Samuel berjalan ke sana kemari dengan gelisah. Frans menutup wajahnya. Brian bersender ke sofa seraya menutup mata. Semua tampak frustasi.
"Ini semua salah saya. Saya tidak bisa memegang kepercayaan kalian," ucap Jay yang berdiri kaku dihadapan Frans dan Brian.
"Tidak. Ini semua memang di luar kendalimu," sahut Samuel.
"Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang. Kita tampak seperti orang tak berguna," ucap Frans.
Brian menghela napas.
"Kita hanya bisa menunggu informasi dari orang-orang kita," ucapnya kemudian.
***
Adam merasa otonya lemas. Ia memuntahkan semua nasi yang ia makan dengan paksa. Tubuhnya menggigil. Bibirnya pucat. Arifin yang melihat itu segera membawanya ke bilik. Setelah itu ia mengambil sarung Ali kemudian menyelimutinya. Tak lama ia segera menelpon Ali yang kebetulan masih membeli sesuatu di toko.
"Li, sepertinya saudara kita mengalami demam yang sangat tinggi. Kita harus membawanya ke rumah sakit," ucap Arifin di telpon.
Mendengar itu Adam menahan lengan Arifin seraya menggeleng. Melihat itu Arifin paham jika dirinya tidak mau dibawa ke sana.
"Tidak Li. Maaf kau jemput saja akhi Ilham. Biar dia yang memeriksa saudara kita. "
Setelah itu Arifin menutup telponnya.
"Sabar Akhi. Sebentar lagi sahabat kita akan datang," ucap Arifin.
Adam hanya menatapnya. Sungguh ia demam karena menahan gejolak untuk menghisap darah makhluk di hadapannya. Sebenarnya ia tidak butuh dokter. Ia butuh darah. Tak lama Ali datang bersama seseorang yang sama sekali tak nampak sebagai seorang dokter. Ia memakai sarung dan kopyah. Tapi ia membawa perlengkapan dokter.
Ia memeriksa Adam dengan teliti. Diulanginya lagi. Ia memeriksa mata. Mulut dan tensi darahnya. Ia ulang sampai tiga kali. Kemudian ia terdiam sebentar. Kemudian mata teduhnya menatap Adam cukup lama.
"Bisakah kalian berdua keluar sebentar," ucap Ilham.
Ali dan Arifin saling pandang. Keduanya mengernyit.
"Percayalah. Karna aku harus memeriksa sesuatu yang mungkin menjadi aibnya. Jadi mohon kepercayaannya," ucap Ilham.
Akhirnya Ali dan Arifin keluar. Ilham segera menutup pintu. Setelah itu ia bergegas mengambil senter kecil dari dalam tas. Dengan cekatan sekali lagi ia memeriksa mata dan mulut Adam. Kemudian ia terdiam lagi.
Adam menatap sang dokter dan membaca pikirannya. Dengan lemah ia berkata, "Apa yang ada dalam pikiranmu itu benar. "
Ilham terkesiap. Ternyata manusia di depannya bisa membaca pikirannya.
"Subhanallah.., jadi isu yang kudengar saat kuliah di Tiongkok itu benar," ucapnya. Ia tampak mulai kebingungan.
"Aku tidak tahu isu apa yang kau dengar. Tapi aku butuh darah," ucap Adam.
"Lalu kenapa kau tak menggigit salah satu temanku," ucap ilham penasaran.
"Kau pikir kaum kami tidak punya etika seperti bangsamu. Kami tidak pernah menggigit manusia tanpa ijin dari mereka. Bahkan sebagian kaumku sudah tak pernah melakukannya lagi," ucap Adam dengan menahan sakit. Ilham terdiam ia berpikir keras apa sebaiknya yang harus ia lakukan. Ia tidak punya stok darah. Kalaupun harus mengambil kerumah sakit letaknya jauh sekali.
"Apa semua jenis darah cocok?" tanya Ilham.
"Cocok, tapi harus bersih saja," ucap Adam.
Ilham berpikir lagi. Kemudian ia pamit untuk keluar, namun Adam menahannya. Ia menggeleng.
"Aib bagiku, jika banyak manusia mengetahui keberadaanku," Ucap Adam. Ilham merasa maklum. Entahlah, ia merasa memahami satu sama lain meski banyak perbedaan di antara dirinya dan Adam.
"Baiklah, hisaplah darahku," ucap Ilham sambil menjulurkan tangannya. Dalam hati ia berharap, semoga ia tidak berubah jadi vampir. Dan yang jelas ketika Adam menggigit dan menghisap darahnya ia merasa sesuatu yang aneh menjalar di sekujur tubuhnya. Sekitar lima menit Adam melepaskan gigitannya. Ilham merasa agak pening. Rasanya mirip setelah ia mendonorkan darahnya. Dengan pelan ia membuka pintu dan membiarkan kedua sahabatnya masuk.
"Bagaimana?" tanya Ali.
"Dia alergi makanan. Sebentar lagi dia akan baikan. Oh iya kapan Arifin akan berangkat?" tanya Ilham mengalihkan pembicaraan.
"Harusnya hari ini. Tapi bagaimana dengan Adam, aku sudah berjanji membawa dia dan mengantarnya pulang. "
"Kalau begitu biar besok aku yang mengantarnya. Kebetulan aku ada urusan di kota. Kau berangkat saja. Urusan kampus lebih utama. " usul Ilham.
"Baiklah kalau begitu. Aku pamit dulu," pamit Arifin. Kemudian ia masuk mengambil tas ransel dan pamit kepada Adam. Tak lupa ia meminta maaf tak dapat memenuhi janji untuk mengantarnya sendiri. Setelah itu Arifin di antar kedua temannya menunggu bus.
***
Setelah menghabiskan banyak darah yang diinfuskan ketubuhnya kondisi Druf kembali ke sedia kala. Ia juga sudah mendengar jika dalang di balik semua ini adalah William. Bahkan ia juga sudah mengetahui situasi dunia vampire yang sudah berubah. Sejak dirinya sebagai kaisar vampire menghilang sesuai dugaan para raja vampir saling serang. Sementara kaum bangsawan membiarkannya. Mereka justru sibuk dengan sesuatu yang dirahasiakan entah apa itu. Beruntung David sudah mendengar anak buah yang ditugaskannya mengawasi segalanya sudah tiba. Sayang ia tidak bisa mendengarnya langsung. Karena itulah ketika Druf melihat David masuk ia merasa senang. Namun memandang raut wajah David yang tampak muram, Druf bisa tahu jika kabar yang datang bukanlah kabar baik.
"Tuan, bagaimana keadaanmu?" tanya David. Entah sudah berapa kali ia menanyakan itu.
"Aku sudah sehat, berkat dirimu. Bagaimana pesan yang kau dapat? "
Mendengar pertanyaannya David menghela napas berat.
"Ini jauh lebih buruk dari dugaan kita tuan," ucap David.
"Apa maksudmu? " tanya Druf tak mengerti.
"Hal baik dari informanku, sekarang ini tak terdengar lagi pertarungan antar kerajaan vampir. Sejak berita kaum bangsawan bocor, mereka semua sibuk mengincar apa yang kaum bangsawan incar. Sama seperti William yang berani membiarkanmu dan menghilang setelah mendengar kabar ini," tutur David.
"Baguslah, selama mereka semua sibuk mengincar entah apa itu. Kita bisa menyusun kekuatan lagi dan aku bisa memanggil istri dan anakku untuk berkumpul kembali," ucap Druf. Ia meraih baju dan memakainya dengan tergesa.
"Tapi tuan, berita buruknya. Mereka semua mengincar__"
"Tidak usah kita pikirkan. Biarkan saja mereka. Setelah kita kuat kembali dan menghimpun kekuatan kita bisa menaklukkan mereka semua," ucap Druf ia bergegas hendak membuka pintu.
"Tapi tuan mereka semua mengincar anakmu," ucap David dengan suara keras dan cepat agar Druf segera mendengar sebelum pergi.
"Apa?" tangan Druf hanya sempat memutar gagang pintu, hingga akhirnya terlepas. kemudian ia berbalik dan mencengkram kedua bahu David.
"Katakan yang sebenarnya. Beraninya mereka menghianatiku dan sekarang mengincar anakku," bentak Druf dengan mata merah menyala.