Packing & Obat

1330 Kata
Vella turun ke lantai satu. Kakinya langsung melangkah menuju ruang keluarga. Di sana, kedua orang tuanya tengah menonton TV. Varda entah ada di mana. Mungkin sedang mendekam di kamarnya. Hari ini Vella ingin ke sekolah mengambil SHUN-nya. Karena dia masih bersitegang dengan papanya, gadis itu meminta sopir yang bekerja di rumahnya agar mengantarnya. Vella menghentikan langkahnya. Orang tuanya belum menyadari keberadaannya karena mereka duduk membelakanginya. Vella diam di tempatnya sembari berpikir harus pamit pada orang tuanya atau tidak. Ketika gadis itu masih sibuk memilih, Mentari lebih dulu berbalik dan mengangkat alis ketika melihat anaknya berpakaian seperti ingin keluar. Wanita itu menatap lembut ke arah putrinya yang gelagapan karena ketahuan. “Vella? Kamu ngapain di situ, Sayang? Ayo, sini.” Vella perlahan mendekati mereka dan duduk di sofa tunggal. “Kamu mau ke mana?” tanya Dio. Seperti biasa, itu adalah kalimat pertama yang keluar dari mulutnya ketika melihat putri bungsunya berpakaian seolah ingin keluar. “Ke sekolah, Pa,” cicit Vella. “Kamu diantar sama siapa?” “Sama Pak Burhan, Pa.” “Kamu mau ngapain di sana?” “Ambil SHUN.” “Nanti Papa yang ambilkan, kamu nggak usah pergi.” “Mas,” panggil Mentari. “Kita sudah membicarakan ini kemarin,” sambungnya dengan ekspresi wajah yang hanya dimengerti Dio. Pria itu melengos pelan lalu mendengus. “Iya, iya, kamu bisa pergi. Tapi, tetap hati – hati, ya,” ucap Dio akhirnya. Dalam hati, Vella menjerit senang. Apa ini artinya papanya sudah memberinya keluasan? Sepertinya orang tuanya membicarakan itu tadi malam saat Vella mengurung diri di kamar. “Iya, Pa. Vella bakal hati – hati, kok,” ucap Vella setengah mati menahan senyumnya yang ingin merangsek keluar. Dio mengangguk pelan sementara Mentari terus menatap suaminya itu. Melihat Dio tak kunjung bereaksi, wanita itu menyenggol suaminya dengan mata mendelik. “Ck! Iya, iya!” decak Dio malas. Pria itu memperbaiki duduknya dan menatap Vella dengan binar berwibawa. “Vella,” panggilnya. “I-iya, Pa?” “Papa mengerti perhatian Papa yang berlebihan terhadap kamu itu mungkin terasa membebani kamu, tapi itu semata – mata Papa mengkhawatirkan kamu, Vella. Jadi, setelah Papa pikir matang – matang, Papa akan berusaha memberi kamu keluasan.” “Termasuk kuliah di Jakarta?” Dio menghela napas hendak menolak namun Mentari mencubit pahanya sembari tersenyum manis. “Iya, Papa ijinin,” ucapnya enggan. “Tapi, ada syarat yang harus kamu penuhi kalau mau ke sana,” sambungnya kemudian. Mentari dan Vella sontak menatap pria itu. Mentari menatapnya karena kata ‘syarat’ tidak ada dalam pembicaraan mereka semalam. Sedangkan Vella menatap papanya karena tidak sabar menunggu syarat apa sama yang harus dia penuhi. Semoga saja tidak menyusahkan. Amin! “Pertama, kamu ke sana ditemani Pak Burhan dan Ani. Kedua, kamu akan tinggal di rumah lama kita di sana. Dan ketiga, kamu tidak boleh belajar nyetir mobil dulu,” papar Dio. Vella mengangguk – angguk. Syaratnya bisa Vella terima. Tidak apa – apa masih buntu nyetir mobil, asalkan dia sudah diizinkan ke Jakarta sendirian. “Terima kasih, Pa, Ma!” seru Vella riang. Dio dan Mentari mengangguk pelan. Vella tersenyum senang. Dia sudah tak sabar ingin ke Jakarta! Vella mendadak ingat akan pertanyaannya mengenai kepindahan mereka ke Jogja secara tiba – tiba. Senyum gadis itu memudar digantikan tatapan serius. “Pa, Ma, Vella mau nanya alasan kita pindah ke sini. Kenapa, sih? Kok, kayaknya aneh karena tiba – tiba banget.” Dio berpandangan dengan Mentari sejenak. “Itu——“ “Hm, kamu tidak ingat, ya? Kamu, ‘kan, yang minta sendiri pengen pindah ke sini.” Dio memotong ucapan istrinya. Wanita itu lantas menatap suaminya dengan bingung namun Dio tak menghiraukannya. “Vella yang minta?” beo Vella bingung. Gadis itu menelengkan kepalanya dengan kening mengerut. Kok, dia tidak ingat, ya? Dia menatap kedua orang tuanya beberapa saat dan mendapati ekspresi aneh dari mereka. Namun, dia akhirnya mengangguk-anggukkan kepalanya. “Oh ... oke, deh, Pa, Ma,” ucap Vella dengan senyum ragu. “Iya. Papa kira kamu mau ke sekolahmu. Sudah buruan sana,” suruh Dio. Vella mengangguk lalu berdiri dan menyalami orang tuanya. Ketika gadis itu keluar dari rumah, Mentari menatap suaminya. “Kok, kamu bohongin anak kita, sih, Mas?” “Aku nggak mau Vella mengingat laki – laki itu lagi. Jadi, jangan berani – berani cerita tentang laki – laki itu di