Pertengkaran & Hukuman

1773 Kata
Mobil Vella berhenti beberapa meter dari gerbang Hope University. Sebelum turun, gadis itu pamit pada sang sopir lalu beranjak keluar. Mobilnya itu baru melaju ketika Vella memberi tanda. Mata gadis itu beralih pada gedung kampus yang menjulang tinggi hingga 6 lantai. Kakinya melangkah maju, memasuki gerbang dan langsung menuju pintu utama. Di sana, para senior berwajah sangar sudah menunggunya. Vella melihat sekelilingnya, berusaha menemukan teman seangkatannya agar bisa masuk bersama-sama. Namun, nihil. Tak ada satupun. Area halaman kampus memang masih agak sepi. Entah dia yang terlalu kepagian atau teman-temannya memang jam karet. Dalam hati, Vella berusaha memberanikan diri. Hanya lewat, permisi dengan sopan, lalu selesai! Dia selamat sampai ke auditorium. Oke. Vella melanjutkan langkahnya lagi. Makin mendekat, para senior serempak menatapnya. Vella jadi mengingat saat dirinya masih SD dan disuruh membaca puisi. Namun, ujung-ujungnya dia menangis karena dilihat banyak orang. Semoga saja dia tak menangis di hadapan para seniornya. Vella menarik bibirnya agar tersenyum sopan lalu membungkuk sedikit sembari berjalan di tengah-tengah para senior yang berdiri di masing-masing sisi pintu utama. Dirinya langsung merasa lega ketika sudah melewatinya kumpulan senior berwajah penuh rencana licik itu. Namun, jantungnya hampir saja berhenti berdetak ketika salah seorang senior perempuan memanggilnya. “Novella!” Vella berbalik lalu tersenyum canggung, “hai, Kak. Kalau boleh nanya, Kakak tahu nama saya dari mana?” tanyanya berusaha akrab. Senior perempuan bermata sipit itu memandang bagian d**a Vella dengan datar. Vella menundukkan kepalanya ikut-ikutan menatap dadanya lalu menggigit bibir. Senior itu mengetahui namanya dari papan nama kardus yang dipakainya. Kenapa dia harus melupakan itu, sih? “Lo kenapa bawa tas?” tanya senior cewek itu dengan nada datar namun penuh intimidasi. Vella mengangkat alis tak mengerti. “Loh? Kemarin emang diumumkan harus bawa tas, Kak.” “Tapi, cuma satu tas! Kamu kenapa bawa dua tas?” tanya senior cewek itu sembari mengecek notebook yang ada di tangannya. “Oh, tas yang ini, Kak?” Vella menunjukkan tas kulit cokelat kesayangannya. “Tas ini buat simpan minuman dan obat saya, Kak.” Senior cewek itu memelototi Vella. “Siapa yang ijinin lo bawa tas selain tas kardus!” “Nggak ada, sih, Kak. Tapi nggak dilarang, ‘kan? Kemarin pas pengumuman nggak ada, tuh, yang bilang nggak boleh bawa tas selain kardus ini,” bela Vella masih merasa santai walau jelas-jelas dia sedang dipelototi oleh senior bermata sipit. Senior lainnya masih bungkam, hanya menonton pertunjukan pagi hari. Sementara peserta ospek lainnya yang baru datang masih tertahan di depan pintu. “Nggak dilarang bukan berarti lo boleh bawa barang yang nggak ada dalam peraturan! Melakukan peraturan itu jangan ada yang dilebih-lebihkan apalagi dikurang-kurangi! Ini hari pertama lo ospek. Jangan macam-macam. Siniin tas lo!” bentak senior itu. Vella mengerutkan keningnya. Hei, dalam tasnya ini ada air minum dan obat-obatan pereda nyeri kepala kalau kilas baliknya datang lagi. Enak saja senior ini minta tasnya. “Enak aja lo! Dalam tas ini ada barang-barang penting gue! Gampang banget lo minta tas gue!” cerocos Vella. Gaya bicaranya sudah tak sopan lagi mengingat dia mulai emosi. Ingin rasanya dia menonjok mata sipit seniornya itu, biar makin sipit sekalian. “Wah, junior nggak sopan lo! Minta dihukum emang!” raung senior cewek itu. “Xiani, udah. Masih pagi. Peserta lainnya juga udah pada dateng. Lo nggak malu diliatin sama mereka?” bisik salah seorang senior cewek lagi. Hidung senior cewek bernama Xiani itu kembang-kempis. “Ambil tas bocah ini. Kalau gak mau, paksa. Dia harus diajarin sopan santun.” “Hidih! Sok-sok-an ngomong sopan santun. Emangnya ngambil paksa tas orang itu sopan?” sindir Vella. “Lo ngelanggar peraturan!” sewot Xiani. “Gue mana tahu! Kemarin ... hei, tas gue!” jerit Vella ketika tasnya sudah diambil paksa oleh senior cewek yang tadi menegur Xiani. “Kalau saja lo tetap bersikap sopan sama senior, gue nggak akan ambil tas lo. Tapi, lo udah berani bentak-bentak senior, apalagi ini masa-masa ospek. Jangan melawan dan ikutin apa arahan kami. Tas lo akan kami simpan baik-baik. Kami juga nggak akan macam-macam sama kalian para peserta ospek,” ujar senior itu sembari menatap satu per satu peserta ospek yang berdiri di depan pintu, “karena kami juga diikat oleh peraturan kampus ini,“ imbuhnya kemudian menatap Vella. Vella tak membalas lagi. Senior yang satu ini memiliki suara yang tegas dan dalam. Rasanya enggan untuk melawannya. Tak terasa mengintimidasi namun membuat siapa pun yang mendengarnya, akan menuruti ucapannya. “Tambahan lagi. Lo akan tetap dihukum. Ini sebagai peringatan bagi peserta ospek lainnya agar tak mencari gara-gara seperti lo,” ucap gadis itu, lagi-lagi menyoroti para peserta ospek. Vella mencebikkan bibirnya. Gara-gara Xiani si mata sipit itu, dia mengalami masalah. “Gue yang hukum dia, Serli!” sahut Xiani semangat. Matanya jelas-jelas memancarkan kelicikan. Vella langsung melotot dan geleng kepala. “Oke,” Serli, si gadis yang merebut tas Vella setuju. “Tapi, lo jangan hukum dia karena kekesalan pribadi lo. Ingat itu!” “Oke!” jawab Xiani riang. “Sebelum jam 8, dia sudah harus ada di auditorium untuk ikut pembukaan ospek,” kata Serli lagi. “Siap!” sahut Xiani. Cewek itu menoleh pada Vella yang sudah memasang wajah kecut, “ayo, Gadis Tas! Gue bakal tunjukin cara senior Hope University hukum junior yang nakal!” ••• Xiani dan Vella berjalan menuju sebuah ruangan. Di sepanjang jalan, Xiani beberapa kali memelototi Vella karena berani jalan di sampingnya. “Jalan di belakang gue!” ucap senior itu. Vella menurut dengan wajah masam sembari berpikir, apa seniornya itu tidak capek membulatkan matanya yang sipit itu? Sesampainya mereka di pintu ruangan luas bercat putih itu, Xiani membukanya dan masuk. Gadis itu menuju sebuah meja yang di penuhi tumpukan kardus HVS lalu mengambil beberapa lembar kertas putih kosong dari sana. Dia berbalik menatap Vella yang berdiri di depan pintu lalu tersenyum manis yang dibuat-buat. Vella makin kesal dibuatnya. Otaknya sempat membuat rencana untuk mengurung senior sipit itu di dalam ruangan ini. Kebetulan, kunci pintunya menggantung begitu saja di bagian luar. Tapi, dia tak mau membuat masalah baru lagi. Setelah kasak-kusuk beberapa saat di meja itu, Xiani kembali keluar dan menutup pintu ruangan itu. “Jadi, sekarang tugas lo adalah kumpulin tanda tangan semua senior, baik itu panitia atau bukan. Waktu lo tiga hari dari sekarang. Kalau udah selesai, tas lo bakal kembali!” titah Xiani menyerahkan lima lembar kertas HVS dan sebuah pulpen. “Gue senior baik, ‘kan? Mau sediain persiapannya buat lo,” ucap Xiani mengejek. Vella memutar bola matanya. Dia mengamati kertas-kertas yang kini sudah ada di tangannya. Pulpennya dia simpan di kantong baju putihnya. “Ini ... semuanya?” Xiani mengangguk, “ya. Penuh dan timbal balik.” Vella mengangguk dalam hati. Dia bisa saja memasang tanda tangan palsu di sana, ya, ‘kan? “Jangan coba-coba buat tanda tangan palsu di sana,” ucap Xiani, seolah bisa membaca rencananya yang masih tersimpan dalam otak. Oke. Ganti rencana. Dia akan membujuk para seniornya untuk membuat tanda tangan besar-besar di kertas itu. “Oh, satu lagi. Jangan pernah bujuk-bujuk senior buat tanda tangan besar. Ukurannya harus normal,” tambah Xiani lagi. Vella menghembuskan napas kasar. “Lo itu cenayang, ya, Kak?” tanyanya dengan kesal. “Enak aja. Bukanlah!” “Ya terus, kenapa bisa tahu apa yang di pikiran gue?” “Karena ... eh, lo mikirin itu, ya? Wah, lo emang junior licik, ya!” Vella menggigit bibir bawahnya. Keceplosan mulutnya memang patut diberi tepuk tangan. “Bukan gitu, Kak——“ “Karena lo udah ngaku punya rencana buat kelabui gue, sebagai hadiahnya, gue bakal kasih lo satu hukuman lagi!” seru Xiani semangat. ••• Vella memandangi jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul 07.30. Lalu segera melanjutkan menyiram tanaman di Green House. Pelaku utama yang menyuruhnya siram berbagai macam tanaman di Green House sedang sibuk main ponsel di sebuah gazebo. Rasanya ingin mengarahkan selang air ini ke arah Mata Sipit itu. Tapi, sekali lagi, dia mengingatkan dirinya agar tak membuat masalah baru. Green House cukup luas. Taman berdinding bronjong dan beratap seng tembus cahaya itu memuat berbagai tanaman pohon yang masih kecil dan macam-macam bunga. Menurut informasi yang di dengar oleh Vella, katanya semua tanaman pohon yang ada dalam Green House ini akan jadi bahan untuk reboisasi hutan gundul. Sementara untuk bunga-bunga, sudah jelas jadi pajangan di Hope University. Vella menghela napas lega takkala dirinya sudah menyiram semua tanaman itu. Dia mematikan keran air lalu mendekati Xiani. “Udah selesai, Kak.” Xiani mendongak lalu berdiri. Ponselnya disimpan ke dalam kantong almamaternya. “Oh, udah, ya? Sebenarnya gue masih pengen hukum lo, tapi——“ “Xiani.” Suara familiar itu terdengar dari belakang Vella. “Eh, Agam!” panggil Xiani riang, “lo ngapain di sini?” tanyanya. Gadis itu melewati Vella lalu merangkul tangan Agam. Vella otomatis berbalik, menghadap dua seniornya itu. “Gue nyari lo. Kata Serli, lo lagi ngurus junior nakal.” “Ho'oh. Ini dia junior nakalnya!” tunjuk Xiani pada Vella. Vella melotot lalu menggelengkan kepala, “gue niatnya cuma membela diri, kok!” bantahnya. Agam adalah ketua panitia ospek Hope University untuk tahun ini. Mencari masalah dengan pemuda itu berarti sama saja dengan bunuh diri. Vella tidak mau, ya, masa kuliahnya berasa kayak tinggal di neraka. “Cici,” panggil Agam pada Xiani, “udah, ya. Gak usah nambah-nambah hukumannya lagi.” Agam menatap Vella yang menunduk, “siniin kertas lo.” “Hah?” Vella tak mengerti. “Lo disuruh minta tanda tangan senior, kan? Ya sudah, siniin. Gue yang pertama bakal tanda tangan,” ucapnya lalu menadahkan tangannya di depan Vella. Vella buru-buru mengeluarkan satu kertas dari tas kardusnya lalu mengambil pulpen yang tersimpan di saku bajunya. Dia menyerahkan dua benda itu pada Agam. “Kak Agam tanda tangannya di sini, terus ukurannya normal aja, ya.” Vella memberi instruksi. Agam membubuhkan tanda tangannya di kertas itu sembari tersenyum geli. Xiani hanya mendengus kesal. “Sudah,” ucap Agam lalu mengembalikan kertas dan pulpen itu pada Vella. Vella melihat senior mata sipit itu sepertinya tak bisa berbuat apa-apa ketika Agam ada. Mulutnya menyunggingkan senyum miring lalu menyerahkan kertas dan pulpen itu pada Xiani. “Kak, tanda tangan juga, dong!” “Kok? Kenapa harus gue, sih?” tanya Xiani kesal. “Loh? Kan, kamu juga senior, Ci. Jadi, tanda tangan, dong,” bela Agam. Vella tersenyum penuh kemenangan. Xiani merebut dua benda yang ada di tangan Vella dan buru-buru membubuhkan tanda tangannya. “Terima kasih, ya, Kak,” ucap Vella lalu menyimpan dua benda itu ke dalam tasnya. “Sama-sama,” ketus Xiani. Agam menatap jam tangannya lalu menatap Vella, “15 menit lagi pembukaan ospek dimulai. Lo ke auditorium dan cari gugus 1,” perintahnya. “Gugus 1 itu kelompok gue, Kak?” tanya Vella. Agam menganggukkan kepala. “Kok lo ngasih tahu dia, sih, Gam! Biasanya, ‘kan, peserta nyari sendiri gugusnya!” ucap Xiani tak terima. “Itu bonus buat dia karena lo udah ngasih dua hukuman sekaligus,” ucap Agam datar. “Tapi, ‘kan, tetep aja, Gam! Itu udah bagian dari ospek!” “Memangnya beri dua hukuman sekaligus ada dalam peraturan ospek kampus kita juga?” Vella yang menonton aksi debat mereka langsung nimbrung, “punten, Kakak-kakak sekalian. Kalau mau lanjutkan debat, silakan. Saya ijin permisi, ya,” ucapnya lalu segera berlari menjauhi dua senior itu sebelum Xiani memaki-makinya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN