Suara gemeletuk dari jari-jari Vella membuat Bian merinding. Entah sejak kapan cowok itu merasa ngilu pada rahangnya ketika mendengar suara-suara sejenis meregangkan otot.
Vella sendiri langsung menyandarkan kepalanya di atas meja. Jari-jarinya serasa kaku setelah menyalin catatan dan tugas dari beberapa mata kuliah yang tak dihadirinya selama empat hari. Kalau begini, mah, Vella bisa jatuh sakit lagi. Masih untung Pak Frivan memberinya catatan. Ia mengedipkan matanya yang terasa kering. Bian yang duduk di sampingnya mengedik bertanya mengira Vella sedang menggodanya.
“Udah gak waras lo, ya, Vel?”
“Masihlah! Mata gue berasa kering. Lo nggak usah baper gitu gue kedipin mata,” sewot Vella.
Sekarang jam istirahat. Hanya segelintir orang di dalam kelas termasuk Bian dan Vella. Teman-teman mereka yang lain sedang di kantin. Vella yang kukuh ingin menuntaskan nulis balapnya dan Bian yang katanya lagi puasa tetap tinggal di dalam kelas, sekalian Bian menemani Vella agar tak bosan.
Cih, tidak bosan apanya.
Bian sedari tadi kalau bukan main ponsel, ya, gangguin Vella nulis. Jengkel yang ada. Untung saja Vella sabar.
“Yaudah, jangan sewot gitu juga kali!” cibir Bian ikut-ikutan menyandarkan kepalanya.
Mereka berdua kini saling bertatapan. Lama-lama saling melotot karena tak ada yang mau mengalah. Bahkan sampai air mata mereka keluar tak ada yang mau berkedip sekali pun.
“Romantis banget.”
“Lo kalah!” seru Bian karena Vella langsung mengerjap kaget.
Ia bangun dan duduk tegak. Rahangnya hampir jatuh. Tidak lagi menghiraukan seruan kemenangan Bian, Vella menatap cowok di depannya dengan mata berair.
“Ha-hai,” sapa Agam kikuk. Tatapan Vella macam psikopat.
“Eh ... ha-hai, Kak. Astaga, Bian lo nggak bilang-bilang kalau Kak Agam datang,” ujar Vella salah tingkah sembari mengelap air matanya.
“Gue juga mana tahu. Kan fokus ngeliat lo!” bantah Bian tak mau disalahkan. Ia menatap Agam dan tersenyum ramah. “Duduk dulu, Kak,” tawarnya sembari menunjuk bangku Yaya.
“Ah, nggak usah. Gue cuma mau minta maaf sama lo, Vel, soal kejadian yang lalu itu. Gue ... bener-bener minta maaf,” ucap Agam tulus.
Mendengar itu, Vella tersenyum kikuk. Dadanya langsung dipenuhi perasaan bersalah. Waktu itu ia sudah berkata kasar pada Agam dan sekarang cowok itu malah minta maaf padanya.
“Ng ... nggak apa-apa, Kak. Gue juga minta maaf udah ngomong kasar sama lo. Sorry.”
Agam tersenyum kecil. Ia menepuk kepala Vella membuat rahang Bian jatuh ke bawah.
“Anjir, asupan mata macam apa ini? Gue masih jomblo!” gumam Bian memalingkan wajah.
“Lo nggak ke kantin?” tanya Agam.
“Enggak, Kak. Gue nggak lapar——“
Suara perut Vella membuat Agam menutup mulut menahan tawa. Vella langsung meringis dan menunduk malu. “Anu, maksudnya, tadi lagi banyak yang harus dikerjain jadi nggak ke kantin,” cicit Vella.
“Yaudah, kalau gitu gue temenin ke kantin. Nanti lo kena maag kalau nahan lapar. Mumpung jam istirahat masih lama, gue juga lapar. Ayo, Vel,” ajak Agam tanpa tedeng aling-aling menarik Vella berdiri dari kursinya dan berjalan keluar kelas.
Bian menatap dua insan itu dengan speechless. Otak kecilnya kini bekerja keras menyusun kata-kata untuk menjelaskan pada teman-temannya apa yang baru dilihatnya.
===
Lagi-lagi kantin heboh karena Agam dan Vella masuk bersama dan duduk di meja yang sama, bercerita bersama seolah tak ada yang memperhatikan. Sebenarnya, Vella sedari tadi merasa risih dengan bisikan-bisikan di sekitarnya. Ia jadi berpikir mungkin begini perasaan pada selebriti yang kegiatan privasi mereka harus terekam kamera.
Sebentar, apa hubungannya, ya?
Vella menggelengkan kepalanya dan melahap mie bakso yang masih mengepulkan uap.
“Lo kenapa, Vel?”
“Maksudnya, Kak?”
“Itu,” Agam menyentuh kepalanya sendiri, “lo geleng-geleng kepala.”
“Oh, ahahaha, bukan apa-apa, kok,” dalih Vella tertawa kering. Dia langsung menunduk pura-pura menyantap baksonya. Tatapan Agam terus saja membuatnya risih. Bisikan di sekitarnya juga belum mereda.
Lagipula, seandainya bukan karena perutnya yang tidak sabaran, Vella pasti tidak akan berakhir di sini, makan semeja dengan Agam di kantin.
Vella mengangkat kepalanya, mencari keberadaan teman-temannya di bagian sudut kantin. Mereka ada di sana, juga memperhatikan Vella dengan senyum menyeramkan. Vella memutar bola matanya jengah.
Jasmine yang lebih dulu berdiri dan tergopoh-gopoh mendekatinya disusul teman-temannya yang lain. Mereka semua senyam-senyum ketika menatap Agam dan Vella.
“Katanya mau nyelesaiin nulis catatan. Kok, malah di sini, Vel?” tanya Jasmine mencolek dagu nya.
“Udah selesai catatannya.”
“Oh, gitu, ya. Kok, bisa ke kantin bareng Kak Agam, sih?” Sheva mengulum bibirnya menahan senyum.
“Kebetulan aja,” ujar Vella seadanya.
“Bian mana?”
Vella menatap Aldo dengan jengah. “Doi lagi puasa, ya kali gue ngajak dia ke kantin.”
“Duh, guys, nggak usah diganggu deh Vella-nya!” seru Jasmine centil lalu menggiring gank-nya keluar kantin. “Kita duluan ke kelas, ya, Vel!” seru Jasmine.
Vella menahan desisannya ketika teman-temannya memberinya tawa cekikikan dan membentuk finger heart.
“Temen-temen lo asyik juga, ya,” ucap Agam ramah.
“Hm, sebenarnya mereka juga rada-rada nggak waras, Kak,” kekeh Vella.
“Tapi, justru yang begitu bikin kita nggak bosan temenan sama mereka.”
“Iya juga, sih, Kak. Kadang mereka ngeselin, tapi kalau ada apa-apa, cerewet mereka ngalahin omelannya Mama.” Tawa Vella mengudara.
“Oh iya, gue denger lo empat hari nggak masuk karena sakit. Kok, bisa, sih?”
“Ah, yang itu gue cuma kecapean doang, Kak. Sebenarnya Papa Mama gue aja yang terlalu khawatir, gue sakitnya nggak parah, kok.”
“Bagus, dong, ortu lo perhatian banget sama lo.”
Vella tersenyum kikuk mendengar perkataan Agam. Ada yang beda dari suara cowok itu. Entah mengapa, Vella merasa dia salah bicara mengenai ortunya hingga membuat Agam tiba-tiba agak aneh. Cowok itu tak mengatakan apa-apa lagi dan memakan mie baksonya.
Brak!
Uhuk!
Vella langsung tersedak. Bola bakso yang seharusnya dua kali makan malah tertelan bulat-bulat langsung turun ke tenggorokannya. Kesal, Vella berdiri menatap pelaku gebrakan meja.
“Dasar cewek genit! Lo nggak kapok-kapok, ya, nyari masalah sama gue?” raung Xiani mendorong bahu Vella.
Vella terhuyung ke belakang. Gadis itu tak bisa meladeni Xiani karena bakso yang tinggal di tenggorokannya. Dia meraih air minum di meja dengan wajah menahan sakit dan meminumnya dengan rakus.
“Cici, lo apa-apaan, sih? Di sini lagi rame. Lo nggak malu dilihat banyak orang?” tegur Agam. Ia berpaling pada Serli dan Viola yang berdiri tak jauh dari mereka. “Kalian berdua ngapain? Bawa dia pergi!”
Serli memutar bola matanya malas. “Capek! Gue angkat tangan, deh, sama masalah lo berdua. Yang satunya gak peka yang satunya gengsi. Tolong lurusin pemikiran kalian yang berbeda. Kasian tuh junior jadi korbannya,” ujarnya ketus lalu berbalik keluar dari kantin diikuti Viola yang tak berkata apa-apa.
Mahasiswa yang masih ada di kantin kini berkerumun mengelilingi mereka. Bisikan di sekitarnya makin menjadi-jadi.
Vella berpegang pada ujung meja. Napas gadis itu tersendat-sendat. Belum sempat dia mengatur napasnya, Xiani kembali menyerangnya dengan menyembur pop ice rasa melon milik mahasiswa yang duduk di meja sebelah.
“CICI!” teriak Agam marah.
“Apa! Lo mau marahin gue? Marah aja, Gam! Sekalian di depan banyak orang. Kenapa, sih, lo banyak berubah sejak cewek ini muncul. Lo nggak merhatiin gue lagi! Lo terus aja nyari alasan buat ngehindar dari gue. Lo mulai pintar bohong gara-gara cewek ini!” teriak Xiani emosional.
Vella mengelap wajahnya yang basah. Gadis itu mengambil air di meja dan menyiram Xiani.
“Lo!”
“Apa?” tanya Vella menantang. Tak lagi memikirkan konsekuensi dari perlakuannya. Bagi Vella kurang ajar harus dibalas kurang ajar juga, biar mereka sama-sama belajar dari masalah ini.
“Vel, lo tenang dulu, ya,” ujar Agam berusaha menenangkan.
“Lo belain cewek ini?” tanya Xiani tak percaya.
“Ci, gue bukannya belain dia. Tapi, kalau lo emang punya masalah sama gue, jangan bawa-bawa Vella. Kasian dia nggak tahu apa-apa.”
“Kasihan? Gam, kok lo nggak peka-peka juga, sih? Akar permasalahan itu justru dia!”
Xiani tak bisa lagi menahan emosinya. Ia mendorong Vella dengan keras hingga gadis itu tersungkur jatuh ke belakang. Agam membantunya berdiri, namun emosi Vella juga sudah meledak.
Gadis itu lebih beringas dari perkiraan Xiani. Dia mendorong Xiani dengan membabi buta. Isi kebun binatang keluar semua dari mulutnya.
“Gue udah ngasih waktu buat lo jelasin baik-baik! Tapi, kayaknya lo emang suka nyari keributan. Gue akar permasalahan lo? Hah! Gue bahkan nggak pernah ada niat buat nyari masalah dengan lo! Justru dari awal lo kayaknya yang suka nyari masalah sama gue!”
“Dasar junior nggak tahu diri!” teriak Xiani murka.
Cewek itu mendorong Vella ke dinding dan menarik rambutnya dengan keras. Vella berteriak kesakitan dan mencakar wajah Xiani. Suasana di kantin langsung riuh. Beberapa cowok malah menyemangati mereka sementara cewek-cewek berteriak histeris menyuruh siapapun agar menghentikan mereka berdua.
Agam hanya terpaku di tempatnya, menatap kosong pada dua cewek itu. Perlahan, dia berbalik meninggalkan kantin dengan wajah hampa.
“Ada apa ini?” sebuah suara rendah menggelegar dari pintu kantin.
Kerumunan lantas membelah ketika Pak Frivan berjalan ke tengah-tengah bak malaikat maut. Wajah dosen itu dingin. Matanya menatap dua cewek yang berkelahi dengan tajam. Kerumunan yang tadinya heboh langsung hening. Kini, yang terdengar hanyalah langkah tapak sepatu pantofel Pak Frivan dan cacian yang keluar dari mulut dua cewek itu.
“Xiani Anindita dan Novella Clarine Starillo.” Pak Frivan berucap datar namun lantang. “Ikut ke ruangan saya. SEKARANG!”
===
“Xiani, kamu sebagai senior harusnya bersikap lebih bijak, bukannya malah meladeni perkelahian. Novella, kamu sebagai junior juga harus menjaga sikap. Di sini tidak ada yang namanya senioritas setelah ospek, namun tetap saja Xiani ini senior kamu. Kalian seharusnya saling menjaga sikap, bukannya malah mencari keributan begini. Isi otak kalian itu apa?” omel Pak Frivan panjang lebar.
Vella dan Xiani yang berdiri di hadapan Pak Frivan hanya menunduk dengan napas memburu. Keduanya sama-sama kusut. Rambut Vella acak-acakan dan beberapa bekas cakaran yang memerah di pipi Xiani. Tak ada suara yang keluar dari mulut mereka lagi. Keduanya terdiam walau mata mereka masih saling melempar sinyal penuh dendam.
“Kalian dengan saya atau tidak?!”
“Dengar, Pak!” ujar keduanya bersamaan.
“Coba jelaskan sama saya, kenapa kalian berkelahi seperti ini?”
“Dia yang mulai, Pak!” tuduh Xiani.
“Saya tidak menanyakan itu! Yang saya tanyakan mengapa kalian berkelahi! Kalian tidak malu sama mahasiswa yang lain? Sadar umur, kalian itu bukan anak kecil lagi!”
Keduanya tak menjawab.
“Apa betul karena Agam?” tanya Pak Frivan.
Keduanya makin menunduk.
“Gara-gara satu laki-laki kalian rela cari sensasi? Di mana rasa malu kalian? Sudah tidak ada lagi?”
Pak Frivan terdiam beberapa saat. Pria itu bersandar ke belakang dan memijit kepalanya frustasi.
“Untuk kamu Xiani, tolong selanjutnya jaga sikapmu. Saya tidak mau dengar kamu buat kehebohan seperti ini lagi. Sangat disayangkan sekali, mahasiswi berprestasi seperti kamu malah terjerat masalah remeh ini.”
“Dan kamu Novella,” Pak Frivan menjeda beberapa saat, “saya kecewa sekali sama kamu.”