Dua Puluh Dua

1058 Kata
Gelap menyelimuti kota Jakarta yang seolah tak pernah sepi dari suara kendaraan bermotor. Tampak lampu-lampu dari kejauhan bergemerlapan. Seperti kunang-kunang yang bergerak ke sana kemari. Beberapa bayangan hitam yang sejak tadi melompat-lompat bertemu di satu titik. Di depan mereka masih terdapat rongsokan yang telah gosong dari badan mobil lamborgini. "Aku tak pernah menyangka. Kita para raja akhirnya setelah sekian lama bisa bertemu kembali di sini," ucap sebuah suara yang memulai percakapan. "Ya dan uniknya lagi kita bertemu di tempat luar biasa ini. Di depan sebuah rongsokan. Heh. Lucu sekali," sahut yang lain. Suaranya terdengar masih muda. "Jangan sembarangan bicara. Raja Dominic mana bisa mengerti. Setiap hari kau sibuk bermain wanita. Bagaimana ia punya waktu memerhatikan sekitarnya. Urusannya hanya urusan sampah," ucap lelaki tak jauh darinya yang berperawakan pendek. "Kurang ajar. Jaga bicaramu." Raja Dominic merasa geram. Dengan ucapan raja Quinn dari China. "Cukup. Perlu kalian ketahui. Kendaraan ini adalah jejak terakhir dari Prince Adam putra Kaisar Druf," ucapan tegas Raja Manuel membuat semuanya membisu. Semua raja tahu jika putra mantan kaisar mereka adalah Sang Godness. "Jika dia Godness. Bagaimana mungkin dengan mudah ia bisa diserang," ucap Raja Darius. "Bodoh. Dia bukannya meragukan. Tapi sepertinya kekuatannya diperlambat," ujar Raja Dominic. "Hah. Untuk apa?" tanya semua yang hadir hampir berbarengan. "Untuk menjadi manusia. " "Apa? Manusia?" ucap mereka serempak. "Hal bodoh apa lagi itu. Apa untungnya jadi manusia yang lemah seperti orang-orang itu,"  sahut Raja Dominic. "Kau mungkin tidak tahu. Karena kau baru saja menggantikan ayahmu. Semua raja tahu jika Kaisar Druf sejak dulu menginginkan kaum kita menjadi manusia. Bahkan Samuel menjadi ketua tim penelitian untuk mewujudkan itu. Sayang ia gagal," kenang raja Lucas dari Australia. "Heh. Aku beruntung tidak hidup di jaman itu. Apa untungnya jadi manusia. Kita bisa hidup abadi," ucap raja Dominic dengan sombongnya. Bletak. Sebuah batu mendarat di kepala Dominic. Ia langsung mencari pelaku yang telah berani kurang ajar padanya. Dan matanya langsung tertuju pada wanita cantik yang umurnya ribuan tahun sedang menaikkan sudut bibirnya. "Beraninya kau Hah!" teriak Dominic tak terima. "Raja bau kencur sepertimu memang tak ada gunanya. Sepertinya ayahmu gagal mendidikmu sebagai kaum bangsawan." Ledek wanita yang terlihat muda dan sexy jauh dari umurnya itu. "Apa?" Amarah Dominic berkobar. "Tolong hentikan. Dan kau Dominic perlu kau ketahui. Kami para raja memiliki sikap mulia. Kami patuh pada pimpinan kami. Jadi apa pun keputusan Kaisar kami selalu menuruti. Lagi pula menjadi manusia biasa bukanlah hal buruk. Ketimbang hidup ribuan tahun dengan sia-sia. Dan hanya menjadi saksi kebiadaban manusia. Apa kau mau selamanya menjadi vampir sampai kiamat hah? Kita ini bukan iblis. Cam-kan itu. " Raja Oman angkat bicara. "Ingat, kita telah sepakat. Kita mewakili vampir dari tujuh benua. Telah terikat sumpah akan setia pada pimpinan. Dan untuk sementara ini karena kaisar masih belum ada kabar untuk sementara akulah penanggung jawab di sini. Sebagai raja dari benua terbesar. Aku raja Oman akan membagi tugas. Kalian mengerti?" ucapnya. Meski dalam gelap semua yang hadir mengangguk. Dan mendengarkan dengan seksama tugas masing-masing. *** Gedung yang pernah hancur sudah selesai di perbaiki. Manusia bertudung yang duduk di atas singgasananya tengah berpikir. "Bagaimana Lord. Apa anda yakin akan melepaskan Adam?" tanya lelaki bertudung lainnya. "Sebenarnya aku ingin dia di pihak kita. Membangun kembali kerajaan vampire ke masa kejayaan seperti dulu. Tapi setelah dipikirkan lagi entah kenapa aku lebih tertarik kepada penelitian Samuel. " "Maksud anda penelitian regenerasi itu? " "Benar. Konon benda yang mampu mengubah kita itu memiliki kekuatan besar. Jauh lebih besar dari kekuatan Adam. Lagipula dari dulu kala Sang Godness memang tidak bisa diperintah siapa pun. Jadi kuputuskan. Kirim mata-mata ke pusat penelitian yang dilakukan Samuel. Sementara itu kita kembali ke Transilvania. " "Titah anda siap kami laksanakan. "   ***   "Yakin ini rumah ente Dam?" tanya Ilham begitu tiba di depan rumah besar bernuansa eropa. Adam hanya mengangguk. Kemudian ia turun mengikuti Ilham yang telah turun terlebih dahulu. "Ane cuma nganter sampai sini yah. Soalnya ada tes wawancara. Doain ane ya Dam lulus tes. " Untuk kedua kalinya Adam hanya mengangguk. Setelah itu Ilham pamit dan melanjutkan perjalannya. Yang penting baginya ia tahu rumah Adam. Jadi sewaktu-waktu ia bisa main kerumahnya. Selain penasaran Ilham tak menyangka akan bertemu langsung dengan makhluk mitos itu. Dan sepertinya apapun hal yang dikatakan film itu tidak benar. Vampir tidak sebuas yang mereka ilustrasikan. Mereka mirip manusia pada umumnya bahkan cenderung pendiam. Semenetara itu, Adam mematung cukup lama di depan rumahnya, namun akhirnya ia masuk. Sepi. Baik Jay maupun para pamannya sama sekali tak nampak. Karena lelah dengan semua yang terjadi ia memilih langsung menuju kamarnya. Namun baru saja pintu ia buka. Wanita yang mengganggunya tempo hari tengah mencium-cium pembaringannya. "Kau__" Adam kaku di tempatnya. Tiap kali ia bertemu wanita itu pikirannya langsung kosong. Mendadak ia tidak tahu harus bertindak apa. Mendengar suara Adam. Wanita yang tak lain adalah Elena ibu kandungnya sendiri menjadi sumringah. Ia langsung menarik Adam membawanya masuk dan menyandarkannya ke dinding. Sejenak Adam merasa terganggu dengan sikapnya. "Kau tampan sekali," desisnya. Elena bergelayut. Ia bersandar ke d**a Adam. Wangi tubuh Adam langsung melenakannya. Adam merasa jantungnya kacau sekali. Ia merasa ini tak benar. Bahkan tanpa sengaja ia bisa melihat masa lalu wanita yang kini tengah sibuk membuka kancing baju Adam satu persatu. Elena sibuk mengusap d**a bidang dan perut sixpack di hadapannya yang seakan membuatnya gila. Adam justru sibuk melihat masa lalu Elena di matanya. Ia melihat Ayahnya. Tragedi yang menimpa kedua orang tuanya hingga kelahirannya. Hingga takdir siapa dirinya. Dan ketika Elena berjinjit dan hendak melumat bibirnya, kesadarannya pulih seratus persen. Hingga sebelum bibir ibunya menyentuhnya ia langsung mendorong tubuh wanita yang melahirkannya itu. Elena terlempar membentur kaca beranda hingga pecah. Adam yang telah mengetahui masa lalunya merasa shock. Ia segera bangkit dan menghindari ibunya. Yang jelas ia harus tetap sadar. Ia tidak akan meladeni ibunya. Hanya hewan yang melakukan hubungan haram anatara ibu dan anaknya. Dengan tergesa Adam melayang turun ke ruang tamu. Berharap ada paman atau siapapun yang bisa menghentikan kegilaan ibunya. "Adam. Mau pergi kemana kau!" teriak ibunya frustasi. Adam terkesiap. Saat ibunya melompat turun. Ia langsung siaga. Pikirannya langsung mencari cara bagaimana ia bisa menghentikan ibunya. Tanpa harus menyakitinya. Ketika Elena mulai mendekat. Ia langsung mengendalikan pikiran. "Berlutut," ucapnya. Tubuh Elena langsung berlutut. Sejenak Adam bisa bernafas lega. Namun ia tidak akan bertahan lama menahan ibunya dalam kondisi begitu. Apa yang harus ia lakukan. Apakah ia harus membunuh ibunya seperti yang dilakukan ayahnya dulu.?    
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN