Sakit & Penjenguk

1924 Kata
Akibat Vella pulang dari kampus dengan wajah pucat dan pengakuan dari Pak Frivan kalau Vella pingsan membuat Ani nekat menghubungi Mentari di Jogja mengenai betapa keras kepalanya putri bungsunya itu. Hasilnya, Vella sudah tertahan dua hari di dalam rumahnya dengan sederet ceramah dari kedua orang tuanya plus kakaknya melalui telepon. “Lo baik-baik aja, kan, Vel?” tanya Varda. Kini, Vella dan keluarganya di Jogja terlibat dalam video call. “Haduh, Kak, gue baik-baik aja, kok. Kalian yang terlalu khawatir,” ucap Vella jengah. “Baik-baik apanya! Kamu sampai pingsan begitu!” omel Mentari muncul dari belakang Varda. “Kamu sudah minum obat? Besok nggak usah ke kampus dulu. Papa tidak mau kamu sakit lagi. Jangan keras kepala, Vella. Waktunya minum obat, ya diminum. Jangan melawan kalau dinasehatin Ani. Obatnya jangan dilempar keluar jendela, paham?” Dio menegurnya panjang lebar. Vella meringis kecil. Kenapa papanya bisa tahu dia diam-diam membuang obatnya. Apa sekarang Ani jadi mata-mata papanya? Matanya menangkap sosok Ani yang berdiri di depan kamarnya dengan segelas s**u di tangan. Mulutnya lantas mengeluarkan desisan ketika Ani terkekeh pelan. Ani berjalan masuk dan meletakkan s**u itu di nakas. “Diminum, ya, Non,” ucap Ani mempersilakan. “Eh, eh, itu Ani?” tanya Dio menggebu-gebu. “Iya, Tuan. Ini saya,” sahut Ani sopan. “Nah, mumpung Vella denger. Saya mau bilang sama kamu, tolong awasi Vella, ya. Kalau dia melawan, jangan sungkan-sungkan buat marahi dia aja. Kalau dia ancam kamu, telepon saya segera.” Mendengar itu Vella merengut. Ani terkekeh-kekeh. Setelah pamit pada Dio dan Mentari, dia keluar dari kamar Vella. “Besok Vella udah bisa masuk kampus. Vella udah sehat, kok, Ma, Pa,” ujar Vella dengan senyum manis. “Tidak boleh!” “Tapi, Pa, Vella mau kumpul tugas-tugas Vella. Belum lagi Vella ketinggalan materi.” Rengekan Vella makin menjadi-jadi. Kakinya meronta kesal hingga sepreinya kusut. “Kamu ini!” gerutu Mentari gemas. “Dosen kamu juga pasti maklum! Kumpul tugasnya bisa nyusul, kok. Kalau masalah ketinggalan materi, kamu bisa catat materi dari temen-temen kamu. Jangan paksain diri kamu atau Papa sama Mama yang langsung ke situ awasi kamu!” sambung Mentari dengan nada mengancam. Vella melotot tak percaya ketika papanya dan Varda memberi jempol pada mamanya yang mendengus bangga. “Papa Mama nggak usah ke sini, sakitnya Vella nggak separah itu, kok, sampai kalian harus tinggalin pekerjaan,” ucap Vella akhirnya. Ada baiknya juga dia menahan diri untuk tidak ke kampus dulu. Dari pada orang tuanya yang datang menjenguknya. Bisa-bisa di daftar hadir Vella memiliki keterangan sakit selama satu bulan. “Lo baik-baik, ya, di situ. Jangan keras kepala,” celetuk Varda menekankan kata-katanya. “Sumpah! Kalian udah berapa kali omongin itu! Lagi pula, keras kepala itu turunan dari siapa, sih? Papa? Mama?” “Papa!” “Mama!” Vella sekaligus Varda sama-sama melongo ketika orang tua mereka saling tunjuk. Walaupun dibatasi jarak, Vella bisa merasakan aura-aura saling tuduh terjadi antara mereka. “Kamu yang keras kepala!” tuduh Dio. “Enak saja! Kamu kali!” balas Mentari. “Kayaknya turunan dua-duanya, deh, Vel,” ujar Varda