Baru saja Bunga akan menjawab pertanyaan yang dilontarkan Diandra. Namun Ardi sudah memanggilnya.
“Bunga, ke mari!”
Bunga menoleh. “Ada apa?”
“Ruangannya yang mana ya?”
“Ya benar di sana,” jawab Bunga dan sambil menoleh ke arah Diandra. “Benar kan ruang perawatan Adam di sana?”
Diandra menganggukkan kepalanya. “Ya, benar di sana,” jawabnya. “Kenapa memang?”
“Kok di ruangan ini tidak ada siapa-siapa,” jawab Ardy yang berdiri di ambang pintu ruangan yang biasanya Adam dirawat.
Diandra mengerenyitkan dahinya. Ia menatap Bunga dan Yogi yang berdiri di sisinya.
“Apa mungkin sudah dipindah ya?” tutur Bunga.
“Harusnya jika dipindah, perawat memberitahu aku kan.” Diandra segera berjalan lebih cepat.
“Ya, harusnya memang dari pihak rumah sakit yang memberitahu pihak keluarga,” kata Yogi menambahi.
Jantung Diandra berdebar sangat cepat. Ia takut Adam pergi dari ruang ruangannya. Sejak tadi sebelum kedatangan Bunga dan Ardy, Adam beberapa kali menanyakan Maminya – Hesti. Bukan rahasia umum lagi, jika Adam hanya tinggal bersama maminya. Dan keadaan itulah yang membuat Adam sangat dekat dengan maminya.
“Tuh kan kamar rawatnya kosong,” ujar Ardi ketika Diandra sudah berdiri di ambang pintu.
Netra Diandra berpendar ke sekeliling. Adam tidak ada di mana-mana. “Astaga ... di mana Adam ...?” pekiknya lirih.
Bunga yang baru tiba di mulut pintu, juga sama seperti Diandra, melihat ke sekeliling. Adam tidak ada di mana pun.
“Mungkin Adam mencari Maminya.” Diandra memberitahu. “Sejak tadi dia menanyakan soal maminya.”
“Lalu kamu beritahu jika Tante Hesti ada di rumah sakit jiwa?” Ardy langsung bertanya.
“Tentu saja tidak. Dengan keadaan seperti itu, Adam pasti syok mendengarnya,” jawab Diandra sambil mendesah.
“Jangan panik. Mungkin Adam sedang berjalan dan berkeliling rumah sakit.” Yogi menenangkan.
“Mungkin saja,” ucap Ardy. “Jika begitu kita berpencar.
“Aku rasa Adam masih disekitar rumah sakit. Pasien mengenakan baju rumah sakit, dan satpam pasti tidak akan mengizinkannya keluar,” ucap Yogi.
“Bagaimana jika Adam kabur? Seperti di sinetron-sinetron?” tukas Bunga. Pendapat Bunga justru membuat Diandra semakin kalut.
Kedua mata Diandra mulai terasa panas. Air matanya mulai mengalir perlahan.
“Ayo kita berpencar!” ujar Yogi sekali lagi.
Akhirnya mereka berpencar. Diandra, Bunga, Ardy dan Yogi berpencar ke segala arah.
Diandra mencari ke setiap koridor yang ia lihat di bagian barat. Rumah sakit model lawas dengan banyak koridor dengan kiri dan kanan taman bunga berumput hijau. Rumah sakit yang sangat luas pun membuat kepala Diandra menjadi pening karena tidak kunjung menemukan Adam.
Hingga ketika ia sudah mulai lelah mencari, bayangan Adam tertangkap.
Langkah Diandra berhenti. Netranya lurus memandang ke arah depan. Adam sedang tersenyum lebar, duduk di kursi roda.
Di belakangnya perawat Lina memegangi pegangan kursi roda.
Diandra lega sudah menemukan Adam dan mengetahui dia tidak apa-apa. Tapi jantungnya masih berdebar-debar. Nafasnya masih terengah-engah karena habis berlari.
Perlahan tapi pasti, ia berjalan pelan menghampiri Adam dan Lina yang ternyata menikmati indahnya waktu sore hari taman.
Suara tawa Adam membuat Diandra tersenyum. Walau Adam berbincang nyaman dan senang bukan dengannya, setidaknya melihat Adam tersenyum lagi, ia sudah bahagia.
Lina yang juga tersenyum dan tertawa renyah seolah bisa menyeimbangi sifat Adam yang saat ini suasana hatinya masih naik turun.
Sudut mata Lina melihat seperti ada seseorang yang berdiri tidak jauh darinya. Ia pun menoleh. “Mbak Diandra ....”
Adam juga ikut menoleh, mengikuti ke mana arah mata Lina memandang. Tawanya langsung memudar. Seolah tawa itu tidak diperlihatkan untuk Diandra.
“Kalian ada di sini?” tanya Diandra sembari berjalan mendekat.
“Iya, mbak. Tadi Mas Adam mengeluh bosan dan ingin keluar. Jadi saya ajak berjalan-jalan di taman,” jelas Lina.
Diandra tersenyum pahit. Ia sangat cemas hingga lutut lemas, eh ternyata perawat Lina membawa Adam berjalan-jalan di sekitar tamat rumah sakit. “Apa Adam memang sudah boleh berjalan-jalan begini?”
“Tidak apa-apa Mbak. Justru bagus. Bahkan nanti dokter akan menjadwalkan Mas Adam untuk terapi berjalan lagi. Karena terlalu lama tidak sadarkan diri, membuat otot-ototnya kaku. Jadi pasti ada terapi,” jelas Lina ramah.
“Tadi aku ... dan saudara yang lain cemas karena melihat Adam tidak ada di kamar,” ucap Diandra.
“Maaf, mbak. Aku mengantarkan mas Adam berjalan-jalan di taman ini hanya sebentar saja. Ini juga baru tiba di sini.”
Diandra memandangi Adam dan Lina bergantian. “Aku akan memberitahu Ardy, Bunga, dan Yogi dulu ...,” ucapnya sambil mengambil ponsel yang dikantungi di celana jeansnya.
Kening Adam berkerut. Memandangi Diandra yang sedang mengetikkan pesan keapda Bunga, Ardy dan Yogi. Memberitahu mereka jika Adam berada di taman belakang rumah sakit sebelah barat.
Diandra memasukan kembali ponselnya ke dalam saku celananya. Ia tersenyum ketika Adam memandanginya.
“Ardy ke mari?” tanya Adam dengan raut muka berbinar.
Diandra mengangguk. “Kamu ingat kan tentang dia?”
“Tentu saja. Dia adalah sahabatku kan. Ardy ... Dendi ...,” jawab Adam. “Apa Dendi juga ke mari.”
Diandra diam sejenak. Menatap menerawang Adam. Memang benar, ingatan Adam hilang sebagian. Memori yang diingatnya hanya memori di masa lalu. “Dendi tidak ikut ke mari.”
“Kenapa?”
“Dia berada di Italia.” Diandra menjawab.
Adam tertawa. “Wah benar, dia ingin menjadi Disainer terkemuka rupanya. Akhirnya dia memiliki cita-cita yang sungguh ingin digapainya.”
Diandra mengangguk. Sorot matanya kosong.
“Rena ... Apa dia juga ke mari?” Lagi-lagi nama itu yang ditanyakan oleh Adam.
Kerongkongan Diandra terasa kering. Jantungnya sakit berasa diremas-remas. Rena, sosok itu tidak dikenal olehnya. Tapi sungguh menyakitinya.
Lina memandangi Adam dan Diandra bergantian. Seolah mengerti apa yang terjadi.
“Apa Rena juga ke mari bersama Ardy?” tanya Adam sekali lagi.
“Mungkin.” Tiba-tiba perawat Lina menyela. Membuat Diandra terkesiap. Kenapa perawat Lina lancang menjawab begitu?
“Memang kamu mengenalnya, perawat Lina? Kenapa kamu sungguh yakin begitu?” Diandra tidak suka.
Lina mencondongkan tubuhnya dan berbisik sesaat kepada Diandra, “Ini untuk kepulihan Mas Adam, mbak ... Jangan bicarakan yang tidak-tidak ....”
Kening Diandra berkerut. Tidak mengerti apa yang dikatakan oleh Lina. “Maksudnya?”
“Adam!” Ardy memanggil. Ia berlari mendekati.
Semua mata tertuju kepada Ardy, Bunga dan Yogi yang berjalan dengan langkah cepat ke arah mereka.
“Di mana Rena?” tanya Adam dengan mata mencari-cari sosok yang disebutkannya.