“Sebentar!” Suara Bi Ijah dan Bi Asih terdengar menggelegar menjawab suara bel rumah. Namun karena Bi Asih yang berada di ruang tengah. Jadi dirinya lah yang segera membukakan pintu untuk Yogi. “Jangan Bi! Jangan!” seru Lina. “Biar aku saja yang membukakan pintunya!” lanjutnya sambil menuruni anak-anak tangga. Lagaknya sudah seperti pemilik rumah. Bi Asih menoleh dan mendongak ke atas. “Kenapa harus kamu yang membukakan pintunya?” tanyanya dengan raut muka datar. “Tidak ada bedanya kan jika aku yang membukakan pintu?” sahut Lina sembari berjalan melewati bi Asih. “Tamu yang mengetuk pintu itu temanku." “Memang kamu sudah tahu siapa yang akan datang?” tanya Asih penuh selidik. Lina mengangguk mantap. “Aku tahu kok siapa yang datang,” jawabnya cepat. “Yogi, teman mbak Diandra ... dan j

