Dua Puluh

1512 Kata
Disebuah ruangan gelap. Sebuah peti mati berderit. Pintunya terbuka. Lelaki kurus dan ringkih keluar dan terjatuh ke lantai. Napasnya tersengal. Dengan sisa tenaga ia mencoba bersender ke petinya. Di luar terdengar banyak langkah kaki yang hilir mudik. Hingga pintu di dobrak dan membuat matanya silau. "Tuan Druf, akhirnya aku bisa menemukanmu," teriak David. Kemudian ia meminta anak buahnya segera membawanya. Druf tak dapat berkata apa-apa. Suaranya tercekat di kerongkongannya yang kering. Kondisi tubuhnya yang menyedihkan tak cukup banyak menyimpan tenaga. Setelah kembali ke tubuhnya semula. Ia baru menyadari jika ia di sekap di sebuah rumah yang entah dimana. Dan tubuhnya melemah. Karena darah yang ia pikir di infuskan ternyata infus-infus itu menyedot darahnya. Ia tidak tahu siapa pelakunya. Terakhir kali ia hanya mendengar bunyi telepon dan kemudian seseorang berbicara cukup keras. Ia mencoba menebak siapa orang biadab itu. Tapi kesadarannya menghilang dan ketika terbangun. Orang itu tak pernah kembali lagi. Ia hanya berdiam di dalam peti tanpa kekuatan. Menyimak sunyi dalam ringkih yang pasti. Terkadang ingatannya mengembara pada Jay yang ia utus untuk mencari keberadaan anak dan istrinya. Kadang ia ingin mati saja. Namun bayangan keduanya dan rasa rindu terhadap anak dan istrinya membuatnya bertahan. Hari demi hari yang ada hanyalah sepi dan siksaan rasa haus dan lapar. Ia berharap ada seseorang yang mencari keberadaannya. Dan ketika hari ini tiba, ia lega jika itu adalah david. Druf merasakan sakit saat tangan hangat manusia memindahkan tubuhnya ke ranjang rumah sakit. Namun ia bisa bernafas lega. Saat dokter yang tak begitu dikenalnya menginfusnya dengan darah. Di luar begitu ramai. Entah apa yang terjadi. Ia hanya melihat David memerintahkan anak buahnya agar berjaga dengan ketat sebelum ia menutup pintu dan berjalan ke arahnya. "Bagaimana keadaanmu tuan?" tanyanya. "Baik. Terima kasih," sahut Druf dengan suara yang nyaris tak terdengar. Dari hari-hari sebelumnya baru kali ini Druf merasa tenang. Ia memejamkan mata dan berharap semua akan baik-baik saja.   ****   Samuel, Frans, Brian dan Dr. Toni memacu mobil mereka dengan cepat ke lokasi kejadian. Beberapa menit yang lalu kepolisian setempat menginformasikan kecelakaan mobil dengan nomer atas namanya mengalami kecelakaan di sebuah tol. Pikirannya langsung kacau balau. Harusnya ia tenang karena vampir tidak akan mati dengan mudah. Tapi baik Samuel atau siapa pun vampire di dunia ini belum begitu memahami karakteristik seorang vampir seperti Adam. Bisa saja ia jenis vampire yang tidak tahan pada getaran atau tekanan keras seperti kecalakaan. Atau kemungkinan lainnya yang menyebabkan nyawa Adam terancam. Dr. Toni menepikan mobilnya sesuai arahan polisi yang menyambut kedatangannya di lokasi kejadian. Saat turun semua mata melihat dengan jelas bekas ban mobil yang tercetak di atas aspal jalan. Frans langsung menerka jika itu bekas ban yang dihentikan mendadak. Namun anehnya tak ada bekas lain selain secara tiba-tiba mobil itu ada agak jauh dari jalan dan ditemukan dalam keadaan rusak dan terbakar di dalam tanah lapang yang penuh dengan semak dan pohon liar. "Bagaimana menurut anda prof?" tanya seorang polisi yang tampaknya cukup kenal baik dengan Samuel. "Rasanya ini agak aneh. Lihat bekas mobilnya. Ini seperti rem mendadak. Kemudian ada serpihan kaca dan lampu depan yang