depan Vella,” tegas Dio dan beranjak ke kamar. === Vella dan Mentari sedang packing barang – barang yang akan dibawa Vella ketika Varda muncul dengan wajah kumal di depan pintu kamar. Perempuan itu memakai atasan biru muda dan celana bahan, model pakaian kesukaannya selama menjalani koas. “Sore, guys. Lagi ngapain?” tanya Varda sembari berjalan mendekat. “Lagi packing, Kak. Besok Vella udah mau ke Jakarta,” sahut Vella riang. Varda mendengus tersenyum. “Cie, yang mau balik ke Jakarta.” “Wajahmu kenapa, Varda? Kok, merah gitu?” tanya Mentari. “Biasa, Ma, si Rey suka bikin emosi! Ngeselin banget, sih, itu cowok. Rasa – rasanya pengen Varda jadiin rempeyek!” sahut gadis itu gemas. Vella dan Mentari saling pandang dan menahan senyum. Rey adalah anak pertama dari Raja dan Disha. Sebenarnya, dari SMA dua orang itu tidak pernah akur. Setiap ketemu, agenda utama mereka adalah bersilat mulut. Pisah beberapa tahun karena Starillo sekeluarga pindah ke Jogja. Namun, tak tahu kenapa, cowok itu tiba – tiba nongol di Jogja dan koas di rumah sakit tempat Varda juga koas. “Jangan dijadiin rempeyek, Kak. Jadiin pacar aja,” goda Vella. Varda mendelik pada adiknya. “Ihh, nggak! Amit – amit, dah!” ucap Varda dengan nada jijik. Mentari dan Vella tertawa geli. Varda tak tahu saja kalau Rey sebenarnya menyukainya. Merecoki gadis itu adalah salah satu cara agar Varda memperhatikannya. “Btw, ini semua barang – barang yang mau lo bawa?” tanya Varda melihat beberapa kardus dan dua koper. “Iya, Kak.” “Itu kardus isinya apa?” “Novel Vella.” Varda lantas mencibir. Dia baru sadar rak – rak di dalam kamar adiknya itu sudah kosong. Astaga, dia mau membawa semua koleksi novelnya? “Sisain buat gue separuh, dong,” pintanya, “kayaknya baca novel bagus juga kalau lagi waktu luang,” sambungnya dengan suara menggumam. “Iya, nanti Vella tinggalin separuh buat Kak Varda.” Varda meletakkan tas tangannya di meja belajar Vella dan mulai membantu mamanya dan adiknya packing. “Ma, Kak, akhir – akhir ini Vella sering mimpi. Kadang juga tiba – tiba langsung pusing sendiri, terus Vella kayak ada ingat sesuatu gitu. Apa itu ingatan Vella yang hilang?” tanya Vella beberapa saat kemudian. Dia sebenarnya enggan mengatakan ini pada mama dan kakaknya, tapi hati Vella malah tidak tenang karena merahasiakannya. Mentari dan Varda langsung menghentikan kegiatan mereka dan bertatapan dengan raut wajah tegang. “Terus, kalau itu muncul, kepala Vella rasanya sakit banget. Kak Varda tahu, gak, obat untuk itu? Vella gak bisa nahan sakitnya kalau datang lagi,” keluh Vella. “Vel, kamu mulai ingat apa?” tanya Mentari berusaha tenang. “Hm ... random, sih, Ma. Kadang ingat lagi belajar pakai seragam SMP, main bareng teman, dan ada mimpi buruk juga. Vella mimpiin laki – laki gak punya wajah. Serem banget, ih! Terakhir, Vella ingat lagi ngobrol sama laki – laki itu, tapi wajahnya kabur. Vella coba ingat lebih dalam, eh, kepala Vella malah sakit,” terang gadis itu panjang lebar. “Kalau ada yang seperti itu, jangan terlalu dipaksa untuk ingat, Vel. Nanti kepala lo malah pusing. Ntar gue beliin obat untuk meredakan pusing lo itu,” ujar Varda khawatir. Sementara itu, Mentari tak berkata apa – apa. Wanita itu malah merenung. Suaminya tak boleh tahu soal ini. Kalau sampai Dio mengetahuinya, pria itu pasti tak akan mengijinkan Vella ke Jakarta. Mentari tak mau suami dan anaknya bersitegang lagi. Wanita itu akhirnya memutuskan untuk merahasiakan ini dari Dio. “Aduh, perut Vella sakit. Vella ke kamar mandi dulu, ya, Ma, Kak,” ujar gadis itu meringis kecil dan keluar dari kamar. Selepas Vella pergi, Mentari langsung menatap putri sulungnya dengan binar serius. “Varda, jangan sampai ini sampai ke telinga Papa kamu. Pokoknya jangan kalau kamu nggak mau adikmu kecewa lagi,” peringat Mentari. Varda mengangguk khawatir. “Iya, Ma, Varda nggak akan bilang hal ini sama Papa. Tapi, sampai kapan kita mau sembunyikan ini? Bagaimana kalau Vella mengingatnya saat ada di Jakarta dan berusaha ketemu sama laki – laki itu?” “Itu bisa dipikirkan di belakang. Pokoknya, untuk saat ini, Papa kamu jangan tahu dulu.” “Iya, Ma.” “Oh iya, obat untuk adikmu bisa kamu ambil besok pagi? Soalnya adikmu besok berangkat siang,” pinta Mentari. “Iya, Ma, bisa. Lagi pula, Varda besok nggak ke rumah sakit, kok.” “Satu lagi, jangan sampai Papa kamu lihat obat itu. Nanti dia banyak tanya lagi.” “Iya, Ma.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN