Vella turun dari mobil lalu meregangkan seluruh tubuhnya. Terdengar suara kretek ketika dia menoleh ke kiri dan ke kanan. Gadis itu mengambil tasnya yang tertinggal dalam mobil lalu menatap rumah lamanya yang gelap.
“Non, ayo masuk. Udah malam ini,” ajak Ani sembari menyeret dua koper Vella.
“Ah, iya, Ni. Sini kopernya satu biar gue bawa,” ujar Vella sembari mengambil satu koper dari tangan asisten rumahnya itu.
Vella berjalan duluan dan Ani menyusul di belakang. Pak Burhan masih sibuk di bagasi mobil menurunkan beberapa barang milik Vella.
“Waw, udah hampir tiga tahun kosong, tapi tetep bersih, ya,” gumam Vella mengamati halaman rumahnya. Gadis itu mengira dia bakal kerja ekstra dengan kedua asistennya membersihkan rumah dua lantai itu. Sepertinya tidak jika melihat luar rumah kelihatan bersih. Semoga saja di dalam juga tidak berdebu.
“Tadi kata Nyonya, ada orang yang sudah beres - beres di sini sebelum kita datang. Kalau nggak salah suruhannya Ibu Disha?” ucap Ani ragu. Gadis yang seumuran dengan Vella itu sendiri baru pertama kali menginjakkan kaki di Jakarta. Dia baru dua tahun bekerja pada keluarga Starillo.
Vella langsung manggut-manggut, “Oh, Tante Disha rupanya.”
Vella meneruskan langkahnya dan segera membuka pintu rumah. Pak Burhan menyusul dan segera menyalakan lampu. Nostalgia seketika menyerang benak Vella. Ruang tamunya tak berubah banyak. Hanya beberapa perabotan yang berpindah tempat serta foto – foto keluarganya makin banyak terpajang di dinding. Dia menyeret kopernya ke dekat sofa lalu mendekati sebuah foto berukuran besar yang terpasang di dinding ruang tamu. Itu foto keluarganya.
Vella tersenyum ketika tangannya menyentuh permukaan foto. Foto ini pasti diambil saat dia masih SMP karena dia tidak mengingatnya. Di dalam foto itu terlihat mereka sekeluarga mengenakan pakaian bermotif batik warna cokelat. Mentari dan Dio duduk di depan lalu Varda dan Vella berdiri di belakang mereka.
Tiba – tiba rasa sakit di kepalanya muncul. Vella memegang kepalanya yang sakit. Perlahan, beberapa bayangan tentang foto studio terlintas di benaknya. Di foto studio itu ada papanya, mamanya dan Varda. Mereka semua mengenakan pakaian batik seperti yang ada di foto
“Non? Non Vella tidak apa – apa?” Ani tergopoh – gopoh mendekati Vella ketika melihat gadis itu bersandar di dinding samping foto keluarganya.
Vella beberapa kali berkedip karena penglihatannya terasa kabur. Saat membaik, gadis itu malah tersenyum kecil. Ani sampai mundur selangkah karena mengira gadis itu kesurupan jin happy.
“Non Vella baik – baik saja?” tanya Ani hati – hati.
Vella menatap Ani lalu mengangguk kecil. Dia berjalan menuju tangga dan menyeret kopernya ke atas. Sampai di lantai dua, dia menoleh pada Ani yang masih berdiri kebingungan di bawah.
“Ani! Malam ini pesan makanan aja, ya! Pesen tiga, oke?”
“Menunya apa aja, Non?”
“Biasa, ayam geprek.”
“Oke, Non.”
Vella menghela napas dan tersenyum lebar. Ingatannya mengalami kemajuan. Semoga saja tinggal di sini membuat ingatannya pulih sepenuhnya.
Dia berjalan menuju kamarnya. Ketika membuka pintunya, mata Vella mendelik tak percaya melihat kamarnya. Astaga, dulu kamarnya warna biru! Kenapa sekarang warna pink?
Vella masuk ke dalam dan menatap setiap titik dari kamarnya. Tak ada yang sama seperti ingatan terakhirnya. Gadis itu mengacak -acak rambutnya dengan wajah cemberut. Ada apa dengan dirinya saat SMP? Memermak kamarnya tidak ada dalam list kehidupannya.
“Mana warnanya norak lagi,” gerutu Vella kesal.
Dia tidak sengaja menoleh ke arah kiri dan mendapat sebuah pintu berwarna abu – abu di sana. Vella lantas memiringkan kepalanya sembari mendekati pintu itu. Matanya mengamati pintu itu sejenak.
“Perasaan dulu nggak ada pintu di sini, deh,” gumamnya sembari mengetuk – ngetuk pintu itu.
“Eh? Ada ruang di dalamnya?” tanyanya pada diri sendiri.
Vella segera meraih gagang pintu dan menariknya ke bawah. Ketika melihat isinya, mata Vella hampir keluar. Dia baru ingat! Ini ruangan yang ada di mimpi buruknya itu.
Vella berbalik menatap pintu itu dan sadar bahwa itu pintu yang sama dengan yang ada di mimpinya. Kaki Vella mulai bergetar karena ketakutan. Mengingat pemuda yang tak punya wajah itu membuatnya goyah. Namun, Vella tetap memberanikan diri masuk lebih dalam.
Seingat Vella, ini dulu adalah gudang, karena memang kamarnya bersebelahan dengan gudang. Jadi, sekarang ruangan ini beralih fungsi dari gudang menjadi tempat menyimpan barang – barang pemberian pemuda itu?
Vella mengedarkan pandangannya pada lemari – lemari kaca yang berbaris rapi di dinding. Dia mendekati lemari yang berisi tas selempang dan ransel. Di lemari lain ada berbagai sepatu dan sendal yang biasa di pakai jalan – jalan. Vella beralih lagi pada lemari lain yang menyimpan berbagai gelang – gelang dan pernak – pernik. Vella jadi bertanya – tanya, mengapa pemuda itu rajin sekali memberinya hadiah, ya?
Tahu tak akan mendapat jawabannya, Vella hanya mengendikkan bahu lalu menatap ke arah lemari pakaian. Dia membuka lemari dua pintu itu dan menemukan berbagai pakaian Mulai dari baju, celana, rok dan dress.
Gadis bermata gelap itu mengambil satu gantung dress dan membawanya ke kamar. Dia berdiri di depan cermin full body dan memasang pakaian itu di depan badannya.
Vella mendengus kecil ketika melihat pakaian itu sudah tak kelihatan cocok di tubuhnya. Sepertinya dia akan mengeluarkan semua barang – barang itu dari dalam sana. Semuanya pasti sudah tak cocok untuk Vella.
Dia masuk kembali hendak mengembalikan baju itu ke dalam lemari. Besok dia akan membereskan semua barang – barang yang ada di sini. Mungkin dia bisa menyumbangkannya ke yang membutuhkan. Apalagi semua sepatu dan pakaian itu terlihat masih bagus dan sepertinya jarang terpakai, atau mungkin ada yang belum pernah terpakai.
Dia akan menjadikan ruangan itu untuk menyimpan novel – novelnya dan pakaiannya.
Ketika Vella hendak keluar, netranya menangkap sebuah benda yang tergantung di belakang pintu. Dia mengambilnya dengan wajah bingung. Sebuah papan nama.
“Room Velvan?” Vella membaca kata-kata di papan nama itu. Gadis itu mengerutkan keningnya. “Maksudnya apa, ya?” gumam gadis itu bertanya – tanya.
Vella memutuskan untuk mengembalikan papan nama itu ke tempat semula dan beranjak ke kamarnya. Berbagai foto di meja belajarnya membuat gadis itu tertarik untuk merapat. Vella tertawa ketika melihat berbagai foto – foto alay-nya.
“Kenapa foto ancur begini tetap di cetak, sih?” katanya geli melihat sebuah foto dirinya yang kabur. Entah dia yang banyak gerak atau kameranya yang bergerak ketika sedang memotret.
Vella memperhatikan buku – buku paket yang tersusun rapi. Dia membaca satu per satu judul buku itu. Ada buku IPA Terpadu, Bahasa Indonesia, Matematika, Bahasa Inggris dan IPS Terpadu serta beberapa buku soal latihan UN SMP.
“Eh, itu apa?”
Vella menajamkan matanya ketika melihat sesuatu seperti secarik kertas terselip di antara buku paket. Dia lantas mengambilnya dan ternyata itu adalah selembar foto.
Gadis itu mengibasnya untuk menyingkirkan debunya. Dia mengerutkan keningnya ketika melihat dua gadis dalam foto itu. Gadis yang satu adalah dirinya sendiri, sedangkan yang satunya lagi ... Vella tak mengenalnya.
Dengan iseng dia membalikkan foto itu dan menemukan tulisan dengan tinta pulpen di sudut kiri bawah.
“Vella dan Haira,” gumam Vella menyebutkan kata – kata di balik foto itu.
“Siapa itu Haira?” tanyanya lagi.
Nama Haira terdengar familiar di ingatan Vella, tapi dia tak mengingat apa pun. Vella mengamati wajah Haira di foto itu dari dekat. Lagi – lagi Vella tak bisa mengingatnya.
Dilihat dari foto itu, mereka kelihatannya sangat akrab. Apa mungkin Haira adalah teman baiknya saat SMP?
“Non Vella, makanannya udah ada.” Kemunculan Ani di depan pintu kamar membuat Vella terkejut. Gadis itu lantas mengusap pelan dadanya
“Iya, Ni. Lo makan duluan aja sama Pak Burhan, nanti gue nyusul,” ujar gadis itu.
Ani mengangguk kecil dan pergi ke bawah.
Sementara itu, Vella kembali mengamati wajah Haira. Rasa pusing kembali menyerangnya. Vella berharap ada ingatan mengenai Haira muncul namun sampai pusingnya mereda, tak ada apa pun yang muncul.
Bahu Vella melorot. Dia meletakan foto itu di atas meja lalu keluar dari kamar dengan lesu.