jengah. “Udah-udah! Vella matiin ya panggilannya. Vella mau tidur,” putus Vella hendak menekan ikon merah. “Tunggu dulu!” tahan Dio. “Jangan lupa minum obatmu!” “Jangan dibuang lagi!” Mentari memperingati. “Jangan——“ Tut tut tut Panas telinga, Vella memutuskan sambungan video call sepihak. Gadis itu lantas mematikan datanya dan menyimpan ponselnya di nakas. s**u yang disediakan oleh Ani belum terjamah. Ia merasa mager bahkan untuk bangun dari tidurnya saja. Jam baru menunjukan pukul tiga sore. Cahaya matahari yang perlahan bergerak ke barat masih memancarkan cahaya teriknya. AC dalam kamar Vella tidak menyala namun ia merasa kedinginan. Dia benar-benar masih sakit. Vella merinding lalu menaikkan selimutnya hingga ke atas kepalanya dan memutuskan tidur. “Mmm?” Vella menggumam ketika merasakan sesuatu menoel lengannya. Ia baru saja terlempar ke alam mimpi dan pantul lagi ke alam nyata. Benar-benar mengesalkan. Lengannya dicolek lagi. Dengan enggan Vella menyibak selimutnya. “Napa lagi, sih, Ni? Belum waktunya minum obat juga!” kesal Vella masih dengan mata tertutup. “Memang belum waktunya, kok.” Mata Vella sontak terbuka. Gadis itu langsung bangun duduk ketika melihat Pak Frivan ada di pinggir tempat tidurnya. “Ba-bapak——“ “Kakak,” koreksi Pak Frivan sembari duduk di samping Vella. Pria itu menyentuh dahi Vella dan berdecak kesal. “Demam kamu kenapa belum turun-turun, sih?” “Gimana mau turun, Mas, obatnya nggak diminum tapi dibuang,” celetuk Ani yang tahu-tahu sudah ada di depan pintu. Sebelum Vella memberi tatapan laser padanya, ia langsung menghilang dari pandangan Vella. “Ck, pantas aja nggak sembuh-sembuh,” decak Pak Frivan kesal. “Itu susunya kenapa nggak diminum?” tegur Pak Frivan lalu mengambil s**u itu. “Minum.” “Nanti aja, deh, Kak, saya nggak nafsu minum itu lagi. Bosen!” tolak Vella ogah-ogahan. “Novella.” Vella melirik pria itu. Nyalinya langsung ciut ketika melihat tatapan tajam Pak Frivan. Dengan wajah tertekuk, dia merebut segelas s**u itu dari tangan Pak Frivan dan meminumnya hingga habis. “Puas?” Vella meletakkan gelasnya di nakas dengan kasar. Melihat itu Pak Frivan malah tertawa pelan lalu menepuk kepalanya dengan lembut. “Gadis pintar.” Vella memiringkan bibirnya merengut. “Ini.” Pak Frivan menyerahkan sebuah buku tulis. “Ini apa, Kak?” “Buka aja.” Dengan ragu, Vella menerima buku itu. “Wuahhh!” Mata Vella terbuka kagum melihat isi buku itu. “Ini ... ini Kakak yang tulis?” Pak Frivan mengangguk pelan. “Saya tidak mau kamu ketinggalan materi. Jadi, ini saya tulis khusus untuk kamu. Kamu tidak perlu menyalinnya lagi ke bukumu. Simpan saja ini dan bawa kalau jam matkul saya, oke?” Vella tersenyum lebar. Tanpa sadar, dia memeluk pria di depannya dengan erat. “Makasih, ya, Pak!” O'ow. Pak Frivan tak merespons. Pria itu mematung dengan tatapan lurus ke depan. Ini ... dia tak menyangka Vella akan melakukan hal senekat ini. Mereka kadang bersentuhan hanya sekadar pegangan tangan. Pelukan? Dia ... tak pernah memikirkan itu. Demi Tuhan, pelukan Vella hangat sekali. Apa karena dia lagi demam? Sementara itu, Vella yang baru menyadari perbuatannya langsung melotot kaget. Di luar perkiraan, dia mendorong Pak Frivan sekuat