Sadisnya kamu

1396 Kata
Ardy tertegun mendengar pertanyaan Adam. Lalu tatapannya berganti ke arah Diandra yang berdiri di dekat Adam. “Di mana Rena?” tanya Adam sekali lagi. “Rena?” Ardy baru menyadari jika apa yang dikatakan oleh Diandra benar. ‘Kenapa Adam menanyakan Rena? Mantan kekasihnya yang sudah meninggal ....’ “Kamu ke sini enggak bersama Rena?” tanya Adam sekali lagi. Ardy memandangi Adam dengan tatapan menerawang. Begitu juga dengan Bunga dan juga semua orang yang ada di sana. Bunga melirik ke arah Diandra – saudari kembarnya. Ia bisa merasakan kesedihan yang terasa. Langkah kakinya pun mendekati Adam. “Kenapa kamu mencari Rena?” tanyanya lirih. “Dia tidak ada di sini ... dan dia tidak akan ikut ke mari.” Adam mengerutkan keningnya. “Kenapa? Dan siapa kamu berani berbicara seperti itu.” “Kamu tidak mengenalku?” Bunga menunjuk dirinya sendiri. “Kamu pasti saudari kembarinya dia ...,” jawab Adam sambil menunjuk Diandra. “Wajah kalian bagai pinang dibelah dua.” Bunga mengatupkan bibirnya. Ia mengangguk pelan. “Ya ... kamu benar. Aku adalah saudari kembar Diandra. Dan aku juga temanmu ... Apa kamu tidak ingat aku?” Hening. Adam memandangi Bunga lekat. Ia menggelengkan kepalanya. “Tidak ... Aku sama sekali tidak ingat,” jawabnya dengan raut muka dingin. Diandra hanya bisa terdiam memandangi Adam – suaminya yang kini seperti orang asing. “Lalu apa kamu ingat jika sudah menikah?” Bunga mulai memancing ingatan masa kini. Netranya melirik ke arah cincin yang dikenakan di jari manis sebelah kiri Adam. “Cincin itu ... artinya kamu sudah menikah dan istrimu adalah Diandra.” Adam terdiam. Bibirnya terkatup rapat sesaat. “Iya, Diandra sudah mengatakannya padaku. Tapi aku sungguh tidak ingat apa pun.” Dadaa Diandra terasa sakit mendengarnya. Walau ini adalah sebuah musibah dan Adam masih ‘sakit’. Namun hatinya tetap terluka mengetahui Adam sama sekali tidak mengingat tentangnya. Air mata Diandra kembali meleleh. Ia mengusapnya dengan cepat. Yogi yang melihat Diandra kembali menangis, ikut bersedih. Ia harus melakukan sesuatu, pikirnya. Kini Yogi yang berusaha untuk membantu ingatan Adam. “Hei ... Coba kamu pandangi cincin pernikahanmu sedikit lebih lama. Mungkin saja perasaanmu yang tertinggal di dalam hati, akan menyeruak kembali.” Adam terdiam. Ia hanya memandangi Yogi. “Maaf, kamu tidak bisa mendikteku,” ujarnya ketus. Sebetulnya Yogi merasa tersinggung dengan kata-kata Adam. Namun ia memilih diam karena menganggap Adam memang sedang sakit dan ia harus memakluminya. Bunga berjalan ke sisi. Mendekati Diandra yang terlihat sedih dengan air muka pias. Ia mengusap bahu saudari kembarnya itu. Mencoba memberi kekuatan mental. “Adam ... kamu mengingatku. Tapi tidak dengan Bunga, Diandra dan juga Yogi,” ucap Ardy merasa aneh. “Sudah aku bilang, Adam mengalami amnesia sebagian,” tutur Diandra mengingatkan. “Aku tidak amnesia. Aku memang tidak ingat dengan kamu ... juga kamu ...,” ucap Adam sambil memandang Bunga dan Diandra bergantian. “Bahkan cincin yang dikatakan pernikahan ini pasti bohongan,” sambungnya sembari membuka cincin yang dikenakannya. Lalu melemparkannya ke sembarang tepat. Netra Diandra membulat melihat apa yang dilakukan oleh Adam. Semua orang yang ada di sana pun memandang terkejut. “Adam, apa yang kamu lakukan?! Kenapa kamu membuang cincin pernikahan kita?” tanya Diandra dengan air mata menggenang di netranya. “Cincin pernikahan? Sudah aku bilang, aku tidak pernah menikah denganmu,” ucap Adam bersikukuh. “Lagipula kamu bukan tipeku. Jadi tidak mungkin aku menikahimu.” Bunga yang mendengar saudari kembarnya di hina ikut tersakiti. “Hei, Adam ... Kamu- ....” Perawat Lina langsung menyela, “Sudah cukup. Jangan membuat pasien tertekan,” ujarnya lirih dan mendorong kursi roda Adam. “Pasien akan saya bawa ke ruangannya. Kita akan membantunya mengingat kembali semua potongan memori yang hilang, tapi perlahan.” Tidak ada yang menjawab. Diandra, Yogi, Bunga dan Ardy hanya memandang punggung Lina dan Adam yang berlalu pergi. “Biasanya orang yang sakit, tidak keras kepala begitu,” tutur Yogi kesal. Diandra segera membalik badan dan mencari cincin pernikahan yang dibuang oleh Adam. “Aku harus mencari cincin tersebut.” “Aku akan bantu!” seru Bunga. Ardy dan Yogi pun segera mendekat ke arah bunga-bunga dan tanaman hijau untuk menemukan cincin Adam. Mereka bahu membahu mencari cincin yang dibuang Adam namun sayangnya tidak ketemu. “Di mana cincin itu ...,” ucap Diandra lirih. Netranya memandang ke arah bawah. Mengamati setiap rumput yang ada di depannya. Mungkin saja terselip di sana. “Kita akan menemukannya, tenang saja Di ...,” kata Bunga menghibur. “Oh ya, kenapa Adam justru mati-matian menyangkal jika dia belum menikah? Biasanya orang yang hilang ingatan begitu, terlihat seperti orang linglung dan akan mendengar nasehat dan penjelasan orang-orang disekitarnya. Walau ingatan yang ada di kepalanya sebatas usia dua puluh dua tahun.” Yogi merasa aneh. Ia berbicara sambil masih ikut membantu Diandra menemukan cincin pernikahan Adam di antara rerumputan dan juga bunga-bunga berwarna warni. “Jika memori Adam di usia dua puluh dua tahun. Maka memang benar, sikapnya begitu,” sahut Ardy. “Di masa itu, Adam keras kepala.” “Eh, tapi ngomong-ngomong ... Sepertinya Adam belum mengetahui jika kalian adalah saudara tiri,” ujar Bunga menyela. “Kita semua mengetahui jika Tante Hesti – mamanya Adam adalah matan kekasih ayahmu saja dua tahun belakangan ini ....” Ardy yang sedang membungkuk karena mencari cincin, kini berdiri tegap. Ia memandangi Bunga lekat. “Pasti Adam akan syok jika tahu ayahnya adalah ayahku ....” “Sejarah akan terulang lagi ... Adam pasti akan mengamuk. Dan membencimu.” “Jangan beritahu dia dulu, kalau begitu.” Tiba-tiba Diandra menyahut. “Aku tidak mau menambah permasalahan. Aku ingin Adam kembali mengingatku dulu. Jika kita memberitahu semuanya sekaligus, kalian bisa bayangkan bagaimana marah dan tertekannya Adam? Mengetahui jika dia sudah menikah, dan istrinya aku ... Lihat saja ... dia marah besar,” sambungnya dengan wajah kecewa. “Ah siaal ... ke mana cincin itu ...,” lanjutnya bersuara serak. Bunga dan Ardy saling memandang. Mereka sangat prihatin dengan cobaan yang harus Diandra hadapi. Kisah perjalanan cinta Adam dan Diandra sepertinya butuh perjuangan yang lebih ekstra dibandingkan dengan kisah cinta mereka. “Semoga kamu selalu diberi kekuatan dengan cobaan ini, Di ...,” ujar Bunga lirih. Memandang sayu saudarinya. Diandra mengangguk. Ia mengigit bibir bawahnya. “Iya ... aku akan kuat,” jawabnya tanpa menoleh, memandang ke arah Bunga. Tatapannya masih lurus ke bawah. Mengamati rerumputan untuk mencari cincin Adam yang dibuang. Ia juga menyembunyikan netranya yang saat ini kembali tergenang air mata. “Sudah kamu istirahat saja,” ujar Yogi pada Diandra. Ia tahu, sahabatnya itu sedang menangis. “Ini sudah satu jam mencari. Tapi tidak kunjung ketemu juga kan?” “Tidak ... aku harus menemukannya,” jawab Diandra dengan suara bergetar. Bunga dan Ardy menatap Diandra iba. “Iya, Di ... Yang dikatakan Yogi benar. Ini sudah satu jam kita mencari tapi tidak ketemu. Mungkin tadi cincin yang dilempar Adam, langsung jatuh ke selokan dan terseret air ...,” kata Bunga. “Lihat di pinggir rumput itu kan ada selokan drainase,” sambungnya sembari menunjuk. Diandra mengikuti jari telunjuk Bunga. Pandangan matanya terhenti di saluran drainase dengan tutup besi bersekat. “Ya, mungkin saja jatuh ke sana,” sahutnya. Bukannya menyerah dan beristirahat. Diandra justru mendekati saluran drainase dan mencoba mengangkat tutup besi bersekatnya. Berat. Telapak tangan Diandra terasa sakit. Namun ia tidak mempedulikannya. Ia harus membuka tutup saluran drainase ini. Mencari cincin pernikahannya dengan Adam. Ya, Bunga benar ... pasti terjatuh ke mari! “Di, apa yang kamu lakukan?” Yogi, Bunga dan Ardy kompak menegur. “Tanganmu bisa terluka mengangkatnya!” seru Yogi sembari menarik tangan Diandra agar melepaskan cengkeraman di sela-sela tutup besi yang tajam. “Hentikan!” “Tidak! Aku harus menemukannya!” *** Sementara Diandra sibuk mencari dan merasakan sakit di kedua telapak tangannya. Di ruangan perawatan VIP, Adam justru sedang bersantai. Ditemani suster Lina. “Apa kamu mau apel ini, Mas Adam?” Adam mengangguk. “Boleh. Bisa kamu kupaskan untukku?” “Tentu,” jawab Lina sembari tersenyum lebar. Ia mengambil sebuah apel di atas piring saji berisikan aneka macam buah-buahan, seperti apel, pir, pisang dan anggur merah. Lina mengambil pisau. Ia menggenggam pisau itu erat-erat. Netranya mengkilat tajam sama seperti mata pisau yang dipegangnya. ‘Aku akan membalaskan dendam kamu, Rena ... Semua yang kamu alami, harus dibalas dengan setimpal. Aku akan merusak kebahagian orang yang telah merusak kebahagianmu ...,’ ucapnya di dalam hati.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN