“Serius nih, aku gak apa-apa langsung naik ke atas?” tanya Yogi untuk ke sekian kali. “Astaga, berapa kali sih kamu ngomong begini?” tutur Lina kesal. “Berulang kali aku kan sudah mengatakan, naik saja ke atas. Mbak Diandra menunggumu di kamarnya.” Yogi masih terlihat bimbang dan diam seribu bahasa. Kedua tangan Lina sudah mengepal karena kesal dan geram Yogi tidak kunjung melangkahkan kaki menaiki anak-anak tangga menuju ke kamar Diandra. “Bukankah kalian berdua adalah sahabat? Pasti kamu sudah terbiasa kan datang kemari dan bertemu dengan mbak Diandra?” “Ya, kami memang bersahabat sejak masih kecil. Tapi Diandra kan sudah tidak seperti dulu. Dia sudah menikah. Aku merasa sungkan.” “Ah, itu hanya perasaan kamu saja. Aku rasa selain ada hal yang ingin dibicarakan, mbak Diandra menung

