Vella turun dari mobil bersama Ani. Gadis itu menatap gedung di depannya. Awalnya dia hanya menatap lurus, namun perlahan kepalanya mendongak mengikuti ketinggian gedung. Kepalanya geleng – geleng dengan raut wajah terpesona. Calon kampusnya benar – benar megah!
Ketika tak sengaja menoleh, Vella melihat Ani juga mendongak menatap gedung itu penuh damba. Gadis itu tersenyum simpatik.
“Kenapa, Ni? Mau masuk kuliah juga?” tanyanya.
Ani buru – buru merubah raut wajahnya dan tersenyum malu. “Boro – boro mau masuk kuliah, Non, lulus SMA saja tidak.”
Ani memang seumuran dengan Vella. Bahkan jarak ulang tahun mereka berdekatan. Ani lima hari lebih tua dari Vella. Keluarga Ani yang kurang mampu membuatnya terpaksa putus sekolah saat lulus SMP dan mencari pekerjaan. Beruntung, dia kini bekerja pada keluarga Vella sehingga dia bisa membantu keuangan keluarganya. Walaupun pendidikan terakhirnya hanya SMP, tak apa.
“Jadi, lo mau ikut ke dalam atau nggak?” tanya Vella menawarkan.
Belum sempat Ani menjawab, Pak Burhan berkata-kata dari dalam mobil. “Non Vella, saya parkirnya di warung depan sana, ya? Kalau urusannya sudah selesai telepon saja.”
Vella mengiyakan perkataan Pak Burhan. Tak lama kemudian, mobil itu melesat pergi.
“Mau ikut masuk?” Vella mengulang pertanyaannya.
“Iya, deh, Non. Saya ikut masuk aja.”
Mereka berdua akhirnya berjalan masuk gerbang. Saat masuk pintu utama, mereka bisa melihat nama kampus itu yang dibuat dari baja tahan karat terpajang besar – besar di belakang meja pelayanan.
“Hope University,” gumam Vella membaca nama kampus itu.
Vella sudah mendaftar online di website kampus itu. Hari ini dia ke kampus karena akan ada ujian tertulis dan wawancara serta kelengkapan berkas yang harus dibawanya.
“Selamat pagi, ada yang bisa saya bantu?” seorang wanita muda di meja pelayanan segera berdiri dan menyapanya dengan ramah.
“Saya calon maba, Kak.”
“Oh, iya. Silakan menyerahkan kelengkapan berkasnya,” pinta wanita itu dengan sopan.
Vella mengeluarkan sebuah nap dari dalam tas coklat kesayangannya dan menyodorkan benda itu pada wanita di depannya.
Wanita yang memakai setelan rapi itu membuka map Vella dan mengecek lembar demi lembar berkas – berkas yang ada di dalamnya. Sembari menunggu, Vella mengamati isi kampus itu. Lantai satunya sangat luas. Terdapat beberapa bangku panjang di titik – titik tertentu. Saat mendongak ke atas, Vella dapat melihat lantai dua sampai ke lantai paling atas namun kurang jelas karena ada pagar pembatas setinggi satu meter yang menghalanginya.
Beberapa saat kemudian, Vella baru sadar Ani sudah tak ada di dekatnya. Dia mencari – cari dengan bingung sampai – sampai niat mau bertanya pada orang lain yang kebetulan lewat. Namun, niatnya tak jadi karena Ani muncul dari belakang dinding.
“Dari mana aja, sih?” tanya Vella menahan suaranya.
“Maaf, Non. Tadi saya nggak sengaja jalan – jalan masuk ke dalam. Luas, ya, ada lapangan basket dan taman – taman hijau gitu, Non,” ucap Ani meringis kecil
Vella tersenyum memaklumi. Belum dia mengeluarkan suaranya, wanita yang ada di meja pelayanan memanggilnya.
“Novella Clarine Starillo?” wanita itu menyebut nama lengkap Vella.
Vella berbalik menatap wanita itu dan segera menghampirinya.
“Iya, Kak?”
Wanita itu menyerahkan sebuah kertas berbentuk persegi dan bertuliskan angka 150. Vella menerimanya.