tertinggal di sana. Seolah mobil menghantam sesuatu di tengah jalan kemudian terpental di udara dan jatuh di sana." Tunjuk Samuel ke badan mobil yang ringsek dan kosong. "Betul prof kami juga pikir begitu. Dan anda tidak akan percaya dengan fakta aneh lain yang kami temukan." ucap polisi itu lagi. Semua orang mengikuti langkah sang polisi. Dan memperhatikan dengan seksama apa yang ia tunjuk. Di beberapa pohon terdapat bekas cakaran. Ada juga pohon yang patah atau daun semak yang hancur secara misterius. Kami menyimpulkan ini kecelakaan yang diakibatkan serangan hewan buas. Mungkin tanpa sengaja pengendara menabrak hewan yang lebih besar seperti beruang atau macan. Kemudian karena marah hewan itu membanting mobil hingga terlempar dan meledak. Mengingat cakaran ini tampaknya pengendara berhasil menyelamatkan diri dari ledakan mobil kemudian menghindari serangan hewan buas. Terakhir kami menemukan ceceran darah yang mengering di aspalan di depan sana. Dan darah lain di dekat daun. "Apa anda sudah mengirimnya ke laboratorium?" tanya Dr. Toni. "Tidak. Kami akan segera membawanya setelah bertemu kalian. " "Bolehkah kami membawanya?" tanya Frans. "Maaf pak. Walaupun sebagian kalian adalah dokter kami tetap harus mengikuti prosedur. Dan ya sampai saat ini kami belum menemukan pengemudi atau ponakanmu prof. Kami sudah mengarahkan beberapa anak buah kami untuk menyusuri tempat ini dan ke jalan beberapa kilometer dari sini. Hasilnya nihil. Bahkan tak ada jejak apapun," ucap polisi itu. Samuel tampak berpikir keras. "Ini gawat. Jika ada yang membawanya ke rumah skit. Dan__" Samuel tidak meneruskan ucapannya. Ia hanya menatap tiga vampir di hadapannya. Seolah saling memahami kelanjutan ucapannya mereka langsung menelpon orang-orangnya untuk memeriksa rumah sakit. Sementara di tempat lain truk berwarna merah. Dengan lukisan perempuan cantik di badan mobil bertuliskan 'Bang toyib gak pulang-pulang. ' berhenti di sebuah warung makan. Sopirnya turun dan langsung memasuki warung. Adam yang tersadar karena terik matahari berhasil bangkit dan turun dari dalam truk. Ia berjalan agak sempoyongan menjauhi truk yang entah membawanya ke kawasan mana. Dilihatnya bangunan besar yang tak begitu ramai. Tempatnya lumayan teduh. Ia memilih masuk dan ketika melihat air kran yang sedikit mengalir ia mendekat dan mencoba meminumnya. Rasanya agak aneh. Karena tak berhasil mengobati rasa hausnya ia memilih duduk diundakan dan memeriksa lukanya. "Ahhh," ringisnya. Aneh, harusnya lukanya sudah sembuh. Berarti vampir yang menyerangnya bukan vampir biasa. "Astaghfirullah... Kau terluka, mari ke kamarku aku obati," sapa seorang pemuda yang memakai sarung dan penutup di kepalanya. Bau darahnya terasa harum membelai pernapasan Adam. Apalagi ketika ia mendekat dan memapahnya ke dalam bilik di dekat masjid. Berkali-kali Adam menelan ludah dan menahan diri agar dirinya tidak menerkam pemuda tersebut. "Namaku Ali. Panggil bang Ali saja," ucapnya ramah. Ia mengambil air hangat dari dalam termos dan membersihkan luka di lengan Adam. "Kau turis ya. Bagaimana bisa terluka begini?" tanyanya lagi. Kali ini ia meneteskan obat merah. Kemudian membiarkannya. "Sepertinya dari bekas lukanya kau habis diterkam hewan buas. Aneh. Bukannya di kota sebesar ini hewan buas hanya ada di kebun binatang. Tapi ya bisa saja. Apa sih yang enggak jika tuhan berkehendak." "Istirahatlah sejenak. Aku adzan dulu yah. Kalau kau mau sholat boleh pinjam sarung dan bajuku," ucapnya kemudian meninggalkan Adam sendiri di biliknya. Adam tidak tahu harus berkata apa. Baru kali ini ia bertemu orang asing. Dan mereka berbicara aneh meski terdengar ramah. Tak lama kemudian terdengarlah kumandang suara adzan yang amat merdu. Adam mengernyit. Ia baru tersadar jika tempat teduh ini adalah mesjid. Tempat beribadah umat muslim. Dan siapa yang sangka jika dirinya ada di dalamnya. Tepat disampingnya. Wangi darah harum menguar. Adam bangkit dan mengintip. Mereka beribadah seperti biasanya. Darah mereka harum dan nikmat. Mungkinkah manusia yang beragama darahnya suci dan nikmat. Adam kembali ke kamarnya ia tidak mungkin jadi monster dan menyerang mereka yang tengah menghadap pada tuhannya. Jadi ia harus segera pergi dari sini setelah pamit. Tak begitu lama. Terdengar pintu dibuka. Adam menatap dua orang yang masuk dan duduk mengahadapnya. "Kenalkan ini sahabatku Arifin," ucap Ali. Orang itu menjulurkan tangannya Adam agak ragu membalasnya. Bersalaman. "Apa kau bisa bahasa Indonesia? Kupikir kau dari korea tapi melihat warna matamu tampaknya kau campuran," ucap Arifin tak kalah ramah. Bau darahnya juga tak kalah manis. Adam mengangguk. Ia duduk bersila meniru dua orang di depannya. "Apa kau turis?" tanya Arifin. Adam menggeleng. "Aku menetap di sini." "Dimana?" tanya Ali. "Kelapa gading." sahut Adam. "Jauh ternyata. Bagaimana kamu sampai di sini. Apa kau tersesat atau ada alasan lain? " tanya Arifin menyelidik. "Aku di rampok. Saat itu aku mengendarai mobil kesayanganku. Tiba-tiba dicegat seseorang dan orang tak dikenal itu menyerangku. Untung bisa melarikan diri," Cerita Adam. "Alhamdulillah, syukurlah kau selamat. Harta bisa dicari tapi nyawa, dimana bisa kita beli," ucap Arifin seraya bernapas lega. "Oh. Ayo makan dulu. Kau pasti sudah lapar. Maaf menunya seadanya. Ini makanan enak, sederhana dari warung depan," ucap Ali. Ia mengeluarkan tiga bungkus nasi. Meraih piring dan sendok dari dalam ember hitam. Kemudian meletakkan bungkus nasi yang telah ia buka dalam tiap piring dan menyodorkannya ke hadapan Adam dan Arifin. Tak lupa satu untuk dirinya sendiri. Keduanya langsung berucap bismillah dan menyantap makanannya. sementara Adam tertegun. Ia menatap makanan dihadapannya dengan perasaan kacau. Nasi, telur goreng dan tampaknya daging dengan kuah hitam tak lupa ada cabai atau apa disisinya. Ini hal tak biasa yang dilihatnya. Apalagi melihat Ali dan Arifin menyantap dengan lahap melalui tangannya. "Ayo dimakan. Maaf ini mungkin tidak sama dengan yang biasa kau makan. Tapi cobalah kau pasti suka," ucap Ali. "Ya, cobalah. Dulu aku punya teman mahasiswa dari amrik. Awalnya dia juga memandang makanannya sepertimu. Tapi setelah nyoba dia malah sangat suka. Tiap kali kesini dia pasti request makanan ini," tambah Arifin. Mereka tidak tahu jika Adam hampir tidak pernah makan nasi. Mungkin dulu kentang, tapi sejak ia berubah, nasi menjadi sesuatu yang aneh yang masuk dalam mulutnya. Meski begitu Adam memberanikan diri menjulurkan tangannya. Meniru kedua manusia di depannya dan memasukkan makanan itu ke dalam mulutnya. Aneh. Rasanya ia tidak mau menelannya. Tapi demi agar dirinya terlihat sama. Adam terpaksa memakannya. "Oh iya. Besok aku kembali ke kampus. Kau kuantar pulang. kita naik bis. Gimana? " tawar Arifin. Adam mengangguk setuju.    
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN