Mati aja gue astaga. Kenapa gue harus di posisi kayak gini sih. Gue gak pernah kepikiran kalau gue bakal diginiin sama guru nyebelin ini. Bayangin coba sudah setengah jam gue didiamin dan ditatap tajam sama Pak Ryhun. Gila kan?
Karena gue sudah jengkel yang daritadi berdiri nunduk sedangkan dia enak-enak an duduk dihadapan gue, ya gue mau melangkahkan kaki dari ruangan j*****m ini lah. Tapi baru saja selangkah, suara maut Pak Ryhun sudah menghentikan langkah gue.
"Tetap pada posisi kamu." kata Pak Ryhun membuat emosi gue tersulut. Lagian gue berasa berhadapan sama tembok.
"Pak kalau saya disini hanya melihat Bapak diam saja, mending saya ke kelas melakukan hal yang berguna Pak. Bapak tau kalau ini sudah setengah jam berlalu dan Bapak hanya diam saja. Oh pasti sangat membuang-buang waktu, bukan begitu Pak?"
"Jadi apakah yang barusan kamu lakukan ke saya tadi berguna?" balas Pak Ryhun membuat air muka gue berubah jadi masam. Gue mencoba memutar otak gue untuk mencari alasan yang tepat.
"Emm Bapak jangan asal nuduh saya dong. Memang Bapak punya bukti kalau saya yang menaruh mainan kecoak itu?" kata gue membuat Pak Ryhun langsung ketawa dengernya. Ada yang lucu?
"Coba deh berpikir sejenak. Dari sebelumnya cuman kamu yang megang tas saya. Saya sudah cek isi tas saya sebelumnya dan mainan itu tidak ada. Lalu yang kedua dengan sikap kamu di kelas tadi yang tertawa sendiri dengan keras membuat bukti pertama menguat. Dan sekarang kamu bilang sendiri bahwa kamu tidak menaruh mainan kecoak itu. Saya pikir kamu memang pelakunya." cerocos Pak Ryhun membuat gue kelabakan sendiri.
"Lah kok bisa begitu Pak?"
"Saya tadi membuang mainan itu tepat di bawah meja. Sedangkan kamu duduk di bangku yang jaraknya cukup jauh dari meja guru. Toh jika meja paling depan juga tidak bisa melihat apa yang saya pegang tadi. Jadi saya simpulkan memang kamu pelakunya." kata Pak Ryhun membuat tubuh gue menegang seketika. Astaga kenapa gue b**o banget sih pake nyebutin mainan kecoak segala. Kan jatuhnya jadi ketahuan juga. Gue cuman bisa nunduk sesekali mainin kuku gue. Mampus aja ini mah, mau ngomong apalagi.
"Segitu bencinya kamu sama saya, sehingga kamu mempermainkan saya seperti itu. Oh apa itu bentuk cari muka ke saya agar kamu lebih diperhatikan." kata Pak Ryhun membuat gue tidak terima dan menatapnya tajam.
"Apa Pak cari muka? Kalau Bapak tidak memberi tugas aneh seperti itu, saya juga tidak akan mengerjai Bapak seperti tadi. Lagian itu bentuk ke kesalan saya sama Bapak. Biar Bapak sadar kalau tugas yang Bapak berikan ke saya itu tidak ada manfaatnya."
"Oh ya jelas ada dong, kamu bisa lebih menghargai guru. Tidak lancang seperti tadi. Memang jika seperti itu saya bakalan tinggal diam sama kamu. Oh jelas tidak!" balas Pak Ryhun langsung membuat gue mengepalkan tangan menahan rasa kesal di dalam hati.
"Ya terus Bapak maunya apasih sekarang? Bisa tidak Bapak berhenti dari ketidak jelasan ini." kata gue dengan lantang membuat Pak Ryhun berjalan mendekat kearah gue. Melihat itu gue langsung mundurin badan gue sampai berhenti karena menabrak tembok.
"Bapak mau apasih?" tanya gue tapi tidak digubris Pak Ryhun, malah sekarang dia sudah ngelihatin gue dari atas sampai bawah sesekali memberi smirk ke gue. Hal itu membuat gue bingung dong, kenapa Pak Ryhun jadi seram begini.
Perlahan Pak Ryhun mendekat ke arah telinga gue dan ngebisikin sesuatu. "Saya semakin yakin buat bilang ini ke kamu. Jadi kamu mau tidur sama saya?"
Gue tertegun sebentar saat mendegar perkataan Pak Ryhun barusan. Kenapa Pak Ryhun dengan kurang ajarnya mengatakan hal yang tidak pantas diucapkan sebagai guru ke muridnya. Gue yang tersadar langsung mendorong tubuh Pak Ryhun, menatap Pak Ryhun tidak ramah.
"Bapak punya otak gak sih bicara seperti itu ke saya. Bapak ini guru loh, dan tentunya Bapak sudah punya gelar yang tinggi. Apa pantes guru berbicara seperti itu?" ucap gue dengan air mata yang sudah menetes. Selain terkenal dengan sifat nakal gue, gue juga orangnya cengeng. Jadi jangan kaget kalo gue diginiin saja sudah nangis.Gue lihat perubahan muka Pak Ryhun yang melembut, tapi gue keburu emosi dan membenci guru ini.
"Seharusnya memang dari awal saya tidak meladeni Bapak seperti ini. Bapak mau memberi nilai C ke sikap saya? Sedangkan sikap Bapak ke saya seperti ini. Oh tidak bisa gitu dong Pak, sekarang terserah Bapak mau memberi nilai C kek D kek saya tidak peduli. Dan perlu Bapak ketahui bahwa Bapak telah menimbulkan kebencian di hati saya. Jadi Bapak tidak usah berhubungan dengan saya karena tingkat kenakalan saya akan bertambah. Sekian Pak permisi."
Gue langsung keluar dan meninggalkan Pak Ryhun yang masih diam. Sebelum pergi gue sempat menyeka air mata, gak tau deh kenapa gue bisa nangis kejer di depan guru itu. Sudah benci pake banget gue sama Pak Ryhun! Kalau bukan guru sudah gue tampol tuh orang.
Setelah keluar dari ruang BK, gue berniat menuju ke masjid dan mau sholat dhuha disana. Sesekali gue menangis dan berdoa ke Tuhan. Mengapa telah memberi cobaan yang begitu besar dengan mengirim dedemit seperti itu disini.