tenaga hingga pria itu jatuh tersungkur dengan p****t lebih dulu mendarat di lantai yang tak bersalah. “Oh, astaga! Bokongku,” ringis Pak Frivan kesakitan. Vella menutup mulutnya. Tak tahu harus berbuat apa, Vella bersembunyi di balik tempat tidurnya sembari meneriakkan kata maaf dengan nada ketakutan. “Sumpah! Saya nggak sengaja! Itu tadi spontan! Maaaf banget, Pak! Eh, Kak!” Vella menutup telinganya erat, tak ingin mendengar omelan pacarnya itu. Dasar bodoh! Ngaapain, sih, pake acara peluk-pelukan segala! Dasar kolot! Vella mengumpati dirinya sendiri. Dia menggeleng keras ketika Pak Frivan berusaha menyibak selimutnya. “Novella!” teriak Pak Frivan dengan nada tertahan. “Ampun, saya beneran nggak sengaja!” “Bukan itu! Aww! Teman-teman kamu datang!” Vella menyibak selimutnya hingga menampar wajah Pak Frivan. Dia menggigit bibirnya ketika melihat Pak Frivan meringis kesakitan. Namun, mendengar suara teman-temannya yang ada di bawah, gadis itu langsung panik. Dia bangkit dari tempat tidurnya dan mengguncang bahu Pak Frivan. “Kak, gimana ini? Mereka juga nggak bilang-bilang kalau mau datang!” “Saya juga mana tahu! Ini b****g sama pipi saya masih sakit, Novella!” “Kakak, ‘kan, dosen! Harusnya bisa nyari ide dalam keadaan genting ini, dong!” “Kamu kira saya ini serba tahu, ya?” sindir Pak Frivan kesal. “Kamar mandi,” ucap Vella. “Sembunyi di kamar mandi saya aja, Kak!” “Eeh, memangnya tidak ada tempat sembunyi yang bagus——“ “Jangan banyak request! Kakak harusnya bersyukur saya punya ide secepat kilat. Udah, ayo masuk, cepetan!” paksa Vella mendorong punggung Pak Frivan. “Vella! Kita datang untukmu!” teriakan alay Aldo terdengar dari tangga. Vella melotot ngeri dan mendorong Pak Frivan ke dalam dengan keras hingga pria itu menubruk dinding. “Novella,” geram Pak Frivan membalikkan badan. “Duh, marahnya nanti aja! Diam di sini dulu! Jangan keluar sampai saya yang bukain pintunya!” Vella menunjuk dosennya itu lalu menutup pintu kamar mandi. Dia melompat ke tempat tidurnya dan berpura-pura sedang berbaring membelakangi pintu kamarnya. “Hai, Vel!” sapa teman-temannya bersamaan. Vella berbalik dan wajah dibuat seolah baru bangun. “Hoammm! Kalian datang?” “Gimana keadaan lo? Ih, masih panas!” sungut Jasmine menjauhkan tangannya dari dahi Vella. “Udah dua hari, Vel. Masa iya panas lo belum turun-turun juga,” tegur Haira yang membawa keranjang berisi buah-buahan. “Mau gue kupasin?” tawarnya. “Ho’oh, kupas banyak-banyak, ya, Ra,” celetuk Bian nyengir. “His!” Haira merengut. “Lo ketinggalan banyak materi, Vel!” Sheva mengompori. “Pak Frivan ngasih materi, beuhhh, macam gunung meletus!” “Hah?” Vella tak mengerti. “Yaelah, lo ngerti ajalah, Vel!” ujar Jasmine ogah-ogahan. “Udah, nggak usah bahas Pak Frivan, deh. Hati gue potek tiap ingat dia,” sungutnya. Vella menggigit bibir dalamnya. Pal Frivan pasti sedang menguping dari dalam kamar mandi. “Non Vella,” panggil Ani dari depan pintu. “Iya, Ni?” Ani terdiam beberapa saat, seolah sedang mencari sesuatu yang hilang. “Anu, Mas—— eeeh, maksudnya teman-temannya mau minum apa, Non?” lidah Ani hampir keseleo gara-gara tatapan tajam Vella. “Jus——“ “Air putih aja, Mbak.” Yaya menikung Bian yang langsung memasang wajah masam. Gadis itu menatap Bian dengan senyum datar. “Kita ke sini ceritanya mau jenguk Vella, bukan mau ngabisin isi dapurnya.” “Nggak apa-apa, kok, Ya,” ujar Vella menengahi. “Ni, bawain minuman sama cemilan, ya! Ah, sama pisau juga buat kupas buahnya.” “Baik, Non.” Selepas Ani pergi, Vella langsung mencolek lengan Haira yang sibuk merobek plastik pembungkus buah-buahan. “Hm?” gumam Haira. “Anu, ada tugas, gak?” “Nggak. Materi doang.” “Bohong!” teriak Aldo. “Ember!” teriak Sheva kesal. “Kalian mau bohongin gue, ya?” tanya Vella kesal. “Duh, Vel, bukannya mau bohongin lo! Kita cuma nggak mau lo maksain diri kerja tugas padahal kesehatan lo belum pulih. Nanti, deh, kalau lo sehat lagi baru gue pinjemin catatan sekalian gue bantu ngerjain tugas-tugas!” ujar Sheva. Vella bangun dari tidurnya. “Tapi, gue pengennya cepet-cepet selesaiin!” “Hih, kita ini peduli sama lo tahu! Mending lo istirahat total, deh, dari pada nanti tambah lama sakitnya!” komentar Haira ikut-ikutan kesal karena keras kepala Vella. “Ini ... buku lo, ya, Vel?” tanya Yaya mengangkat sebuah buku. Vella melotot namun dia segera bersikap normal. Oh gosh! Itu buku yang dikasih Pak Frivan tadi! “I-iya. Astaga, gue tadi lupa kembaliin ke rak,” ucapnya dengan tawa yang dibuat-buat. Yaya mendengus tersenyum. “Yaudah, gue simpan, ya. Di laci ini, kan?” Yaya memasukkan buku itu ke dalam. Vella bernapas lega. Dia memalingkan wajahnya ke arah lain dan mengelus dadanya. “Aduh, gue kebelet pipis, nih!. Numpang di kamar mandi lo, ya, Vel!” pinta Aldo dengan wajah kecut. “Kok, tiba-tiba, sih?” tanya Vella sedikit panik. “Yang namanya kebelet mah nggak tahu kapan datangnya, Vel. Gue numpang masuk, ya!” Aldo berlari mendekat pintu kamar mandi. Teman-temannya melongo tak percaya ketika Vella melompat dari tempat tidurnya demi menahan Aldo masuk dalam kamar mandinya. “Jangan!” Aldo baru ingin memutar knop pintu ketika Vella menahannya dengan napas terengah-engah. “Kenapa, sih? Vel, jangan halang-halangin, dong, orang kebelet nih!” pinta Aldo mengentakkan kakinya. “Jangan di kamar mandi ini!” sewot Vella. Aldo mengerut kan keningnya. “Kok, lo jadi aneh gini, sih, Vel?” “Hah?” Vella mengerjap bingung. Dia menoleh pada teman-temannya yang menatapnya aneh. “Ah ... itu, toilet gue tersumbat. Anu, jangan buka. Di dalam bau banget soalnya,” ucapnya nyengir kikuk. “Oh, gitu, ya? Vel, bentar aja! Gue udah kebelet banget ini!” paksa Aldo hendak memutar knop pintu. “Jangan!” hardik Vella dan mendorong Aldo dengan keras. Cowok itu terkapar di lantai, tepat di depan pintu kamar Vella. Teriakan kecil terdengar dari luar. Ani terkejut karena tiba-tiba saja ada yang muncul tersungkur dibawah kakinya. Vella menutup mulutnya tak percaya Apa-apaan ini?! Dia mendorong dua laki-laki sekuat tenaga dengan kurun waktu satu jam? “Hahaha!” Vella tertawa dibuat-buat ketika teman-temannya menatap Aldo ngeri. “Anu ... lo pipis di kamar mandi bawah aja,” ujar lalu berbalik ke tempat tidurnya tanpa membantu Aldo bangun. Pak Frivan yang mendengar keributan di luar menempelkan telinganya di daun pintu. “Cewek barbar emang,” decaknya geleng-geleng kepala.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN