kayaknya.” “Kok kayaknya, sih, Vel? Gue emang temen lo, ih!” protes Haira. “Gampang lo meragukan soalnya,” celetuk Bian. Haira melotot. Vella kangusng berdiri dan menarik gadis itu keluar sebelum sempat membalas perkataan Bian. Selepas mereka keluar dari kelas, Jasmine memandang sejenak pintu dengan nata menyipit. “Temennya Vella,” gumam Sheva ikut – ikutan menatap pintu kelas. Jasmine lantas menggebrak mejanya hingga teman-temannya terkejut. “Oke, fix! Si Haira resmi masuk gank kita!” === “Kita mau ke mana, sih, Vel? Lo kok malah narik gue ke sini? Sikap lo aneh banget, tahu!” protes Haira ketika Vella menariknya ke koridor yang lumayan sepi. “Lo beneran Haira temen gue, kan?” tanya Vella dengan mimik serius. Haira memutar bola nata, “Iya, Vel, beneran! Lo kok gitu banget, sih, sekarang. Lo kena amnesia, ya?” “Iya.” Haira langsung membulatkan mata mendengar jawaban spontan dari Vella. “Eh, beneran amnesia? Wah, Daebak! Udah kayak drama – drama yabg gue tonton itu, dong!” ucapnya speechless. Vella sempat kebingungan sampai akhirnya geleng – geleng kepala melihat tingkah absurd Haira. “Eh, beneran amnesia, kan?” “Iya, beneran. Percaya, kok, susah amat,” gerutu Vella. “Tapi, lo ingat gue, tuh.” “Gue dapet foto lo dalam kamar.” “Ooh gitu. Terus, terus, lo di mana aja selama ini?” “Gue di Jogja, lo nggak tahu?” tanya Vella mengangkat alisnya. Haira geleng kepala. “Nggak. Lo nggak pernah bilang mau pindah ke Jogja. Terakhir kita ketemu tuh pas perpisahan. Terus, kita nggak ketemu ... berapa lama, ya? Kayaknya seminggu lebih. Waktu gue datang ke rumah lo, eh rumah lo udah kosong. Katanya pindah, tapi nggak tahu ke mana. Nyesek banget tahu, nggak, sih. Lo tinggalin gue gitu aja, nggak ada kabar, nggak ada jejak.” “Lo juga nggak tahu gue abis kecelakaan?” “Eh, nggak tuh. Lo abis kecelakaan memangnya kapan?” tanya Haira dengan mimik kaget. “Pas SMP, tapi gue nggak ingat apa-apa tentang kecelakaan itu dan anehnya gue cuma lupa tentang masa-masa SMP.” “Eh, masa, sih? Kok, gue nggak tahu, ya? Terus lo kenapa pindah ke Jogja?” “Kata Papa, gue yang minta pengen ke sana.” Kening Haira langsung mengerut. “Masa, sih? Padahal lo pernah cerita sama gue, Jakarta tempat terbaik yang pernah lo tinggali. Mana waktu itu ceritanya sambil senyum-senyum kayak orang kasmaran aja.” “Eh?” tanya Vella bingung. “Orang tua lo yang bilang gitu?” tanya Haira memastikan. Vella mengangguk. “Iya. Tapi, gue nggak terlalu yakin. Kepindahan kami ke Jogja dadakan banget. Gue ada di sana pas sadar dari koma. Seharusnya orang tua gue nunggu sampai gue pulih kembali baru pindah ke sana. Tapi ....” “Apa orang tua lo bohong?” sambung Haira dengan nada ragu. “Gue juga nggak tahu. Tapi, sepertinya ada yang aneh.” “Dan lo pastinya cerita sama gue kalau mau pindah. Fix, ortu lo kayaknya lagi sembunyiin sesuatu dari lo,” tambah Haira. Kali ini dengan nada meyakinkan. “Gue pernah deket sama cowok atau pacaran gitu?” tanya Vella lagi. Kalau Haira memang teman dekatnya, pasti gadis itu tahu mengenai kisah asmaranya. “Halah, boro – boro lo pacaran dengan cowok, dekat aja nggak pernah. Atau,” jeda Haira menyipitkan matanya pada Vella, “jangan – jangan lo dekat sama cowok tapi nggak ngasih tahu gue! Ngaku lo!” “Gimana gue mau ngaku! Ingat aja nggak!”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN