Pintu terbuka. Tanpa sempat melihat siapa yang datang sebuah pukulan mengenai pipi Adam. Cukup keras dan bertenaga dalam. Pukulan itu membuatnya bergeser ke belakang dan membuat kunciannya kepada Elena terlepas.
Serangan berikutnya datang. Adam marah luar biasa. Ia menghalau seseorang yang berani menyerangnya. Gerakan lawannya cukup hebat dibanding vampir yang selama ini ia temui. Dan ia benci bertarung. Karena itulah ia menunjuk si penyerang kemudian berkata.
"Diam!" teriaknya.
Tubuh lelaki yang menyerangnya langsung kaku. Sekuat apapun ia melawan untuk bergerak takkan mampu dilakukannya. Adam menatap berang lelaki asing yang entah dari mana ia datang. Beraninya ia menyentuhnya. Tanpa alasan. Yang jelas tanpa permisi juga. Apakah dia juga bagian dari vampir yang menyerang rumahnya tempo hari. Tiba-tiba Elena yang terlepas mencoba datang mendekati Adam. Namun Sang Godness yang sudah marah langsung melemparnya dengan satu kibasan tangan hingga Elena jatuh dan pingsan.
"Beraninya kau menyakitinya!" teriak lelaki dihadapannya. Meski sudah dikunci, ia masih mampu bicara. Hanya vampire berkeahlian tinggi yang bisa melakukannya. Pertanyaannya, mengapa ia begitu peduli. Ada apa antara lelaki di depannya dengan ibunya itu.
"Kau yang telah berani menyentuhku. Hah!. Aku paling benci di sentuh-sentuh," sahut Adam. Ia melayangkan tinju dan langsung mengenai wajahnya.
"Beraninya kau. Kau tidak tahu siapa aku. Hah!" teriak pria itu. Ia meludahi wajah Adam.
Mata biru Adam langsung berubah merah. Ia marah luar biasa. Adam tahu wajah lelaki di hadapannya nampak tidak asing. Namun tidak peduli siapa, ia tak terima diludahi seperti itu. Tanpa banyak bicara lagi. Ia langsung mencekek leher pria tidak jelas maunya apa itu.
"Tuan Adam lepaskan dia!" teriak Samuel. Begitu masuk rumah dan mendapat pemandangan yang sungguh tak mengenakkan hati. Adam tidak mendengarkan. Ia terus mencekik lehernya. Menariknya ke atas hingga kedua kakinya tidak menyentuh tanah.
"Tolong lepaskan dia. Nanti dia bisa mati." Kali ini Brian yang berteriak.
"Aku-tidak-peduli. Kalau aku mau saat ini juga aku bisa membuatnya menjadi abu. Tapi aku ingin menyiksanya. Beraninya dia meludahi wajahku," ucap Adam penuh penekanan pada tiap kalimatnya.
"Tapi. Dia Ayahmu Dam. Dia tuan Druf!" teriakan Jay membuat Adam menoleh. Kemudian ia menatap lelaki pucat dengan wajah berkerut dan lingkaran lebam di matanya. Meski merasa tidak asing, sama sekali tidak ada kemiripan dengan lelaki yang ada di foto kecuali sepasang mata biru itu. Adam langsung melepaskannya. Suasana hening sejenak. Semua orang terdiam.
"Sepertinya aku muak dengan semua ini. Masih sulit bagiku menerima kenyataan siapa diriku ini. Aku dikurung. Menjadi manusia pengisap darah. Kemudian diserang orang tak dikenal. Dan Kini ibuku menjadi gila dan menyukaiku anaknya sendiri. Dan Ayah juga muncul terus meludahi wajahku. Wow. Amazing. Katakan padaku Samuel kejutan apa lagi yang akan menungguku nanti? Dan hal yang sangat membuatku muak adalah kalian merahasiakan semua masa lalu dan jati diriku dariku. Seolah aku tidak akan bisa mengetahuinya ataupun menerimanya. Kalian sungguh keterlaluan."
Setelah berkata begitu Adam keluar rumah. Namun sebelum lepas dari pintu ia berkata.
"Jangan ada yang mengikutiku. Jika ada yang berani. Jangan salahkan aku," ancamnya, kemudian melangkah pergi.
Samuel menghela napas. Tidak tahu harus berbuat apa. Seharusnya ia mempercayai Adam sejak dulu. Mungkin jika ia menceritakan semuanya dari awal. Kejadiannya tidak akan sekacau ini. Mungkin pertemuan dengan ayahnya akan lebih bermakna. Mungkin Elena tidak akan terkena kutukan itu. Mungkin, mereka semua bisa berkumpul dengan tenang. Tapi semua sudah menjadi bubur. Entah bagaimana ia akan bisa menyatukan Adam dengan Druf dan Elena. Entah bagaimana ia akan memperbaiki semuanya.
"Tuan, apa kau tidak apa-apa ?" tanya Jay seraya memapah Druf dan mendudukkannya di sofa.
"Kekuatannya luar biasa sekali. Jadi, kabar itu benar," Druf bergumam.
"Tuan hanya tidak sedang sehat. Nanti kalau pulih pasti lebih kuat," ucap Frans.
"Jangan membodohiku Frans. Aku sudah dengar dan aku tidak masalah dengan itu. Justru aku bangga jika takdir Godness adalah anakku sendiri. Masalahnya adalah aku tidak tahu apa yang harus kulakukan pada istriku sendiri. Ia telah menyukai Adam anaknya sendiri. Layaknya ibuku yang menyukaiku dulu. Sepertinya kutukan Cezar ku menurun pada Adam. Elena terkena candu." Ucap Druf dengan nada resah, sedih bercampur aduk.
***
Seorang penjual es putar sedang duduk di tepi jalan seraya mengibaskan topinya. Matanya tak pernah lepas memerhatikan rumah besar yang tak begitu jauh darinya. Begitu keluar pemuda berwajah tampan dari rumah itu. Matanya langsung membulat sempurna. Ia segera bangkit. Memutar gerobaknya. Suasana jalan yang begitu sepi sangat memudahkan aksinya. Diam-diam ia meraih senapannya yang telah dipasangi peredam. Ini kesempatan langka ia tidak boleh menyia-nyiakannya. Ia langsung bersembunyi di balik gerobak dan membidikkan tembakan.
Desss.
Tepat mengenai punggungnya. Namun pemuda itu masih tegak. Ia mencari-cari arah orang yang menyerangnya dari belakang. Dilemparnya peluru kesembarang arah dengan mata waspada dan raut wajah kesal. Dengan cekatan si pedagang es mengganti pelurunya dengan peluru husus yang mengandung bius. Sekali lagi ia membidikkan tembakan.
Dess. Dess. Dess.
Tak tanggung-tanggung tiga tembakan langsung ia lesakkan. Pemuda itu rubuh tak sadarkan diri. Yak, berhasil.
"Mata Elang, segera mendekati sasaran. Kita harus membawanya ke markas," ucapnya melalui earphone yang terdapat di telinganya.
Setengah membungkuk ia berlari mendekati korban. Di tangannya s*****a yang dipakainya barusan masih tetap siaga. Ia begitu terlatih. Sesampainya di tempat. Ia balik tubuh pemuda itu. Tak sadarkan diri. Wajahnya yang tampan tak bisa di gambarkan oleh kata-kata. Saat itulah mobil van hitam datang mendekat.
"Ayo angkat. Kita harus segera bergegas," perintahnya.
"Haey.., siapa kalian?" Teriak seseorang dari atas beranda rumah besar.
Si pedagang es terkejut dan melihat ke atas. Ia mengenali wajah itu, tapi ia sedang dalam penyamaran. Segera ia memasukkan pemuda yang telah pingsan ke dalam mobil. Dan langsung menyuruh anak buahnya menginjak gas. Lewat ekor matanya ia bisa melihat dengan jelas orang yang menegurnya di beranda melompat ke tempat tadi. Namun mobilnya sudah menjauh.
"Gila. Manusia biasa tidak mungkin bisa melompat dari beranda kamar setinggi itu," gumamnya.