“Tolong disimpan baik – baik nomor urutnya, ya, Mbak Novella. Untuk tes wawancara dan ujian tertulis akan dipanggil sesuai nomor urut. Tempatnya ada di lantai dua. Setelah naik ke atas, silakan berbelok ke kanan lalu belok ke kiri. Di sana ada ruang tunggu. Mbak Novella bisa ke sana sekarang sembari menunggu untuk dipanggil tes,” terang wanita itu.
Vella mengangguk mengerti dan mengucapkan terima kasih. Dia dan Ani segera naik ke lantai dua dan pergi menuju tempat yang sudah disebutkan wanita tadi. Setibanya di sana, Vella melihat sudah banyak orang sudah menunggu di sana.
Ternyata ujian tertulis dibagi menjadi lima sesi dan setiap sesinya ada 30 menit. Setiap sesi akan ada 50 orang bahkan lebih masuk ke dalam mengikuti ujian.
Vella masuk sesi ketiga. Badan gadis itu mulai panas dingin karena gugup. Dia menatap orang – orang yang sebaya dengannya. Semuanya sibuk dengan ponsel. Vella berharap ada salah satu dari orang – orang itu yang dikenalnya. Namun, tak ada satu pun.
Perlahan, ruang tunggu itu makin sesak karena makin banyak yang berdatangan. Bangku – bangku sudah dipenuhi orang yang lebih dulu datang. Kaki Vella mulai ngilu karena berdiri lama. Lima menit lagi sesi satu akan berakhir. Dia masih punya waktu setengah jam untuk menunggu.
Vella menoleh pada Ani yang terlihat mulai merasa jenuh. Gadis itu hanya menendang kecil udara sembari bersandar di dinding tak tahu mau apa. Vella jadi kasihan melihatnya. Karena waktunya masih lama, dia mengajak Ani turun ke bawah dan mencari kantin.
“Ni, turun ke bawah, yuk.”
“Loh, kenapa, Non?”
“Masih lama. Bosen juga di sini. Kaki gue mulai ngilu, nih. Mana sesak lagi,” keluh gadis itu.
Ani mengangguk setuju. Mereka akhirnya pergi dari sana dan turun ke lantai satu. Beda dengan lantai dua yang berisik, lantai satu terasa lebih hening.
“Kantinnya di mana, ya?” gumam Vella bertanya-tanya.
Seorang pemuda lewat di depannya. Vella segera menghentikan pemuda itu dan tersenyum ramah. “Kak, kantinnya di mana, ya?”
Pemuda yang memakai kemeja dengan kancing terbuka sehingga memperlihatkan kaos hitamnya dan celana jeans biru itu mengerutkan kening dengan bingung.
“Eh, saya calon maba, Kak,” ringis Vella pelan melihat raut wajah pemuda itu yang seolah sedang berkata mahasiswa-di sini-kok-tidak-tahu-letak-kantin.
“Ah,” si pemuda langsung mengangguk mengerti. Dia menunjuk pintu utama. “Keluar dari pintu, lo belok kiri dan masuk ke lorong, jalan aja terus sampai dapat kantinnya,” jelas pemuda itu.
“Ah, iya, Kak. Makasih banyak, ya, Kak, untuk infonya,” ucap Vella sopan sembari menunduk sekilas.
“Iya, sama – sama. By the way, gue kira lo maba, kok, malah keliaran di lantai satu? Di lantai dua, ‘kan, lagi tes.”
“Anu, Kak, saya belum masuk. Mau ke kantin dulu beli minum,” ucap Vella menjaga kesopanannya.
“Namamu siapa?”
“Vella, Kak.”
“Ah, iya. Semoga lolos tes, ya, Vella,” ujar pemuda itu tersenyum kecil. “Omong – omong, nama gue Agam. Manggilnya santai aja, bisa pakai lo-gue, kok. Gue cuma tua setahun dari lo.” Agam memperkenalkan dirinya dan mengulurkan tangan pada Vella.
Vella menerima uluran tangan Agam dan tersenyum kecil. “Iya, Kak.”
“Ah, iya, gue harus pergi, nih. Masih ingat letak kantinnya, kan?” canda Agam.
Vella tertawa an mengangguk kecil. Agam lantas berlalu sembari melambaikan tangannya pada Vella. Ketika berjalan menuju kantin, Ani menyenggol pelan lengan Vella.
“Mas yang tadi ganteng, ya, Non?”
“Hm, iya. Kenapa? Lo suka?” tanya Vella geli.
Ani buru – buru menggeleng. “Nggaklah, Non. Justru kayaknya si Mas tadi suka sama Non Vella, deh,” ujar Ani dengan nada meledek.
“Apaan, sih, Ani. Nggak mungkin, ah.”
“Ih, beneran loh, Non.”
“Kok, lo yakin banget, sih?”
“Tatapannya itu, loh, waktu natal Non. Beda banget,” ujar Ani gemas.
Mereka sampai ke kantin. Vella membeli dua botol teh pucuk. “Beda gimana? Perasaan gue lihatnya biasa – biasa aja, kok,” elak Vella sembari menyerahkan uang pada ibu kantin.
“Ih, Non Vella belum pernah pacaran kali makanya nggak tahu,” tuding Ani.
Vella yang tengah meneguk teh pucuknya sontak menoleh pada Ani. “Lo pernah pacaran?” tanyanya antusias.
Wajah Ani langsung memerah karena keceplosan. Gadis itu dengan polosnya memukul pelan bibirnya sembari menggumamkan kata – kata jengkel.
Vella tersenyum menggoda. Dia mencolek dagu Ani. “Pantesan, kadang gue lihat kalau lagi kerja malah senyum – senyum sendiri. Kalau terima telpon langsung menjauh. Ternyata ada ‘doinya’, toh.”
“Apaan, sih, Non. Nggak, ah!” kukuh Ani memalingkan wajahnya.
“Nggak usah bohong, ah, sama gue. Muka lo tuh udah jelas kebaca. Udah berapa lama pacarannya?”
“Udah dibilang nggak ada pacar kok, Non.” Ani tetap bersikeras.
“Iyakah?” goda Vella.
Ani tak dapat menahan senyum lagi. Gadis itu melepas tawanya sembari menunduk. “Udah enam bulan, sih, Non,” cicitnya
“Wah, udah lama juga, ya. Dia tinggal di mana? Kalian kenal di mana? Kok bisa pacaran?” tanya Vella beruntun.
“Kami kenal pas saya lagi pergi beli di pasar, Non. Terus dari situ kita mulai deket. Dia tinggal di Jogja.”
“Jadi, kalian LDR, dong, sekarang.”
Ani mengangguk.
“Yah, coba kalau lo bilang ada pacar di sana, gue nggak bakal bawa lo ke sini. Kan jadi rasa bersalah udah buat kalian LDR,” cemberut Vella.
“Nggak, kok, Non. Itu bukan salahnya Non Vella. Lagi pula, saya senang ikut sama Non ke sini,” ucap Ani halus.
“Jadi, pacar lo itu udah tahu kalau lo pindah ke sini?”
“Iya. Tapi ...” Ani tak melanjutkan perkataannya dan menunduk sedih.
“Kenapa?” tanya Vella khawatir.
“Dia sebenarnya belum tahu pekerjaan saya, Non. Dia kira saya pindah ke sini karena mau lanjut kuliah. Saya takut jujur sama dia, takutnya nanti dia kecewa dan minta putus sama saya,” keluh Ani.
“Loh, emangnya ada yang salah sama pekerjaan lo? Nggak, kan. Pekerjaan lo kan halal. Kalau dia nggak terima, berarti dia nggak tulus pacaran sama lo. Kalau menurut gue, ya, Ni, mending lo jujur sama pacar lo itu. Kalau dia terima, ya syukur. Tapi kalau dia ragu, ya, itu artinya dia nggak nerima lo apa adanya. Dari pada lo sembunyiin, mending lo langsung ngasih tahu, biar hubungan kalian jelas. Dari situ lo juga bisa tahu dia benar-benar tulus apa nggak. Kalau nggak, masih awal untuk putusin dia dari pada hubungan kalian makin erat dan nantinya makin susah ngelepasinnya.”
Ani terdiam sejenak mencerna ucapan Vella. Wajah gadis itu terlihat dilema. “Iya, deh, Non, nanti saya coba kasih tahu dia kalau ditelpon lagi.”
“Tapi, terlepas dari itu. Lo yakin nggak mau lanjutin pendidikan? Papa sama Mama bisa, kok, bantu biaya sekolah lo. Ambil ijazah SMA paket C aja. Tahun depan lo masuk kuliah biar sama gue. Mau nggak?” tawar Vella lagi.
Ani memikirkan itu sejenak lalu menjawab, “Saya pikir-pikir dulu, ya, Non.”
Vella mengangguk dan menghabiskan teh pucuknya. Dia menatap jam tangannya dan membuang botok minuman yang sudah kosong ke tempat sampah.
“Sepuluh menit lagi masuk sesi 3, ayo ke atas, Ni,” ajak Vella lalu keluar dari kantin.
Di sudut lain kantin, Agam yang ternyata diam-diam mengikuti gadis itu tersenyum kecil menatap kepergian Vella.
“Cantik,” gumamnya.
===
Vella berdiri di depan gerbang Hope University menunggu kedatangan Pak Burhan yang katanya sedang dalam perjalanan menjemputnya.
Setelah satu minggu menunggu pengumuman, dia dinyatakan lulus masuk Hope University. Kali ini, dia baru saja keluar dari auditorium karena panitia ospek memberi pengumuman mengenai kelengkapan ospek yang akan di adakan tiga hari lagi.
Baju putih dan celana hitam, rok selutut untuk cewek. Tas dari kardus serta papan nama dari kardus. Tali papan namanya harus tali nilon. Vella memijit kepalanya memikirkan hal itu.
Kenapa harus pakai atribut dari bahan kardus, sih? Mereka, kan, sudah besar, sudah kuliah, bukan lagi anak SMP atau anak SMA yabg harus diginiin.
Lidah Vella tadinya sangat gatal ingin mengatakan hal itu di depan para panitia. Namun, dia tak suka menjadi bahan perhatian. Vella mau menjalani masa kuliahnya dengan damai dan sejahtera tanpa ada masalah dengan mahasiswa lain.
“Lagi nunggu siapa?”
Suara bass yang sudah dikenali Vella masuk merambati telinga gadis itu. Vella berbalik dan langsung tersenyum ramah pada Agam.
“Ah, hai, Kak. Lagi nunggu jemputan,” sahut gadis itu.
“Ooh, memangnya siapa yang jemput?”
“Sopir saya, Kak.”
Rasanya Vella melihat kelegaan di wajah Agam selepas dia mengatakan itu. Namun, dia langsung menepis pikiran itu.
Tidak lama kemudian, mobil berwarna hitam muncul dari kejauhan dan berhenti tepat di depan mereka. Pak Burhan menurunkan kaca mobil dan meringis kecil.
“Udah lama nunggu, ya, Non? Maaf, tadi di jalan sempat macet karena ada kecelakaan.”
“Nggak, kok, Pak,” ujar Vello lalu beralih pada Agam, “saya duluan, ya, Kak. Permisi.”
“Ah, iya. Hati-hati, ya.”
Vella mengangguk ramah dan masuk ke dalam mobil. Namun, Agam langsung menahan pintunya ketika Vella hendak menutupnya.
“Kenapa, Kak?”
“Udah gue bilang, ngomongnya nggak usah terlalu formal.”
“Ah, iya, Kak. Saya ....”
“Nah, itu lo pake saya lagi. Lo-gue aja nggak apa-apa,” komentar Agam.
Vella lantas meringis kecil. “Ah, iya, Kak. Kalau gitu gue pulang duluan, ya. Permisi, Kak,” ucap Vella agak kaku.
Agam tersenyum puas. Dia melepas tangannya dari pintu dan membiarkan Vella menutup pintunya.
Ketika mobil melaju, Pak Burhan langsung bertanya mengenai cowok itu.
“Senior doang, Pak. Dia ketua panitia ospek,” jawab Vella.