Irene membawa Eden masuk ke dalam ruangan pribadinya untuk membicarakan kesepakatan lebih lanjut lagi mengenai Tommy. Mereka sekarang berdiskusi mengenai cermin ajaib kuno yang di maksud Eden. Irene sebenarnya enggan memberikan cermin terkutuk itu. Akan tetapi apa daya semua karena Tommy yang selalu mengganggu hidupnya. “Ikut aku, aku akan membawamu ke cermin itu.” Meskipun berat hati, wanita itu tetap melakukannya. Eden tersenyum tipis, tak ada yang bisa menyadari senyum itu kecuali dirinya sendiri. Ternyata, semua yang dilakukan tidaklah sia-sia. Anggaplah dia licik, ah biarlah toh dirinya tak peduli. Yang terpenting melawan wanita itu harus dengan siasat. Irene terus berjalan menuju ke sebuah lukisan rubah merah yang sangat besar. Ketika lukisan itu diturunkan, ada sebuah pintu be

