Vella berjalan menyusuri taman kampus. Dia menatap selembar kertas HVS di tangannya dengan lesu. Hingga saat ini baru beberapa senior yang bersedia menandatangani kertasnya. Baru satu halaman, itupun belum timbal balik. Entah para senior emang berniat mengerjai dirinya atau mereka memang pelit tanda tangan. Intinya, Vella yang kena getahnya.
Saat ini sedang waktunya jam istirahat. Semua peserta ospek dan senior sedang di kantin untuk mengisi perut. Perut Vella sudah keroncongan, tapi dia tidak nafsu makan. Mengingat waktunya hanya tiga hari sementara kertasnya masih ada empat lembar lagi. Oh, ralat. Masih empat setengah lembar lagi.
Vella menatap ke atas, melihat langit biru yang bersih tanpa awan. Gadis itu memutuskan menuju gazebo yang ada di sudut taman.
“Aww!”
Vella menutup mulut kaget saat menyadari dia telah menginjak kaki seseorang saat berbalik. Pemuda tinggi yang kakinya diinjak oleh Vella melompat-lompat kecil sembari meringis kesakitan. Vella mundur selangkah dengan wajah ketakutan.
“Oh my God. Ma-maaf, Kak! Saya nggak sengaja. Beneran, sumpah!”
Pemuda itu melirik Vella dengan wajah masam. Rasa sakit di kakinya berangsur-angsur hilang, namun masih berdenyut-denyut. Vella menatap pemuda itu, tanpa sadar menggigit kukunya sendiri.
“Maaf, ya, Kak,” ucapnya dengan wajah memelas. Masa iya, dia harus bermasalah dengan dua senior sekaligus hari ini? Ini baru hari pertama, bagaimana nasib Vella dua hari ke depan?!
“Saya beneran nggak tahu, suer! Lagi pula, Kakak ngapain tiba-tiba ada di belakang saya?” tanya Vella takut-takut.
“Tidak apa-apa,” ucap pemuda itu pendek. Dia merapikan kemeja biru mudanya yang sedikit kusut gara-gara kebanyakan gerak saat Vella telah menginjak jari-jari kakinya.
Vella menatap pemuda itu dari atas sampai bawah. Seniornya ini kelihatannya formal sekali. Rambutnya klimis karena pomade, kemeja biru muda, celana bahan dan sepatu pantofel.
“Kenapa lihat-lihat?” tegur pemuda itu.
Vella langsung tersentak. Dia mengedipkan matanya berkali-kali lalu mengulum bibir, malu. Namun, dia langsung tersenyum lebar, mengingat kertas HVS-nya. Dengan semangat, di menyodorkan kertas itu pada pemuda yang masih terdiam di depannya.
“Kak, boleh tanda tangani ini? Saya kena hukuman harus minta tanda tangan senior sampai lima lembar. Tapi, yang terisi baru ini, Kak. Please, ya, tanda tangannya,” mohon Vella dengan wajah memelas.
Pemuda itu mengerutkan kening sejenak. Vella tak tahu apa itu ekspresi jijik karena dirinya berusaha terlihat seimut mungkin atau seniornya itu sedang berpikir untuk membubuhkan tanda tangan di kertas Vella. Bodo amat! Pikir Vella.
“Please, Kak,” ucap Vella, memunculkan senyum penuh harap.
Pemuda itu dengan ragu-ragu menerima kertas dari Vella, lalu mengambil pulpen dari kantong kemejanya, “di mana tanda tangannya?”
Vella membalik kertas HVS itu, “di sini, Kak. Yang tadi udah full.”
Saat pemuda itu sedang membubuhkan tanda tangannya. Vella mengamati wajah seniornya itu. Wajah lelaki itu terlihat ramah, namun gaya bicaranya dan sikapnya kelihatan cuek.
“Ini,” ucap pemuda itu menyerahkan kembali kertasnya.
Vella menatap kertas itu. Satu tanda tangan sudah cukup membuatnya semangat. Semoga nanti ada tambahan lagi.
“Nama kamu siapa?” tanya pemuda itu, terdengar kaku.
“Vella, Kak.” ucapnya lalu berbalik, memasukkan kertas itu ke dalam tas kardusnya.
“Makasih——“
Ucapan tulus Vella terpotong ketika sosok seniornya itu telah berjalan, menuju gedung kampus. Dia sontak mencibir.
“Pergi, kok, nggak pamit dulu.”
•••
Masih ada waktu setengah jam untuk mengisi perut di kantin sebelum kegiatan ospek dimulai lagi. Vella melangkahkan kaki ke dalam kantin yang masih penuh sesak. Dia berjalan menuju stan makanan dan memesan mie bakso. Setelah mie sudah ada, dia menuju ke tengah-tengah lautan manusia yang sibuk makan. Matanya berkelana ke sekeliling kantin untuk mencari tempat yang kosong. Namun sayang, tak ada lagi meja yang kosong.
Lambaian tangan dari sudut kantin menarik perhatian Vella. Dia menoleh ke sana dan melihat seorang gadis berambut pirang melambaikan tangannya. Vella menajamkan pandangannya. Setelah yakin gadis pirang itu melambaikan tangan padanya, Vella menunjuk dirinya sendiri untuk memastikan lagi. Gadis pirang itu mengangguk lalu memberi kode pada Vella agar mendekat.
Vella menurut. Ketika dia sudah mendekati meja gadis itu, dia baru sadar kalau gadis pirang itu tak sendirian. Ada dua pemuda dan dua cewek lainnya.
“Hei! Kok bengong? Ayo, duduk! Bentar lagi istirahat habis, loh!” seru gadis pirang itu.
Vella mengangguk kikuk lalu duduk di samping gadis itu. Mereka semua peserta ospek, sama seperti Vella. Itu terlihat jelas dari kostum hitam putih serta papan nama kardus dan tas kardus yang mereka kenakan.
“Kenalin, gue Sheva,” ucap gadis pirang itu mengulurkan tangannya.
Vella membalas uluran tangan Sheva, “Vella.”
“Hai, Vella. Gue Jasmine, salam kenal, ya,” ucap seorang gadis yang duduk di sebelah Sheva. Vella tersenyum sebagai tanda respon untuk gadis berwajah baby face itu.
“Ah, iya. Ini Yaya,” tambah Jasmine, menunjuk seorang gadis di sebelahnya yang sibuk menghabiskan kuah mie-nya. Yaya baru mendongak ketika Jasmine menyenggol pundaknya. Gadis itu hanya tersenyum ke arah Vella lalu sibuk dengan kuah mie-nya lagi.
“Ahh, dia memang begitu, Vella. Kami juga tadi baru saling kenalan,” ucap Sheva kikuk. Vella tersenyum maklum.
“Ah, kalau dua cowok ini.” Jasmine menunjuk dua cowok yang duduk berhadapan dengan mereka, “mereka ini Aldo dan Bian.”
“Hai, Vella,” sapa Aldo dengan alis di naik-turunkan. Bian ikut-ikutan menyapa Vella seperti itu membuatnya tersenyum geli.
“Ya udah, makan, gih. Keburu bakso lo dingin,” suruhnya.
Vella menurut. Dia mulai menikmati baksonya yang masih mengeluarkan uap. Sheva dan dua cowok di depannya juga masih makan, jadi Vella tak canggung.
Tak banyak waktu yang diambil Vella untuk menghabiskan semangkuk bakso. Masih ada waktu 15 menit sebelum kegiatan dimulai. Dia mengambil tisu untuk mengelap mulutnya.
“By the why, kalian semua masuk jurusan apa?” tanya Vella.
“Manajemen perkantoran,” sahut Jasmine.
“Oh, sama dong, kalau gitu.”
“Oh, ya?” Jasmine antusias. “Lo gugus berapa?”
“Gugus 1,” jawab Vella.
“Wah, sayang banget, deh. Kami semua gugus 5. Terus lo, kok, nggak gabung sama satu gugus lo?”
“Ah, itu, gara-gara ini,” sungut Vella mengeluarkan kertas HVS dari tas kardusnya.
“Eh, itu kertas apa, Vel?” tanya Aldo.
“Anak kecil nggak usah sok kepo!” ejek Bian.
“Apaan, sih, lo!”
Vella menatap dua laki-laki itu sembari geleng-geleng kepala.
“Kok banyak tanda tangannya?” tanya Sheva.
“Gue kena hukuman. Gara-gara tadi pagi berurusan sama si Xiani.”
“Ssst! Ngomongnya pelan-pelan! Lo nggak sadar masih banyak senior di sekitar kita?” bisik Sheva.
Vella meringis bersalah, “aduh, maaf.”
“Oh, jadi lo, ya, peserta ospek yang diceritain itu,” ucap Jasmine mengangguk-anggukkan kepala.
“Cerita apa?” tanya Vella.
“Itu loh, tadi pagi pada heboh ngomongin lo, berani lawan kak Xi ... Xi ... ah, susah banget, sih, namanya! Pokoknya yang lo temani berantem tadi pagi.”
“Abisnya dia rebut tas gue, sih.” Vella bersungut-sungut.
“Tadi gue juga hampir berantem sebenarnya,” celetuk Sheva.
“Kok lo nggak cerita?” tanya Jasmine.
“Ya, ini baru mau diceritain, kok.” Sheva membela dirinya. “Kalian lihat rambut gue ini, ‘kan?”
“Ya, iyalah! Lo kira kita nggak punya mata?” gerutu Aldo.
“Nyinyir aja lo!” ketus Sheva.
“Udah, udah! Ceritain, Va. Keburu abis waktu, nih!” Jasmine menengahi.
“Rambut gue tadi sempat dikritik sama kak Serli karena warnanya pirang. Dia kira, gue warnain rambut, padahal ini asli,” sungut Sheva.
“Eh, beneran asli?”
Sheva menoleh pada Vella lalu membuang napas kasar, “wajar, sih, kalian ragu, soalnya wajah gue lokal banget. Tapi, gue emang bukan asli Indonesia.”
“Bukan cuma rambut lo kok, yang nunjukin lo itu bukan asli Indonesia. Dilihat dari hidung sama tinggi lo, gue pertama lihat, udah tahu lo itu campuran,” celetuk Yaya tiba-tiba.
Semuanya menoleh pada cewek itu dengan wajah takjub.
“Bisa ngomong dia.” Aldo yang menyeletuk paling pertama.
“Ya kali Yaya bisu! Tadi pas perkenalan diri di gugus dia bersuara, kok. Nggak pakai bahasa isyarat ....”
Suara Bian perlahan hilang ketika menyadari Yaya sudah memberinya tatapan menusuk.
Tapi, ucapan Yaya ada benarnya juga. Hidung Sheva terlihat mancung dari kebanyakan orang. Kulit gadis itu juga terlihat putih pucat. Vella belum tahu bagaimana tinggi Sheva, tapi dilihat dari kakinya yang panjang, Vella yakin, dia akan seperti adik Sheva jika berjalan beriringan.
“Eh, guys! Udah ayo bubar! Dikit lagi waktu istirahat habis. Lambat masuk auditorium, kena hukuman, loh!” tandas Jasmine.
Setelah dia mengucapkan itu, Vella dan yang lainnya langsung kocar-kacir, berbaur dengan orang-orang yang beranjak keluar dari kantin.
•••
Vella senang bukan kepalang saat kertas HVS miliknya sudah hampir full tanda tangan para senior. Tinggal dua lembar lagi, dia akan menyelesaikan hukumannya dan mengambil kembali tas kesayangannya. Agam yang berdiri di samping gadis itu tersenyum kecil.
“Thank’s, ya, Kak. Udah bantuin gue ngumpulin tanda tangan senior. Kalau bukan karena kak Agam, gue nggak mungkin dapet tanda tangan ini,” ucap Vella girang.
“Sama-sama, Vella,” balas Agam. Gadis itu merogoh kantong celana jeans-nya dan menyerahkan satu botol berisi pil obat.
“Eh ... ini, ‘kan obat gue, Kak? Kok bisa ada di kak Agam?”
“Gue ambil dari Serli. Lo bawa obat pas lagi ospek pasti bukan untuk main-main. Tapi, tas lo tetep ditahan sampai kertas ini full tanda tangan,” sahut Agam menjelaskan. “Lagipula, lo ngapain bawa obat sakit kepala? Sering pusing, ya? Atau nggak tahan di bawah matahari?” tanyanya.
Vella tersenyum kikuk, “buat jaga-jaga aja, Kak.”
“Oh. Lebih baik nggak usah sering-sering minum obat, Vel. Kalau sakit ringan mending istirahat bentar aja. Keseringan minum obat juga nggak baik,” nasehat Agam.
Aduh, Agam tidak tahu saja kalau Vella memerlukan obat itu kalau kilas baliknya datang lagi. Kepalanya seperti diremas-remas kalau mengingat sesuatu lagi. Dan dia butuh obat pereda nyeri kepala untuk meringankan sakit kepalanya.
“Iya, Kak,” ucap Vella menurut saja. Lagipula, kenapa seniornya ini perhatian sekali padanya? Vella jadi agak merasa aneh.
Kampus sudah agak sepi. Beberapa menit yang lalu, ospek hari pertama telah selesai. Tadi Vella sempat kaget saat beberapa kumpulan senior mendatanginya secara bersamaan. Awalnya, dia panik karena mengira akan dikeroyok, tapi mereka ternyata ingin menyumbang tanda tangan. Dan semua itu karena bantuan Agam.
Masih ada esok hari dan lusa untuk menyelesaikan dua lembar yang masih kosong.
“Lo pulang naik apa?” tanya Agam.
“Belum tahu, sih, Kak. Ini lagi nungguin supir, tapi belum datang-datang. Mungkin nanti naik ojek online aja.”
“Pulang bareng gue, mau?” tawar Agam.
“Eh?”
“Pulang bareng gue, Vella. Nggak apa-apa, kok. Kamu tunggu di sini, aku ke parkiran dulu.” Agam tak mengijinkan Vella untuk menolak. Usai mengatakan itu, dia langsung berlari kecil ke arah parkiran.
Vella terpaksa tak menolak. Toh, kampus sudah sepi. Lagipula, dia dan Agam hanya sebatas senior-junior.
Sementara itu, di parkiran kampus, Agam memasuki mobilnya dengan semangat. Namun, ketika ingin menutup pintu, sebuah tangan mungil menahannya.
“Loh, Cici? Lo belum pulang?” tanya Agam ketika melihat Xiani berdiri di luar mobil dengan wajah cemberut.
“Gue mau pulang bareng lo!”
“Aduh, maaf, Ci, gue ada urusan penting dulu, nih! Lo pulangnya nanti sama Rian aja!”
“Rian udah pulang!”
“Sama siapa, kek. Serli atau temen lo yang lain. Kayaknya mereka masih pada di dalam, deh.”
“Serli naik ojek online.”
“Ya udah, lo naik ojek juga. Udah, ya, gue ada urusan penting dulu. Bye!” Agam menutup pintu mobilnya dan langsung melaju menjauhi pekarangan parkiran.
Xiani menatap mobil itu lalu berlari-lari kecil menyusulnya menuju gerbang. Raut wajahnya makin mendung ketika melihat sang junior yang bermasalah dengannya tadi pagi, Vella, masuk ke dalam mobil.
“Jadi, itu urusan penting lo, Gam.”